Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.
Dengan semakin berkembangnya tenaga uap dan mesin, siapa yang bisa mendekati sosok Master Q? Terselubung dalam kabut dan kegelapan, siapa atau apa kejahatan yang mengintai dan berbisik di telinga kita?
Terbangun dengan serangkaian kebingungan dan misteri, Bagas Pratama mendapati dirinya bereinkarnasi ke tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu di dunia yang dipenuhi oleh lautan dan dikuasai oleh mesin uap, bajak laut, meriam, serta Ramuan, Q, dan Anomali.
Ikuti kisah Rostav Zertu dalam menghadapi bahaya dan misteri yang mengincarnya, saat terlibat dengan organisasi-organisasi rahasia yang ada di dunia.
Ini adalah kisah dari "Kapten Mawar Hitam".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Kelaparan
Rostav Zertu mendengarkan dengan seksama. Dia tidak ingin ketinggalan satu pun informasi. Apa yang dijelaskan oleh Cia, semuanya adalah informasi berharga. Rostav mengelus dagunya dan berpikir, 'tak pernah kubayangkan sistemnya akan serumit dan sekompleks itu. Bahkan bisa dibilang berbahaya. Untuk menjadi Master Q, aku harus meminum Ramuan dan melakukan ritual, jika tidak maka persentase kehilangan kendali akan meningkat, dan berkemungkinan menjadi Pengamuk. Apa Pengamuk semacam monster yang terbentuk dari Master Q?
'Baru setelah itu, aku bisa menggunakan Q dan menggunakan kemampuannya setelah menjinakkannya. Bahkan, Master Q dan Q memiliki Tingkat-annya sendiri. Master Q terbagi menjadi 9 Tingkat dan bercabang menjadi Tahap Awal, Tengah, Atas, dan Puncak. Dan Q sepertinya tidak memiliki percabangan seperti itu.
'Tidak hanya itu, aku juga harus merawatnya, memberinya makan. Q adalah makhluk hidup, Q adalah esensi alam semesta. Setiap makhluk hidup memerlukan makan, hanya saja Q lebih spesial karena mereka mempunyai kemampuan supranatural. Setelah dijinakkan, mereka akan tinggal di Laut Primordial.'
Rostav berdehem, dia mondar-mandir di dek kapal berkali-kali, dia mengingat pengalamannya saat menjelajahi lautan berwarna biru gelap, dan di dalamnya ikan hitam yang dia tangkap dari hasil memancing tinggal kedalaman lautan di sana. 'Hal itu mengingatkanku pada pengalaman ajaib kemarin. Aku mengira tempat itu diciptakan oleh ikan hitam itu, tapi setelah mendengar penjelasan Cia, aku akhirnya tahu kalau ternyata laut berwarna biru gelap itu adalah Laut Primordial-ku.
'Dan fakta bahwa ikan hitam itu tinggal di sana, apakah dia adalah Q? Jika benar, dia di Tingkat berapa? Jika ternyata Tingkat-annya lebih tinggi dariku, yang hanya seorang Master Q Tingkat 1 Tahap Awal, maka hidupku berada dalam bahaya,' dia meremas dadanya sendiri, merasakan jantungnya berdetak dengan lebih cepat, seolah-olah dia baru saja lari maraton.
Cia berbalik arah dan menatap Rostav dalam-dalam, dia dapat mengetahui bahwa Rostav tengah berpikir, dia bersandar di pagar dan berkata, "apa kau sudah memahaminya?"
Rostav terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk dan menatap Cia. Mata mereka bertemu. "Ya, sebagian besar aku sudah memahaminya," suaranya terdengar setenang air. Hal itu membuat Cia terkejut, jika orang yang belum pernah mengetahui apa itu Q dan Master Q pasti akan merasa sangat terkejut dan bersemangat. Dia ingat pernah menjelaskan hal yang sama pada adiknya yang paling kecil, dan dia menjadi begitu semangat dan sangat ingin menjadi Master Q.
Saat dia ingin mengatakan sesuatu lagi, tiba-tiba sebuah suara bergemuruh terdengar di telinga mereka berdua. Cia menundukkan kepalanya, wajahnya perlahan berubah menjadi merah, dia menutupinya dengan kedua tangan.
Sementara itu, Rostav yang tahu suara apa itu hanya menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil. "Apa kau lapar?"
Cia menganggukkan kepalanya dengan ragu, lalu menurunkan kedua tangannya dan mengelus perutnya.
"Hahaha, berapa lama sebenarnya kau tidak makan sampai suaranya sebesar itu?" Rostav tertawa keras, membuat wajah Cia menjadi merah padam.
"Diam!" dia berteriak, kesal kepada Rostav.
"Baiklah, baiklah, aku punya banyak stok makanan di dapur. Ikuti aku!" Rostav melangkahkan kakinya menuruni tangga dan menuju dapur, diikuti oleh Cia yang masih merah wajahnya, dengan langkah gontai. Dia belum terbiasa menggunakan kaki manusia.
Ketika mereka berdua sampai di dapur, Rostav membuka lemari dan mengambil wadah kayu. Dia meletakkannya di meja dan membukanya. Daging di dalam wadah itu masih sangat banyak, cukup untuk satu minggu. Tapi kini kapal kedatangan orang baru, mungkin hanya bisa bertahan selama tiga sampai empat hari lagi.
Sementara itu, Cia hanya menyapu pandangan dan memindai tempat ini.
"Ambillah!" Rostav menawarkan dan menggeser wadah itu ke dekat Cia.
