Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: KEMBALI KE AKAR, MEMBANGUN ISTANA DI ATAS TANAH DEBU
Tiga bulan setelah pengangkatan Rina sebagai Direktur CSR, suasana di Gang Tebet berubah total. Bukan lagi karena gosip atau keributan, melainkan karena deru mesin alat berat yang tidak pernah berhenti sejak fajar hingga petang.
Aris menepati janjinya. Ia tidak memindahkan Rina ke penthouse mewah di pusat kota. Sebaliknya, ia justru membawa pulang kemewahan itu ke tempat di mana cinta mereka berakar: tepat di samping musholla Al-Ikhlas yang dulu menjadi saksi bisu pertolongan pertama mereka.
Rumah kontrakan reyot tempat Rina dulu tinggal telah dibongkar. Di atas tanah itu, kini berdiri sebuah rumah bergaya Islamic Modern yang megah namun tetap menyatu dengan lingkungan kampung. Dindingnya berwarna putih krem dengan ornamen ukiran kayu jati khas Jepara yang halus. Atapnya tinggi, dilengkapi dengan panel surya yang tersembunyi. Pagar rumahnya tidak tinggi dan mengisolasi, melainkan rendah dan terbuka, terbuat dari besi tempa hitam yang elegan, mengundang siapa saja untuk masuk.
Namun, proyek terbesar Aris bukanlah rumahnya.
Musholla Al-Ikhlas yang dulu atapnya bocor, dindingnya berlumut, dan lantainya dingin, kini telah bertransformasi menjadi sebuah Masjid Jami' Ar-Rahman. Bangunannya luas, dengan kubah hijau tosca yang menjulang indah, dua menara azan yang kokoh, dan interior yang dilapisi marmer import yang sejuk di kaki. Karpet tebal berwarna merah marun menutupi seluruh lantai. Sistem pendingin udara tersentralisasi membuat udara di dalam selalu segar, bahkan di siang hari Jakarta yang terik.
Yang paling menyentuh hati warga adalah desain masjid ini. Aris sengaja mempertahankan posisi mimbar lama di titik yang sama, persis di mana ia dulu berdiri saat pertama kali membela Rina. Di sebelah mimbar baru yang terbuat dari kayu eboni ukir, terdapat sebuah plakat kecil bertuliskan: "Di sini, kebenaran ditegakkan di atas air mata. Jangan lupa pada yang lemah."
Hari ini adalah Jumat pertama sejak renovasi selesai. Gang Tebet yang biasanya sempit dan macuk oleh motor, kini dipenuhi lautan manusia. Ribuan jamaah datang, bukan hanya dari Tebet, tapi dari seluruh penjuru Jakarta. Mereka ingin melihat sang "Ustadz Miliarder" ini kembali ke akar.
Tidak ada karpet merah untuk Aris. Tidak ada pengawal yang menghalangi jalan.
Aris datang berjalan kaki dari rumahnya yang baru, mengenakan gamus putih sederhana (meski bahan katun Mesirnya tetap terlihat halus dan mahal), dipadukan dengan peci hitam polos. Wajahnya berseri, siap untuk memimpin salat dan menyampaikan khutbah.
Rina duduk di saf khusus wanita yang telah disediakan, mengenakan mukena sutra putih bersih, tampak khusyuk berdoa. Di belakangnya, ibu-ibu yang dulu suka menggosipkannya kini duduk rapi, beberapa bahkan tidak berani menatap langsung karena rasa malu dan segan. Siska dan Yuni juga ada di sana, duduk di barisan paling belakang, menunduk, menyadari betapa kecilnya diri mereka dibandingkan kemuliaan hati pasangan itu.
Dimas? Ia tidak hadir di dalam masjid. Ia berdiri di luar, di bawah pohon rindang dekat gerbang, mengintip dari kejauhan. Ia melihat kemegahan masjid itu, melihat Aris yang begitu dicintai, dan hatinya hancur lebur. Ia tahu, ia tidak punya tempat di dalam sana.
