Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Keesokan harinya, suasana di rumah besar keluarga Mahendra tampak biasa saja dari luar. Pagi berjalan seperti biasa, tapi ada yang berbeda di dalam rumah itu.
Aluna sudah ada di dapur sejak sebelum matahari naik tinggi. Karena kondisi keuangan yang terbatas, pembantu rumah tangga yang dulu banyak kini hanya tinggal satu orang. Aluna mengambil alih sisanya tanpa diminta. Memasak, mencuci, membereskan dapur, semua ia kerjakan sendiri dengan tenang.
Pagi itu ia sedang mengaduk masakan di atas kompor ketika mendengar suara klakson dari depan. Aluna mengintip dari jendela dapur dan melihat sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Ia mengenali mobilnya.
Aluna mematikan kompor, mencuci tangan, dan melepas apronnya. Ia berjalan keluar ke teras menghampiri Kenzi.
"Assalamualaikum, Mas Kenzi," sapa Aluna.
"Waalaikumsalam, Non." Kenzi turun dari mobil dan langsung membuka bagasi. "Tumben pagi-pagi sudah kelihatan sibuk."
"Biasa, Mas. Ada yang perlu dikerjakan." Aluna melihat isi bagasi yang penuh kantong belanja. "Ini apa semua, Mas?"
"Buah-buahan sama susu buat Arfan." Kenzi mengangkat beberapa kantong dan membawanya ke teras. "Lewat sini sekalian, sebentar saja."
Aluna menggeleng pelan. "Mas Kenzi tidak perlu repot-repot begini."
"Bukan repot." Kenzi meletakkan kantong-kantong itu di teras dan berdiri tegak. "Rezeki anak kecil. Lagian kita sudah seperti saudara sendiri, Non."
Mereka mengobrol sebentar di teras. Kenzi bertanya kabar, menanyakan kondisi Arfan, dan sesekali bercerita hal-hal dari masa lalu yang membuat Aluna tertawa kecil. Tawa yang jarang keluar sejak ia tinggal di rumah ini.
Dari balik jendela ruang tamu, Nyonya Soraya berdiri dan memperhatikan mereka. Matanya menyipit.
Tidak lama kemudian Kenzi berpamitan. "Yaudah, Non, aku lanjut jalan dulu."
"Nanti kapan-kapan main lagi ya," tambahnya sambil melangkah ke arah mobil.
"Iya, Mas. Terima kasih banyak ya buat semuanya," jawab Aluna sambil melambaikan tangan.
Mobil Kenzi perlahan keluar dari pekarangan dan hilang di ujung jalan.
Aluna berbalik hendak masuk ke dalam rumah. Ia belum sempat menyentuh gagang pintu ketika Nyonya Soraya sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah memerah.
"Heh." Nyonya Soraya melangkah keluar ke teras. "Siapa tadi pria itu?"
Aluna menunduk sopan. "Selamat pagi, Tante. Itu Kenzi, teman lama Aluna. Kita ketemu kemarin di taman waktu jalan sama Mas Raka."
"Teman?" Nyonya Soraya mengerutkan hidungnya. "Teman kok bawain barang segitu banyak? Teman kok kalian terlihat akrab sekali?"
"Dia memang baik, Tante. Dia tahu kondisi kita sekarang dan mau bantu." Aluna berusaha menjelaskan dengan tenang.
"Bantu?" Nyonya Soraya memotong. "Mana ada laki-laki mau bantu cuma-cuma? Pasti ada maunya!"
Aluna tidak langsung menjawab.
"Atau jangan-jangan memang itu yang kamu mau?" Nyonya Soraya melanjutkan. "Arka lagi susah, lagi tidak punya uang, jadi kamu mulai cari perhatian dari laki-laki lain yang lebih mampu?"
"Tante..." Aluna mengangkat kepalanya. "Itu tidak benar. Kenzi hanya teman baik. Dia sudah seperti saudara bagi Aluna sejak kecil."
"Saudara." Nyonya Soraya tertawa pendek. "Bilang saja terus begitu. Lihat saja nanti kalau Arka tahu kelakuan istrinya."
Nyonya Soraya berbalik dan masuk ke dalam rumah, membiarkan pintu depan terbuka.
