Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Topeng-Topeng yang Terkelupas
Baskoro Adiwijaya terkekeh pelan, sebuah tawa renyah namun sarat akan kepahitan yang menggema di dalam ruang kerja pribadinya yang super mewah.
Pria tua berkharisma tinggi itu bersandar pada kursi kulitnya yang nyaman, menatap lurus ke arah jendela besar yang menampilkan lanskap pencakar langit ibu kota. Ayah kandung dari mendiang Dania Kusuma, ibu dari Elang, itu baru saja mendengar laporan dari anak buahnya yang ditugaskan memantau setiap pergerakan sang cucu dari kejauhan.
Baskoro benar-benar tidak menyangka.
Jantungnya berdesir antara rasa bangga dan haru.
Insting darah dagingnya yang mengalir di tubuh Elang ternyata tumbuh sangat tajam, bahkan jauh melampaui ekspektasinya. Bocah yang dulu ia kira hanya tahu cara menghamburkan uang, kini mulai bisa mengendus benang merah konspirasi besar di jajaran konglomerat.
"Bagaimana, Tuan Besar? Apa perlu kita bawa Tuan Besar Wirawan kepada mereka?" tanya seorang pria berjas rapi yang berdiri tegap di depan meja kerja Baskoro.
Pria itu adalah Hendra Damian, orang kepercayaan baru sekaligus tangan kanan operasional Baskoro yang mengurusi jaringan bawah tanah keluarga Adiwijaya. Dialah yang memimpin tim senyap untuk mengamankan, atau lebih tepatnya mengasingkan, Wirawan di pulau terpencil utara Jakarta.
"Eits. Jangan dulu, Hendra," potong Baskoro cepat sembari mengangkat satu tangannya, memberikan isyarat penolakan yang mutlak. "Aku masih ingin kasih memberikan pelajaran pada si Tua Bangka itu. Enak saja dia hidup tenang! Sementara anakku, Dania, meninggal karena kecelakaan tragis bertahun-tahun lalu, dan dia sebagai besan sekaligus pemilik imperium Dirgantara terbesar sama sekali tak mampu mengungkap siapa dalang di balik tabrakan itu. Dia seolah membiarkan darah anakku mengering tanpa keadilan!"
Napas Baskoro mendadak memburu, mengingat kembali rasa kehilangan yang teramat dalam saat putri tercintanya merenggang nyawa. Selama ini, dia memendam rasa jengkel kepada Wirawan yang dianggapnya tidak berguna dan terlalu lemah dalam melindungi menantunya sendiri. Penculikan Wirawan saat lari pagi itu, sebuah bentuk hukuman pribadi dirinya pada Wirawan yang dianggapnya telah lalai.
"Lalu, bagaimana dengan tugas utamamu, Hendra? Apa kamu sudah berhasil mengungkap kira-kira siapa otak di balik kecelakaan anak saya dulu?" tanya Baskoro, matanya menyipit penuh intimidasi.
"Ini laporannya, Tuan Besar," jawab Hendra takzim. Ia merogoh saku jasnya dan menyerahkan sebuah flashdisk hitam berlogo enkripsi khusus. "Semua bukti digital, transaksi aliran dana masa lalu, dan nama-nama yang terlibat sudah dirangkum di dalam sini."
Baskoro segera membuka laptop pribadinya, lalu mencolokkan flashdisk tersebut. Jemarinya yang mulai berkerut bergerak lincah di atas trackpad, membuka satu demi satu berkas rahasia yang dilaporkan oleh Hendra. Ruangan itu seketika hening, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan dan ketukan jari Baskoro yang kian melambat seiring dengan matanya yang membaca baris demi baris dokumen kelam tersebut.
Sepasang mata tua itu mendadak melebar, memancarkan kilat kemarahan yang luar biasa hingga rahangnya mengeras.
"Sudah saya duga! Ternyata dia dalangnya..." gumam Baskoro dengan suara mendesis, menahan gejolak amarah yang hampir membakar dadanya.
Ia mencabut flashdisk itu dengan sentakan kasar, lalu menatap Hendra dengan sorot mata yang mengerikan. "Kamu pantau dia sekarang juga! Kerahkan tim terbaikmu. Jangan sampai ular betina itu bergerak bebas dan mengganggu cucuku, Elang!"
"Dimengerti, Tuan Besar. Kami akan mengawasi setiap langkahnya," sahut Hendra sebelum membungkuk hormat dan berjalan mundur meninggalkan ruangan.
