Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Suasana di ruang keluarga itu mendadak mencekam.
Urat-urat di leher Emirhan menegang saat ia mencengkeram kerah baju Hakan, sementara Hakan menatap kakaknya dengan pandangan menantang.
"Emir! Hakan! Duduk!" bentak Onur dengan suara menggelegar yang membuat seisi ruangan bergetar.
Kedua pria itu terdiam. Emirhan melepaskan cengkeramannya dengan kasar, lalu kembali duduk di samping Aliya yang kini gemetar ketakutan.
Hakan memperbaiki letak kerah bajunya sambil mendengus kesal, namun tak berani membantah ayahnya lagi.
Onur kembali mengalihkan pandangannya pada Aliya.
Tatapannya tidak lagi tajam, namun tetap sangat berwibawa.
"Bisa hubungi orang tuamu untuk datang ke sini sekarang?"
Emirhan langsung menoleh ke arah ayahnya dengan dahi berkerut.
"Ayah, untuk apa? Aliya sedang tidak tenang, jangan menekannya lebih jauh."
"Emir, tidak apa-apa," jawab Aliya pelan sambil menyentuh lengan Emirhan, mencoba meredam emosi pria itu.
Ia tahu ia tidak bisa lari selamanya dari masalah ini.
Dengan tangan gemetar, Aliya merogoh ponselnya dan menekan nomor ibunya.
Di seberang sana, Maria sedang berada di rumah makan keluarga mereka, masih dengan wajah masam akibat pertengkaran semalam.
Begitu melihat nama Aliya di layar, ia langsung mengangkatnya dengan nada sinis.
"Ada apa lagi? Aku kira kamu sudah tidak butuh Ibu setelah berani angkat kaki dari rumah!" suara Maria terdengar ketus.
"Ibu!" tegur Zarta yang berada di dekat Maria.
Ia menggelengkan kepalanya, merasa ibunya terlalu keras pada adiknya yang sedang kesulitan.
Aliya menarik napas panjang, mencoba menahan tangisnya agar tidak pecah di depan keluarga Emirhan.
"Ibu, apa Ibu bisa datang ke alamat yang akan kukirimkan lewat pesan ini? Ada hal penting yang harus dibicarakan."
"Baiklah, Ibu ke sana sekarang. Tapi ingat, jangan harap Ibu akan membantumu jika kamu membuat masalah baru," jawab Maria dingin sebelum mematikan sambungan telepon.
Maria segera menyambar tasnya dan berjalan menuju pintu keluar tanpa mempedulikan tatapan heran para karyawannya.
Zarta meminta Tony supir mereka untuk mengikutinya dari belakang, merasa khawatir dengan apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya.
"Bikin ulah apa lagi dia sebenarnya? Kenapa harus memanggilku ke tempat asing seperti ini?" gumam Maria sepanjang jalan, sama sekali tidak menyadari bahwa alamat yang dikirimkan Aliya adalah sebuah mansion megah milik salah satu keluarga terkaya di kota itu.
Sementara itu, di ruang keluarga Karadağ, keheningan kembali menyelimuti saat mereka semua menunggu kedatangan badai yang baru.
Emirhan duduk tegak di samping Aliya, jemarinya mengunci erat tangan gadis itu seolah ingin menyalurkan seluruh keberanian yang ia miliki.
Ketegangan di ruangan itu mencapai puncaknya saat suara ketukan pintu yang berat terdengar bergema.
Onur bangkit dari kursinya. Sebagai kepala keluarga, ia sendiri yang melangkah menuju pintu besar mansion tersebut. Namun, begitu daun pintu terbuka lebar, Onur mematung.
Seluruh wibawanya seolah luruh dalam sekejap saat matanya bertemu dengan sosok wanita yang berdiri di depannya.
Maria, yang awalnya datang dengan wajah penuh amarah, seketika kehilangan kata-kata.
Dunianya seakan berhenti berputar. Lelaki yang ada di hadapannya adalah masa lalu yang selama belasan tahun ia kubur dalam-dalam; lelaki yang pernah—dan mungkin masih—ia cintai dengan sisa hidupnya.
Di sudut ruangan, Zaenab yang menyadari perubahan raut wajah suaminya, mulai merasakan firasat buruk. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, seolah menolak kenyataan pahit yang mulai tercium di udara.
Maria dengan cepat menguasai dirinya. Ia memutus kontak mata itu dan memasang topeng dingin, berpura-pura tidak mengenal Onur sama sekali demi menjaga harga dirinya yang tersisa.
"Ibu..." ucap Aliya lirih, memecah keheningan yang menyesakkan itu.
Aliya berlari kecil menghampiri ibunya, namun Maria hanya menatap lurus ke arah Onur tanpa berkedip, sementara Onur masih terpaku di ambang pintu, seolah melihat hantu dari masa mudanya.
