Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Kembali Ke Akademi
Langit Benua Utara dipenuhi oleh awan kelabu musim dingin, namun hal itu tidak menghentikan laju sebuah perahu terbang kayu berukuran sedang yang melesat membelah angin.
Perahu itu adalah Artefak Terbang Tingkat Menengah yang baru saja dibeli Qian Fugui di kota perbatasan menggunakan sisa-sisa Batu Spiritual mereka (setelah pria gemuk itu menangis darah karena menawar harga selama dua jam). Meski ukurannya tidak seberapa, perahu ini cukup untuk membawa mereka berlima terbang menuju Ibukota Jiannan.
Di geladak perahu, Bao Tu sedang rebahan sambil mengelus perutnya yang lapar.
"Ah... ibukota," gumam Bao Tu, matanya menerawang menatap awan. "Bebek Panggang Surga Berlapis Emas. Babi Guling Api Roh. Xiaoyu, begitu kita mendarat, kau harus mentraktirku! Aku sudah berjuang mati-matian menahan pukulan ahli Foundation Establishment demi kalian!"
Lin Xiaoyu yang sedang duduk bersila bermeditasi, membuka sebelah matanya dan mendengus dingin. "Mimpi saja. Kau tidak melakukan apa-apa selain menjadi samsak tinju yang empuk. Jika bukan karena Zeng Niu, kau sudah jadi babi sekarang."
Di haluan perahu, Zeng Niu berdiri tegak layaknya patung batu, menatap lurus ke arah cakrawala. Angin dingin di ketinggian ribuan kaki menyapu wajah perunggunya, menerbangkan ujung jubah hitam bersulam peraknya.
Tiba-tiba, sebuah langkah ringan yang hampir tak bersuara mendekatinya. Zhao Ying berdiri di sebelahnya. Gadis itu tidak mengenakan cadar sutranya saat ini, membiarkan wajah cantiknya yang tak tertandingi diterpa angin. Rambut peraknya berkibar anggun.
Keduanya berdiri dalam keheningan selama beberapa saat.
"Kita sudah hampir tiba," ucap Zhao Ying lembut, memecah kesunyian. "Apakah kau siap menghadapi masa lalumu di sana, Zeng Niu?"
Zeng Niu tidak langsung menjawab. Ia mengingat kembali hari di mana ia diremehkan sebagai murid pelataran luar, latihan brutalnya sendirian di hutan bambu, dan bagaimana ia dikirim ke Alam Rahasia Tengkorak Beku sebagai umpan meriam.
"Masa lalu hanyalah batu pijakan," gumam Zeng Niu pelan. Ia menoleh menatap Zhao Ying. Hidung gadis itu sedikit memerah karena angin dingin di ketinggian, meski kultivasi Golden Core-nya melindunginya.
Tanpa berpikir panjang, Zeng Niu bergeser setengah langkah. Postur tubuhnya yang tegap secara otomatis menghalangi hembusan angin kencang yang mengarah ke wajah Zhao Ying. Sebuah tindakan protektif yang sangat sederhana, dan... luar biasa canggung karena ia segera membuang muka kembali menatap awan seolah tidak terjadi apa-apa.
Zhao Ying tertegun sejenak, lalu sebuah senyum yang sangat manis dan tulus mengembang di bibirnya. Ia melangkah sedikit lebih dekat, berlindung di balik bayangan punggung pemuda itu. Kehangatan fana ini terasa jauh lebih nyaman daripada tungku abadi di Surga Atas.
"Cih! Mataku rasanya mau buta melihat kalian berdua!" omel Lei Ling di dalam Lautan Kesadaran Zeng Niu. Roh petir itu pura-pura muntah. "Kau yang baru saja membelah orang menjadi dua, tapi kau bertingkah seperti anak ayam yang baru belajar bertelur saat berdekatan dengannya! Menyedihkan!"
Diam kau. Pergi tidur, balas Zeng Niu ketus, wajahnya kembali menegang untuk menyembunyikan ujung telinganya yang mulai memanas.
Beberapa jam kemudian, dari balik awan tebal, sebuah pemandangan yang luar biasa megah akhirnya terhampar di hadapan mereka.
Ibukota Jiannan.
Kota raksasa ini sepuluh kali lebih besar dari Kota Kabut Merah. Tembok besarnya memancarkan cahaya formasi tingkat tinggi yang terus berputar. Di tengah kota, menjulang pegunungan spiritual tempat Akademi Jiannan bernaung. Beberapa pulau batu kecil tampak melayang di atas akademi, menampung kediaman para Tetua Inti.
Namun, suasana ibukota terasa sangat tegang. Langit dipenuhi oleh patroli kultivator yang menunggangi burung bangau spiritual, dan tidak ada satu pun kapal dagang fana yang diizinkan melintasi batas udara tanpa pemeriksaan.
"Turunkan perahunya, Fugui," perintah Zeng Niu. "Kita masuk lewat gerbang darat."
