Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.
Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.
Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Penempaan Tubuh
Nova mengikuti setiap arahan yang di berikan oleh Zira, matanya menutup perlahan kedua tangannya mengepal dan saling menyentuh, napasnya mulai teratur punggungnya tegak serta energi di dalam jalur meridian nya mengalir tenang.
Dantian Nova berdenyut pelan, saat aliran energi di dalam ruang dimensi perlahan masuk ke dalam tubuhnya. Sedikit demi sedikit, Nova menenggelamkan kesadarannya dan fokus dengan apa yang sedang di lakukannya.
Zira, membuka matanya. Ia menoleh perlahan, dan merasakan bahwa energi di sekitarnya nyaris tersedot seluruhnya ke dalam tubuh Nova. Ia bisa melihat di dalam urat-urat Nova energi berwarna kemerahan mengalir selaras menuju ke dalam dantiannya.
Zira berdiri dan menjauh dari tempat ia berdiri, agar Nova bisa lebih fokus dan bisa menaikan tahap kultivasinya dengan cepat.
“Anak ini, akan jauh melampauiku,” gumam Zira.
Energi di sekitar tubuh Nova berputar semakin cepat, angin di sekitarnya berhembus perlahan dan semakin kencang membuat Zira mundur beberapa langkah lagi.
Awan hitam di atas kepala Nova berkumpul, gemuruh petir mulai bermunculan. Hal itu membuat Zira terkejut, karena itu sangat mustahil untuk Nova yang berada di ranah penempaan tubuh. Awan hitam serta petir yang menggelegar itu hanya muncul pada seseorang yang menembus ranah langit, dan reaksi alam saat Nova bermeditasi jauh di luar prediksi nya.
Blarrr!!
Sementara tubuh Nova bergetar saat energi alam sudah memenuhi ruang dantiannya, suara retakan halus terdengar samar.
kraak!!
Pyaarr!!
Ruang dantian Nova meluas, dan akhirnya ia menembus tahap selanjutnya. Mortal Bumi tahap awal.
“Luar biasa!” seru Zira yang menyaksikan itu.
Tubuh Nova mulai terlihat tenang, napasnya kembali teratur. Ia membuka matanya perlahan, lalu menghembuskan napas keruh sisa dari pemurnian energi alam di ruang dimensi.
“Tubuhku terasa lebih ringan,” gumam Nova sambil memperhatikan kedua lengannya, lalu ia menoleh ke arah Zira yang sedang berdiri tak jauh darinya.
Nova berdiri perlahan dan ia menarik napas lebih dalam, kini ia merasakan setiap tarikan napasnya terasa lebih hangat dan lebih panjang.
“Hahaha, HEBAT!” serunya membuat Zira yang melihat reaksi Nova hanya bisa tersenyum tipis.
Nova melompat dan mendekat ke arah Zira, dan ia kembali di kejutkan dengan kemampuannya, hanya dengan satu lompatan ia langsung berada di hadapan Zira.
“Bagus, tetapi kau harus bisa mengendalikan kekuatan mu, terutama kekuatan dari red stone yang kini berada di dalam tubuhmu itu.”
Nova mengangguk sambil tersenyum, ia mengerti dan ia paham bagaimana harus melakukan itu.
“Tentu saja, aku mengerti.”
Dan saat melangkah Nova tak sengaja tersandung ke sebuah batu yang menyembul dari dalam tanah yang ia pijak. Dan saat Nova melihat batu itu, ia sangat terkejut bahwa yang membuatnya tersandung ternyata sebongkah berlian seukuran kepalan tangan dewasa.
Zira tak heran dengan reaksi Nova itu, karena ia tahu bahwa di dunia manusia, sebuah berlian sangat berharga dan bernilai tinggi. Tapi di dunia asalnya, berlian itu hanya menjadi kerikil hiasan untuk jalanan di sekitar istana atau tempat seseorang yang berstatus tinggi seperti seorang mortal king dan seterusnya.
“Apakah aku boleh membawa ini?” ujar Nova.
Zira mengangguk pelan.
“Bawa saja, itu hanya batu biasa di tempatku.”
Nova langsung terlonjak senang, kemudian ia memasukkan batu berlian itu ke dalam ruang penyimpanannya.
“Baiklah, kalau begitu aku akan kembali dulu,” ucap Nova sambil membuka portal.
Sementara Zira kembali menuju gua di bawah gunung berlapis berlian, tempatnya beristirahat.
“Semoga anak itu, bisa menyesuaikan dirinya,” batinnya.
