Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Pertarungan Dua Jenius
Angin di Medan Pertempuran Langit mendadak berhenti.
Bukan angin biasa. Angin yang sejak tadi bertiup kencang, yang membawa debu dan pasir, yang membuat pakaian para penonton berkibar liar, tiba-tiba lenyap.
Hening. Diam. Seolah dunia sendiri sedang menahan napas, menunggu sesuatu yang besar akan terjadi.
Suasana menjadi sunyi. Sunyi yang menyesakkan. Sunyi yang membuat bulu kuduk meremang.
Wen Tianren berdiri tegak dengan pedang di tangannya. Aura biru yang sebelumnya menyelimuti tubuhnya mulai berubah.
Tidak lagi hanya melapisi kulit terluar, tapi bergolak, mendidih, seperti lautan spiritual yang sedang marah.
Bzzzttt!
Langit di atasnya dipenuhi ribuan simbol kuno berwarna biru. Simbol-simbol itu berputar perlahan, membentuk formasi melingkar yang rumit, berdenyut mengikuti detak jantung Wen Tianren.
Setiap simbol memiliki maknanya sendiri, setiap goresan mengandung kekuatan yang dahsyat.
Energi spiritual dari radius puluhan kilometer berkumpul menuju dirinya.
Udara di sekitar Medan Pertempuran Langit terasa tipis, kosong, karena semua Qi telah disedot ke satu titik.
Para kultivator yang menonton mulai merasakan sesak di dada mereka, seolah energi di tubuh mereka sendiri ikut tertarik.
Beberapa membuka mulut, beberapa memejamkan mata karena silau, beberapa lainnya hanya bisa terdiam, tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.
"Dia menggunakan teknik tingkat tinggi!"
"Itu salah satu teknik utama Klan Wen! Aku pernah melihatnya digunakan oleh tetua, tapi tidak sekuat ini!"
"Seumur hidupku, baru pertama kali aku melihat Tuan Muda Wen serius seperti ini."
Wen Pang yang sejak tadi tenang, dengan ekspresi datar seolah tidak ada yang menarik, akhirnya menyipitkan mata.
"Tianren serius," gumamnya pelan, hanya untuk didengar dirinya sendiri.
Di sampingnya, Wen Xiang menggigit bibirnya. Tangannya yang sedari tadi memegang ujung jubahnya kini semakin erat, hingga buku-buku jarinya memutih.
Matanya tidak berkedip, terus menatap ke arah medan perang.
Di medan perang, Wang Chan merasakan tekanan besar menekan tubuhnya.
Tekanan itu bukan hanya fisik. Bukan hanya beban energi spiritual yang melimpah di sekitarnya.
Tapi tekanan yang menusuk ke dalam jiwanya, seperti ada tangan raksasa yang mencengkeram jantungnya dan perlahan menekan.
Tanah di bawah kakinya terus retak. Retakan-retakan menyebar semakin lebar, membentuk jurang-jurang kecil di sekelilingnya. Ia bisa merasakan bebatuan di bawahnya hancur menjadi pasir.
Namun ia tidak mundur.
Ia tidak akan mundur.
Mata Immortal miliknya berputar perlahan di dalam rongga mata kirinya.
Putaran itu lembut, tenang, tidak terburu-buru. Seperti mata elang yang sedang mengamati mangsanya dari ketinggian, sabar, teliti, tidak melewatkan satu detail pun.
Setiap aliran energi di sekitar mulai terlihat semakin jelas.
Bukan hanya aliran Qi di udara, tapi juga aliran Qi di dalam tubuh Wen Tianren, di dalam pedangnya, bahkan di dalam simbol-simbol kuno yang bertebaran di langit.
Wen Tianren mengangkat pedangnya.
"Sepuluh Ribu Pedang Roh!"
WUSHHH!
Langit langsung dipenuhi pedang energi.
Seratus. Lima ratus. Seribu. Tiga ribu. Lima ribu.
Sepuluh ribu pedang spiritual melayang di udara. Mereka tidak bergerak, hanya melayang diam, tapi ketegasan mereka sudah cukup untuk membuat siapa pun gentar.
Ujung-ujung pedang itu mengarah ke bawah, tepat ke arah Wang Chan, siap menusuk kapan saja.
Aura tajamnya membuat kulit para penonton merinding.
Beberapa yang terlalu dekat dengan medan perang harus mundur lagi karena tidak tahan dengan tekanan yang menusuk-nusuk kulit mereka seperti jarum.
"Bunuh."
Wen Tianren mengayunkan pedangnya ke bawah.
Gerakannya sederhana, seperti orang yang sedang memotong sayuran, tanpa beban, tanpa ekspresi.
Tapi efeknya tidak sederhana.
BOOM!
Sepuluh ribu pedang spiritual melesat turun. Langit berubah menjadi lautan cahaya biru.
Pedang demi pedang, seperti hujan meteor, seperti air terjun dari langit, seperti kiamat yang diutus oleh dewa.
