NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20| Kekalahan Kai

Desahan lega bersamaan dengan usapan lembut pada perut buncitnya, Kai terkekeh melirik kursi samping kemudi. Aluna yang merasa ditatap membalas tatapan Kai, bibirnya mengerucut lucu.

"Apa? Rugi lo ngeluarin duit kasih makan cewek rakus ke gue, huh?" Aluna mendengus, sebelum Kai mengatainya, Aluna lebih dahulu bersuara.

Kai menggeleng, "Gue nggak ngomong apa-apa, Sayang. Gue cuman mau ngeliat perut buncitnya lo doang. Mau lo abisin makanan di dapur satu kafe pun gue nggak ada problem. Toh, duit gue juga duit lo."

Aluna membuang muka, mengulum senyum geli dengan kata-kata ter-sialan dari pria remaja yang punya ratusan trik jitu menjinakkannya para kaum Hawa. Aluna akui, cara Kai memperlakukan dirinya dari mansion sampai ke kafe untuk makan malam benar-benar mampu meluluhlantakkan hati wanita. Bahkan wanita yang sudah jomblo lama sepertinya saja bisa goyah, hanya saja Aluna masih harus berhati-hati.

Kai—dangerous man, senyum nakal itu mengundang perasaan tak tergambarkan, mobil melaju membelah jalanan Ibu kota dengan lancar. Merasa tak mendapat respon, Kai kembali melirik Aluna dari ekor matanya.

"Besok ke sekolah bareng gue ya," pinta Kai melirik Aluna sekilas.

"Ngapain? Gue ke sekolah dianterin Bokap gue. Lo mundur dulu, bukan giliran lo," tolak Aluna blak-blakan.

Kai cemberut mendengar penolakan gadis di sampingnya itu, sulit sekali menaklukkan Aluna. Tampaknya pertahanan Aluna cukup tinggi, entah lelaki seperti apa yang diinginkan oleh gadis satu ini. Sayangnya tidak ada kata menyerah di kamus Kai, perlahan mobil berhenti di samping trotoar toko. Dahi Aluna berlipat, ia melirik Kai yang melepaskan sabuk pengamannya turun begitu saja dari mobil.

'Eh, eh, dia nggak nurunin gue di tengah jalan 'kan?' Mata Aluna melototi mendapati Kai mengitari mobil, apalagi ia turun tanpa kata.

"Oh, mau kemana dia?" tanya Aluna pada dirinya sendiri, kepala Aluna melongok ke belakang matanya menyipit memperhatikan kepergian Kai.

Lama sekali ia memperhatikan Kai, pria jangkung—mesum itu menghilang di balik gedung toko buku.

"Apa dia kebelet pipis atau boker?" Aluna kembali bertanya-tanya, kepalanya menggeleng dan mendesah lega.

Awalnya Aluna pikir Kai marah dengan penolakannya yang blak-blakan, menurunkannya di jalanan seperti cerita perempuan lain yang bertengkar dengan pasangan hingga diturunkan di jalan pulang. Aluna menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, memilih menunggu pria itu menyelesaikan apa yang ia inginkan di luar sana.

KLIK!

Aluna terkesiap, buket bunga segar disodorkan ke arahnya ketika pintu di sampingnya dibuka.

"Ini, ambil!" seru Kai sebelum menggoyangkan buket bunga ke arah Aluna yang termenung.

Kedua kelopak mata Aluna berkedip dua kali, tangannya terulur menerima buket bunga dari tangan Kai. Atensi Aluna terangkat, mendapati senyum Kai.

"Deal ya, Sayang. Besok gue yang jemput lo, kita ke sekolah bareng. Bokap lo bisa minggir dulu, soalnya calon mantu lagi berjuang." Tangan Kai mengusap puncak kepala Aluna dengan lembut, lidah Aluna kelu dengan perlakuan Kai padanya.

Kai menarik tangannya, menutup kembali pintu di samping Aluna. Ia mengitari mobil, kembali memasuki mobil.

'Astaga Tuhan! Kenapa gue harus dihadapin sama cowok pemaksa yang cara paksaannya bikin gue sulit buat nolak.' Aluna memaki dalam diam, matanya melirik buket bunga yang kini ia pangku.

...***...

Sepasang tangan tiba-tiba memeluknya dari belakang, mengejutkan wanita yang tengah memperhatikannya dua remaja di bawah sana. Dagu Fandi bertengger di atas bahu sang istri, matanya ikut melirik ke arah putri angkatnya dan remaja lelaki yang meminta izin main keluar bersama Aluna.

