NovelToon NovelToon
FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: elfin hati

Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.

Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Ikatan Suci dan Luka Masa Lalu

Satu bulan berlalu sejak malam penyatuan jiwa dan raga itu. Hidup Grey Cha Lavian telah berubah seratus delapan puluh derajat. Dari gadis bebas yang biasa berlari ke mana saja dan bermain sesuka hati, kini dia telah sepenuhnya menyerahkan diri ke dalam genggaman Davian Argantha. Namun, bukan pengekangan yang dia rasakan, melainkan limpahan kasih sayang, perlindungan mutlak, dan kepemilikan yang begitu mendalam hingga membuatnya merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Davian, sang pemimpin mafia yang ditakuti seisi kota, ternyata berubah menjadi pria yang paling lembut dan perhatian hanya untuknya. Tidak ada lagi aturan kaku yang terasa menyesakkan; segalanya berubah menjadi bentuk kasih sayang yang berlebihan dan posesif yang manis.

Dan pagi itu, di tengah taman belakang kediaman megah yang didekorasi begitu indah dengan bunga-bunga putih dan emas, dihadiri oleh orang-orang terdekat serta para bawahan setia yang menunduk hormat, berlangsunglah sebuah upacara sakral yang sederhana namun penuh kemegahan. Davian berdiri tegap di hadapan penghulu, mengenakan jas hitam yang disesuaikan dengan sentuhan keemasan, wajahnya memancarkan kebahagiaan dan tekad yang tak tergoyahkan. Di sebelahnya, Grey tampak begitu mempesona dalam gaun putih bersih yang indah, rambut panjangnya disanggul rapi dengan sedikit hiasan bunga, wajahnya bersinar di bawah sinar matahari pagi.

Saat Davian mengucapkan janji suci dengan suara tegas dan berat, suara yang terdengar hingga ke seluruh penjuru taman itu, hati Grey bergetar hebat.

"Aku, Davian Argantha, mengambil engkau, Grey Cha Lavian, sebagai istriku. Aku berjanji akan melindungimu dengan seluruh nyawaku, mencintaimu dengan seluruh hatiku, dan menjagamu agar tidak pernah meneteskan air mata lagi. Mulai hari ini, namamu bersatu denganku, nasibmu bersatu denganku, dan tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang akan mampu memisahkan kita. Engkau milikku, selamanya."

Saat kalimat itu selesai terucap, saat cincin indah bermata berlian melingkar jari manis Grey, tepuk tangan dan ucapan selamat bergema di sekeliling mereka. Davian langsung menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukan erat, mencium keningnya dengan penuh rasa syukur, sementara para tamu hanya bisa menunduk takzim. Bagi dunia, ini adalah penyatuan kekuasaan. Tapi bagi mereka berdua, ini adalah penegasan bahwa ikatan yang terbentuk dalam api gairah dan kepemilikan itu kini telah disahkan di mata Tuhan dan manusia.

Namun, di tengah kebahagiaan yang meluap-luap itu, saat Davian menggenggam tangan Grey dan menuntunnya berjalan melewati barisan tamu, mata Grey sempat berkaca-kaca sejenak. Ada rasa perih samar yang menyelinap masuk ke dalam hatinya. Dia bahagia, sangat bahagia, tapi melihat pasangan yang saling berbahagia, melihat keluarga-keluarga yang hadir… kembali membuka lembaran lama yang selama ini dia kubur dalam-dalam.

Malam itu, setelah pesta selesai dan mereka kembali ke kamar pribadi mereka yang hangat, Grey duduk di tepi jendela, menatap ke luar ke arah taman yang kini mulai gelap. Davian yang baru saja selesai berganti pakaian, berjalan mendekat dan langsung memeluk bahu istrinya dari belakang, menempelkan dagunya di bahu mungil itu. Tangannya mengusap lengan Grey dengan lembut, merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sikap istrinya.

"Ada apa, Sayang? Kau terlihat melamun sejak tadi. Apa ada yang mengganggumu?" tanya Davian pelan, suaranya rendah dan penuh perhatian. Baginya, segala hal yang berkaitan dengan Grey adalah hal terpenting. Sedikit saja ada kerutan di wajah istrinya, dia akan merasa gelisah.