Aluna berdiri di teras itu sendirian. Ia menarik napas panjang dan menatap kantong-kantong buah yang masih berjajar di sisi teras. Ia mengambilnya satu per satu dan membawa masuk ke dapur.
Malam itu Arka pulang lebih lambat dari biasanya. Jam menunjukkan angka 9, pria itu memasuki kamar dengan ekspresi datar.
Aluna sedang menyusui Arfan di atas ranjang lalu menyadari ketika pintu kamar terbuka. Ia mengangkat kepala dan tersenyum.
"Tuan sudah pulang. Mari, Aluna siapkan air hangat dulu," ucap Aluna.
Arka menutup pintu di belakangnya. Ia tidak membalas senyum Aluna. Ia berdiri di dekat pintu dan menatap istrinya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Raut wajahnya masih saja datar sambil terus memandang Aluna.
"Duduk dulu." Suara Arka datar. "Kita perlu bicara."
Aluna merasakan sesuatu yang tidak beres. Ia menyelesaikan menyusui Arfan, meletakkan bayi itu di atas kasur dengan hati-hati, lalu duduk tegak di tepi ranjang.
"Ada apa, Tuan?" tanya Aluna pelan.
"Siapa Kenzi?" Arka berdiri di depannya dengan tangan di sisi tubuh.
Aluna mengerjap. "Tuan tahu dari mana?"
"Jawab pertanyaanku." Nada Arka tidak berubah.
"Dia teman lama Aluna." Aluna menjelaskan dengan tenang. "Teman masa kecil. Kita bertemu kemarin di taman waktu Aluna jalan sama Mas Raka. Tadi pagi dia mampir sebentar dan bawakan buah-buahan sama susu buat Arfan."
"Hanya teman?" tanya Arka.
"Iya, Tuan. Hanya teman." Aluna menatap suaminya. "Kenzi itu baik, dia tahu kondisi kita sekarang dan mau bantu. Tidak ada maksud lain."
Arka berjalan beberapa langkah ke sisi ruangan, lalu berbalik. "Menurut Ibu, kalian terlihat sangat akrab tadi pagi. Sangat nyaman."
"Kami memang sudah kenal lama, Tuan." Suara Aluna masih tenang. "Wajar kalau akrab."
"Dan kamu bahagia sekali bersamanya." Arka menatapnya. "Lebih bahagia dari biasanya."
"Tuan..." Aluna berdiri dari ranjang. "Aluna memang senang ketemu teman lama. Itu wajar. Tapi itu tidak berarti apa-apa selain pertemanan biasa."
"Dia datang ke rumah ini." Suara Arka naik sedikit. "Dia bawakan barang untuk anakku. Dia akrab dengan istriku. Dan aku tidak tahu apa-apa tentang dia sampai Ibu yang cerita."
"Kalau Tuan mau tahu, Aluna akan cerita." Aluna tidak mundur. "Aluna tidak menyembunyikan apa pun. Kenzi itu teman lama, sudah seperti saudara. Aluna tidak pernah berpikir macam-macam."
"Harga diriku jatuh sekali kalau harus menerima pemberian dari laki-laki yang bahkan aku tidak kenal." Arka berbicara lebih keras. "Aku ini suamimu. Aku yang seharusnya mencukupi kebutuhanmu dan anak kita."
"Aluna tahu itu." Suara Aluna mulai bergetar. "Tapi Aluna tidak minta dia datang. Dia yang mau membantu karena memang begitu sifatnya."
"Maka mulai sekarang, jangan terima apa pun dari dia." Arka berdiri tegak. "Dan jangan temui dia lagi."
Air mata Aluna akhirnya jatuh. Bukan karena marah, tapi karena lelah. "Baik, Tuan. Kalau itu yang Tuan minta, Aluna akan ikuti."
Arka tidak menjawab lagi. Ia mengambil handuk dari gantungan dan masuk ke kamar mandi, menutup pintunya.
Aluna duduk kembali di tepi ranjang. Arfan masih tidur di sampingnya, napasnya teratur dan tenang. Aluna menatap wajah bayinya itu lama, lalu mengusap pipinya sendiri dengan punggung tangan.
Malam itu mereka tidak banyak bicara lagi. Lampu kamar dimatikan lebih awal dari biasanya, dan keduanya berbaring di sisi masing-masing ranjang tanpa mengucapkan selamat malam.