**
Sementara riak konspirasi tingkat atas mulai memanas, Elang dan Citra justru sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan paling mewah di kawasan Jakarta Selatan. Setelah berhari-hari didera ketegangan, sore ini mereka memutuskan untuk sekadar berjalan-jalan, melepas penat pasca-obrolan mereka dengan Banyu. Penampilan mereka terlihat santai, kontras dengan para pengunjung mal yang rata-rata berpenampilan sangat necis dan glamor.
Elang sekarang bukan Elang yang dulu, yang harus ikut nembeng Surya saat pergi ke kampus. Meski itu sih tetap dia lakukan. Tapi lebih dari itu di tangannya kini mengantongi sebuah benda sakti di dalam dompetnya: sebuah black card yang diberikan oleh Banyu Permana beberapa hari lalu. Sebagai fasilitas penuh untuk menunjang segala keperluan sang pewaris.
Meski memiliki uang yang unlimited, Elang sekarang lebih bersahaja, mungkin karena besarnya pengaruh dari Surya, Citra dan Kirana. Jika beberapa bulan lalu, tentu dia akan berpoya-poya dengan uang itu.
Bahkan, dia ke mal hanya dengan mengenakan kaos polos dan celana jins longgar. Mereka sempat pulang, hanya untuk berganti pakaian. Tadinya mereka akan membantu Surya, tapi Surya dan Kirana tengah berbelanja.
Tujuan Elang lainnya untuk menghibur Citra yang terlihat bete.
Penampilan Citra pun lebih sederhana, dia berjalan di sampingnya dengan gaya kasual khasnya, jaket denim dan rambut pendek yang membingkai wajah manis namun tegasnya.
Saat mereka sedang melihat-lihat beberapa pasang sepatu di dalam sebuah butik desainer internasional terkemuka, suasana tenang itu mendadak pecah oleh suara langkah sepatu hak tinggi yang mengetuk lantai marmer dengan anggun.
"Oh, lihat siapa yang ada di sini... Nggak salah lihat nih? Mantan Pangeran Kampus. Kok bisa ya berbelanja di sini?"
Suara cempreng yang sangat familier itu membuat Elang menghentikan gerakannya yang hendak menyentuh sebuah sepatu olahraga. Ketika ia menoleh, sosok Natasha berdiri di sana bersama beberapa temannya, menjinjing tas belanjaan dari merek-merek ternama.
Natasha menatap Elang dan Citra dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan memicing penuh penghinaan. Baginya, Elang sekarang hanyalah seorang mantan pewaris yang gagal total karena perusahaan keluarganya sudah dinyatakan bangkrut. Kesempatan ini tidak disia-siakannya untuk meluapkan ego dan kesombongannya di depan publik.
"Gila ya, mal sekelas ini sekarang udah kehilangan standarnya sampai-sampai gembel kayak kalian bisa masuk ke dalam butik premium," cibir Natasha dengan nada sinis.
Elang hanya menatap Natasha dengan datar, sama sekali tidak terpancing. Namun Natasha tampaknya belum puas melihat reaksi dingin Elang. Ia sengaja mendekati manajer toko yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Mbak, tolong ya... sebagai konsumen setia di sini, saya merasa terganggu. Pemilik toko atau pelayan di sini harusnya lebih hati-hati sama orang-orang semacam mereka. Tahu kan, Dirgantara Perkasa itu udah pailit, alias miskin melarat! Takutnya mereka masuk ke sini cuma buat mencuri atau nyolong barang-barang mahal kalian karena udah nggak punya duit buat beli," ujar Natasha dengan nada suara sengaja dikeraskan, membuat beberapa pengunjung lain mulai menoleh dan berbisik-bisik.
Wajah Citra seketika berubah mengeras. Rahangnya mengetat, dan kepalan tangannya di balik saku jaket denim sudah siap terangkat. Penghinaan terhadap dirinya mungkin masih bisa ia toleransi, namun merendahkan sahabatnya di depan umum adalah hal yang memicu insting pelindungnya untuk bertindak kasar. Citra mengambil langkah maju, berniat memberikan pelajaran fisik yang tidak akan pernah dilupakan oleh gadis manja di hadapannya ini.
Namun, tepat sebelum Citra melayangkan tindakan, sebuah getaran aneh yang hangat dan menenangkan mendadak menjalar dari dalam dada ke seluruh aliran darahnya. Di dalam lubuk kesadarannya, suara gaib yang anggun dan penuh wibawa terdengar berbisik lembut. Itu adalah kesadaran dari Nyai Kencana, entitas spiritual kuno yang bersemayam di dalam tubuhnya melalui garis keturunan spiritual gurunya.