Grey menghela napas panjang, lalu perlahan memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan suaminya. Dia menatap wajah tampan itu, wajah yang penuh kasih sayang padanya, wajah yang tidak pernah sekalipun menunjukkan ketidaktulusan. Di sini, dalam pelukan ini, Grey merasa aman untuk membuka segala rahasia yang selama ini menjadi bayang-bayang hidupnya. Dia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Davian dengan tatapan yang mulai berkabut air mata.

"Davian… kau tahu kan, dulu aku dikenal sebagai gadis yang suka bermain-main? Yang tidak pernah mau terikat? Yang menganggap cinta itu hanya permainan?" tanyanya lirih.

Davian mengangguk pelan, dia menarik tubuh Grey agar duduk di pangkuannya, memeluk pinggang istrinya erat seolah memberi kekuatan. "Aku tahu. Dan aku juga tahu, di balik sifatmu yang bebas dan pemberani itu, ada luka yang dalam yang kau sembunyikan. Kau tidak pernah bercerita, tapi aku bisa merasakannya. Ada apa, Sayang? Katakan padaku. Segala hal tentangmu adalah hakku, termasuk masa lalumu. Aku ingin tahu segalanya, agar aku bisa memelukmu lebih erat lagi."

Kata-kata itu menjadi kunci yang membuka bendungan air mata Grey. Gadis itu menundukkan wajahnya ke dada bidang suaminya, membiarkan air matanya mengalir membasahi kain kemeja yang dikenakan Davian. Dan di sana, di dalam keheningan malam yang hangat itu, Grey mulai bercerita, membuka kembali luka masa lalu yang sudah lama terkubur, mengapa dia menjadi play girl yang dulu semua orang kenal.

 

(Kilas Balik)

Dua puluh tahun yang lalu, Grey Cha Lavian lahir di keluarga yang kaya raya namun dingin. Ayahnya, Tuan Lavian, adalah seorang pengusaha sibuk yang gila kerja, yang baginya uang dan jabatan adalah segalanya. Ibunya meninggal dunia saat Grey masih berusia lima tahun, meninggalkan gadis kecil itu sendirian dengan ayahnya yang bahkan hampir tidak punya waktu untuk makan bersama, apalagi bermain atau mengajak bicara. Sejak saat itu, Grey belajar arti kesepian. Dia tumbuh di rumah besar yang megah namun kosong, penuh dengan pelayan yang sopan namun tak ada yang benar-benar menyayanginya.

Dan saat Grey berusia tujuh tahun, ayahnya menikah lagi. Seorang wanita cantik, elegan, dan berpendidikan tinggi. Itulah Ibu Tiri. Di depan umum, wanita itu bertindak seolah-olah dia adalah ibu terbaik bagi Grey. Dia tersenyum, membelai kepala Grey, dan berkata pada semua orang betapa dia menyayangi anak tirinya itu. Tapi di balik pintu tertutup, di saat tidak ada siapa pun yang melihat, topeng wanita itu terlepas.

"Dasar anak sialan! Kenapa kau harus ada di sini? Kenapa kau tidak saja ikut mati bersama ibumu? Kau hanya benalu yang merebut kekayaan suamiku!"

Kalimat-kalimat tajam itu sering kali meluncur keluar dari mulut ibu tirinya setiap kali ayah Grey pergi bekerja. Wanita itu kejam. Dia tidak pernah memukai Grey secara fisik yang meninggalkan bekas terlihat, tapi dia menyiksa gadis kecil itu dengan kata-kata yang menusuk hati, dengan pengabaian yang disengaja, dan dengan permainan psikologis yang membuat Grey merasa dia tidak diinginkan, dia tidak berharga, dan dia adalah kesalahan terbesar dalam hidup.

Ayahnya? Ayahnya sama sekali tidak tahu, atau mungkin dia pura-pura tidak tahu. Dia terlalu sibuk dengan urusan bisnis, terlalu sibuk mengejar kekayaan, hingga dia tidak pernah menyadari bahwa putri satu-satunya itu perlahan hancur hatinya. Setiap kali Grey mencoba mengadu, ayahnya hanya akan mengusirnya dengan alasan sibuk, atau lebih buruk lagi, percaya begitu saja pada kata-kata manis istrinya yang berbohong.

"Grey, jangan suka mengarang cerita. Ibu tirimu itu sangat baik padamu. Kau harus belajar menghargai orang lain," begitu kata ayahnya selalu, tanpa pernah mau mendengar penjelasan putrinya.