Cia melirik daging di dalam wadah itu, dia awalnya merasa ragu, tapi setelah melihat Rostav memakannya dengan aman, dan karena rasa lapar yang membara, dia mengambil beberapa daging di wadah dan memakannya dengan lahap. Cairan bening keluar dari matanya saat dia memakan daging itu. Dia tidak peduli teksturnya alot, keras, dan rasanya hambar, yang terpenting dia bisa makan makanan layak setelah sekian lama.
'Enak! Rasanya sangat enak!' Cia menangis dalam hati, merasakan kenikmatan daging ikan itu.
'Lihat, betapa laparnya perempuan ini. Bahkan memakannya sampai menangis. Sungguh, aku merasa iba dengannya,' Rostav tersenyum saat melihat Cia memakannya dengan lahap.
Beberapa menit kemudian setelah Cia kenyang, dia menggeser wadah itu ke dekat Rostav, seolah-olah mengatakan bahwa dia sudah kenyang.
Rostav menutup wadahnya dan menyimpannya lagi ke dalam lemari.
Cia mengusap bibirnya dan mengelus perutnya yang sudah kenyang. Dia bersandar di dinding dan bertanya kepada Rostav, "terima kasih atas makanannya. Ngomong-ngomong, daging apa itu?"
"Ikan bersisik emas," Rostav menjawabnya dengan santai dan murah senyum.
Cia yang mendengarnya pun mematung selama lima detik penuh, dan kemudian berteriak, suarnya bergema di dalam dapur. "APA?"
"Hei, tenang, kenapa kau tiba-tiba berteriak?" Rostav menutup kedua telinganya, protes kepada Cia.
"Maafkan, aku, aku hanya terlalu terkejut," Cia menundukkan kepalanya sebagai permintaan maaf.
"Kenapa kau terkejut?" Rostav yang penasaran tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
Sementara itu, Cia sendiri yang malah merasa bingung dengan Rostav. 'Kenapa? Apa dia tidak tahu kalau ikan bersisik emas adalah ikan berbahaya?'
Cia akhirnya menghembuskan napas dan menjawab, "tentu saja aku terkejut. Apa kau yakin yang kita makan daging ikan bersisik emas?"
Rostav mengangguk dan menambahkan, "tentu saja, aku sendiri yang memancingnya."
Mendengar pernyataan itu membuat Cia menjadi semakin terkejut. 'Memancingnya? Apa dia sedang membodohiku? Bagaimana mungkin seseorang menangkap ikan bersisik emas hanya dengan memancing? Ikan itu bahkan disebut monster di dunia luar, karena memakan banyak korban nelayan yang sedang mencari ikan di laut. Sisiknya yang keras membuatnya sangat sulit untuk ditaklukkan, bahkan untuk Master Q Tingkat 2. Karena hal itulah yang membuat sisiknya mahal di pasaran, biasanya digunakan untuk membuat armor dan memperkuat badan kapal.'
"Ah, baiklah. Ini adalah Laut Mayat. Banyak hal tidak masuk akal yang bisa terjadi di sini. Aku tidak akan terkejut lagi," Cia menghela napas panjang dan menatap Rostav dalam-dalam. "Ngomong-ngomong, apa kau sendirian di kapal ini?" sebenarnya Cia sudah tahu jawabannya, tapi dia ingin memastikannya, bisa saja apa yang dia pikirkan salah.
"Ya," dia menjawabnya dengan singkat.
"Lalu, bagaimana kau bisa hidup di Laut Mayat selama ini? Dan, berapa lama kau terjebak di tempat ini?" Cia yang merasa penasaran tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
'Hm, haruskah aku menjawabnya? Sejujurnya aku sendiri tidak tahu bagaimana masih bisa bertahan hidup. Juga, aku tidak tahu berapa lama Rostav terjebak di tempat ini. Bagaimana aku menjawabnya?' Rostav berpikir dengan keras, sebelum akhirnya dia mendapatkan jawaban yang pas. "Aku selama ini hanya berdiam diri di ruanganku, membaca, melihat peta, tidur, makan, mandi. Dan jika persediaan makan habis, aku akan pergi memancing," katanya dengan suara lembut.
"Tapi, untuk menjawab pertanyaan keduamu... aku punya hak untuk tidak menjawabnya," raut wajahnya dibuat-buat sedih, seolah-olah merasa kehilangan.
Cia yang melihatnya pun segera meminta maaf dan tidak mempermasalahkannya. 'Hm, aku merasa bersalah menanyakan pertanyaan itu... lupakan. Dia bilang bahwa dirinya selama ini berada di ruangannya, membaca, melihat peta, makan tidur, dan sebagainya. Dan memancing ketika makanan habis. Apa benar begitu? Bukankah ada yang salah? Laut Mayat adalah tempat yang berbahaya dan penuh dengan misteri. Apa mungkin seseorang bisa hidup hanya dengan melakukan hal itu?'
Cia awalnya sulit untuk mempercayainya, bagaimana mungkin seseorang dapat hidup di Laut Mayat hanya dengan melakukan aktivitas santai?
Cia menegakkan tubuhnya dan berpegangan pada dinding untuk menahan keseimbangannya.
"Apa aku bisa kembali ke kamar? Entah kenapa aku tiba-tiba mengantuk," suara Cia tampak melemah, dan matanya yang indah mulai mengerjap.
"Baiklah, ini kuncinya. Kau bisa memilikinya," Rostav mengambil kunci dari sakunya dan menyerahkannya pada Cia.
Cia berterima kasih dan mengambilnya, lalu melangkah keluar dari dapur dan menuju kamarnya. Dari dapur, terdengar suara pintu tertutup dan terkunci.
Rostav berdiam diri di dapur selama beberapa saat sebelum akhirnya pergi ke ruangannya.