"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: LABIRIN TRAUMA DAN CAHAYA YANG MENYEMBUHKAN
Ruang rapat yang tadinya hening karena wibawa Nael, kini berubah menjadi medan energi yang menyesakkan. Hadi, pria tua dengan bekas luka bakar yang mengerikan di dahinya, melangkah mendekat. Setiap ketukan tongkatnya di lantai marmer terasa seperti palu yang menghantam mental Nael.
Nael tidak lagi duduk tegak. Bahunya melayu, tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga buku jarinya memutih dan gemetar hebat. Matanya kosong, menatap lurus ke depan, namun yang ia lihat bukan lagi ruang rapat, melainkan kobaran api merah yang melalap mobil orang tuanya lima tahun lalu.
"Nael... lihat aku, Nak," suara Hadi terdengar seperti gesekan amplas. "Kau ingat bau bensin yang tumpah malam itu? Kau ingat bagaimana ibumu memohon padamu untuk keluar sementara dia terjepit di kursi belakang?"
"CUKUP! HENTIKAN!" teriak Alurra, ia berdiri di depan Nael, matanya berkilat ungu tajam. Aura pelindungnya meledak, mencoba mendorong kabut hitam yang dibawa Hadi. "Siapa kau, Orang Tua Bau Tanah?! Beraninya kau membawa sampah kegelapan ini ke depan pangeranku!"
Hadi terkekeh, tawa yang kering dan tidak enak didengar. Ia sama sekali tidak gentar dengan aura Alurra. "Aku? Aku adalah saksi dari kelemahan pangeranmu ini, Gadis Cantik. Dia bisa bicara sekarang? Hebat. Tapi di dalam hatinya, dia tetap bocah penakut yang membiarkan orang tuanya mati demi menyelamatkan nyawanya sendiri."
Nael tersedak. Suaranya benar-benar hilang lagi. Ia mencoba membuka mulut, namun hanya isakan kecil yang tertahan yang keluar. Air mata mulai mengalir deras di pipinya.
"Nael! Jangan dengarkan dia!" Alurra berbalik, memegang wajah Nael yang terasa sedingin es. "Dia berbohong! Kabut di wajahnya penuh dengan kepalsuan!"
Jayden, yang tadinya ketakutan, kini melihat peluang. Ia berdiri dengan senyum licik yang kembali merekah. "Wah, wah... sepertinya keajaiban suaramu hanya bertahan lima menit, Nael. Jadi ini rahasianya? Kau membunuh orang tuamu sendiri demi warisan ini?"
"DIA TIDAK MEMBUNUH SIAPAPUN, ULAR AMIS!" bentak Alurra. Ia kemudian menatap Hadi dengan mata yang mulai mengeluarkan pendar cahaya. "Dan kau... aku bisa melihat apa yang kau sembunyikan di balik bekas lukamu itu. Kau bukan saksi, kau adalah pencuri!"
Alurra menyadari bahwa Nael tidak akan bisa bangun jika trauma ini tidak diputus dari akarnya. Ia memejamkan mata, menempelkan keningnya ke kening Nael.
"Nael... dengarkan suaraku saja. Jangan dengar mereka," bisik Alurra, suaranya kini terdengar menggema di dalam pikiran Nael. "Aku akan membawamu keluar dari api itu."
...****************...
DI DALAM ALAM BAWAH SADAR NAEL
Seketika, kesadaran Nael berpindah. Ia berada di sebuah jalanan sepi yang gelap, dikelilingi oleh kobaran api raksasa. Di tengah api itu, sebuah mobil mewah ringsek. Nael kecil—berusia 20 tahun—sedang bersimpuh di aspal, menangis meraung-raung.
"Ayah! Ibu! Keluar!" teriak Nael muda dalam ingatan itu.
Sesosok bayangan hitam tinggi besar berdiri di belakang Nael muda, memegang sebuah gunting pemotong kabel rem. Bayangan itu perlahan berubah wujud menjadi wajah Hadi yang menyeringai.
"Ini salahmu, Nael... jika kau tidak meminta mereka menjemputmu malam itu, mereka tidak akan pernah lewat jalan ini," bisik bayangan Hadi.
Tiba-tiba, sesosok cahaya emas turun dari langit kelam ingatan itu. Alurra muncul, gaunnya berkibar tertiup angin panas. Ia berjalan menembus api tanpa terluka sedikit pun.
