Clarissa Anggreni, pemimpin mafia kejam yang dijuluki Queen of Damnation, tewas ditembak oleh sahabatnya sendiri, Kalina, dan kekasihnya, Rafael, karena perselingkuhan. Saat ajal menjemput, ia justru terbangun di tubuh Alisha Kirana Maharani – istri cupu korban KDRT dari konglomerat Giovan Salvatore Vizcaya, yang wajahnya persis seperti Rafael. Alisha baru saja jatuh dari lantai atas setelah ditembak orang tak dikenal. Keluarga Vizcaya mengira ia sudah mati. Tapi kini, di balik tubuh lemah Alisha, bersemayam jiwa seorang ratu maut. Di keluarga Vizcaya yang kejam, Alisha direndahkan sebagai pelayan. Giovan berselingkuh di depannya. Tapi Clarissa tidak pernah menjadi korban. Dengan kecerdikan, koneksi bawah tanah, dan haus balas dendam, Alisha (Clarissa) mulai menyusun rencana: ·Membalaskan kematian jasad aslinya kepada Rafael (Giovan) dan Kalina. · Menguasai keluarga Vizcaya dari dalam. · Menemukan siapa penembak yang hampir membunuh Alisha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suami Kesayangan?
Edward tidak tahu harus berkata apa lagi, karena dia terlalu speechless saat mengetahui jika Alisha benar-benar membunuh orang.
Gadis lugu yang dulunya culun, kenapa mendadak seperti seorang psikopat. Bahkan tidak ada raut wajah bersalah sedikit pun atau mungkin raut wajah ketakutan karena sudah membunuh orang.
Alisha justru tersenyum lebar, seolah-olah perbuatannya itu hal yang sudah biasa dia lakukan.
"Huft, Alisha kenapa kamu santai sekali?" tanya Bramantya yang ikut keheranan.
Alisha yang sedang membuka bungkus cokelat memiringkan kepalanya untuk menatap Bramantya.
"Lalu aku harus apa, Dad?" tanya Alisha balik.
Bramantya melipat kedua tangannya di dada seraya menatap tajam Alisha. "Kau tidak takut di penjara? Karena sudah..."
"Tidak! Kalaupun aku masuk penjara, aku yakin pasti Kakek atau Giovan akan mengeluarkan aku!" potong Alisha dengan cepat.
Bramantya menatap anak dan daddy-nya. "Gov, memang kamu ingin mengeluarkan Alisha dari penjara?" tanya Bramantya pada Giovan.
Giovan terdiam. Seharusnya Daddy-nya sudah tahu jawaban apa yang akan Giovan berikan tapi, kenapa pria itu justru malah bertanya kembali.
"Dad, apa daddy mau mengel..."
"Mau tidak mau, kalian harus mengeluarkan aku. Karena kalau tidak, maka nama baik keluarga Vizcaya akan hancur!" potong Alisha sebelum Bramantya meneruskan ucapannya.
Alisha mengangkat tangan sambil menatap kuku-kukunya yang baru saja diwarnai.
"Aku datang ke sini sebenarnya bukan ingin membuat keributan tapi... Aku hanya ingin meminta uang pada suamiku saja," ujar Alisha.
Bramantya dan Edward menatap ke arah Giovan yang tampak tersenyum kecil.
"Memang istri kamu tidak dikasih uang, Gov?" tanya Edward.
"K-kasih kok, Kakek. Cuma hari ini aku lup..."
"Bohong! Giovan tidak pernah memberikan aku uang, Kakek. Uangnya dia larinya ke..."
Alisha sengaja menghentikan ucapannya dan menatap ke arah Giovan, yang sedang menatap tajam dirinya juga.
Tatapan tajam Giovan menunjukkan, seolah-olah dia ingin sekali memakan Alisha jika Alisha melanjutkan perkataannya.
"Ke siapa, Alisha?" tanya Edward.
Alisha mengalihkan tatapannya pada Edward. "Ke.."
"Alisha, ini aku berikan kartu ATM-ku untukmu," potong Giovan yang menyerahkan ATM-nya.
Alisha menatap kartu tersebut lalu menggelengkan kepalanya.
"Bukan kartu seperti ini, aku maunya black card!"
Mata Giovan melebar. "T-tapikan, kamu.."
"Sudah kasih saja, Gov!" ujar Edward.
"I-iya, Kakek."
Giovan segera menyerahkan kartu black card satu-satunya yang dia punya, kepada Alisha.
"Ini," seru Giovan.
Dengan senang hati Alisha langsung mengambil kartu tersebut.
"Terima kasih, suamiku," ujarnya.
"Hm."
"Sekarang, ayo antar aku ke mal," pinta Alisha.
"Aku tidak bisa, Alisha!" tolak Giovan.
Alis Alisha mengerut. "Kenapa?"
"Satu jam lagi, aku akan meeting jadi aku tidak bisa mengantarkanmu!"
Alisha mengalihkan tatapannya kembali kepada Edward. "Kakek."
Edward menghela napasnya. "Pergi saja, Gov. Meeting-mu biar dihandle oleh daddy-mu."
"Tapi Kakek.."
"Sudah, tak apa. Sana temani Alisha berbelanja!"
Giovan melirik pada Alisha yang sedang tersenyum sumringah.
"Ayo, suamiku," ucap Alisha.
Giovan menarik napas dalam-dalam lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Kalau begitu, kita pergi dulu," pamit Giovan pada Kakek dan juga Daddy-nya.
"Ya, hati-hati," ucap Edward.