Rahasia besar yang selama ini tersimpan rapat kini berada di ambang kehancuran, tepat di saat Emirhan baru saja mengumumkan cintanya pada Aliya.
"Jadi, ini rumah orang yang membawamu pergi, Aliya?" tanya Maria dengan suara bergetar, tetap berusaha menghindari tatapan Onur yang mulai meredup karena syok.
Onur masih terpaku di tempatnya, namun Emirhan segera mengambil alih situasi.
Ia melangkah maju dengan sikap yang sangat sopan namun penuh wibawa, berusaha mencairkan suasana yang mendadak membeku di ambang pintu.
"Nyonya, silakan duduk," ucap Emirhan sambil memberikan isyarat tangan ke arah ruang tamu yang megah.
"Perkenalkan, aku Emirhan. Lelaki yang sangat mencintai putri Anda dan ingin melindunginya."
Maria merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba menghindari tatapan Onur yang masih tertuju padanya dengan sorot mata yang sulit dibaca.
Dengan langkah yang dipaksakan tegap, ia masuk ke dalam rumah yang terasa seperti istana itu.
"Ibu, duduklah," bisik Aliya sambil menuntun tangan ibunya menuju sofa.
Maria duduk dengan kaku, sementara Zaenab menatapnya dari kejauhan dengan tatapan kecemburuan.
Onur akhirnya menutup pintu dan berjalan perlahan menuju kursinya, namun matanya tidak sedetik pun lepas dari wajah Maria—wanita yang pernah mengisi lembaran hidupnya jauh sebelum kesuksesan ini ada.
"Jadi..." Onur akhirnya bersuara, suaranya terdengar sedikit parau.
"Anda adalah ibu dari Aliya?"
Maria mendongak, menatap Onur dengan tatapan yang sangat dingin, seolah-olah mereka adalah orang asing yang baru pertama kali bertemu.
"Benar, Tuan. Dan saya ke sini untuk menjemput putri saya. Saya rasa dia tidak seharusnya berada di tempat yang terlalu tinggi seperti ini."
Emirhan kembali menggenggam tangan Aliya, menunjukkan bahwa ia tidak akan membiarkan Aliya pergi begitu saja.
Ketegangan baru kini muncul bukan lagi soal usia atau status, melainkan rahasia terpendam antara dua orang tua yang kini duduk saling berhadapan.
Onur tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang menyembunyikan badai emosi di dalam dadanya.
Ia menatap wanita itu lekat-lekat, seolah sedang menggali kembali memori yang terkubur belasan tahun lalu.
"Anda terlalu melebih-lebihkan, Nyonya..." Onur sengaja menggantung kalimatnya, menunggu wanita itu menyebutkan namanya sendiri.
"Maria... namaku Maria," ucap Maria dengan nada bicara yang ditekan, berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar di hadapan pria itu.
"Nyonya Maria..." Onur mengulang nama itu dengan pelan, hampir seperti sebuah bisikan yang penuh arti.
Melihat gelagat yang tidak biasa dari Onur dan suasana yang semakin menyesakkan, Maria tidak tahan lagi.
Ia merasa dinding-dinding mansion ini seolah menghimpitnya. Ia segera bangkit dari duduknya dan menatap Aliya dengan tajam.
"Ayo Aliya, kita pulang sekarang! Atau kamu memang sudah berniat menginap di sini dan melupakan rumahmu?" bentak Maria.
Aliya tersentak, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Ibu, jangan seperti ini. Aku mencintai Emir. Dia yang menolongku saat semuanya menjauh."
"Cinta? Itu hanya cinta monyet, Aliya! Kamu masih kecil, kamu tidak tahu apa-apa tentang dunia pria seperti dia!" Maria langsung menyambar pergelangan tangan Aliya dan menggandengnya, menarik gadis itu keluar dengan paksa menuju pintu besar.
"Ibu, lepaskan! Sakit, Bu!" tangis Aliya pecah. Kekuatan Maria yang didorong oleh rasa panik dan trauma masa lalu membuat Aliya tak berdaya.
Namun, tepat sebelum mencapai pintu, Aliya berhasil menyentakkan tangannya.
Dengan sisa tenaganya, ia berbalik dan berlari sekencang mungkin ke arah Emirhan.
Aliya langsung menghambur dan memeluk tubuh Emirhan dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu sambil terisak hebat.
"Emir, tolong jangan biarkan aku pergi. Aku takut," rintih Aliya di balik dekapan Emirhan.
Emirhan membalas pelukan itu dengan protektif, menatap Maria dan ayahnya bergantian dengan sorot mata yang menantang.
Ia tidak akan membiarkan siapa pun membawa Aliya pergi secara paksa, sekalipun itu adalah ibu kandungnya sendiri.
Di ambang pintu, Maria mematung dengan napas memburu, sementara Onur hanya bisa menatap pemandangan itu dengan hati yang hancur, menyadari bahwa sejarah seolah sedang mengulang dirinya sendiri.