“Tenang,... Jangan biarkan amarah dari lalat kecil mengotori kesucian jiwamu. Singa tidak akan pernah menoleh saat anjing menggonggong. Simpan energimu untuk badai yang lebih besar.”
Bisikan batin dari Nyai Kencana itu seketika meredam gejolak emosi Citra yang hampir saja meledak. Citra menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu memundurkan kembali langkahnya.
Ia menatap Natasha dengan senyuman tipis yang sangat dingin, sebuah tatapan yang justru membuat Natasha mendadak merinding tanpa alasan yang jelas.
"Kenapa? Takut ya?" Cibir Natasha begitu melihat Citra kembali mundur. Ia melipat tangan di dada, mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan raut wajah meremehkan yang amat kentara. "Miskin ya miskin saja. Memangnya tempat seperti ini bisa dimasuki oleh orang-orang kelas bawah seperti kalian?"
Elang hanya mengulas senyum tipis melihat tingkah Natasha yang kekanak-kanakan. Tanpa berniat menjawab satu patah kata pun, ia merogoh saku celananya mengambil dompet dengan gerakan tenang dan elegan.
Dari dalam dompet kulit, ia mengeluarkan sebuah kartu hitam legam mengkilap dengan aksen emas murni di tepinya. Kartu logam itu berdenting halus saat Elang menyodorkannya kepada manajer toko yang sejak tadi gemetar ketakutan.
"Mbak..." ucap Elang tenang.
Namun, belum sempat ujung kartu itu menyentuh jemari sang manajer, tangan Natasha menyambar kilat. Ia merebut kartu itu secara paksa, matanya melotot tajam saat membaca grafir di atasnya.
"Kenapa kamu bisa punya kartu ini?!" pekik Natasha, suaranya melengking memenuhi seisi toko. Wajahnya yang penuh riasan tebal mendadak berubah pias, bercampur antara syok dan tidak terima. "Ini kartu Centurion! Kartu legendaris yang hanya dimiliki oleh segelintir miliarder dunia! Orang-orang seperti kamu tidak mungkin bisa masuk daftar undangannya!"
Natasha tertawa hambar, mencoba menutupi kepanikan yang mulai menjalar di dadanya. Ia menunjuk wajah Elang dengan jari telunjuknya yang dipasangi kuku palsu berkilau.
"Jangan-jangan kamu mencurinya ya?! Atau kamu sengaja memesan kartu palsu ini dari pasar gelap untuk pamer dan menipu orang-orang di sini?! Mengaku saja kamu!" bentak Natasha, sengaja memancing perhatian pengunjung lain agar Elang merasa dipermalukan.
Manajer butik semakin pucat, melirik takut-takut ke arah Elang. Sementara itu, Citra hanya berdiri anggun di samping Elang, menatap Natasha seolah-olah wanita di hadapannya itu hanyalah badut sirkus yang sedang melucu.
"Daripada berisik dan membuat polusi suara di sini," Elang menjeda kalimatnya, tatapan matanya mengunci manajer toko dengan wibawa yang mutlak. "Silakan langsung diproses saja ke mesin EDC, Mbak."
"Ta-tapi Tuan... kartu ini..." Manajer itu menelan ludah dengan susah payah. Tangannya gemetar saat menerima kembali kartu seberat logam murni tersebut dari cengkeraman Natasha.
"Cepat gesek! Biar semua orang tahu kalau dia cuma penipu ulung yang mau berlagak kaya!" kompor Natasha, tersenyum culas, sudah tidak sabar melihat Elang diseret oleh petugas keamanan.
BEEP.
Manajer toko memasukkan kartu hitam itu ke dalam mesin. Layar mesin EDC berkedip sesaat. Natasha mencondongkan badannya ke depan dengan senyum kemenangan yang sudah mengembang di bibirnya. Ia sudah bersiap memaki.
PROSESING...
APPROVED.
Secarik kertas struk transaksi keluar secara perlahan dari mesin pembaca kartu. Detik itu juga, suasana butik mendadak hening bak kuburan.
"Pembayaran... berhasil, Tuan," bisik sang manajer, suaranya bergetar hebat karena syok. Ia membungkuk dalam-dalam hingga sembilan puluh derajat, memperlakukan Elang layaknya seorang raja. "Total seluruh pakaian dan tas di lantai ini sudah lunas. Terima kasih atas kunjungan Anda."
