NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Hujan turun seperti ribuan jarum yang menghujam bumi. Di luar gerbang Mansion Mahendra yang menjulang angkuh, Adelard melangkah menyusuri trotoar yang sepi. Gaun *midnight blue* yang tadinya tampak begitu agung, kini basah kuyup, terasa berat dan dingin melekat di kulitnya. Air hujan bercampur dengan sisa air matanya, membasuh segala kepalsuan yang sempat ia kenakan di dalam aula tadi.

"Adel! Adel, berhenti!"

Suara deru mesin mobil mewah terdengar di belakangnya, disusul suara pintu yang terbanting keras. Devan Dirgantara berlari menembus kegelapan, mengabaikan tuksedo mahalnya yang kini rusak terkena air. Ia berhasil mencegat Adel di bawah lampu jalan yang temaram, memegang kedua bahu gadis itu dengan napas yang memburu.

"Apa yang kau lakukan? Kau gila?!" Devan berteriak melawan suara guntur. "Masuk ke mobilku, Adel! Kau bisa mati kedinginan di sini!"

Adel berhenti, namun ia tidak menoleh. Ia menatap lurus ke arah jalanan yang gelap. "Aku sudah biasa dengan dingin, Devan. Dinginnya air hujan tidak seberapa dibanding dinginnya hati orang-orang di dalam sana."

Devan memutar tubuh Adel agar menghadapnya. Saat melihat wajah Adel yang pucat pasi namun matanya berkilat penuh tekad, pertahanan Devan runtuh. Pria yang dikenal dingin dan tak tersentuh itu kini menatap Adel dengan mata yang berkaca-kaca.

"Adel, dengarkan aku," suara Devan bergetar, nyaris terisak. "Kau tidak perlu melakukan ini sendiri. Kau baru saja membuang segalanya! Kau tidak punya tempat tinggal, kau tidak punya uang, kau tidak punya identitas! Aku... aku punya segalanya. Kekuasaan keluarga Dirgantara, seluruh asetku, tim hukumku—semuanya milikmu. Aku bisa menghancurkan Mahendra Group dalam semalam jika itu yang kau mau. Aku bisa membuat ayahmu berlutut memohon maaf padamu besok pagi!"

Devan menggenggam tangan Adel yang sedingin es. "Jangan siksa dirimu seperti ini. Biarkan aku menjadi senjatamu. Biarkan aku yang meratakan mereka dengan tanah untukmu."

Adel menatap Devan, melihat ketulusan yang begitu besar di mata pria itu. Ia melangkah maju, memeluk Devan dengan erat. Bukan pelukan keputusasaan, melainkan pelukan perpisahan terhadap masa lalunya. Ia bisa merasakan tubuh Devan yang hangat dan gemetar karena mencemaskannya.

"Terima kasih, Devan," bisik Adel di dada Devan. "Tapi kau salah. Aku tidak membuang segalanya. Aku baru saja menemukan diriku sendiri yang sempat hilang karena mencoba menjadi 'putri' di rumah itu."

"Tapi kau tidak punya apa-apa sekarang, Adel!" Devan melepaskan pelukan, memegang wajah Adel dengan kedua tangannya yang hangat. Air mata Devan akhirnya jatuh, bercampur dengan air hujan di pipinya. "Aku tidak sanggup melihatmu kembali ke kehidupan yang sulit. Aku tidak bisa membiarkanmu menderita lagi."

Adel tersenyum kecil, sebuah senyuman yang sangat tenang. "Devan, jangan menangis untukku. Aku tumbuh di panti asuhan yang atapnya bocor setiap kali hujan seperti ini. Aku terbiasa mencuci baju di sungai dan tidur dengan perut kosong. Bagimu, ini adalah penderitaan. Bagiku, ini adalah pulang ke medan perang yang sudah kukenal dengan baik. Aku tidak takut pada kemiskinan, Devan. Aku lebih takut kehilangan harga diriku."

Tiba-tiba, Devan merogoh saku tuksedonya. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil yang meski basah, tetap memancarkan kemewahan. Di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian dengan potongan sempurna—cincin yang seharusnya menjadi pengikat aliansi dua keluarga besar.