Salat Jumat berlangsung khidmat. Suara bacaan Aris merdu, menembus kalbu setiap jamaah. Setelah salam, Aris naik ke mimbar. Hening seketika. Jutaan mata tertuju padanya.
Aris memulai khutbahnya dengan hamdalah yang menggetarkan jiwa. Lalu, dengan suara yang tenang namun penuh tenaga, ia mulai berbicara.
"Hadirin sekalian, kaum muslimin yang dirahmati Allah," suara Aris bergema melalui mikrofon canggih yang terpasang rapi.
"Hari ini, kita berdiri di atas tanah yang sama. Tanah yang dulu becek saat hujan, tanah yang dulu penuh dengan debu kemiskinan. Hari ini, Allah izinkan saya membangun masjid yang indah ini. Marble yang dingin ini, kubah yang tinggi ini, semuanya adalah nikmat Allah yang harus kita syukuri."
Aris berhenti sejenak, matanya menyapu wajah-wajah jamaah. Tatapannya berhenti sebentar pada kelompok ibu-ibu yang dulu sering bergosip, lalu pada para pemuda yang dulu diam saja.
"Tapi," lanjut Aris, suaranya meninggi sedikit, "di balik keindahan bangunan ini, ada penyakit yang lebih berbahaya dari rayap yang memakan kayu. Ada racun yang lebih mematikan dari ular berbisa. Penyakit itu adalah Iri dan Dengki (Hasad)."
Jamaah tersentak. Suasana makin hening.
"Saudaraku," ucap Aris lembut namun menusuk. "Seringkali, ketika kita melihat tetangga kita mendapat nikmat, hati kita terasa panas. Ketika kita melihat orang lain bangun rumah mewah, mulut kita gatal untuk mencari-cari aibnya. 'Ah, pasti uang haram,' kata kita. 'Ah, pasti pakai ilmu hitam,' bisik kita. 'Ah, dulu dia juga cuma orang susah, sok kaya sekarang,' ejek kita."
Beberapa ibu-ibu menunduk dalam-dalam, wajah mereka memerah. Aris seolah sedang membaca isi hati mereka satu per satu.
"Iri dengki itu aneh, Hadirin," Aris melanjutkan, tangannya bergerak memberi penekanan. "Ia tidak merugikan orang yang kita irikan, tapi ia menghancurkan diri kita sendiri. Seperti api yang memakan kayu bakar. Orang yang kita irikan mungkin tetap tidur nyenyak, tetap makan enak, tetap bahagia. Tapi kita? Kita tidur gelisah, makan tak enak, hati kita terbakar setiap hari!"
Aris menatap lurus ke arah kamera yang merekam siaran langsung ini, seolah berbicara pada seluruh Indonesia.
"Janganlah kalian merasa diri kalian lebih baik karena kalian tidak punya dosa besar. Mungkin kalian tidak mencuri, tapi lidah kalian mencuri harga diri orang lain dengan gosip. Mungkin kalian tidak membunuh, tapi hati kalian membunuh harapan orang lain dengan cemoohan. Mungkin kalian tidak berzina, tapi mata kalian berzina dengan memandang rendah saudara kalian yang sedang berusaha bangkit."
"Ingatlah kisah Rina," sebut Aris nama istrinya, membuat Rina di saf wanita menangis haru. "Dulu, banyak yang menganggapnya sampah. Banyak yang bilang dia tidak pantas hidup. Banyak yang iri saat dia bangkit. Tapi lihatlah sekarang. Allah angkat derajatnya bukan karena uang saya, tapi karena kesabarannya dan karena Allah Maha Adil. Allah membela hamba-Nya yang dizalimi."
"Kepada mereka yang masih menyimpan dendam, masih menyimpan iri di hati..." Aris menurunkan suaranya, menjadi sangat lembut. "Saya undang kalian ke rumah saya nanti sore. Saya undang ke masjid ini kapan saja. Mari kita minum kopi bersama. Mari kita bicara dari hati ke hati. Karena tembok pemisah antara kita bukan dibangun dari batu bata masjid ini, tapi dibangun dari ego dan rasa iri di dada kita."
