Anisa adalah gadis yang gendut dan juga pendek, beda jauh dengan sang adik yang bertubuh langsing serta berkulit putih.
siapa yang tidak tertarik bila melihat Arumi, bahkan mulut para tetangga juga tak segan mencemooh Anisa yang beda jauh dengan sang adik.
Hingga suatu hari Anisa di temukan tewas tergantung di dalam kamar, membuat seluruh keluarga menjadi berduka, namun mereka menutupi kematian Anisa yang gantung diri itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Korban kedua
"Ah sekali Joko harus meninggal dalam usia yang semudah itu." Tamrin berkata kepada sang istri saat ada di rumah.
"Ya namanya juga nyawa kita tidak tahu kapan akan hilang dari tubuh ini." Kopsah menjawab pelan.
"Padahal Dia baru saja pergi dari pos dan kemungkinan besar dia memang meninggal ketika baru pulang itu." ujar Tamrin.
Tamrin kepikiran sekali dengan kematian Joko yang secara mendadak dan Arka dengan tegas mengatakan bahwa itu bisa saja adalah kasus pembunuhan dari arwah yang tak mereka kenal, terlebih lagi dia juga mengingat bahwa malam itu terasa begitu berbeda sehingga mereka semua agak merinding ketika duduk di pos ronda.
Joko pulang dan karena dia ingin berangkat kerja pagi sehingga tidak bisa bila berjaga sampai pagi seperti yang lain, mungkin dari sana maka Joko mengalami nasib yang begitu buruk itu sehingga para teman yang ada di pos sama sekali tidak menyadari karena mereka berpikir bahwa Joko sudah tertidur lelap.
Sebab belakangan ini desa mereka juga tidak ada yang aneh dan terlihat aman dan tentram sehingga mereka semua tetap anteng dan tidak ada penjagaan sama sekali, namun siapa sangka di balik ketenangan ini malah menyimpan misteri tidak terkira sehingga sekarang mereka harus kehilangan sosok yang cukup terkenal di kampung pandan Arum ini.
Joko adalah penghuni lama dan dia juga sudah beberapa kali mengalami kasus sehingga siapa yang tidak mengenal pemuda itu, kematian Joko yang secara mendadak tentu saja menjadi tanda tanya besar untuk para warga dan juga teman-teman yang tidak mengetahui tentang hal gaib seperti itu, mereka semua berpikir bahwa ini adalah pembunuh berantai.
Arka yang tetap yakin bahwa ini adalah sosok arwah yang tidak dia kenal dan sedang ingin mencari masalah dengan desa sini, mungkin saja arwah itu mengetahui bahwa Purnama sedang tidak ada di rumah sehingga dia mulai beraksi dan membuat masalah sampai sejauh ini di desa pandan Arum.
Bila sudah sampai membunuh maka itu adalah kesalahan yang begitu fatal dan tidak perlu lagi Purnama untuk memberi belas kasih, tunggu saja nanti bila Purnama sudah pulang maka mereka tidak akan pernah bisa membuat masalah lebih jauh lagi, sebab ini adalah permasalahan yang serius sehingga Purnama pasti akan segera turun tangan.
"Aku tidur duluan lah." Kopsah memang sangat mengantuk sekali.
"Ya, tidur lh duluan." angguk Tamrin.
"Matikan lampu sekarang saja ya, kamu suka lupa mematikan lampu." ujar Kopsah sambil bangkit berdiri.
"Iya, terserah kamu saja kalau soal lampu itu." Tamrin berkata cuek karena dia masih kepikiran dengan kematian Joko.
Sreeeeek.
Sreeeek.
"Apa itu?" Tamrin kaget mendengar suara yang tidak biasa itu.
Suara yang begitu jelas berasal dari sebelah rumah sehingga membuat pria ini tertegun sesaat, bukan karena suara itu yang membuat dia menjadi takut tapi karena suasana yang kembali seperti ketika ada di pos ronda, entah kenapa suasana itu kembali sama sehingga Tamrin merasa tidak nyaman kembali.
"Apa ini, kenapa terasa aneh sekali?!" Tamrin sangat cemas.
Sraaaaaak.
Tes.
Tes.
Tamrin terus entah kaget ketika ada cairan yang menetes dari atas kepala dia, sontak saja pria ingin mendongak ke atas untuk melihat apa yang telah terjadi, sebab tidak ada hujan yang turun sehingga tidak mungkin juga bila rumah mereka mengalami kebocoran, saat itu baru dia menyadari bahwa sesuatu yang tidak biasa telah datang di dalam rumah ini.
"Si...siapa kau?" Tamrin gugup bukan main ketika melihat sosok menakutkan yang ada di atas plafon rumah.
"Hihihiiiii.....
"Tolong aku, Ya allah! Kenapa mendadak saja ada makhluk seperti ini?" Tamrin sangat ketakutan dan juga bingung.
Ingin lari namun tidak bisa karena suasana yang ada di sekitar sini terasa begitu mencekam, bahkan kaki ini untuk bergerak saja tidak sanggup sehingga mana mungkin bila dia sanggup melarikan diri untuk memanggil sang istri yang ada di dalam kamar sana.
Tamrin rasanya ingin menangis karena begitu takut dan juga tidak tahu harus bagaimana saat ini, sementara iblis itu kian mendekat dan sekarang sudah ada di atas pundak milik Tamrin sehingga pria ini hanya bisa terdiam kaku tanpa bisa bergerak sama sekali dari posisi awal tadi.
Bahkan anda saja bisa maka dia akan menjerit meminta pertolongan kepada sang istri, namun lidah ini terasa begitu kaku sehingga mau tidak mau dia hanya bisa diam dan menerima rasa takut yang hadir di dalam diri ini, sosok yang sama sekali tidak dia kenal terus mengeluarkan lidah menjulur itu untuk menjilat wajah Tamrin.
"Kau begitu lancar menghina orang lain sehingga pantas mendapatkan balasan yang tepat." hantu lidah panjang berkata dengan penuh dendam.
"Tidak... aku tidak pernah melakukan kesalahan kepada dirimu." Tamrin menggeleng dengan suara yang sangat lirih.
"Kau pria yang tidak tahu malu sehingga begitu lancar saat menghina orang lain, tidak pernah kau pikirkan perasaan orang yang telah kau hina." hantu lidah panjang kembali mengeluarkan suara.
"Tolong jangan hantui aku seperti ini." Tamrin berusaha untuk memohon iba.
"Aku sudah cukup menderita selama ini dan ketika mendapat kematian kau juga masih menghina aku." hantu lidah panjang itu mendekati Tamrin.
Crassssssh.
"Eeghhhkk!" Tamrin kaku ketika leher dia mendapat goresan panjang.
Sleruuuuppp.
"Wah segar sekali darah mu ini." hantu lidah panjang menjilat darah yang menetes dari leher Tamrin.
"Ya Allah apa ini memang sudah menjadi akhir hayat dari hidup ku?" Tamrin terhuyung-huyung sambil memegang leher yang mendapat goresan itu.
Sleruuuupp.
Sleruuuupp.
"Hihihiiii...."
Hantu lidah panjang terus tertawa senang karena mendapat mangsa malam ini dengan sangat tepat, Tamrin yang sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan mengalami nasib buruk seperti ini hanya karena telah salah berbicara ketika berkumpul dengan teman yang ada di pos ronda saat itu.
Selamat siang, jangan lupa like dan komen nya ya.
ga nyangka si pocong patah hati bs gelut jg👻
calon mantu pangeran ular itu,
ada yg datang ngk sich nolong Digo bisa mampus tu anak orang