Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Genjatan senjata
Namun Zaenab membuang muka, tapi bibirnya sedikit bergetar. "Kenapa kau harus membiarkan dia menyentuh lengan bajumu? Itu tidak sopan, Sidik."
"Tangan itu gemetar, Zae. Dia mungkin hanya kasihan karena melihatku tampak kurus setelah sakit," Mbah Sidik mencoba membela diri dengan jujur, meski ia tahu itu justru membuat Zaenab semakin kesal.
"Kasihan? Aku istrinya! Aku yang mengurus mu siang malam, mencuci baju penuh keringatmu, menyuapi mu bubur pahit, dan sekarang kau bilang dia kasihan?!" Zaenab akhirnya meledak, air matanya jatuh—bukan karena sedih, tapi karena rasa kepemilikan yang begitu dalam.
Mbah Sidik tidak lagi bicara. Ia langsung memeluk Zaenab dengan erat. Pelukan yang dulu ia berikan saat pulang dari medan perang untuk pertama kalinya. "Kau tahu, Nyai? Di mataku, tidak ada wanita lain. Bahkan bidadari sekalipun tidak akan bisa menandingi wajahmu, yang bagiku adalah peta sejarah hidupku yang paling indah. Lastri itu hanya tamu. Tapi kau... kau adalah nafasku."
Zaenab terdiam di pelukan suaminya. Marahnya perlahan menguap, tergantikan oleh rasa haru. Namun, sifat jenakanya tak bisa hilang begitu saja. Ia mendorong pelan dada Mbah Sidik, lalu menghapus air matanya dengan ujung jari.
"Janji? Tidak ada lagi lodeh dari siapa pun kecuali masakanku," ujar Zaenab
Mbah Sidik tertawa terbahak-bahak. "Kalau ada yang membawa lodeh lagi, aku akan langsung membuangnya ke kandang kambing! Biar kambing-kambing itu yang kolesterol, bukan aku."
Zaenab ikut tertawa, meski masih tersisa sisa-sisa kesal di wajahnya. "Dasar tua! Sudah sana, duduk lagi. Aku buatkan kopi yang benar-benar kopi, bukan teh jahe untuk orang sakit."
Malam itu, keributan kecil karena cemburu justru membuat rumah kayu mereka terasa lebih hidup. Mereka duduk berdua di teras, menikmati sisa malam dengan tangan yang tetap saling menggenggam. Di dunia yang sudah berubah drastis ini, cinta mereka tetaplah satu-satunya hal yang tidak pernah tersentuh oleh zaman: murni, kadang cemburu, tapi selalu pulang ke rumah yang sama.
"Zae?" panggil Sidik pelan.
"Ya?"
"Jangan pernah cemburu lagi ya. Jantungku sudah tua, tidak kuat kalau harus deg-degan karena marah mu"
"Makanya, jangan macam-macam!" balas Zaenab sambil mencubit pelan lengan suaminya.
Dan tawa mereka pun pecah, memecah sunyi Jepara, mengiringi bulan yang tersenyum di balik awan.
***
Esok paginya, suasana Gencatan Senjata ternyata belum sepenuhnya pulih. Zaenab masih merasa perlu memberikan serangan balasan yang edukatif bagi suaminya.
Mbah Sidik yang baru saja bangun tidur dengan perasaan segar, mendapati meja makan kosong melompong. Tidak ada kopi hitam kental, tidak ada singkong rebus, yang ada hanyalah sebuah panci besar berisi... sayur lodeh kiriman Bu Lastri kemarin.
"Nyai? Mana kopiku? Kenapa di meja cuma ada panci lodeh ini?" teriak Mbah Sidik dari ruang tengah.
Zaenab muncul dari balik pintu dapur sambil membawa sapu lidi, wajahnya datar seperti papan cucian. "Lho, katanya kemarin enak? Katanya rendah kolesterol? Ya sudah, habiskan saja itu untuk sarapan, makan siang, sampai makan malam. Eman-eman kalau dibuang, pemberian tamu istimewa kan harus dihargai."
Mbah Sidik menelan ludah. Sayur lodeh dingin yang lemaknya sudah menggumpal di permukaan itu tampak sangat tidak menggugah selera untuk sarapan
"Zae, masa kamu suruh aku sarapannya lodeh dingin? Perutku bisa kembung, nanti kalau aku buang angin sembarangan di depan Ahmad, jatuh martabatku sebagai bapak."
