Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nilai Sebuah Kesucian
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan kerja Asher, namun kali ini atmosfernya terasa jauh lebih berat dan menekan. Tawaran Haris yang menyerahkan anak gadisnya sendiri sebagai penebus utang seolah membekukan aliran udara di tempat itu.
Dua pengawal yang memegangi bahu Haris tampak tertegun, tidak menyangka seorang ayah akan serendah itu demi menyelamatkan kulitnya sendiri. Namun, reaksi paling keras datang dari orang yang berdiri di sebelah meja kerja Asher.
Kenzo, yang biasanya selalu bersikap tenang layaknya robot tanpa emosi, mendadak menegang. Sepasang matanya menajam, memancarkan kilatan amarah yang jarang sekali dia tunjukkan. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol tegap. Bagi Kenzo, tawaran Haris bukan hanya sebuah tindakan yang menjijikkan, melainkan sebuah penghinaan besar bagi harga diri bosnya.
"Tutup mulutmu, tua bangka keparat!"
Suara Kenzo menggelegar, memecah kesunyian ruangan dengan nada bariton yang sarat akan murka. Dia melangkah maju dengan cepat, berniat untuk menghajar wajah Haris yang bersujud di lantai. Tangannya sudah bergerak menuju gagang senjata di pinggangnya.
"Kau pikir Bos Asher ini pria hidung belang yang bisa kau suap dengan wanita?" bentak Kenzo dengan tatapan menghunus tajam. "Kau pikir organisasi ini tempat penampungan pelacur? Berani sekali kau menyamakan posisi Bos kami dengan para kolektor wanita jalang di luar sana!"
Bagi Kenzo, Asher adalah seorang penguasa tertinggi yang mutlak dan terhormat di dunia bawah tanah. Asher tidak pernah bermain-main dengan wanita, tidak pernah menyentuh klub-klub malam untuk mencari kepuasan kedagingan, dan sangat menjaga jarak dari segala bentuk godaan emosional yang bisa melemahkan posisinya. Menawarkan seorang gadis kepada Asher seolah-olah merendahkan derajat sang bos mafia menjadi setingkat dengan pria-pria mesum kelas teri yang haus belaian.
Haris yang melihat kemarahan Kenzo langsung memejamkan mata rapat-rapat, merapatkan tubuhnya ke lantai marmer yang dingin. "Ampun, Pak Kenzo! Ampun! Saya tidak bermaksud begitu! Saya hanya... saya tidak punya apa-apa lagi!" jeritnya dengan suara melengking, bersiap menerima hantaman sepatu atau timah panas yang mungkin akan menembus kepalanya detik itu juga.
Namun, sebelum langkah Kenzo sempat mencapai tubuh Haris, sebuah gerakan lambat menghentikan segalanya.
Asher mengangkat tangan kirinya ke udara. Hanya satu gerakan kecil, tanpa suara, namun memiliki kekuatan absolut yang sanggup menghentikan badai.
Kenzo langsung mengerem langkahnya tepat satu meter di depan Haris. Tangan kanan yang sangat setia itu menoleh ke arah bosnya, napasnya masih memburu menahan geram. "Bos, pria ini sudah kehilangan akal. Dia menghina Anda dengan penawaran sampah seperti ini. Biarkan saya menyelesaikannya sekarang juga," ucap Kenzo, mencoba menjaga suaranya tetap terkendali di hadapan Asher.
Asher tidak langsung merespons Kenzo. Dia perlahan menurunkan tangannya, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit mewahnya. Tatapan matanya yang kelabu berpindah dari Kenzo, lalu turun mengunci sosok Haris yang masih gemetar di lantai. Wajah Asher tidak menunjukkan kemarahan sama sekali; wajah itu tetap datar, sedingin bongkahan es di kutub, membuat siapa pun tidak bisa menebak apa yang sedang berputar di dalam isi kepalanya.
"Tenang, Kenzo," ucap Asher pendek. Suaranya yang rendah dan tenang justru terdengar lebih mengerikan daripada bentakan Kenzo sebelumnya. "Kembalilah ke posisimu."
Kenzo mengepalkan tinjunya dengan kuat, menahan gejolak penolakan di dalam dadanya. Namun, kepatuhannya kepada Asher berada di atas segalanya. Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan emosinya, Kenzo mundur beberapa langkah dan kembali berdiri tegap di samping meja kerja, meskipun matanya tetap menatap Haris dengan pandangan yang siap membunuh.
Asher kembali memfokuskan perhatiannya pada Haris. Dia mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja kayu mahogani, menciptakan ritme yang konstan dan menyiksa di dalam ruangan yang sunyi itu.
"Anak gadis, katamu?" Asher bersuara, nadanya terdengar sangat santai, hampir seperti seorang pengusaha yang sedang menanyakan spesifikasi barang dagangan yang ditawarkan kepadanya. "Kau ingin menukar utang ratusan ribu dolar yang kau curi dari kas wilayahku... dengan seorang gadis?"
Haris buru-buru mendongak, melihat celah kecil untuk bertahan hidup. "I-Iya, Bos Asher! Benar! Dia... dia putri satu-satunya yang saya miliki. Hidupnya masih sangat bersih, Bos!" jawab Haris dengan lantang, meskipun suaranya terbata-bata dan napasnya tersengal karena sisa rasa takut.
Asher memicingkan matanya. "Aku tidak butuh wanita pajangan di rumahku, Haris. Katakan padaku, apa yang membuat anak gadismu bernilai setara dengan nyawamu malam ini? Bagaimana ciri-cirinya?"
Mendengar pertanyaan itu, Haris seolah mendapatkan kekuatan tambahan dari keputusasaannya. Dia langsung menjabarkan ciri-ciri putrinya dengan suara yang keras, mencoba meyakinkan sang iblis di depannya bahwa barang tebusan yang dia tawarkan tidak akan mengecewakan.