Hari demi hari, tahun demi tahun, Grey tumbuh dengan hati yang kosong dan dingin. Dia belajar bahwa kasih sayang itu tidak nyata. Dia belajar bahwa cinta hanyalah topeng, bahwa orang-orang di sekitarnya hanya ada karena kekayaan ayahnya, dan bahwa dia tidak pernah dicintai apa adanya. Dia adalah gadis kaya yang memiliki segalanya, tapi sebenarnya tidak memiliki apa-apa. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada kata-kata penyemangat, tidak ada tempat bersandar.

Saat remaja, Grey mulai mencari jalan keluar dari rasa sakit dan kesepian itu. Dia mulai menyadari satu hal: jika dia tidak bisa mendapatkan cinta yang tulus, maka dia akan memainkannya. Jika dia tidak pernah dicintai, maka dia akan menjadi yang memegang kendali, yang memberi dan mencabut perasaan sesuka hatinya.

Dia mulai membiarkan penampilannya semakin mempesona. Dia menggunakan kecantikannya, kecerdasannya, dan pesonanya sebagai senjata. Dia mendekati banyak pria, membuat mereka jatuh hati, membuat mereka tergila-gila padanya, membuat mereka berlutut demi dirinya… dan saat dia merasa bosan, atau saat dia merasa mereka mulai terlalu dekat, dia akan pergi begitu saja tanpa rasa bersalah.

Bagi Grey, menjadi play girl adalah mekanisme pertahanan diri. Dia berpikir: Kalau aku yang membuang mereka duluan, aku tidak akan disakiti. Kalau aku yang memegang kendali, aku tidak akan dikhianati seperti yang dilakukan keluargaku padaku. Cinta itu palsu, jadi aku akan bermain saja dengan perasaan orang lain sebelum mereka menyakitiku.

Dia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia berharga, bahwa dia bisa diinginkan oleh banyak orang, meskipun di dalam hatinya dia tahu semua itu kosong. Setiap kali ada pria yang jatuh cinta padanya, ada kepuasan kecil yang dia rasakan—seolah berkata: Lihat? Aku berharga. Aku bisa membuat siapa saja menginginkanku, padahal ayahku sendiri bahkan tidak pernah melihatku, ibuku tiri membenciku, dan keluargaku sendiri tidak menginginkanku.

Itulah sebabnya dia tidak pernah mau terikat. Itulah sebabnya dia selalu lari dari hubungan serius. Karena baginya, ikatan hanya berarti ketergantungan, dan ketergantungan hanya berarti rasa sakit saat ditinggalkan atau dikhianati, persis seperti yang dia rasakan di rumahnya sendiri selama bertahun-tahun. Dia membangun tembok tinggi di sekeliling hatinya, menganggap dirinya kuat dan mandiri, padahal sebenarnya dia hanya gadis kecil yang menangis sendirian di kamar besarnya setiap malam, berharap ada seseorang yang benar-benar melihatnya, bukan kekayaannya, bukan kecantikannya, tapi dirinya yang sebenarnya—Grey Cha Lavian yang rapuh dan kesepian.

 

(Kembali ke Masa Kini)

Cerita itu berakhir di sana, diiringi oleh isak tangis Grey yang semakin menjadi-jadi di dada suaminya. Dia menceritakan semuanya: tentang dinginnya ayahnya, tentang kejamnya ibu tirinya, tentang rasa kesepian yang menyiksa, dan tentang alasan mengapa dia menjadikan cinta sebagai permainan selama ini. Dia mengaku bahwa dia takut, dia takut untuk dicintai, dia takut untuk mencintai, karena dia berpikir semua orang akan berakhir menyakitinya sama seperti keluarganya.

Saat keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, Davian tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya memeluk tubuh istrinya itu semakin erat, sangat erat, seolah ingin menyatukan diri mereka agar rasa sakit itu berpindah ke dalam dadanya dan hilang dari hati Grey. Tangan besarnya mengusap punggung istrinya berulang kali, lembut dan penuh kasih sayang, sementara dagunya bertumpu di atas kepala Grey.

Setelah tangis Grey mulai mereda, Davian perlahan mengangkat wajah istrinya, mengusap sisa air mata di pipi indah itu dengan ibu jarinya. Matanya yang hitam pekat itu memancarkan kemarahan yang dalam—kemarahan besar terhadap ayah dan ibu tiri Grey yang telah melukai bidadarinya ini—namun juga memancarkan kelembutan yang tak terhingga, rasa iba, dan rasa ingin melindungi yang berlipat ganda.