"Oh, takut martabat jatuh? Tapi tidak takut kalau lengan baju dipegang-pegang janda sebelah?" sindir Zaenab sambil menyapu lantai dengan semangat 45, hingga debunya mendarat tepat di kaki Mbah Sidik.
Ahmad yang baru bangun dan melihat situasi tegang itu mencoba menengahi. "Bapak, Ibu... kenapa pagi-pagi sudah latihan debat begini? Apa tidak capek?"
"Ahmad! Sini!" panggil Mbah Sidik dengan nada komando. "Ambilkan Bapak nasi di dapur. Bapak tidak mau makan lodeh ini, rasanya hambar, kurang garam, kurang cinta!"
Zaenab langsung menyahut tanpa menoleh, "Ahmad, jangan ambilkan nasi. Biar bapakmu belajar menghargai 'perhatian' orang lain. Kalau perlu, suruh saja dia pergi sarapan ke rumah Bu Lastri sekalian, siapa tahu di sana ada sambal goreng hati yang lebih mantap!"
Ahmad hanya bisa garuk-garuk kepala. Ia berbisik pada bapaknya, "Pak, mending Bapak minta maaf pakai cara militer. Kalau tidak, sebulan kita makan lodeh dingin ini."
Melihat serangan Zaenab yang semakin gencar, Mbah Sidik akhirnya mengeluarkan senjata pamungkasnya. Ia berdiri di tengah ruangan, berdehem keras, lalu mulai berpuisi dengan gaya pidato Bung Karno.
"Wahai rembulan di siang bolong...
Zaenabku sayang," seru Mbah Sidik sambil memegang gagang sapu sebagai mikrofon.
"Apalah arti lodeh tanpa santan, jika dibandingkan dengan senyummu yang penuh kuman... eh, maksudku penuh iman!
Janganlah kau cemburu pada rupa yang semu,
Sebab hanya kaulah, satu-satunya yang tahan dengan bau kakiku!
Buanglah lodeh itu ke sumur yang dalam,
Asalkan kau mau buatkan kopi hitam yang membungkam dendam!"
Zaenab yang tadinya cemberut, akhirnya tak tahan lagi. Ia mencoba menahan tawa, tapi bahunya mulai berguncang. "Bau kaki katanya? Baru sadar ya, kalau kakimu bau?"
"Iya, Nyai! Dan hanya kau yang dengan ikhlas mencuci kaos kakiku tanpa pingsan. Itu adalah bukti cinta sejati yang tidak dimiliki Lastri!" Mbah Sidik mendekat, mencoba merayu dengan wajah yang dibuat melas.
Zaenab akhirnya meledak tertawa. Ia memukul lengan Mbah Sidik dengan lap dapur. "Dasar kakek-kakek genit! Sudah sana, lodeh itu kasihkan ke ayam saja. Aku sudah buatkan sambal terasi dan ikan asin di dapur, tapi tadi sengaja aku sembunyikan."
Mbah Sidik langsung berteriak kegirangan. "Merdeka..!"
Ahmad hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan orang tuanya. "Punya orang tua veteran perang tapi kalau soal cemburu kok malah jadi kayak anak sekolah ya?"
Malamnya, lodeh Bu Lastri benar-benar berakhir di tempat sampah, sementara Mbah Sidik makan dengan lahap sambil terus memuji masakan Zaenab setinggi langit—taktik pertahanan paling efektif untuk menjaga perdamaian rumah tangga.
Sementara di luar rumah, suasana malam di Jepara sedang sunyi dan syahdu.
Langit hitam pekat berhiaskan taburan bintang yang berpendar lembut, bulan sabit tipis menyepuh atap-atap rumah dengan warna perak yang magis. Sesekali, terdengar suara burung malam yang bersahutan dari balik rimbunnya pohon jati, memecah hening dengan irama yang tenang. Angin malam yang sepoi membawa aroma tanah basah, menyelimuti rumah kayu itu dalam kedamaian penuh cinta.
Tak seberapa lama, hujan rintik-rintik datang menyapa bumi Jepara, mengetuk lembut atap-atap rumah Mbah sidik, dengan irama yang menenangkan jiwa.
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
q berasa kaya lagi ngaji thor
siapa kah sebenarnya kang sidik ?