***
Keesokan harinya, Nova bersiap di depan cermin dengan seragamnya yang sudah rapi, dan tentu penampilannya yang sudah jauh berbeda.
“Seragamku, sudah menyempit,” gumamnya.
Ia memperhatikan badannya di depan cermin, dada lebih bidang dan otot lengannya terlihat lebih besar membuat seragamnya terlihat sedikit ketat.
“Aku harus membeli seragam baru.”
***
Saat menuju sekolah, ia berpapasan dengan mobil Dion yang sengaja berhenti tepat di sebelahnya. Pintu mobil itu terbuka, dan keluarlah Dion bersama tiga temannya.
“Woi! Culun, keliatannya lo sekarang udah mulai berani ya?” ujar Dion.
Nova tetap tenang dan mendengarkan, tatapannya membuat ke empat orang di hadapannya itu tak berani menatapnya lama-lama.
“Berani? Tentu saja aku berani, memangnya kenapa?” sahut Nova dengan nada yang cukup tenang.
Dion bedecak pelan sambil menatap sinis ke arah Nova, walau ia sedikit merasakan tekanan dari tatapan Nova, ia memberanikan diri untuk bicara dengan sosoknya.
“Oke! Lo gue tantang, lo ikut tarung bebas sebulan lagi, sebelum ujian kelulusan, gimana? Kalo lo ikut terus lo bisa menang, gue nggak bakalan ganggu lo lagi,” ucapnya.
Nova mengangguk dengan percaya diri, lalu menjawab.
“Oke, kita lihat nanti.”
Nova lalu meninggalkan Dion dan teman-temannya, melihat reaksi Nova yang biasa saja dan lebih terkesan menantang balik membuatnya kesal.
“Liat aja nanti, pasti gue bikin patah kaki lo bocah tengik!” gumam Dion sambil masuk ke dalam mobilnya.
Nova berjalan di koridor dengan langkah yang lebih percaya diri, membuat para gadis yang di lewatinya menjadi terkesima dengan sosok Nova yang terlihat berbeda. Lebih menarik, tampan dan tentu saja jenius yang tak bisa di remehkan begitu saja seperti dulu.
Dari kejauhan, seorang siswa berhoodie hitam memperhatikan Nova, matanya sekilas menyala kekuningan lalu kembali meredup.
“Bahkan persepsi jiwaku tak merasakan apapun dari anak itu, bagaimana mungkin?” batinnya.
Ia kemudian membalikkan badannya, setelah tak mendapatkan hasil apapun dari apa yang di lakukannya.
Kembali ke Nova yang sudah duduk dengan tenang, di dalam kelasnya. Ia memperhatikan seisi kelas hanya dengan pendengarannya, dan saat ada kertas yang tertuju kepadanya ia hanya mengangkat satu tangan lalu menangkap kerta itu tanpa melihat.
Hal itu membuat seisi kelas langsung terdiam, dan dengan satu lemparan yang keras Nova melempar kertas itu ke arah luar dan tepat masuk ke dalam tong sampah tanpa melihatnya.
Semua teman kelasnya di buat menganga dengan apa yang di lakukan Nova, terlebih mereka tahu bahwa Nova adalah sosok pendiam yang jarang berbaur.
“Dia jadi aneh,” bisik seseorang kepada temannya.
“Udah biarin aja, jangan ganggu dia.”
keadaan kelas pun kembali tenang, sementara Nova membaca buku barunya yang ia beli bersama Aruna di perpustakaan.
***
Di jam istirahat, Nova dan Aruna menuju ke arah kantin di ikuti Kinan di belakangnya, dan saat turun tangga, Nova tak sengaja menabrak bahu seorang gadis berambut berwarna kecoklatan, keduanya saling bertatapan hanya beberapa detik kemudian keduanya kembali memalingkan wajah ke arah lain.
“Maaf, aku nggak sengaja,” ucap Nova ia merasakan gadis di hadapannya itu berbeda, ada aura samar yang dapat ia lihat dari tubuh gadis itu.
Gadis di hadapan Nova itu hanya mengangguk, kemudian ia pergi di ikuti tiga temannya yang memiliki aura serupa dengan gadis itu.
“Siapa mereka?” batin Nova.
Sementara itu, gadis tadi mengerutkan keningnya dan berkata.
“Aku tidak merasakan apapun, persis seperti yang di katakan Ethan,” jelasnya.
Hal itu membuat ekspresi yang lainnya terkejut, kecuali Ethan pemuda berhoodie yang mengawasi Nova tadi.