"Jadi begitulah alasannya…" gumam Davian pelan, suaranya berat dan serak karena emosi yang tertahan. "Jadi selama ini, sikapmu yang bebas dan keras itu hanya topeng untuk menutupi rasa sakitmu. Kau bermain-main bukan karena kau jahat atau tidak punya perasaan, tapi karena kau takut disakiti lagi. Kau ingin merasa berharga, ingin merasa dilihat… padahal keluargamu sendiri buta akan keindahan dan kebaikan hatimu."

Davian mencium kening istrinya lama dan dalam, lalu menatap mata abu-abu itu lekat-lekat.

"Dengar aku baik-baik, Istriku. Sayangku. Nyawaku. Masa lalu itu sudah selesai. Ayahmu yang bodoh itu tidak pernah tahu apa harta berharga yang dia miliki. Ibu tirimu yang jahat itu tidak pernah pantas menyentuh ujung kuku kakimu. Mereka yang salah, bukan kau. Kau tidak pernah salah. Kau hanya korban dari ketidaktahuan dan kejahatan mereka."

Dia memegang kedua pipi Grey dengan kedua tangannya, memastikan istrinya menatap matanya.

"Tapi sekarang, kau sudah milikku. Dan aku berjanji padamu, atas nama seluruh kekuasaanku, atas nama seluruh nyawaku… aku akan menghapus semua rasa sakit itu. Aku akan membuatmu merasa dicintai setiap detiknya, sampai kau lupa rasanya diabaikan. Aku akan membuatmu merasa begitu berharga, sampai kau sadar bahwa kau adalah segalanya bagiku. Tidak ada lagi permainan, Grey. Tidak ada lagi rasa takut disakiti. Karena aku tidak akan pernah pergi. Aku tidak akan pernah berpaling darimu. Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu, bahkan keluargamu sendiri sekalipun."

Kilatan dingin melintas di mata Davian. Dia mengeratkan genggamannya. "Dan untuk mereka… untuk ayahmu yang tidak pernah peduli, dan wanita jahat yang menyiksamu itu… aku akan memastikan mereka membayar mahal atas setiap tetes air mata yang kau tumpahkan. Mereka akan tahu apa artinya kehilangan, apa artinya tidak berharga, dan siapa yang sekarang memegang nasib mereka di tangannya. Kau istriku, dan menyakitimu sama saja dengan mengakhiri hidup mereka."

Grey tertegun menatap suaminya. Dia bisa merasakan kemarahan yang meluap-luap itu, tapi dia juga merasakan perlindungan yang begitu kuat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang tidak hanya mendengarkan ceritanya, tapi juga bersedia berperang demi rasa sakit yang dia alami. Ada seseorang yang melihatnya, yang menganggapnya berharga, yang mencintainya bukan karena apa yang dia punya, tapi karena dia adalah Grey.

Dia tersenyum di sela-sela sisa tangisnya, lalu memeluk leher Davian erat-erat, menempelkan wajahnya di leher hangat itu.

"Terima kasih, Davian… terima kasih sudah menemukanku. Terima kasih sudah mengubahku. Terima kasih sudah menjadikan milikmu… dan terima kasih sudah mencintaiku sebesar ini."

Davian mengecup telinganya, berbisik dengan suara berat dan penuh kepemilikan.

"Aku akan mencintaimu lebih dari itu, Sayang. Sampai napas terakhirku. Dan mulai hari ini, ingatlah satu hal saja: Kau bukan lagi gadis kecil yang kesepian dan tidak diinginkan. Kau adalah Nyonya Argantha. Kau adalah ratuku. Dan di dunia ini, tidak ada satu pun yang lebih berharga darimu. Tidak ada."

Malam itu, Grey tidur dalam pelukan suaminya dengan hati yang jauh lebih ringan. Luka masa lalunya belum sepenuhnya hilang, tapi kini ada obat yang paling ampuh: cinta yang tulus, posesif, dan tak tergoyahkan dari seorang pria yang rela melakukan apa saja demi kebahagiaannya.

Dan di luar sana, dalam bayang-bayang kekuasaan Davian, nasib keluarga Grey kini berada di ujung tanduk. Davian Argantha tidak pernah membiarkan siapa pun menyakiti apa yang menjadi miliknya. Dan mereka yang pernah melukai Grey, akan segera merasakan betapa mengerikannya murka seorang mafia yang sedang jatuh cinta.

 

(Lanjut ke Bab 8)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!