Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .
Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.
Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.
Di balik dinding pembatas ruang tengah yang dihiasi rak buku besar itu, Ardiansyah berdiri diam terpaku. Tubuhnya tegak namun hatinya bergemuruh hebat. Tanpa sengaja, ia mendengar seluruh percakapan lembut antara putri tunggalnya dan wanita yang telah setia mendampinginya selama dua puluh tahun itu. Setiap kata yang terucap dari mulut Bunga tentang pengorbanannya, tentang cintanya yang tak pernah berharap balasan, dan tentang keikhlasannya menjaga Ardiansyah demi putrinya... semuanya menghantam dada Ardiansyah dengan rasa bersalah yang mendalam.
Matanya berkaca-kaca. Ia sadar betul, selama ini Bunga lah yang menjadi penopang hidupnya saat ia jatuh tersungkur. Bunga lah yang menjadi tempat ia bersandar saat dunia terasa kejam. Wanita itu memberikan segalanya: waktu, tenaga, perasaan, dan kesempatannya untuk bahagia demi tetap berada di sisinya. Namun, apa balasan Ardiansyah? Ia hanya bisa memberikan persahabatan dan kepercayaan, sementara ia membiarkan wanita itu menunggu dan mencintainya dalam diam bertahun-tahun lamanya.
Rasa bersalah itu kini membakar hati Ardiansyah. Ia sadar, sudah saatnya ia membahagiakan Bunga. Sudah saatnya ia membuka hatinya yang selama ini tertutup rapat hanya untuk masa lalu yang pahit. Ia pun menyadari, perasaannya pada Bunga pun sebenarnya telah berubah. Dari sekadar rasa terima kasih, menjadi rasa hormat, kasih sayang, dan cinta yang perlahan tumbuh tanpa ia sadari. Bunga adalah wanita yang sempurna, wanita yang pantas mendampinginya sampai tua.
Namun, ada satu hal yang sangat berat dipikirkan Ardiansyah. Ada Salwa.
Ardiansyah tahu betul penderitaan yang dialami putrinya. Selama ini, Salwa hidup di bawah bayang-bayang ibu dan ayah tiri yang jahat, yang hanya menyayangi anak kandung mereka sendiri dan menyiksa Salwa. Gadis itu pernah merasa tidak diinginkan, merasa tertekan, merasa tidak berharga hanya karena bukan anak kandung mereka.
Ardiansyah sangat takut. Ia takut jika ia memutuskan untuk menikah lagi dengan Bunga, Salwa akan merasa tertekan. Ia takut Salwa akan berpikir bahwa ia akan diperlakukan sama seperti dulu, bahwa ia akan tersisihkan, atau bahwa ayahnya akan berubah dan tidak lagi menyayanginya sepenuh hati. Ardiansyah tidak mau hal itu terjadi. Baginya, kebahagiaan dan ketenangan hati Salwa adalah segalanya. Ia tidak ingin ada bayang-bayang kesedihan atau rasa takut sedikit pun di mata putrinya itu.
Dengan napas panjang dan langkah yang agak berat, Ardiansyah melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. Kedua wanita itu sontak menoleh saat menyadari kehadiran tuannya sekaligus ayah itu.
"Ah, Ayah..." sapa Salwa dengan senyum cerah, langsung bangkit berdiri menyambutnya.
Bunga pun ikut berdiri, sedikit tersipu karena sadar pembicaraan mereka tadi mungkin terdengar oleh Ardiansyah. "pak... sejak kapan pak Ardi ada di sana?"
Ardiansyah tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan banyak perasaan: rasa haru, rasa bersalah, dan kasih sayang yang besar. Ia mendekat, lalu duduk di sofa di sebelah Salwa, sementara Bunga kembali duduk dengan sopan di sisi lainnya.
"Ayah sudah ada di sana cukup lama..." jawab Ardiansyah pelan, matanya beralih menatap Bunga dengan pandangan yang penuh penyesalan dan rasa hormat, lalu kembali beralih ke wajah putrinya. "Ayah mendengar semuanya. Percakapan kalian, cerita kalian... Rasanya dada Ayah sesak mendengarnya."
Ardiansyah menggenggam tangan Bunga dan menatapnya lekat-lekat. "Bunga... Maafkan aku. Maafkan aku karena membuatmu menunggu begitu lama. Maafkan aku karena selama ini hanya memandangmu sebagai sahabat dan penolong, padahal kau telah memberikan lebih dari itu. Kau telah memberikan seluruh hidupmu untukku dan untuk Salwa, meski saat itu kau belum pernah bertemu dengannya. Aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu dengan apa."
Mata Bunga berkaca-kaca namun ia tersenyum lembut. " pak... Ardi... Tidak perlu meminta maaf. Semua yang aku lakukan aku lakukan dengan sukarela. Aku bahagia bisa ada di sisi anda . Itu sudah cukup bagiku."