Wang Chan menarik napas dalam.
Tombaknya bergetar di tangannya. Getaran itu bukan karena takut, tapi karena energi di dalamnya sedang memuncak, siap meledak.
Energi hitam keemasan menyelimuti seluruh tubuhnya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, ia terbungkus aura yang gelap tapi berkilau, seperti malam yang dipenuhi bintang.
"Penghalang Seribu Tombak."
Brummm!
Puluhan ribu bayangan tombak muncul di sekelilingnya.
Tidak seperti pedang Wen Tianren yang terlihat solid dan nyata, bayangan tombak Wang Chan lebih seperti hantu, tembus pandang, tapi terasa padat ketika disentuh.
Mereka berputar cepat, membentuk kubah raksasa yang melindungi Wang Chan dari segala arah.
Kubah itu hitam keemasan, berdenyut seperti jantung raksasa, dan setiap putarannya menciptakan angin yang memotong.
BRAK!
BRANG!
BOOM!
Pedang dan tombak bertabrakan tanpa henti. Ledakan terdengar bertubi-tubi, seperti petir yang menyambar berulang kali di tempat yang sama.
Setiap benturan menghasilkan gelombang kejut yang menghancurkan tanah di sekitar.
Kawah-kawah baru terbentuk di mana-mana. Bekas ledakan, bekas benturan, bekas energi yang meledak.
Medan Pertempuran Langit yang tadinya tandus dan kosong kini terlihat seperti permukaan bulan, penuh lubang dan retakan.
Namun jumlah pedang spiritual terlalu banyak.
Sepuluh ribu. Bukan angka yang kecil.
Meskipun Wang Chan bisa memunculkan bayangan tombak dalam jumlah yang sama, daya tahan dan konsentrasinya mulai terkikis.
Beberapa pedang berhasil menembus pertahanan.
Crack!
Salah satu pedang energi mengenai bahu Wang Chan. Pedang itu tidak menusuk, tapi menghantam dengan kekuatan yang cukup untuk membuat bahunya terasa mati rasa.
Tubuhnya terdorong mundur dua langkah, kakinya menyeret di tanah, meninggalkan bekas alur yang dalam.
Crack!
Pedang lain menghantam sisinya, tepat di bawah tulang rusuk. Wang Chan bisa merasakan dua tulangnya bergeser, tidak patah, tapi hampir.
Rasa sakit yang tajam menjalar dari pinggang ke dadanya.
Darah mengalir dari sudut mulutnya. Merah, segar, menetes ke dagu, lalu jatuh ke tanah merah di bawahnya.
Meski begitu, matanya tetap tenang.
Ia masih mengamati. Masih fokus. Masih menunggu.
Setiap pedang yang menghantamnya, ia rekam. Setiap benturan yang terjadi, ia analisis. Setiap aliran energi yang keluar dari tubuh Wen Tianren, ia lacak.
Lalu, ia menemukannya.
Sumber utama teknik itu.
Pusat aliran spiritual Wen Tianren.
Tidak terlihat oleh mata biasa. Bahkan mungkin tidak terlihat oleh sebagian besar kultivator. Tapi Mata Immortal Wang Chan bisa melihatnya.
Sebuah titik kecil di dada Wen Tianren, tempat semua energi spiritual dikendalikan. Jika titik itu terganggu, teknik itu akan runtuh.
Wang Chan langsung melesat.
BOOM!
Tanah di belakangnya meledak.
Bukan karena ada serangan, tapi karena kekuatan tolak dari lompatannya yang terlalu cepat, terlalu kuat. Wang Chan tidak pernah berlari secepat ini sebelumnya.
Wen Tianren tersenyum.
"Kau menemukannya?" suaranya terdengar di tengah deru angin dan ledakan. "Tapi apakah kau bisa mencapainya?"
Pedangnya berputar di tangannya. Gerakan yang indah, seperti penari yang berputar di atas panggung.
"Lautan Pedang Surgawi!"
BZZZZT!
Ribuan pedang spiritual yang tersisa, yang masih melayang di udara setelah gelombang pertama, langsung bergabung.
Mereka tidak lagi menyerang satu per satu, tidak lagi berpencar. Mereka melebur, menyatu, berpadu menjadi satu entitas yang jauh lebih besar.
Gelombang raksasa.
Tsunami pedang.
Tingginya puluhan meter, membentang dari kiri ke kanan sejauh mata memandang.
Permukaannya berkilat biru, terdiri dari ribuan bilah pedang yang saling bertautan, berputar, bergerak seperti air laut yang bergolak.
Tsunami itu melaju ke depan, melahap seluruh medan perang. Tidak ada tempat untuk lari. Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Hanya menghadapinya atau mati.
Para penonton sampai menahan napas. Beberapa menutup mata, tidak sanggup melihat.
Beberapa lainnya menangis tanpa suara, membayangkan diri mereka berada di posisi Wang Chan.