Senyum culas di wajah Natasha seketika runtuh. Matanya membelalak sempurna, rahangnya hampir jatuh ke lantai. Seluruh tubuhnya mendadak kaku dan membeku, seolah baru saja disiram air es di tengah musim dingin.
***
Di belahan sudut kota Jakarta yang lain, sebuah gedung perkantoran bergaya modern minimalis berlogo Puspa Holdings berdiri dengan megah. Perusahaan keluarga Rania , mantan istri dari Bramantyo. Setelah ketahuan dia berselingkuh, diusir dan diceraikan Bramantyo Rania sekarang fokus ke Puspa Holdings.
Sayangnya perusahaannya dalam kondisi tidak sehat, setelah sokongan dari Dirgantara dicabut.
"Perusahaan gue saja, sampai hampir kolep. Tapi kenapa Dirgantara, tidak. Apa yang sebenarnya terjadi."
Gumam Rania di dalam ruang direksi yang sunyi, ia duduk di balik meja kaca besar sembari mengamati lembaran laporan analisis pasar. Alisnya bertaut rapat. Ada sesuatu yang sangat mengganjal di dalam pikiran Rania selama beberapa minggu terakhir ini, khususnya mengenai pergerakan saham Dirgantara yang seolah tak terpengaruh dengan isu likuiditas perusahaan.
Ini sangat tidak masuk akal, batin Rania sembari mengetuk-ngetukkan pena emasnya di atas meja. Dirgantara Perkasa sudah diumumkan pailit. Harusnya, sebuah perusahaan yang pailit akan mengalami pembekuan aset, likuidasi, atau setidaknya operasionalnya lumpuh total menuju kebangkrutan. Tapi kenapa di lapangan justru terjadi hal yang sebaliknya?
Orang-orang Rania, yang ada di Dirgantara pun menginformasikan jika Dirgantara Perkasa dalam sebulan terakhir justru secara masif memenangkan tender dan mengerjakan sejumlah proyek infrastruktur strategis berskala besar. Performa lapangan mereka sangat kontradiktif dengan status yang mereka dengar di publik di atas kertas.
Rasa penarannya membuatnya segera meraih telepon di mejanya dan mendial sebuah nomor yang terhubung langsung dengan orang-orang kepercayaannya yang sengaja ia susupkan ke dalam tubuh Dirgantara Perkasa sejak lama.
"Halo, Hendra? Bagaimana situasi di dalam? Berikan saya laporan valid mengenai pergerakan perusahaan itu," perintah Rania tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung.
Hendra Setiawan, seorang manajer senior di Divisi Audit Internal Dirgantara Perkasa yang menjadi mata-mata Rania, berbisik dari ujung telepon dengan nada sangat waspada.
"Lapor, Ibu Rania. Apa yang ibu curigai sepertinya memang seperti yang ibu perkirakan selama ini. Status pailit itu, hanya sebuah kedok saja. Saya sudah melakukan pengecekan, ternyata Dirgantara tidak dalam posisi pailit bu. Semua berjalan normal," ucap pria bernama Hendra dari balik telepon.
"Kamu yakin Hendra?" Tanya Rania memastikan.
"Sangat yakin bu," jawab Hendra tegas, namun setengah berbisik, lalu menjelaskan lebih gamblang lagi tentang perusahaan.
Rania mendengarkan dengan saksama, guratan heran di wajahnya kian mendalam. Apa yang ia dengar dari mulut Hendra Setiawan ternyata hampir seratus persen sama dengan laporan dari anak buahnya yang lain. Para anak buahnya memantau sejumlah proyek-proyek Dirgantara.
"Apakah Si Tua Bangka Wirawan Dirgantara, selalu datang ke sana?" tanya Rania, mencoba menggali informasi tentang sang mantan mertua.
"Sejak pengumuman pailit itu. Saya tidak pernah melihatnya Bu. Paling yang melakukan langkah-langkah operasional perusahaan hanya Pak Banyu, dan jajaran direksi lainnya."
"Apa kamu tahu dimana dia berada?" Tanya Rania lagi.
"Tidak Bu. Hanya saya sempat mendengar obrolan dari beberapa direksi katanya mereka ingin menjenguk Pak Wirawan di Luar Negeri. Tapi, saya tidak tahu dimana tepatnya," jawab Hendra lagi.
Rania perlahan menurunkan gagang telepon, lalu memutuskannya secara sepihak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja berbahan kulit premium, menatap langit-langit ruang kerjanya dengan pandangan yang perlahan menggelap oleh ambisi dan kemarahan.
