NovelToon NovelToon
TELAHIR SAKTI

TELAHIR SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Abas Putra

TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"

Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.

Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B 17: Kembali Ke Bumi

Puncak Gunung Meru diselimuti kabut putih yang sangat tenang saat Raka mendarat. Tidak ada ledakan, tidak ada guncangan. Kehadirannya kini begitu selaras dengan alam sehingga rumput-rumput yang tertutup salju justru menghijau kembali saat kakinya menyentuh tanah."

Syuuu...

Hahh! Raka menghela napas panjang. Di dalam dadanya, ia bisa merasakan denyut Matahari Penciptaan yang kini telah stabil. Namun, di balik itu, ada getaran lembut lainnya, kesadaran Vanya yang bersemayam di dalam sukmanya.

"Dunia ini terasa sangat hangat, Raka," bisik suara Vanya di dalam pikirannya.

"Ini adalah rumah kita, Vanya," jawab Raka pelan.

Namun tetapi, kedamaian itu terusik saat Raka menatap ke arah lembah, ada yang tak beres didesanya."

Desa Lembah Wening tidak sepenuhnya aman. Meskipun Wilayah Daulat telah menghilang, sisa-sisa pengikut fanatik para Leluhur, yang dikenal sebagai Sekte Matahari Hitam, masih mencoba menanamkan kekuasaan mereka.

Mereka menggunakan artefak-artefak sisa yang jatuh dari langit untuk meneror penduduk.

Raka langsung melihat, melesat turun dari puncak gunung secepat pikiran.

Wusss!

Di gerbang desa, ia melihat para pengikut sekte itu sedang mengumpulkan penduduk. Mereka dipimpin oleh seorang mantan jenderal Wilayah Daulat yang melarikan diri ke bumi, bernama "Kharon". Ia memegang sebuah tongkat yang memancarkan api ungu gelap.

"Raka telah mati bersama para Leluhur! Sekarang, akulah tuhan baru kalian!" teriak Kharon sambil mengayunkan tongkatnya.

Setelah ucapan itu..." Raka muncul tepat di tengah-tengah mereka. Kehadirannya begitu mendadak hingga udara di sekitar seketika membeku.

"Kau salah, Kharon," ucap Raka dingin.

Kharon terkejut, matanya membelalak ngeri. "Tidak mungkin!... Tidak mung...kin Bagaimana kau bisa selamat?!" Kahron dengan suara gemetarnya, langsung melepaskan badai api ungu dari tongkatnya untuk menghantam Raka.

Shyuutt!

Raka hanya berdiri diam, dan menatap seranganya. Api itu bahkan tidak menyentuh pakaiannya, api itu justru berbelok dan berubah menjadi butiran air yang menyegarkan tanah."

Raka hanya menjentikkan jarinya satu kali.

Ting!

Seketika, seluruh pengikut sekte itu, termasuk Kharon, berubah menjadi patung garam. Tidak ada rasa sakit, tidak ada darah. Keberadaan mereka dihapus oleh kehendak penciptaan Raka.

Penduduk desa tertegun, sebelum akhirnya sorak-sorai kemenangan pecah." Wah! hebat sekali Raka," dari bisikan suara penduduk itu."

Raka cuma bisa senang, dan bahagia melihat penduduknya bebas dari masalah penekanan."

Malam harinya, Raka kembali ke rumahnya yang sederhana. Sekar sudah menunggunya di depan pintu, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. Ia memeluk suaminya dengan kekuatan yang seolah tak ingin melepaskannya lagi.

"Kau kembali... Kau benar-benar kembali, Raka" isak Sekar.

"Iya! ini saya kembali utukmu, aku sangat kangen kamu, Sekar!?"

Raka memeluk, dan langsung membawa Sekar masuk ke dalam kamar mereka. Di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui jendela, Raka merasakan sebuah dorongan yang aneh. Kesadaran Vanya di dalam dirinya mendesak untuk merasakan kehidupan manusia melalui Raka.

"Sekar, ada sesuatu yang harus kau ketahui," bisik Raka. Ia menyentuh kening Sekar, membagikan memori tentang pengorbanan Vanya.

Sekar terdiam, menatap mata Raka yang kini memiliki pendar ungu di balik warna emasnya.

"Jadi... dia ada di dalammu?" Bisik Sekar.

"Dia adalah bagian dariku sekarang. Dan dia... ingin berterima kasih padamu karena telah menjagaku," ucap Raka dengan suara yang sedikit berubah, lebih lembut dan feminin sejenak.

Sekar! aku kangen kamu." Ucap Raka.

Raka! aku setiap hari, sepanjang malam memikirkanmu." jawab Sekar

Raka menarik Sekar ke tempat tidur, melampiaskan kekangenannya. Malam itu, mereka menjadi sesuatu yang manusia biasa yang sudah lama gak ketemu dengan kekasinya, menjadi malam yang hangat."

