NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB VII

  Dengan langkah yang terhuyung-huyung dan tubuh yang semakin melemah, Luna meninggalkan markas itu yang kini tinggal puing kenangan dan tumpukan mayat.

Darah terus mengalir dari luka di perutnya, membasahi pakaian dan tanah yang ia pijak, membuat setiap gerakan terasa menyiksa. Malam itu begitu dingin, angin berhembus kencang seolah turut membawa rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang. Ia berjalan tanpa tujuan, pikirannya kacau, dan tenaganya perlahan habis tak bersisa.

Belum jauh ia melangkah, dari balik semak-semak keluar empat orang Pria dengan niat yang jahat. Melihat Luna yang sendirian, terluka parah, dan tampak tak berdaya, senyum kotor terukir di bibir mereka. Niat mereka bukan untuk menolong, melainkan ingin memanfaatkan keadaan, ingin merampas apa pun yang masih tersisa, bahkan berniat berbuat hal hina pada wanita yang sudah sekarat itu.

“Lihatlah siapa yang ada di sini… cantik tapi tak berdaya. Ini nasib baik bagi kita,” ujar salah satu dari mereka sambil tertawa kotor.

Luna mencoba mengangkat pedangnya, berusaha berdiri tegak dan memancarkan aura mengancam seperti biasanya. Namun kali ini, tubuhnya sama sekali tak mau diajak bekerjasama. Tangannya gemetar hebat, pandangannya mulai kabur, dan dengan cepat pedang itu terlepas dari genggamannya. Ia berusaha mundur, mencoba membela diri sekuat sisa tenaga yang ada, tapi tubuhnya sudah tak lagi menurut. Keempat orang itu makin berani dan perlahan mendekat, siap untuk menangkapnya.

Saat tangan kotor mereka hampir menyentuh tubuh Luna, tiba-tiba sebuah bayangan bergerak sangat cepat melesat di hadapan mereka. Hanya dalam sekejap, terdengar bunyi benturan keras dan teriakan kesakitan. Saat mereka sadar, keempat penjahat itu sudah terlempar jatuh, ada yang patah tulang, ada yang terluka parah, semuanya mengerang kesakitan tanpa mampu bangkit lagi.

Di hadapan Luna kini berdiri seorang wanita muda. Wajahnya sangat cantik, dan usianya kira-kira seumuran dengan Luna. Gerakannya lincah, tegas, dan penuh kekuatan, namun matanya memancarkan kelembutan yang sudah lama tak dilihat Luna. Wanita itu segera menangkap tubuh Luna yang hampir roboh, menopangnya agar tidak jatuh ke tanah.

“Tahan sebentar nona, kau aman sekarang,” bisik wanita itu lembut.

Ia kemudian menopang tubuh Luna yang ringkih itu dan membawanya pergi, menuju rumah sederhananya yang tak jauh dari sana. Wanita itu bernama An Ran.

Sesampainya di depan pintu rumah, An Ran berteriak memanggil kakak laki-lakinya. Namun saat pintu terbuka dan sosok kakaknya itu pun tampak jelas, Pria itu adalah Mu Chen, orang yang dulu menyelamatkan anak perempuan saat perampokan besar itu, orang yang kekuatannya seimbang dengan Luna, dan orang yang selama ini terbayang di benak Luna.

Melihat sosok wanita yang dibawa adiknya, wajah Mu Chen seketika berubah dingin dan penuh kebencian. Ia langsung menghalangi pintu, menatap tubuh Luna yang berlumuran darah dengan pandangan tajam.

“Turunkan dia, An Ran. Biarkan saja dia mati di luar sana,” ucap Mu Chen dengan nada keras dan tegas, sama sekali tak ada belas kasih.

An Ran kaget dan tak terima, ia menatap kakaknya dengan bingung. “Kak, dia sedang terluka parah, Bagaimana mungkin kau bicara begitu? Kita harus menolongnya dan mengobati lukanya sekarang juga!”

“Menolong dia? Apakah kau tahu siapa wanita ini?” potong Mu Chen dengan nada marah. “Dia adalah pemimpin perampok yang menyerang saudagar kaya itu, dia yang membunuh ayah anak kecil itu dengan kejam, dia yang ingin membunuh anak polos itu juga! Dia wanita berhati iblis yang tak punya rasa kemanusiaan! Biarkan dia mati, itu balasan yang pantas untuknya!”

An Ran tetap tak mau mengalah, ia menggeleng kuat. “Aku tidak peduli apa kesalahan yang dia perbuat di masa lalu, Kak! Setiap orang pasti punya alasan dan jalan hidup masing-masing. Tapi saat ini dia ada di depan kita, sedang sekarat, dan yang paling utama adalah menyelamatkan nyawanya, apa pun latar belakangnya. Jika kita membiarkannya mati, bukankah sama saja kita menjadi pembunuh?”

Kata-kata adiknya itu membuat Mu Chen terdiam sesaat, namun rasa benci dan ingatan akan kejadian mengerikan itu terlalu kuat di hatinya. Ia mendengus kasar, menatap An Ran dengan pandangan kecewa, lalu berkata dengan dingin, “Jika kau begitu ingin menolongnya, lakukanlah sendiri. Aku tak mau ikut campur.”

Mu Chen pun berbalik badan, masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu dengan keras, meninggalkan adiknya An Ran sendirian tanpa bantuan apa pun.