Sebuah tawa hambar, kecil namun terdengar sangat sinis, lolos dari belahan bibirnya yang dipulas lipstik merah menyala.
"Tunggu aku, mertua burung..." desis Rania, meremas pena emas di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Kamu harus merasakan bagaimana rasanya merangkak dan kebingungan mencari investor. Jika saja dulu kau tidak ikut campur dan mengacaukan segalanya, si anak bodohmu itu sudah menyerahkan seluruh aset perusahaan padaku! Sialan!"
Ia melemparkan pena emasnya ke atas meja kaca hingga menimbulkan bunyi klak yang nyaring. Rasa tidak terima membakar dadanya. Rania merasa dikhianati oleh takdir. Bagaimana bisa wanita secerdas dirinya, yang kini memimpin Puspa Holdings, harus menanggung malu dan diusir seperti pengemis hanya karena urusan perselingkuhan yang menurutnya sepele? Bagi Rania, Bramantyo hanyalah pria lemah yang mudah disetir, dan Wirawan, si tua bangka itu, adalah penghalang nyata yang menghancurkan masa depannya.
Rania bangkit dari kursinya, berjalan perlahan menuju dinding kaca besar yang menampilkan lanskap gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Sambil melipat tangan di dada, ia menatap bayangan dirinya sendiri pada kaca yang memantulkan ekspresi wajah yang penuh kalkulasi kejam.
"Pailit tiruan? Sandiwara yang bagus, Wirawan," gumamnya dengan senyum miring yang mengerikan. "Kau pikir kau bisa mengelabui seluruh dunia dengan berita palsu itu? Kau sengaja memotong sokongan dana ke Puspa Holdings agar perusahaanku hancur, sementara kau sendiri bersembunyi di luar negeri dan membiarkan Banyu menjalankan proyek-proyek besar di bawah meja?"
Otak Rania berputar cepat, menyusun kepingan-kepingan informasi yang baru saja ia dapatkan. Status pailit yang ramai di media sosial sebulan lalu jelas merupakan strategi pengalihan isu berskala besar. Wirawan pasti sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar, atau mungkin... sedang melindungi sesuatu. Atau seseorang.
Rania memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan gejolak amarahnya, lalu membukanya kembali dengan binar mata yang penuh tekad jahat. Kelemahannya saat ini adalah ia terlalu percaya pada berita media tanpa memeriksa langsung dokumen resmi di Pengadilan Niaga. Tapi, itu adalah kesalahan kecil yang bisa ia perbaiki sekarang juga.
"Hendra tidak tahu di mana si tua bangka itu berada," Rania berbalik, berjalan kembali ke mejanya dan meraih ponsel pribadinya. Tombol demi tombol ia tekan dengan ketukan ritmis yang penuh intimidasi. "Tapi jajaran direksi tahu. Dan jika mereka tahu, maka aku hanya perlu memeras informasi itu dari salah satu dari mereka."
Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah nama kontak yang sudah lama tidak ia hubungi. Seorang direktur keuangan di Dirgantara Perkasa yang memiliki rahasia gelap di masa lalu, sebuah kartu as yang disimpan Rania rapat-rapat untuk situasi darurat seperti ini.
Sembari menunggu nada sambung di teleponnya terhubung, Rania bergumam lirih dengan nada mengancam yang amat dingin, seolah-olah korbannya sedang berada di hadapannya.
"Kalian semua sudah bermain-main dengan harimau yang salah. Bramantyo, Wirawan... aku bersumpah akan membuat kalian berlutut di bawah kakiku dan memohon ampunan setelah aku merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Puspa Holdings tidak akan hancur sendirian. Jika aku jatuh, maka Dirgantara Perkasa akan kupastikan ikut hancur menjadi debu bersama kalian."
Terdengar suara klik dari ujung telepon, menandakan panggilan telah diterima. Detik itu juga, ekspresi penuh amarah di wajah Rania lenyap tanpa bekas, berganti dengan suara yang terdengar sangat ramah, manis, namun sarat akan racun yang mematikan.
"Halo, Pak Arya? Lama tidak terdengar kabarnya. Bagaimana kalau kita minum kopi sore ini? Ada sebuah rahasia kecil tentang masa lalu Anda yang sepertinya perlu kita bicarakan kembali..."
[Bersambung]
like+ bunga🌹🤭
kalo berkenan mampir ya thor😉