"Menurutmu apakah aku harus kembali memikirkan tawaran yang Mona ajukan," kata Sonya lembut.

Fandi tak langsung menjawab, pemandangan di bawah sana mengundang senyum di bibir keduanya. Melihat Aluna memukul Kai, entah apa yang dikatakan Kai hingga mendapatkan pukulan di bahunya. Kai malah tertawa lepas, dan melambaikan tangannya pada Aluna.

"Aluna, dia masih remaja. Kita kenal Mona dan Jullian dengan sangat baik, putra mereka pun kelihatannya baik. Hanya saja kita nggak tau gimana perasaan Aluna, jika ia tidak mencintai Jayden. Kita tentunya nggak bisa memaksa," kata Fandi melirik wajah sang istri dari ekor matanya.

Sonya terdiam dahinya tanpa berkerut, apa yang harus ia lakukan. Mona antusias menghubungi dirinya, mengusulkan perjodohan antara putra dan putri mereka. Mona mengakui jika ia menyukai Aluna sebagai calon menantu pilihannya, hanya saja Sonya sedikit khawatir. Ia tak ingin melukai Aluna, mengingat bagaimana Aluna menjaga jarak dengan dirinya dan Fandi. Ia tak ingin Aluna berpikir jika mereka menjualnya pada keluarga Alexander, akan tetapi satu sisi Sonya tahu betul jika Aluna masuk ke keluarga Alexander ia akan bahagia.

"Ya, kamu benar. Hanya saja kalo yang jadi mertua Aluna adalah Jullian dan Mona, ia pasti akan bahagia. Mereka adalah orang yang baik, apalagi aku lebih mengenal Mona. Dia nggak akan menyakiti Aluna," gumam Sonya pelan.

Fandi berdiri dengan tegap, ia menarik kedua sisi bahu Sonya hingga keduanya berdiri berhadap-hadapan.

"Sonya, aku tau apa yang kamu pikirkan. Tapi apa kamu lupa, bagaimana jika dia tau. Apa dia akan melepaskan Aluna begitu saja?" Fandi tampak serius.

Sonya tertegun, ia menunduk perlahan. Sulit, Sonya tak bisa membicarakan tentang orang itu. Bagaimana pun ia dan Fandi berhutang dengan orang itu, dan orang itu masih dalam bayang-bayang yang seakan kapan saja bisa mengungkapkan cerita lama yang tak ingin mereka berdua kuak kembali.

Bibir Sonya terbuka namun, kembali tertutup dengan kepala tertunduk. Fandi mendesah berat, ia memeluk Sonya dengan lembut. Mengusap punggung belakang Sonya.

...***...

Langkah kaki Aluna berhenti mendadak, sorot mata tajam yang tertuju pada keduanya terlihat jelas seakan siap-siap mengamuk. Sementara Kai melirik Jayden dengan ekspresi tanpa rasa bersalah, keduanya kembali melangkah mendekati Jayden. Aluna meneguk air liur di kerongkongannya, menarik kedua sisi bibirnya ke atas.

"Jayden," sapa Aluna ceria.

Jayden berdecak dua kali, Aluna berdiri di sampingnya. Kai berhenti di depan Jayden, mengulas senyum lebar.

"Lecek amat muka lo kek baju nggak disetrika setahun," goda Kai sebelum terkekeh.

Jayden melotot, Kai manyun seketika. Aluna dapat merasakan suasana aneh di antara keduanya, entah keberanian dari mana ia merangkul lengan Jayden tanpa canggung. Otot-otot wajah Jayden yang kaku mendadak rileks kembali, ia membeku dengan tindakan Aluna yang tiba-tiba.

"Anterin gue ke kelas," rengek Aluna menyandarkan kepalanya di lengan Jayden.

Kini giliran Kai yang menatap tajam ke arah Aluna dan Jayden, melihat Aluna bergelayut di lengan Jayden membuat api amarah menyala di hati Kai. Jayden berdehem dua kali, untuk menghilangkan kegugupan yang ia rasakan.

"O—oh, ayo. Gue anterin," jawab Jayden tergagap.

Keduanya melangkah bersamaan meninggalkan Kai yang memasang ekspresi nelangsanya, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

"Gue yang berjuang jungkir-balik. Dia cuman berdiri kek patung Monas yang melotot langsung dapat hasil? Heh! Nggak adil, sangat nggak adil!" Kai menghentak-hentakkan kedua kakinya dan menyugar kasar suarainya.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!