Ardiansyah mengangguk, lalu perlahan ia beralih menghadap sepenuhnya ke arah Salwa. Ia menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan hal terpenting yang ada di hatinya. Wajahnya tampak serius namun lembut.
"Nak... Salwa," panggilnya pelan, genggamannya di tangan putrinya semakin erat seolah menyalurkan kekuatan. "Ada satu hal yang sangat ingin Ayah bicarakan denganmu. Hal yang sangat berat bagi Ayah, karena kebahagiaanmu adalah hal nomor satu bagi Ayah di dunia ini."
Salwa mengerutkan kening sedikit, bingung namun ia menatap ayahnya dengan penuh perhatian. "Ada apa, Ayah? Katakan saja pada saya. Apa pun itu, saya akan berusaha mengerti."
Ardiansyah menunduk sejenak, lalu kembali mengangkat wajahnya, menatap mata Salwa dalam-dalam.
"Salwa... Kau sudah tahu segalanya tentang masa lalu Ayah. Tentang ibumu, tentang pengkhianatan itu. Selama dua puluh tahun ini, hati Ayah tertutup rapat. Ayah pikir Ayah tidak akan pernah bisa mencintai wanita lain lagi. Hati Ayah hanya terisi oleh rasa rindu padamu dan rasa sakit atas apa yang terjadi."
Ia melirik sekilas ke arah Bunga yang menunduk diam, lalu melanjutkan kembali.
"Tapi di tengah perjuangan itu, ada wanita yang selalu ada. Wanita yang sabar, wanita yang tulus, wanita yang tidak pernah meninggalkan Ayah saat Ayah jatuh. Wanita itu adalah Bunga. Perlahan, tanpa Ayah sadari, rasa terima kasih itu berubah menjadi rasa yang lebih dalam. Ayah sadar sekarang... Ayah ingin membuka hati Ayah kembali. Ayah ingin memberikan kebahagiaan pada Bunga, sebagaimana dia selalu memberikan kebahagiaan pada Ayah."
Salwa diam, matanya beralih ke arah Tante Bunga yang tampak malu-malu namun bahagia, lalu kembali ke ayahnya. Mulutnya sedikit terbuka seolah mulai mengerti arah pembicaraan ini.
Ardiansyah menghela napas berat, lalu mengucapkan permohonan itu dengan nada yang penuh keraguan dan kekhawatiran.
"Salwa... Ayah ingin menikah dengan Bunga. Ayah ingin menjadikannya istriku, dan mendampingiku sampai tua."
Ardiansyah berhenti sejenak, menatap wajah putrinya dengan cemas, takut melihat perubahan ekspresi di sana.
"Tapi... tapi Ayah memiliki satu ketakutan terbesar, Nak," lanjutnya dengan suara bergetar. "Ayah tahu betul apa yang pernah kau alami. Ayah tahu betul bagaimana rasanya hidup bersama orang tua tiri yang jahat, yang hanya menyayangi anak sendiri dan menyakiti anak orang lain. Ayah tahu kau pernah merasa tertekan, merasa tersisih, merasa tidak diinginkan hanya karena kau bukan darah daging mereka."
Air mata mulai menggenang di mata Ardiansyah. Ia memegang bahu Salwa dengan kedua tangannya, seolah ingin meyakinkan gadis itu sekuat tenaga.
"Ayah sangat takut, Nak. Ayah sangat takut kalau keputusan Ayah ini akan membuatmu merasa tertekan lagi. Ayah takut kau berpikir kalau Ayah menikahi Bunga, Ayah akan berubah. Ayah takut kau berpikir Ayah akan kurang menyayangimu, atau kau akan merasa seperti anak tiri di rumah ini. Ayah tidak mau hal itu terjadi. Tidak pernah. Bagi Ayah, kau tetaplah satu-satunya putri kandung Ayah, harta paling berharga Ayah, dan tidak akan ada yang bisa menggeser posisimu sedikit pun."
Ardiansyah menundukkan wajahnya, seolah seorang anak yang sedang memohon pengertian pada orang tuanya sendiri.
"Maka dari itu... Ayah ingin meminta izin padamu, Nak. Ayah tidak akan melangkah lebih jauh jika kau tidak setuju. Ayah tidak akan menikahi siapa pun jika itu membuat hatimu sedih atau tertekan. Ayah minta izin padamu... Bolehkah Ayah membahagiakan diri Ayah dan Tante Bunga? Bolehkah Ayah menjadikan Bunga ibu bagimu? Dan yang paling penting... bisakah kau meyakinkan Ayah, bahwa kau tidak akan merasa tersisih? Bahkan sedikit pun tidak?"