---
Setelah kepergian Giovan dan Alisha, Bramantya segera mendekati daddy-nya.
"Dad, kamu lihat! Setelah membunuh orang, dengan santainya dia justru berbelanja!" seru Bramantya.
"Memangnya dia harus apa lagi, Bas! Biarkan saja dia melakukan apapun yang dia suka."
"Astaga Dad, tapi dia ini sangat menakutkan."
"Menakutkan apa, hm? Alisha itu anak baik-baik, dan dia tidak akan menyenggol seseorang kalau tidak disenggol duluan!"
Bramantya terdiam, pria itu tampak gelisah saat mengetahui segila apa Alisha.
"Kau ini kenapa, Bas?" tanya Edward yang melihat anaknya tampak gelisah.
"Tidak, Dad. Tidak apa," jawab Bramantya.
Edward menggeleng kecil. "Ada-ada saja," gumamnya.
---
"Kau ini benar-benar menyebalkan ya, Alisha! Sudah minta kartu, sekarang minta diantarkan pula, astaga ya Tuhan!" gerutu Giovan.
Saat ini keduanya tengah berada di dalam mobil yang Giovan bawa menuju rumah sakit? (atau seharusnya ke mal?).
Alisha menutup kedua telinganya dengan tangannya. "Bla bla bla!" ledak Alisha.
"Ciih, kau dengar perkataanku tidak?!" tanya Giovan.
"Tidak," jawab Alisha.
Giovan memijat pangkal hidungnya, sepertinya dia bisa gila gara-gara Alisha.
"Alisha kau sungguh..."
"Berhenti berbicara, Giovan, sekarang fokuslah pada jalan. Ingat, kau harus memastikan keadaanku agar tetap baik-baik saja!"
Giovan memutarkan kedua matanya. "Malas sekali, bagaimana kalau kita main kebut-kebutan, hm?"
"Hha, kebut-kebutan seperti apa maksudmu?"
"Seperti ini..."
Giovan menginjak gas mobilnya dan melajukan mobilnya dengan sangat kencang.
Ngengggg...
"AAARGHH, GOV PELAN-PELAN!"
Bukan memelankan mobilnya, Giovan justru dengan sengaja kembali menambahkan kecepatan mobilnya hingga di atas rata-rata seorang pembalap.
Brumm.
"ARGHH, GIOVAN HENTIKAN!!"
"Aku benar-benar takut, Gov!"
Giovan tersenyum puas ketika melihat wajah Alisha yang terlihat tersiksa.
"Kau akan menghentikan mobil ini, asalkan kamu tidak jadi ke malnya!" ujar Giovan.
Mata Alisha terbuka satu. "Maksudmu, apa?"
"Kita putar arah kembali, aku harus kerja dan tidak bisa mengantarkanmu ke mal."
"Berarti kita jadi tidak berbelanja??"
"Iyaa!"
"Baiklah, kalau kau tidak bisa antarkan aku pergi maka kita putar arah saja, tapi..."
BRUMM.
"ARGHHHH!!"
"Aku akan mengantarkanmu pulang!" seru Giovan sambil memelankan mobilnya.
Alisha menghela napasnya dengan lega, lalu menatap tajam ke arah Giovan.
"Kalau aku tidak jadi berbelanja, bagaimana aku bisa pergi ke pesta lelang!"
"Apa yang kau butuhkan? Biar aku yang menyuruh seseorang untuk menyiapkan kebutuhanmu!"
"Aku butuh dress, heels, tas, dan parfum."
"Hm."
Giovan mengutak-atik ponselnya, lalu melirik ke arah Alisha. "Sepuluh menit lagi, barang yang kau inginkan akan datang ke mansion."
"Hah?"
"Jadi sekarang, pulanglah!"
Citt...
Giovan menghentikan mobilnya di depan mansion mereka. "Silakan turun, Alisha."
Alisha memerhatikan sekitarnya yang ternyata memang sudah berada di halaman mansion Vizcaya.
"A-apa, kenapa cepat sekali sampainya," gumam Alisha dengan lirih.
Melihat Alisha yang masih bengong, akhirnya Giovan turun dari mobilnya dan menghampiri pintu mobil Alisha lalu membukakannya.
"Silakan keluar, tuan putri!"
Alisha berdecak sebal dan segera turun dari mobil Giovan. "Awas saja jika baju yang aku inginkan tidak seperti yang aku mau!"
"Tenang saja, kau bisa meriksanya."
Brakk.
Giovan menutup pintu mobilnya. "Kalau begitu aku pergi dulu, bye istriku!"
Alisha hanya menatap datar kepergian mobil Giovan, lalu ia menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.
"Arghh, Giovan sialan!!"
---
Lalu tak lama sebuah mobil hitam berhenti di hadapannya dan keluarlah satu orang wanita dan dua orang pria.
"Maaf, apa Nona Alisha ada di rumah?" tanyanya setelah menghampiri Alisha.
"Ada, emangnya kenapa?"
"Bisa tolong dipanggilkan?"
"Saya Alisha, ada apa?" tanyanya.
Wanita dan dua orang pria tadi tampak terkejut dengan ucapan Alisha. Bukankah Alisha itu dikenal culun, lalu ini siapa?
"Ahh, jadi anda Nona Alisha?"
"Yaa!"
"Ini, Nona. Kami membawakan barang belanjaan dari Tuan Giovan untuk anda, istri kesayangannya."
"Ciih, istri kesayangannya? Pengin muntah deh gue!"
---
Bersambung
ini Novel baru aku👈✍️