"Saya membangun masjid ini bukan untuk pamer. Saya membangunnya agar kita semua punya tempat untuk bersujud, tempat untuk membersihkan hati dari kotoran iri dengki. Karena seindah apapun masjid ini, jika hati jamaahnya hitam karena hasad, maka masjid ini hanya akan menjadi bangunan kosong di mata Allah."
Air mata mulai mengalir di pipi banyak jamaah. Ibu-ibu yang tadi bergosip kini menangis tersedu-sedu, menyadari betapa dosanya mereka selama ini. Para pemuda menunduk malu. Bahkan Dimas, di luar pagar, merasakan dadanya sesak. Kata-kata Aris bukan serangan, tapi pelukan yang menyadarkan.
"Ya Allah," tutup Aris dengan doa yang khusyuk. "Bersihkanlah hati kami dari iri dengki. Jadikanlah kami umat yang saling mencintai, bukan saling menjatuhkan. Jadikanlah rumah-rumah kami tempat kedamaian, bukan tempat persaingan. Dan ampunilah kami, karena seringkali kami lebih sibuk mengurusi aib tetangga daripada memperbaiki diri sendiri."
"Amin!" seru ribuan jamaah serempak, suaranya menggelegar, mengguncang langit Jakarta.
Setelah khutbah usai, Aris turun dari mimbar. Ia tidak langsung pulang. Ia berjalan menyusuri saf, menyalami setiap jamaah dengan hangat. Ia memeluk bapak-bapak tua, mengusap kepala anak-anak, dan tersenyum pada ibu-ibu yang tadi menggosipkannya.
Saat bertemu dengan Bu Lik Minah dan Bu RT, Aris berhenti. Kedua ibu itu gemetar, takut dimarahi.
Tapi Aris justru tersenyum lebar, menjabat tangan mereka erat-erat. "Bu, nanti sore mampir ya. Saya punya oleh-oleh kue dari luar negeri. Kita ngobrol santai. Tidak ada masa lalu, yang ada hanya kita sebagai saudara."
Bu Lik Minah menangis, memeluk Aris. "Maafkan saya, Ustadz... saya jahat..."
"Sudah, Bu. Lupakan. Yang penting hati kita sekarang bersih," jawab Aris tulus.
Sore harinya, rumah mewah Aris terbuka lebar. Pintu gerbang tidak dijaga ketat. Warga bebas masuk. Anak-anak bermain di taman luas yang disediakan. Ibu-ibu dilayani dengan teh dan kue terbaik oleh Rina sendiri, tanpa pembantu. Rina melayani mereka dengan senyum, tanpa sedikitpun rasa sombong.
Dimas akhirnya memberanikan diri mendekat. Ia berdiri di ambang pintu taman, ragu-ragu.
Aris melihatnya. Ia berjalan mendekati Dimas, mengulurkan tangan.
"Mas Dimas. Masuklah. Kopi masih hangat
Dimas menatap tangan itu, lalu menatap mata Aris yang tulus. Pertahanan dirinya runtuh. Ia menjabat tangan Aris, dan air matanya tumpah. "Mas... maafin saya..."
"Sudah, Mas. Kita mulai dari nol. Masjid ini milik kita semua. Kampung ini rumah kita semua," kata Aris sambil merangkul bahu Dimas, membawanya masuk ke tengah keramaian warga yang kini penuh tawa dan kehangatan.
Di bawah langit sore yang jingga, Gang Tebet telah berubah. Bukan lagi kampung penuh gosip dan dengki, tapi menjadi contoh nyata bagaimana kemewahan harta bisa melebur menjadi kemewahan hati. Dan di tengahnya, berdiri seorang ustadz kaya raya yang mengajarkan bahwa musuh terbesar manusia bukanlah kemiskinan, melainkan hati yang tidak bisa ikut senang melihat kebahagiaan orang lain.
Bersambung...