Saat Raka mencium Sekar, ia bukan hanya memberikan kasih sayangnya sebagai suami, tapi juga menyalurkan energi murni yang menyejukkan dari Vanya.

Sekar mendesah, merasakan yang luar biasa nikmat, seolah-olah ia dicintai oleh dua jiwa sekaligus.

Tangan Raka menyentuh tubuh Sekar, sementara energi perak dari Vanya menyelimuti kulit mereka, menciptakan cahaya remang yang indah di dalam kamar.

Penyatuan mereka meledak dalam harmoni yang sempurna, Raka memberikan kekuatan dan perlindungan, sementara Sekar memberikan kehangatan dan kemanusiaan.

Dalam puncak kenikmatan itu, Raka merasakan Matahari Kesepuluh-nya benar-benar menyatu dengan bumi.

Mereka bersatu dengan suara angin malam. Di saat itulah, Raka menyadari bahwa takhta tertinggi bukanlah di Wilayah Daulat, melainkan di dalam pelukan orang yang dicintai.

Tatanan Baru

Keesokan paginya, Raka berdiri di atas bukit yang menghadap ke arah desa. Dengan kekuatan Matahari Penciptaan, ia menciptakan sebuah kubah pelindung tak kasat mata yang menyelimuti seluruh bumi. Kubah ini akan mencegah kekuatan dari dimensi lain untuk campur tangan lagi dalam urusan manusia.

"Kau sudah menjadi pelindung yang sejati, Raka," ucap suara kakeknya yang menggema dari dalam hatinya.

Raka tersenyum. Ia menatap putranya, Bumi, yang sedang berlari di sawah. Raka tahu bahwa suatu hari nanti, Bumi akan mewarisi kekuatan ini, namun ia akan memastikannya tumbuh sebagai manusia sebelum menjadi dewa.

"Vanya, apa kau siap untuk melihat dunia ini tumbuh?" tanya Raka dalam batinnya.

"Selama aku bersamamu, Raka... aku selalu siap," jawab Vanya dengan penuh kedamaian.

Raka berjalan turun menemui keluarganya. Ia melepaskan jubah kebesarannya, kembali menjadi seorang ayah, seorang suami, dan seorang anak desa.

Namun, di balik kesederhanaannya, ia adalah pemegang kunci alam semesta. Sang anak yang Telahir Sakti kini telah menjadi fajar yang tak akan pernah tenggelam bagi dunianya."

"Setelah Sepuluh tahun telah berlalu sejak kejatuhan Dua Belas Leluhur."

Bumi telah tumbuh menjadi planet yang sangat maju di bawah bimbingan Raka. Namun, Raka kini bukan lagi pria yang sama. Rambutnya kini perak permanen, dan matanya memancarkan kilauan kosmik yang dalam.

Putranya, Bumi, kini berusia 14 tahun dan telah mampu membangkitkan kekuatan Matahari di usianya yang masih sangat muda.

Zinggg...

Di dalam ruang meditasinya di puncak Gunung Meru, Raka tiba-tiba membuka mata. Tanda naga di dadanya tidak lagi berdenyut merah atau emas, melainkan bergetar dengan warna hitam transparan, warna yang melambangkan lubang hitam.

"Vanya, kau merasakannya?" bisik Raka.

"Ya, Raka," suara Vanya bergema di dalam kepalanya, kini terdengar lebih dewasa dan kuat.

"Sesuatu yang besar telah menembus kubah pelindung bumi. Bukan dari dimensi atas, tapi dari galaksi tetangga. Ini adalah teknologi yang bercampur dengan sihir purba."

Tiba-tiba, langit siang hari di bumi berubah menjadi merah darah. Sebuah benda raksasa, lebih besar dari bulan, muncul secara instan di orbit bumi.

Benda itu berbentuk cakram logam raksasa yang memancarkan energi kehampaan yang luar biasa.

"Raka tahu bahwa ia mungkin harus meninggalkan bumi lagi, dan kali ini mungkin untuk waktu yang sangat lama. Malam itu, ia menemui Sekar di balkon istana mereka. Sekar tetap cantik, kecantikannya seolah abadi berkat energi matahari yang diberikan Raka selama bertahun-tahun.

"Kau akan pergi lagi, bukan?" tanya Sekar pelan, menatap cakram raksasa di langit.

Raka memeluk Sekar dari belakang, tangannya merengkuh Sekar. "Aku harus memastikan benda itu tidak menghancurkan apa yang telah kita bangun."

Raka membalikkan tubuh Sekar, menatap matanya yang berkaca-kaca."

Malam itu, mereka tidak bersatu secara fisik, tapi juga secara sukma, menciptakan ikatan yang takkan bisa diputus oleh jarak jutaan tahun cahaya." Sebelum berpisah."

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!