Devan berlutut di atas trotoar yang basah, di bawah guyuran hujan lebat. "Adelard... aku tidak peduli kau punya marga Mahendra atau tidak. Aku tidak peduli kau punya harta atau tidak. Menikahlah denganku. Malam ini juga, aku akan membawamu ke rumahku. Jadilah Nyonya Dirgantara. Dengan status itu, tidak akan ada satu orang pun di negeri ini yang berani menghinamu lagi. Clarissa akan menjadi debu di bawah kakimu."

Adel terpaku. Lamaran itu adalah impian setiap gadis, sebuah tiket emas untuk keluar dari segala kesulitan hidup. Namun, Adel justru menggelengkan kepalanya perlahan.

"Berdirilah, Devan," ucap Adel lembut.

"Tidak, sebelum kau menerimanya. Aku ingin melindungimu, Adel."

Adel berlutut di depan Devan, menyamakan tinggi mereka di atas aspal yang dingin. Ia memegang tangan Devan yang memegang kotak cincin itu, lalu menutupnya perlahan.

"Aku menolaknya, Devan. Bukan karena aku tidak mencintaimu," kata Adel, suaranya terdengar sangat jujur. "Tapi jika aku menerimamu sekarang, aku hanya akan dikenal sebagai 'wanita di balik Devan Dirgantara'. Dunia akan berkata bahwa Adelard berhasil membalas dendam karena ia menjual kecantikannya pada seorang miliarder. Aku akan tetap menjadi bayangan, hanya saja di tempat yang lebih mewah."

"Aku tidak peduli apa kata dunia, Adel!"

"Tapi aku peduli!" sahut Adel tegas. "Aku ingin membuktikan pada pria di dalam mansion itu, bahwa darah asli Mahendra yang jenius ada di dalam diriku. Aku ingin membuktikan bahwa tanpa warisan sepeser pun, tanpa bantuan nama besar Dirgantara, aku bisa membangun kerajaanku sendiri yang jauh lebih besar dari miliknya. Aku ingin berdiri sejajar denganmu, Devan. Bukan sebagai seseorang yang kau selamatkan, tapi sebagai seseorang yang layak bersanding di sampingmu karena kekuatannya sendiri."

Devan menatap Adel dengan rasa sakit yang mendalam. "Kau begitu keras kepala... kau memilih jalan yang paling sulit."

"Karena hanya jalan yang sulit yang bisa membuktikan siapa aku sebenarnya," Adel mengusap pipi Devan. "Simpan cincin ini. Jika suatu hari nanti aku sudah berhasil membangun takhtaku sendiri, jika aku sudah tidak lagi butuh perlindunganmu untuk berdiri tegak... kembalilah padaku. Saat itu, aku akan menerimamu sebagai pasangan yang sejajar, bukan sebagai penyelamat."

"Berapa lama aku harus menunggu?" tanya Devan dengan suara parau.

"Sampai darah Mahendra di dalam diriku membuktikan nilainya tanpa perlu marga di belakang namaku," jawab Adel.

Adel berdiri, membiarkan gaunnya yang basah terseret di aspal. Ia memberikan satu ciuman singkat di kening Devan—sebuah janji yang tak terucap.

"Jangan ikuti aku lagi malam ini, Devan. Biarkan aku melangkah ke dalam kegelapan ini sendirian. Aku butuh rasa sakit ini untuk tetap terjaga," ucap Adel.

Devan hanya bisa terpaku di bawah hujan, melihat sosok gadis yang ia cintai itu perlahan-lahan menghilang ditelan kabur malam dan derasnya hujan. Ia menggenggam erat kotak cincin di tangannya. Hatinya hancur melihat keadaan Adel yang hancur secara lahiriah, namun ia juga merasa gentar melihat kekuatan mental yang begitu luar biasa dari seorang gadis yang baru saja kehilangan segalanya.

Adelard terus berjalan, tidak menoleh ke belakang. Setiap langkahnya terasa seperti memutuskan rantai yang selama ini mengikatnya. Ia tidak butuh kekuasaan Dirgantara, ia tidak butuh harta Mahendra. Ia hanya butuh otak yang Tuhan berikan padanya dan api dendam yang kini berkobar menjadi ambisi yang murni. Malam itu, seorang putri telah mati, dan seorang pemenang baru saja lahir dari rahim penderitaan. Di bawah langit yang menangis, Adelard bersumpah bahwa saat ia kembali nanti, dunia tidak akan mengenalinya sebagai korban, melainkan sebagai penguasa baru yang membangun takhtanya dari puing-puing kehancuran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!