Perahu kayu itu mendarat di luar gerbang akademi yang megah. Pintu masuk akademi yang terbuat dari giok putih itu kini dijaga oleh puluhan murid elit berzirah perak dari Pelataran Dalam. Aura mereka rata-rata berada di Pengumpulan Qi Puncak, dan pemimpin mereka adalah seorang pemuda tampan beraura arogan di tahap Foundation Establishment Awal.
"Berhenti!" teriak pemuda arogan itu, menghalangi langkah mereka dengan pedang tersarung. "Akademi sedang dalam status Siaga Darurat! Selain Tetua dan tim patroli resmi, tidak ada yang boleh masuk!"
Pemuda itu menatap rombongan mereka. Pandangannya langsung mengenali Lin Xiaoyu dan Bao Tu.
"Oh? Bukankah ini Lin Xiaoyu dari Paviliun Pedang Bayangan dan Si Babi Malas Bao Tu?" ejek pemuda itu, tersenyum meremehkan. "Kudengar tim kalian dikirim ke perbatasan mati di Hutan Kabut Merah. Kenapa kalian kembali? Apakah kalian lari dari pertempuran layaknya anjing pengecut?"
Bao Tu langsung maju, wajahnya merah padam. "Jaga mulutmu, Lu Feng! Kami baru saja membantai siluman tingkat tiga dan mengamankan jalur perbatasan! Dan asal kau tahu, aku sudah menembus Foundation Establishment!"
Bao Tu melepaskan auranya, membuat para penjaga lain sedikit terkejut. Namun, Lu Feng hanya mendengus dingin.
"Foundation Establishment yang didapat dari keberuntungan di hutan barbar tidak ada artinya di pelataran dalam," cibir Lu Feng. Matanya kemudian beralih ke arah Zeng Niu yang mengenakan caping bambu, Zhao Ying yang kembali mengenakan cadarnya, dan Fugui yang tampak konyol.
"Dan siapa pengemis-pengemis yang kalian bawa ini?" Lu Feng menunjuk Zeng Niu dengan ujung sarung pedangnya. "Akademi Jiannan bukan tempat penampungan tunawisma. Enyah dari sini sebelum—"
TAK.
Zeng Niu melangkah satu tindak ke depan.
Zeng Niu hanya menggunakan seperseribu dari Niat Membunuh purba yang ia asah di Makam Asura, lalu menatap langsung ke mata Lu Feng dari balik caping bambunya.
Di mata Lu Feng, pemuda berjubah hitam itu mendadak membesar hingga menutupi matahari. Sebuah lautan mayat tak berujung, aroma darah dewa, dan keputusasaan menghantam Lautan Kesadarannya layaknya palu godam tak kasatmata.
Lu Feng tercekik. Mulutnya menganga, namun tidak ada suara yang keluar. Seluruh warna di wajahnya memudar menjadi seputih kertas.
BRUK.
Pemuda arogan yang baru saja menyombongkan diri itu jatuh berlutut di atas lantai giok, pedangnya terlepas dari genggaman. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, dan celananya mendadak basah karena ia kehilangan kendali saking takutnya.
Para penjaga lainnya tersentak mundur, menatap Lu Feng dengan ngeri, lalu menatap pemuda berjubah hitam itu seperti melihat hantu. Apa yang baru saja terjadi?! Dia bahkan tidak menyentuh Kakak Seperguruan Lu!
"Singkirkan pedangmu saat kau menunjuk orang," ucap Zeng Niu pelan, suaranya sedingin angin utara. Ia melepas caping bambunya dan melemparkannya ke tanah, memperlihatkan wajahnya yang dihiasi bekas luka tipis di tulang pipi.
Beberapa penjaga yang lebih tua langsung mengenali wajah itu.
"Z-Zeng Niu?!" pekik seorang penjaga pucat pasi. "Tidak mungkin! Kau... kau dilaporkan mati di Alam Rahasia Tengkorak Beku! T-Tulangmu seharusnya sudah hancur!"
"Langit belum mengizinkanku mati," jawab Zeng Niu datar. "Minggir."
Tepat saat kekacauan itu akan memicu alarm akademi, sebuah suara berat dan penuh wibawa terdengar dari atas tangga giok.
"Ada keributan apa di gerbang akademi?! Kalian ini murid pelataran dalam atau berandalan pasar?!"
Seorang pria paruh baya dengan rambut hitam keperakan yang diikat rapi, mengenakan jubah biru tua dengan lambang pedang bayangan di dadanya, melangkah turun. Wajahnya tegas dan memancarkan fluktuasi Golden Core Tahap Puncak yang sangat stabil.
Itu adalah Tetua Mo Yin, penanggung jawab Paviliun Pedang Bayangan sekaligus guru yang sangat ketat namun peduli pada Zeng Niu, Bao Tu, dan Lin Xiaoyu.