"Nael! Lihat aku!" Alurra menarik tangan Nael muda. "Api ini tidak nyata! Ini hanya penjara yang kau buat sendiri!"
"Aku... aku membiarkan mereka mati, Alurra..." isak Nael di dalam dunianya sendiri. "Aku pengecut..."
Alurra menampar pipi Nael dengan lembut. "Dengarkan aku, Pangeran Bodoh! Orang tuamu tidak mati karena kau penakut. Mereka mati karena mereka mencintaimu! Mereka ingin kau hidup! Jika kau terus mengunci dirimu di sini, pengorbanan mereka jadi sia-sia!"
Alurra menunjuk ke arah bayangan hitam Hadi. "Dan lihat itu! Itu bukan takdir! Itu adalah kejahatan manusia! Jangan biarkan orang yang merusak mobil itu menang dengan membuatmu bisu selamanya!"
Cahaya dari tubuh Alurra meledak, menyapu seluruh kobaran api itu hingga sirna. Kegelapan berubah menjadi taman bunga surga yang damai.
...****************...
KEMBALI KE RUANG RAPAT
Nael tersentak. Matanya kembali fokus. Napasnya yang tadi tersengal kini mulai teratur. Ia merasakan kehangatan tangan Alurra di wajahnya.
Hadi masih di sana, hendak melontarkan fitnah lagi. "Jadi, Nael... maukah kau mengakui bahwa kau yang menyuruhku merusak—"
"BOHONG!"
Nael berdiri dengan hentakan keras hingga kursinya terjungkal. Suaranya kali ini tidak lagi serak, melainkan jernih dan menggelegar seperti guntur di siang bolong.
Hadi tersentak mundur, tongkatnya terlepas.
"Malam itu... aku melihatmu di balik semak-semak, Hadi," Nael melangkah maju, wibawanya kembali seribu kali lebih kuat. "Aku terlalu syok untuk bicara saat itu, tapi aku ingat tanganmu yang memegang tas berisi uang dari seseorang."
Nael menoleh tajam ke arah Jayden, lalu ke arah paman tertuanya yang duduk di pojok ruangan. "Kau bekerja untuk siapa, Hadi? Katakan di depan semua orang atau aku akan memastikan kau membusuk di penjara hari ini juga!"
Jayden mulai pucat pasi lagi. "Nael, jangan asal tuduh—"
"DIAM, JAYDEN!" bentak Nael. Ia tidak menggunakan ponsel. Ia menggunakan suaranya sendiri untuk membungkam sepupunya.
Alurra tersenyum puas, ia berdiri di samping Nael, tangannya memancarkan pendar ungu yang membuat Hadi gemetar ketakutan—sihir kejujuran mulai bekerja.
"K-kantor... kantor pengacara Ryker... Pamanmu yang menyuruhku!" teriak Hadi akhirnya, ia berlutut di lantai karena tidak kuat menahan tekanan aura Alurra dan suara Nael. "Dia yang memberiku uang untuk memotong rem itu!"
Seluruh ruangan gempar. Skandal besar keluarga Ryker terbongkar di depan dewan direksi.
Nael menarik napas panjang, menatap ke langit-langit seolah sedang berbicara pada orang tuanya. "Selesai. Semuanya sudah selesai."
Nael kembali menatap Alurra. Tanpa peduli pada semua direktur yang menonton, ia menarik Alurra ke dalam pelukannya.
"Terima kasih..." bisik Nael, suaranya bergetar karena emosi. "Terima kasih sudah membawaku keluar dari api itu, Alurra."
Alurra tertawa kecil, membalas pelukan Nael dengan erat. "Sama-sama, Pangeranku. Tapi ingat ya, sekarang kau sudah bisa bicara, jadi jangan berani-berani membentakku kalau sate ayamnya kurang kecap!"
Nael tertawa—suara tawa yang sudah lima tahun tidak pernah terdengar di gedung itu. Namun, di balik kemenangan itu, Nael tahu bahwa dengan terbongkarnya rahasia ini, musuh-musuhnya tidak akan tinggal diam. Tapi kali ini, dia tidak lagi sendirian dalam keheningan.
...****************...
aku suka namanya Nael ....