"Dia... dia berumur dua puluh satu tahun, Bos! Kulitnya seputih susu, sangat halus karena dia tidak pernah bekerja kasar," tutur Haris dengan menggebu-gebu, air mata dan keringat bercampur di wajahnya yang kuyu. "Rambutnya... rambutnya panjang, berwarna cokelat gelap alami yang sangat indah. Matanya besar dan jernih, seperti... seperti rusa yang polos, Bos Asher!"
Haris menelan ludah yang terasa kering di kerongkongannya sebelum melanjutkan dengan terbata-bata, "D-Dan yang paling penting... dia sangat penurut. Dia anak yang berbakti, Bos. Dia tidak pernah membantah perkataan saya. Dia murni, belum pernah pacaran, apalagi disentuh oleh laki-laki lain. Saya bersumpah demi sisa umur saya, dia masih suci! Anda bisa memeriksa dan memilikinya seumur hidup Anda!"
Kenzo yang mendengarkan penuturan itu dari samping mengepalkan rahangnya begitu kuat hingga persendian tangannya memutih. Dia merasa sangat muak melihat seorang ayah yang menjajakan kesucian putrinya sendiri dengan begitu gamblang di ruang eksekusi mafia demi melunasi utang judi. Jika bukan karena perintah Asher untuk diam, Kenzo sudah pasti akan memotong lidah Haris saat itu juga.
Asher mendengarkan seluruh penjelasan Haris tanpa menyela satu kata pun. Matanya yang kelabu tidak berkedip, memperhatikan setiap ekspresi ketakutan sekaligus kelicikan yang terpancar dari wajah pria tua itu. Bayangan tentang seorang gadis muda yang polos, berkulit putih, berambut cokelat gelap, dan bermata jernih melintas sejenak di benaknya.
Bagi Asher, wanita adalah makhluk yang paling pandai bermuka dua. Mereka bisa terlihat sangat suci dan rapuh di luar, namun menyimpan racun dan pengkhianatan yang mematikan di dalam. Mengingat hal itu, sebuah kilatan dingin yang kejam melintas di dasar mata kelabu Asher.
Membunuh Haris malam ini adalah hal yang terlalu mudah dan murah. Pria tua ini pantas mendapatkan hukuman yang lebih menyiksa daripada sekadar kematian instan: yaitu melihat bagaimana putri yang dibanggakannya masuk ke dalam sangkar emas seorang monster dan hidup dalam penderitaan. Lagi pula, menghancurkan sesuatu yang dianggap 'murni' selalu memberikan kepuasan tersendiri bagi jiwa Asher yang sudah lama mati dan menghitam.
Asher perlahan menarik sudut bibir kanannya, membentuk sebuah seringai tipis yang sangat mengerikan—sebuah senyuman tanpa kehangatan yang menandakan bahwa sang predator telah menemukan mainan barunya.
"Menarik," ucap Asher perlahan. Satu kata itu keluar dari bibirnya dengan nada yang teramat dingin, namun sarat akan keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.
Haris tertegun sejenak, menahan napasnya menunggu kelanjutan kalimat sang bos mafia.
Asher berdiri dari kursi kebesarannya, merapikan kancing jas hitamnya dengan gerakan yang sangat elegan. Dia menatap Haris dari ketinggian tubuhnya, memberikan tekanan visual yang membuat pria tua itu kembali menundukkan kepala.
"Kenzo," panggil Asher tanpa menoleh.
"Ya, Bos," jawab Kenzo cepat, meskipun ada nada berat dalam suaranya yang menandakan ketidaksetujuan yang mendalam atas arah pembicaraan ini.
"Batalkan perintah eksekusi untuk malam ini. Tahan pria tua ini di sel bawah tanah, berikan dia makan dan minum sewajarnya. Jangan biarkan dia mati atau melarikan diri sebelum kesepakatan ini selesai," perintah Asher dengan tegas.
Haris yang mendengar hal itu langsung mengembuskan napas lega yang luar biasa. Dia kembali bersujud, menangis tersedu-sedu, namun kali ini adalah tangisan syukur karena nyawanya telah diperpanjang. "Terima kasih, Bos Asher! Terima kasih banyak! Anda sangat murah hati!"
Asher mengabaikan ucapan terima kasih yang menjijikkan itu. Dia mengalihkan pandangannya kembali pada Kenzo yang masih berdiri kaku. "Dan Kenzo... besok pagi-pagi sekali, bawa beberapa orang bersamamu. Jegal gadis itu dari rumahnya, bawa dia langsung ke kediamanku. Aku ingin melihat sendiri apakah barang tebusan yang ditawarkan pria tua ini memang sepadan dengan angka ratusan ribu dolar yang hilang."
Kenzo terdiam selama dua detik, menatap mata Asher untuk mencari tahu apakah bosnya sedang bergurau. Namun, di dalam mata kelabu itu, hanya ada kegelapan yang pekat dan kepastian yang dingin. Tidak ada ruang untuk berdebat.
Kenzo akhirnya menundukkan kepalanya dalam-dalam, menelan seluruh protes yang ada di ujung lidahnya. "Dimengerti, Bos. Perintah Anda akan dilaksanakan besok pagi."
"Bagus," ucap Asher pendek. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan meja kerjanya, berjalan menuju pintu keluar pribadi di sudut ruangan tanpa melirik Haris sedikit pun. Langkah kakinya yang mantap dan berwibawa menggema, menandakan bahwa babak baru yang penuh dengan kegelapan dan penderitaan bagi sebuah jiwa yang polos akan segera dimulai esok hari.