Suasana di ruang tengah itu menjadi hening sejenak. Permohonan itu begitu tulus, begitu penuh rasa cinta, dan begitu menghargai perasaan Salwa. Ardiansyah pria yang berkuasa, tegas, dan ditakuti banyak orang kini menjadi sangat lemah dan bergantung pada keputusan putri kecilnya sendiri. Baginya, restu dan kenyamanan Salwa adalah segalanya.
Salwa tertegun, hatinya terasa hangat sekaligus terenyuh mendengar semua itu. Ia tidak menyangka ayahnya memikirkannya sedemikian rupa. Ia tidak menyangka ayahnya begitu takut menyakiti perasaannya, padahal ayah berhak sepenuhnya menentukan jalan hidupnya sendiri.
Dan saat Salwa menatap wajah cemas ayahnya, lalu menatap wajah Bunga yang penuh harap namun juga penuh kekhawatiran, hati Salwa meleleh sepenuhnya. Ia tahu betul Bunga. Wanita itu sudah begitu baik, begitu menyayanginya, begitu sabar mengajarinya, dan begitu tulus mencintai ayahnya. Bunga tidak seperti Bu Ratna atau siapa pun. Bunga adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk mereka berdua.
Dengan mata yang berbinar bahagia dan senyum yang lebar, Salwa pun meraih tangan ayahnya dan tangan Bunga, lalu menyatukannya di atas tangannya sendiri.
"Ayah..." ucap Salwa lirih namun tegas. "Kenapa Ayah berpikir begitu? Kenapa Ayah khawatir saya akan tertekan?"
Ia menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca namun penuh kebahagiaan.
"Justru saya sangat berharap hal ini terjadi, Ayah. Saya sudah melihat betapa bahagianya Ayah bersama Tante Bunga. Saya sudah melihat betapa tulusnya kasih sayang Tante Bunga pada Ayah dan pada saya. Tante Bunga tidak pernah membedakan saya sedikit pun. Dia mengajar saya, dia menyayangi saya, dia melindungi saya... dia jauh lebih pantas menjadi Ibu bagi saya dibandingkan wanita yang melahirkan saya sendiri."
Salwa tersenyum bahagia. "Ayah... Saya sangat setuju. Saya sangat mendoakan hal ini. Menikahlah dengan Tante Bunga. Jadikan dia pendamping hidup Ayah. Dan bagi saya, dia bukan ibu tiri... dia adalah Ibu kandung dalam hati saya, orang yang saya pilih untuk saya hormati dan saya sayangi. Saya tidak akan pernah merasa tertekan atau tersisih. Justru saya merasa lengkap sekarang. Saya punya Ayah, dan saya punya tante Bunga. Kami satu keluarga yang utuh dan bahagia."
Ardiansyah tertegun tak percaya, matanya langsung membanjir air mata bahagia. Rasa bersalah dan kekhawatirannya lenyap seketika, digantikan oleh rasa lega dan sukacita yang luar biasa. Bunga pun menangis bahagia, menutup mulutnya dengan tangan, tak sanggup berkata-kata karena terharu.
"Kau... kau serius, Nak? Kau tidak keberatan? Kau tidak merasa... tersaingi?" tanya Ardiansyah masih ingin memastikan sekali lagi.
Salwa menggeleng mantap, lalu bangkit berdiri dan memeluk kedua orang itu bersamaan.
"Tidak sama sekali, Ayah. Justru saya berterima kasih pada Tante Bunga yang sudah menjaga Ayah saat saya belum ada. Dan mulai sekarang, kita akan saling menjaga. Kita adalah satu kekuatan yang tidak bisa dihancurkan siapa pun. Dan dengan adanya Ibu Bunga di sini, persiapan kita untuk menghadapi mereka yang jahat akan semakin kuat."
Ardiansyah membalas pelukan itu erat-erat, air matanya menetes membasahi bahu putrinya dan wanita yang dicintainya.
"Terima kasih... terima kasih banyak, Salwa. Kau benar-benar putri terbaik Ayah. Kau membuat Ayah menjadi pria paling bahagia di dunia ini. Terima kasih sudah mengerti dan menerima kami berdua."
Di ruang tengah itu, kebahagiaan meluap-luap. Kebohongan masa lalu telah ditinggalkan, rasa sakit telah terobati, dan kini keluarga kecil yang bahagia itu telah terbentuk dengan kasih sayang yang murni dan tulus. Dan di dalam hati mereka bertiga, satu tekad semakin menguat: kebahagiaan ini harus dijaga, dan mereka yang pernah merusak kebahagiaan mereka dulu harus membayar mahal. Saatnya bagi mereka bertiga untuk bersatu, bangkit, dan memberikan pelajaran berharga bagi mereka yang berhati jahat.
Bersambung ,,,,