Tetua Mo Yin menyipitkan matanya yang tajam, menatap ke arah gerbang. Saat matanya menangkap sosok tegap pemuda berjubah hitam di tengah kerumunan, serta Bao Tu dan Xiaoyu di belakangnya, langkah kokohnya terhenti secara mendadak.
Buku catatan giok di tangannya terlepas, jatuh ke anak tangga dengan bunyi klanting yang nyaring. Wajah tegasnya yang jarang menunjukkan emosi kini memancarkan guncangan hebat.
"B-Bocah batu...?" bisik Tetua Mo Yin, suaranya yang biasanya menggelegar kini terdengar parau.
Zeng Niu, yang selalu bersikap dingin dan arogan pada siapapun, perlahan menundukkan kepalanya. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memberikan hormat yang sangat dalam dan tulus dari seorang murid kepada gurunya.
"Murid Zeng Niu... telah kembali dari neraka untuk menyapa Guru," ucap Zeng Niu, suaranya memancarkan rasa hormat yang luar biasa. Di saat semua tetua lain meremehkan statusnya, hanya Mo Yin yang menempanya dengan keras agar ia bisa bertahan hidup.
Bao Tu dan Xiaoyu pun ikut memberi hormat. "Murid Bao Tu dan Lin Xiaoyu kembali melapor, Guru!"
Mata Tetua Mo Yin sedikit berkaca-kaca. Ia melesat menuruni sisa anak tangga, mengabaikan murid-murid penjaga yang kebingungan, dan langsung mencengkeram kedua bahu Zeng Niu dengan sangat kuat. Ia memeriksa tulang dan urat nadi pemuda itu.
"Kau hidup... Dewa Langit, kau benar-benar hidup, bocah keras kepala!" Tetua Mo Yin tersenyum lebar, sebuah ekspresi yang sangat langka. "Aku tahu kau tidak akan mati semudah itu! Dan aura ini... Foundation Establishment Awal?! Fisikmu bahkan lebih mengerikan dari sebelumnya! Kau melampaui seluruh harapan gurumu ini!"
Namun, senyum bangga Tetua Mo Yin tiba-tiba memudar.
Matanya yang tajam tanpa sengaja beralih ke arah gadis yang berdiri dengan tenang dua langkah di belakang Zeng Niu. Meskipun gadis itu mengenakan gaun sutra biru biasa dan wajahnya tertutup cadar, Tetua Mo Yin sangat mengenali postur tubuh, aura, dan mata jernih yang sedingin es surgawi itu.
Zhao Ying dengan sengaja melepaskan sedikit fluktuasi Qi Golden Core nya agar bisa dikenali oleh pria tegas tersebut.
Wajah Tetua Mo Yin seketika pucat pasi. Ia menelan ludah yang terasa sebesar batu.
Tidak mungkin! Aku tidak mungkin salah mengenali hawa dingin ini! Itu... Itu adalah Dewi Es Pelataran Dalam! Tetua Pelatih Zhao Ying yang hilang di hari yang sama dengan bocah ini! batin Tetua Mo Yin, jantungnya berdebar kencang. Di akademi, bahkan Mo Yin pun sangat segan pada metode brutal dan status tinggi Tetua Zhao.
Tetua Mo Yin menatap Zeng Niu, lalu menatap Zhao Ying, lalu menatap Zeng Niu lagi. Mulutnya yang biasa digunakan untuk meneriaki murid kini terkunci rapat.
"Z-Zeng Niu..." bisik Tetua Mo Yin, menarik lengan baju Zeng Niu dengan tangan sedikit gemetar. "Bocah gila... k-kau jatuh ke alam rahasia maut... dan kau pulang membawa Tetua Zhao dari Pelataran Dalam sebagai... sebagai rekan seperjalananmu?!"
Di belakang mereka, Fugui menahan tawa hingga perutnya sakit, sementara Bao Tu dan Xiaoyu saling berpandangan dengan senyum geli melihat guru mereka yang terkenal galak kini kehilangan ketenangannya.
Zhao Ying melangkah maju. Ia sedikit menundukkan kepalanya dengan anggun, meletakkan tangannya di pinggang untuk memberikan sapaan hormat yang sangat sopan layaknya seorang wanita muda biasa kepada tetua dari rekan seperjalanannya.
"Junior ini menyapa Tetua Mo Yin," ucap Zhao Ying lembut. "Tuan Zeng Niu sangat menjaga saya selama perjalanan kami."
Mendengar Tetua Zhao Ying yang terkenal sadis dan tak tersentuh di akademi kini menyebut dirinya "Junior" dan memanggil murid barbarnya dengan sebutan "Tuan Zeng Niu", otak rasional Tetua Mo Yin langsung mengalami korsleting.
"B-Bawa aku ke balai pengobatan... Langit pasti sudah terbalik..." gumam Tetua Mo Yin sambil memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut hebat. Zeng Niu hanya bisa memegangi lengan gurunya dengan wajah datar yang luar biasa canggung.