An Ran tak peduli, ia segera membawa Luna masuk ke dalam rumah, membaringkannya di kasur sederhana. Namun saat itu, kondisi Luna sudah sangat kritis. Karena kehilangan banyak darah dan rasa sakit yang luar biasa, kesadarannya perlahan hilang sepenuhnya. Matanya terpejam, napasnya lemah, dan ia sama sekali tak mendengar apa yang dibicarakan kakak beradik itu, bahkan tak sadar di mana ia berada atau siapa orang yang kini sedang merawatnya.

Di Kamar An Ran

  Di kamarnya, dengan telaten dan hati-hati, An Ran membersihkan darah yang mengering di sekujur tubuh Luna, lalu mengoleskan ramuan obat yang sangat ampuh untuk menghentikan pendarahan di perut Luna. Ia bahkan bergegas memanggil tabib, demi memastikan luka di perut Luna tertangani dengan benar.

Setelah memeriksa dengan saksama, tabib itu menghela napas pelan, wajahnya tampak serius. “Luka tusukan ini sangat dalam dan hampir mengenai organ dalamnya. Untuk saat ini nyawanya sudah selamat, tapi lukanya akan butuh waktu lama untuk pulih sepenuhnya. Dan ingat pesanku, Nona… mulai sekarang, ia tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat atau melakukan gerakan yang terlalu kuat. Jika dipaksakan, jahitan ini bisa robek kembali, dan kali ini nyawanya mungkin tak bisa diselamatkan lagi.”

An Ran mengangguk paham, lalu mengucapkan terima kasih dan mengantar tabib itu sampai ke depan pagar. Setelah orang tua itu pergi, ia kembali masuk ke kamar, duduk di samping tempat tidur, dan terus memantau napas Luna yang masih lemah, tak beranjak sampai larut malam.

Saat cahaya fajar mulai menyusup masuk lewat celah jendela, suara langkah kaki kecil terdengar mendekat. Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun masuk ke kamar An Ran, ia adalah Lulu. Lulu adalah satu-satunya anak dari saudagar kaya yang tewas di tangan Luna dan para rekannya itu, yang kini sudah tak punya siapa-siapa lagi selain Mu Chen dan An Ran, sehingga ia tinggal bersama mereka seperti keluarga.

Langkah Lulu terhenti mendadak saat matanya jatuh pada sosok wanita yang terbaring di atas kasur itu. Wajah pucat, raut wajah yang dulu sedingin es, dan potongan rambut hitam panjang yang ikat gaya laki-laki itu… semuanya begitu jelas dan tak bisa dilupakan. Wajah mungil Lulu seketika memucat, matanya membesar penuh ketakutan, dan tubuh kecilnya gemetar.

“Kakak… siapa dia?” tanyanya dengan suara bergetar, lalu ia mundur selangkah. “Kak… kenapa kakak jahat itu ada di sini?! Apakah dia mau datang untuk membunuhku lagi?!” teriak Lulu sambil menangis ketakutan, bayangan mengerikan saat kejadian di hutan itu kembali di ingatannya.

An Ran segera berlutut, memeluk tubuh kecil itu untuk menenangkannya, lalu mengusap air mata di pipi Lulu dengan lembut. “Sstt… Lulu sayang, jangan takut. Dia memang mungkin orang yang pernah kau temui dulu, tapi sekarang dia sedang terluka parah dan sedang sakit sekali. Dia tak akan bisa berbuat apa-apa, dan dia juga tak akan melukai Lulu, percayalah pada Kakak, ya?”

Dari arah pintu yang sedikit terbuka, Mu Chen berdiri sambil bersandar di kusen, mendengar semua pembicaraan itu dengan wajah dingin dan sinis. Ia pun menyahut dengan nada tajam yang penuh peringatan.

“Lihat itu? Bahkan anak kecil saja masih ingat siapa dia dan tahu betapa jahatnya wanita itu. Jangan terlalu baik dan mudah percaya, An Ran. Kau menolongnya, merawatnya, tapi bisa jadi suatu saat nanti, tangan yang sama ini akan menghunus senjata dan mencoba membunuh kita juga.”

An Ran menoleh ke arah kakaknya, tatapannya tetap tegas dan tak goyah sedikit pun. “Aku tahu apa yang kulihat, Kak. Dan aku percaya, tidak ada manusia yang lahir untuk menjadi jahat selamanya. Mungkin dia dulu hanya salah jalan, tapi siapa tahu… di dalam hatinya sebenarnya masih tersimpan sifat yang baik, yang hanya saja belum sempat muncul.”

Mu Chen hanya mendengus kasar, merasa sia-sia berdebat dengan adiknya yang keras kepala itu. Ia tak mau lagi meladeni, lalu membalikkan badan dan berkata singkat, “Sudahlah, aku tak mau bicara lagi soal ini. Aku berangkat ke kedai, nanti kau yang urus semuanya di sini.”

Ia pun melangkah pergi meninggalkan rumah. Kedai makanan yang mereka kelola itu sebenarnya adalah sebuah restoran yang cukup besar dan terkenal di kota itu, merupakan warisan peninggalan orang tua mereka yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Berkat masakan yang enak dan pelayanan yang ramah, tempat itu selalu ramai dikunjungi orang dari pagi sampai sore, menjadi satu-satunya sumber penghidupan mereka sehari-hari.

Di rumah, kini tinggal An Ran dan Lulu yang masih tampak cemas, serta Luna yang masih terbaring tak sadarkan diri, terkurung dalam tidur panjang yang perlahan akan mengubah seluruh jalan hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!