SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Senyum Tipis
Malam itu, Aruna duduk di tepi tempat tidurnya sambil memandangi cokelat jahe dan secarik kertas dari Aska. Tulisan tangan yang cakar ayam itu entah kenapa terasa lebih jujur daripada deretan teks rapi di buku cetaknya.
Ia segera menyimpan kertas itu di dalam laci meja belajar—tempat yang paling tersembunyi—seolah takut jika ada orang lain yang melihatnya, sihir dari pesan singkat itu akan hilang.
Keesokan paginya, suasana di kelas sudah kembali normal, atau setidaknya begitulah kelihatannya. Namun, bagi Sasha, Jelita, dan Lulu, normal berarti kembali menjalankan misi penyelidikan mereka.
"Na, muka lo hari ini kok cerah banget? Lebih cerah daripada pas Kak Adrian nganterin cokelat kemarin," goda Sasha saat mereka sedang berkumpul di bangku Aruna sebelum bel masuk berbunyi.
Aruna buru-buru mengatur ekspresinya. "Itu karena vitamin dari Lulu manjur, bukan karena yang lain."
"Halah, masa sih?" Jelita menaikkan alisnya. "Gue liat tadi di depan gerbang, si Aska lewat dan dia nggak neriakin lo 'anak pintar' kayak biasanya. Dia cuma diem tapi matanya... duh, kayak lagi ngomong sesuatu lewat spion."
"Kalian tuh kebanyakan baca novel romance ya?" Aruna berusaha mengalihkan pembicaraan. "Mending kita bahas tugas sosiologi yang dikumpul jam kedua nanti."
"Tugas mah gampang, Na," sela Lulu tenang. "Tapi milih antara mobil sedan yang wangi atau motor sport yang berisik itu yang susah. Lagian, lo beneran nggak ngerasa ada yang aneh sama diri lo sendiri? Kemarin lo bilang ogah, tapi kok lo nggak buang pemberian dia?"
Aruna terdiam. Pertanyaan Lulu selalu tepat sasaran. Ia memang tidak membuangnya. Malah, ia memakannya satu blok tadi pagi sebelum berangkat sekolah. "Gue cuma menghargai pemberian orang, Lu. Mubazir kalau dibuang."
"Ciee... menghargai atau menikmati?" sahut Sasha yang langsung disambut tawa kecil dari Jelita dan Lulu.
---
Saat jam pelajaran olahraga dimulai, Aruna memilih untuk duduk di pinggir lapangan basket karena gurunya memberikan dispensasi bagi yang baru sembuh dari sakit. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat kelas Aska yang sedang tanding basket antar kelas.
Aska terlihat sangat dominan di lapangan. Gerakannya cepat, tak terduga, dan sangat agresif. Saat ia berhasil melakukan *slam dunk*, seluruh siswi di pinggir lapangan bersorak histeris.
Namun, Aruna hanya memperhatikan bagaimana Aska sesekali menyapu keringat di keningnya dengan kaus yang ia pakai, menampakkan sisi maskulin yang membuat banyak orang terpana.
Tiba-tiba, bola basket meluncur deras ke arah Aruna. Sebelum Aruna sempat bereaksi, sebuah tangan dengan sigap menangkap bola itu tepat beberapa sentimeter dari wajahnya.
"Fokus, Na. Jangan melamun liatin gue terus," ucap Aska yang tiba-tiba sudah ada di depannya. Napasnya masih terengah-engah, dan butiran keringat mengalir di rahangnya.
"Siapa yang melamun? Gue cuma lagi baca catatan di HP," kilah Aruna, meskipun jantungnya berdegup kencang karena kaget—atau mungkin karena hal lain.
Aska menyeringai, ia melemparkan bola itu kembali ke tengah lapangan tanpa melihat. "Cokelat jahenya dimakan?"
"Udah," jawab Aruna singkat. "Tapi tulisannya jelek banget, hampir nggak kebaca."
Aska tertawa, suara tawa yang rendah dan parau. "Yang penting lu paham maksudnya. Jangan sampe telat makan lagi. Gue nggak mau lu jadi beban di motor gue kalau tiba-tiba pingsan di jalan."
"Gue nggak bakal naik motor lu lagi, Ka," balas Aruna, berusaha terdengar tegas.
"Kita liat nanti," bisik Aska sebelum kembali berlari ke tengah lapangan setelah mendengar peluit wasit.
---
Sore harinya, saat Aruna sedang membereskan buku, Adrian datang menghampirinya. Wajahnya terlihat ceria, membawa sebuah undangan kecil di tangannya.
"Na, sabtu ini ada pameran sains di universitas pusat. Aku punya dua tiket VVIP. Kamu mau pergi bareng aku? Kita bisa sekalian liat referensi buat proyek akhir kita nanti," ajak Adrian dengan sopan.
Aruna menatap tiket itu. Itu adalah tawaran yang sempurna bagi siswi ambisius seperti dirinya. Pergi ke pameran sains dengan partner sepadan seperti Adrian adalah impian semua orang.
"Sabtu ya, Kak? Kayaknya bisa," jawab Aruna.
"Bagus. Nanti aku jemput jam sepuluh pagi ya," kata Adrian sambil tersenyum puas.
Saat Aruna berjalan keluar sekolah bersama teman-temannya, Sasha langsung menyenggolnya. "Duh, kencan intelektual nih ye! Sabtu bareng Kak Adrian ke pameran sains. Romantis banget versinya Aruna."
"Itu buat belajar, Sha," koreksi Aruna.
"Belajar sambil menyelam minum air, Na," tambah Jelita.
Namun, di tengah obrolan seru itu, Aruna melihat Aska sedang duduk di atas motornya di parkiran, Aska tampak sedang berbicara serius dengan seseorang. Saat motor Adrian melintas untuk menjemput Aruna (karena Aruna sudah sepakat pulang bareng), Aruna sempat melihat Aska mendongak.
Pandangan mereka bertemu melalui kaca mobil yang tertutup. Tidak ada senyum, tidak ada seringai. Hanya sebuah tatapan dalam yang seolah bertanya, *'Lu beneran milih dunia yang itu lagi?'*
Aruna memalingkan wajahnya, mencoba fokus pada pembicaraan Adrian di dalam mobil tentang penemuan terbaru di bidang bioteknologi. Namun, untuk pertama kalinya, pembahasan yang biasanya ia sukai itu terasa sedikit membosankan.
Pikirannya justru tertinggal pada lapangan basket yang panas, aroma citrus yang segar, dan cokelat jahe yang rasanya masih tertinggal di ujung lidahnya.
Aruna menyadari satu hal: variabel Askara tidak hanya mengganggu logikanya, tapi mulai mengacaukan seluruh sistem di dalam hatinya. Dan Sabtu besok, ia akan segera tahu, apakah pameran sains itu benar-benar hal yang ia inginkan, atau justru hanya pelarian dari rasa penasaran yang makin tak terkendali.
---
nyesek didada rasanya
lanjut thor
👍🏻