Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.
Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.
Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.
Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riak Kecil di Mansion Megah
Aroma kopi arabika premium dan roti panggang mentega memenuhi ruang makan mansion keluarga Wijaya yang mewah. Pagi itu, cahaya matahari bersinar terang, memantul di atas meja marmer impor yang biasanya selalu tertata rapi.
Ibu Sandra duduk dengan daster sutra mahalnya, tersenyum lebar sambil memperhatikan Valerie Amanda yang sedang mengoleskan selai ke roti Adrian dengan gerakan yang dibuat seanggun mungkin. Di seberang meja, Tiara sibuk mengunyah sambil sesekali memuji penampilan Valerie yang tampak modis dengan riasan wajah sempurna sejak pagi buta.
"Duh, kalau sarapan ditemani wanita berkelas begini kan mata jadi segar, Adrian," puji Ibu Sandra sengaja mengeraskan suaranya. "Gak kayak kemarin-kemarin. Rumah isinya cuma aura suram, bau minyak angin, dan muka melas yang bikin sial."
Adrian tersenyum tipis, menerima roti dari tangan Valerie lalu mengecup punggung tangan kekasihnya itu dengan mesra. "Tentu saja, Ma. Adrian juga merasa keputusan mendepak Kayla adalah hal paling tepat yang Adrian lakukan tahun ini. Hidup rasanya jauh lebih ringan."
Valerie tersenyum manis, menyandarkan bahunya ke lengan Adrian dengan manja. "Aku cuma mau melakukan yang terbaik buat kamu dan keluarga kamu, Hubby. Aku mau membuktikan kalau aku bisa jadi pendamping yang membanggakan buat CEO Wijaya Corp."
Suasana sarapan itu penuh dengan tawa dan saling sanjung, seolah-olah dosa mereka yang telah membuang seorang wanita hamil tua di tengah badai dua malam lalu hanyalah angin lalu yang tak berarti. Mereka merasa telah menang mutlak.
Namun, kesenangan itu tidak bertahan lama.
Adrian melirik jam tangan Rolex-nya, lalu buru-buru menghabiskan kopinya. "Ma, Val, aku berangkat kantor duluan ya. Pagi ini jam sembilan ada rapat krusial dengan pihak Xavier Group. Investor utama kita mau meninjau ulang draf ekspansi proyek kemarin."
Adrian berdiri, merapikan jas abu-abu mahalnya lalu berjalan menuju ruang kerja pribadinya di lorong tengah untuk mengambil tas kerja. Namun, begitu dia membuka pintu ruang kerja, keningnya langsung mengernyit.
Meja kerjanya kosong. Biasanya, setiap pagi sebelum subuh, Kayla sudah menyusun semua dokumen rapat di dalam map jepit, meletapkannya tepat di samping laptop, lengkap dengan pulpen mewah dan rangkuman poin penting yang ditulis dengan tulisan tangan yang rapi.
Adrian mendecih pelan. Dia mulai membongkar laci mejanya, mengacak-acak tumpukan kertas secara acak. "Di mana dokumen presentasi buat Xavier Group kemarin?" gumamnya kesal.
Karena tidak menemukan apa-apa, Adrian berteriak dari dalam ruangan, "Valerie! Sini sebentar!"
Valerie yang sedang mengobrol dengan Ibu Sandra langsung berjalan tergesa-gesa menghampiri Adrian dengan wajah bingung. "Ada apa, Hubby?"
"Kamu lihat map warna biru yang isinya draf analisis keuangan buat rapat pagi ini gak? Kemarin kan aku minta kamu yang pegang setelah Gala selesai," tanya Adrian, nadanya mulai terdengar tidak sabar.
Valerie mengerjapkan matanya, wajah cantiknya seketika tampak panik. "Eh? Bukannya kemarin aku taruh di atas meja rias kamar kita ya? Atau... atau ketinggalan di mobil? Duh, aku lupa, Hubby. Kemarin kan habis Gala kita langsung minum-minum sama teman-teman kamu..."
"Valerie, ini rapat dengan Xavier Group! Kamu tahu sendiri kan Tuan Devan Xavier itu orangnya seperfeksionis apa? Kalau dokumennya gak ada, kita mau presentasi pakai apa?!" suara Adrian mendadak meninggi, membuat Valerie tersentak mundur.
"Ya... ya mana aku tahu! Biasanya kan pembantu sialan itu yang selalu tahu tempat barang-barang kamu!" sahut Valerie refleks, mulai merengek kesal karena merasa disalahkan. "Lagian kenapa kamu malah membentak aku sih? Aku kan Direktur Kreatif, bukan sekretaris pribadi kamu yang harus mengurusi kertas-kertas membosankan begitu!"
Mendengar keributan itu, Ibu Sandra dan Tiara buru-buru datang mendekat.
"Ada apa sih, Adrian? Pagi-pagi kok sudah ribut?" tanya Ibu Sandra cemas.
"Dokumen rapat pentingku gak tahu ada di mana, Ma! Valerie gak becus menyimpannya!" ucap Adrian kasar sambil mengacak rambutnya frustrasi.
Egonya menolak untuk mengakui sebuah kenyataan pahit yang tiba-tiba melintas di benaknya. Selama tiga tahun ini, Adrian tidak pernah tahu bagaimana cara menyusun dokumen, dia tidak pernah tahu di mana letak berkas pajaknya, dan dia tidak pernah pusing memikirkan jadwal rapatnya. Semua hal rumit itu selalu beres secara ajaib di atas meja kerjanya sebelum dia bangun tidur.
Semua itu karena Kayla. Wanita yang dia sebut "benalu" itulah yang selama ini menjadi otak di balik keteraturan hidupnya tanpa pernah meminta pujian.
Dan sekarang, baru dua hari Kayla pergi, riak kekacauan kecil yang sepele namun fatal mulai merayap masuk, merusak kenyamanan hidup sang CEO muda yang sombong itu.
"Udah, udah, mending kamu cari di mobil dulu. Sambil jalan ke kantor," ujar Ibu Sandra menenangkan anak kesayangannya.
Adrian tidak menjawab. Dengan wajah yang menggelap menahan dongkol, dia menyambar kunci mobilnya, mengabaikan Valerie yang memasang muka cemberut karena kesal habis dibentak, lalu melangkah lebar meninggalkan mansion yang mendadak terasa sedikit mencekik.