NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Senin siang di kantor Nasution Property Group terasa seperti ujian kesabaran tingkat dewa bagi Sheila. Alih-alih duduk di mejanya yang nyaman di luar, Jeremy dengan otoritasnya sebagai CEO memerintahkan Sheila untuk memindahkan laptop dan tumpukan berkas proyek ke dalam ruangannya yang luas dan ber-AC dingin itu.

"Di sini lebih efisien, Sheila. Kalau aku butuh data, aku nggak perlu teriak atau telepon. Tinggal panggil, asisten kesayanganku langsung ada," ujar Jeremy santai sambil menyesap kopi hitamnya.

Sheila duduk di sofa kulit panjang yang ada di sudut ruangan, menjadikannya meja darurat. Ia menekuni layar laptopnya dengan dahi berkerut. Setiap lima menit, ia harus mendengar suara ketikan keyboard Jeremy yang sengaja dibuat berisik atau gumaman-gumaman tidak jelas dari pria itu yang hanya ingin mencari perhatian.

"Dasar CEO tengil. Nggak berperikemanusiaan. Masa laporan setebal ini harus beres sebelum jam makan siang," gerutu Sheila sangat pelan, nyaris seperti bisikan angin.

Jeremy yang sedari tadi sebenarnya lebih banyak memerhatikan bayangan Sheila di pantulan kaca jendela daripada layar laptopnya sendiri, langsung menyahut dengan nada geli.

"Aku denger lho, Sayang," ucap Jeremy tanpa mengalihkan pandangan dari monitornya. Seringai tipis muncul di sudut bibirnya.

Sheila tersentak, wajahnya memerah karena tertangkap basah. "Apa sih, nggak usah sayang-sayangan! Kita lagi di kantor, Pak Jeremy!"

Jeremy akhirnya menutup laptopnya, lalu menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya. Ia menatap Sheila dengan tatapan yang sulit diartikan—setengah menggoda, setengah posesif. "Yaudah, iya... Baby."

"Pak!" pekik Sheila. Ia melempar pulpennya ke atas sofa dengan gemas. "Bisa profesional sedikit nggak? Aku ini karyawan Bapak, bukan... bukan mainan Bapak!"

"Siapa yang bilang mainan? Aku serius, lho. Kamu itu satu-satunya orang yang berani ngomelin CEO di ruangannya sendiri. Itu spesial banget, kan?" Jeremy tertawa renyah, suara tawanya menggema di ruangan yang kedap suara itu.

Waktu menunjukkan pukul 12.15. Perut Sheila sudah mulai berdemo, mengeluarkan suara keroncongan kecil yang untungnya tertutup suara AC. Ia meregangkan tubuhnya, mengangkat kedua tangan ke atas sampai tulang punggungnya berbunyi krek.

"Haaah... selesai," gumam Sheila lega. Ia segera menutup laptop dan membereskan alat tulisnya. Ia sudah membayangkan nasi padang di kantin atau bakso urat yang biasa ia makan bareng Nilam.

Saat Sheila hendak berdiri dan meraih tasnya, suara berat Jeremy kembali menginterupsi.

"Eh, mau ke mana?" tanya Jeremy, matanya menyipit curiga.

"Laperlah, Pak! Bapak pikir saya robot yang baterainya nggak habis-habis? Saya mau makan siang sama Nilam," jawab Sheila ketus.

Jeremy menggelengkan kepalanya pelan, lalu menunjuk ke arah kursi di depan mejanya dengan dagunya. "Bentar lagi makanan kamu dateng. Duduk saja di situ. Nggak usah capek-capek turun ke kantin, panas."

"Loh? Aku nggak pesen apa-apa!"

"Aku yang pesenin. Anggap saja upah karena kamu sudah mau 'dikurung' di sini selama empat jam," ucap Jeremy tepat saat pintu ruangannya diketuk. Seorang petugas office boy masuk membawa dua kantong kertas dari restoran kelas atas yang aromanya langsung memenuhi ruangan.

Jeremy mengeluarkan dua kotak makan mewah berisi nasi organik dengan ayam panggang bumbu rempah yang menggoda, lengkap dengan salad segar dan sambal matah.

"Duduk, Sheila. Makan," perintah Jeremy, kali ini nadanya lebih lembut, tidak lagi memerintah seperti bos.

Sheila, yang memang sudah sangat lapar, akhirnya menyerah. Ia duduk di kursi depan meja Jeremy. Aroma ayam panggang itu benar-benar meruntuhkan pertahanannya. Namun, saat ia mulai menyuap, ia sadar Jeremy tidak langsung makan. Pria itu justru menopang dagu dengan kedua tangannya, menatap Sheila dengan intensitas yang berlebihan.

"Dimakan, jangan cuma liatin kegantengan aku. Nanti ayamnya cemburu," celetuk Jeremy dengan tingkat kepercayaan diri setinggi langit.

Sheila yang baru saja mengunyah sepotong ayam hampir saja tersedak. Ia buru-buru meminum air mineralnya, lalu menatap Jeremy dengan tatapan datar.

"Dih. PD banget. Gantengan juga ini ayam panggang daripada Bapak," balas Sheila telak.

Jeremy malah tertawa lepas. "Wah, parah. Masa aku dibandingin sama unggas? Tapi nggak apa-apa, seenggaknya ayam itu bikin kamu mau duduk tenang di depanku tanpa pasang muka pengen kabur."

Suasana mendadak menjadi sedikit lebih santai. Mereka makan dalam diam selama beberapa menit, hanya terdengar suara denting sendok. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama bagi Sheila.

"Shei," panggil Jeremy pelan.

"Hmm?" Sheila menyahut tanpa mendongak, masih asyik dengan sambal matahnya.

"Gimana rasanya kemarin di Bogor bareng Malik? Seru?" tanya Jeremy. Nada suaranya berubah, ada rasa penasaran yang coba ia sembunyikan di balik nada kasual.

Gerakan tangan Sheila terhenti. Ia mendongak, menatap Jeremy dengan waspada. "Seru banget. Tenang, nggak ada gangguan, dan yang paling penting... nggak ada yang bahas soal denda kontrak."

Jeremy tersenyum getir. "Sakit ya, denger asisten sendiri lebih bahagia sama orang lain. Padahal aku bisa kasih kamu Bogor, Bandung, bahkan Bali kalau kamu mau. Kenapa harus sama dia yang cuma bisa kasih kamu motor matic?"

Sheila meletakkan sendoknya, nafsu makannya sedikit berkurang. "Karena Malik kasih apa yang nggak Bapak punya, Jer. Dia kasih aku rasa aman tanpa perlu mengancam. Dia menghargai aku sebagai manusia, bukan sebagai 'aset perusahaan' yang bisa dibeli pakai denda."

Jeremy terdiam. Kalimat Sheila kali ini benar-benar menghujam tepat di ulu hatinya. Ia meraih gelas kopinya yang sudah dingin, memutarnya perlahan.

"Mungkin cara aku salah, Shei. Tapi aku nggak tahu cara lain buat bikin kamu tetap di sini. Aku takut kalau aku bersikap 'biasa' saja, kamu bakal hilang lagi kayak dulu," bisik Jeremy jujur. Sisi rapuh sang CEO kembali muncul, membuat Sheila sedikit tertegun.

Namun, sebelum Sheila sempat menanggapi, ponselnya di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari Malik.

"Sayang, makan siang apa? Jangan telat makan ya. Semangat kerjanya, sebentar lagi pulang kok. I love you."

Sheila tersenyum otomatis saat membaca pesan itu. Jeremy yang melihat perubahan ekspresi Sheila langsung tahu siapa pengirimnya. Ia berdeham keras, mencoba memutus suasana sentimental tadi.

"Sudah, habisin makannya. Habis ini ada berkas lagi yang harus kamu input. Jangan senyum-senyum sendiri, nanti dikira kesurupan qpenunggu ruangan ini," ucap Jeremy kembali ke mode tengilnya.

Sheila mendengus, namun ia tetap menghabiskan makanannya. Di balik semua ketengilan Jeremy, ia tahu satu hal: makan siang mewah ini adalah cara Jeremy untuk meminta maaf atas kejadian tadi pagi, meski pria itu terlalu gengsi untuk mengatakannya secara langsung.

"Makasih ya ayam panggangnya, Pak CEO. Enak banget, jauh lebih enak daripada ngelihat muka Bapak yang lagi cemberut," goda Sheila sebelum membereskan kotak makannya.

Jeremy hanya bisa mendengus sambil menahan senyum. "Dasar asisten durhaka. Cepat balik kerja!"

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!