Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.
Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.
Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.
Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18.
Zee menatap Pak Sam dan keluarganya dengan senyum lembut. Angin laut sore itu berhembus pelan, seolah ikut membawa ketenangan dalam percakapan mereka.
"Pak Sam, sebenernya buah kelapa yang selama ini sering diabaikan warga di sini... punya banyak sekali manfaat." ucap Zee perlahan suaranya tenang namun penuh keyakinan.
Pak Sam mengernyit sedikit, tampak penasaran.
"Air kelapanya bisa diminum, segar dan menyehatkan. Daging buahnya juga bisa dimakan. Bahkan, kelapa bisa diolah jadi minyak dan masih banyak lagi kegunaannya." lanjut Zee.
Suasana sejenak hening. Pak Sam dan keluarganya saling berpandangan, seolah baru pertama kali mendengar hal itu.
"Oh begitu, Neng..." jawab Pak Sam akhirnya, nada suaranya berubah, ada rasa heran sekaligus kagum.
"Selama ini kami tahunya cuman batang dan daunnya saja yang bisa di pakai. Kalau buahnya... ya karena keras, jadi kami tidak terlalu mengunakannya." lanjut Pak Sam.
Zee tersenyum tipis. Dia bisa melihat dengan jelas, ini bukan karena mereka tidak mau belajar, tapi karena tidak pernah ada yang memberi tahu mereka.
"Padahal sayang sekali loh Pak, kelapa itu hampir semua bagiannya bisa dimanfaatkan. Bahkan bisa jadi sumber penghasilan juga kalau diolah dengan baik." lanjut Zee lembut.
Mata Pak Sam kini tampak berbinar, dan harapan kecil mulai tumbuh disana. Sebagai kepala Desa, Dia selalu berpikir tentang kesejahteraan warganya.
Angin laut kembali berhembus, membawa aroma asin yang khas. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Sebuah kemungkinan baru yang perlahan mulai terbuka di hadapan mereka.
Zee menarik napas pelan sebelum kembali berbicara. Tatapannya bergantian antara Pak Sam dan Bu Yati, memastikan keduanya benar-benar memperhatikan.
"Pak, Bu. Masih ada lagi banyak hal yang ingin saya sampaikan." ucapnya lembut.
Pak Sam mengangguk, sementara Bu Yati sedikit mendekat ke arah mereka. Rasa penasaran jelas terlihat di wajahnya.
"Ikan yang selama ini hanya direbus atau dibakar... sebenarnya bisa diolah dengan banyak cara. Bisa digoreng, dibuat sup, diasingkan, bahkan diolah jadi makanan yang tahan lama. Jadi tidak cepat basi dan bisa dijual juga." jelas Zee.
Keduanya terdiam, menyerap setiap kata yang keluar dari mulut Zee.
Zee lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih serius, "Dan satu hal lagi, saya berencana membangun WC di rumah ini."
Pak Sam dan Bu Yati tampak terkejut. Mereka tidak tahu apa itu WC.
"Maaf sebelumnya, tapi saya melihat warga di Desa ini masih buang air besar langsung ke pantai. Itu sangat tidak baik untuk kesehatan maupun lingkungan. Apalagi laut adalah sumber utama penghidupan di sini." tambah Zee dengan sopan.
Suasana mendadak hening, hanya ada suara angin dan debut ombak yang terdengar.
Zee tidak berhenti di situ. Dia mulai menjelaskan banyak hal, tentang pentingnya air bersih. Cara menjaga kebersihan lingkungan, hingga berbagai metode pengolahan hasil laut agar lebih bernilai jual belinya.
"Selain ikan," lanjutnya, "kerang, cumi, gurita, bahkan lobster juga bisa dimakan dan diolah. rumput laut juga bukan sekedar rumput, tapi bisa diolah menjadi makanan, bahkan punya nilai jual yang tinggi."
Pak Sam dan Bu Yati hanya bisa saling pandang. Raut wajah mereka menunjukkan campuran antara takjub dan tidak percaya.
Selama ini, dunia mereka terasa sempit, hanya sebatas ikan dan laut yang mereka kenal. Namun kini, seolah ada jendela baru yang terbuka lebar.
Setelah merasa semua penjelasan cukup, Zee tersenyum kecil. Dia lalu membuka aplikasi dan memesan sesuatu.
Tak lama kemudian, suara kendaraan terdengar mendekat. Dan munculnya seorang kurir yang datang membawa sebuah kendaraan roda tiga. Yaitu Tosa yang tampak kokoh dan siap digunakan.
"Ini untuk keluarga Pak Sam," kata Zee ringan.
"Pak Sam tertegun. "Untuk... saya, Neng?"
Zee mengangguk. "Jalan di Desa ini sudah mulai bagus. Tosa ini bisa membantu membawa hasil laut atau keperluan lainnya. Bisa juga mungkin ada warga yang mau menyewa atau meminjamkannya."
Dia kemudian memberi tahu pada A1 yang berada di kapal untuk segera turun. "A1, tolong ajarkan Pak Sam cara mengunakannya."
A1 segera mengangguk dan mulai menjelaskan dengan sabar. Pak Sam memperhatikan dengan serius, sesekali mencoba sendiri dengan wajah yang tegang dan penuh kehati-hatian.
Setelah semuanya selesai, Zee berpamitan untuk kembali ke rumahnya.
"Kalau begitu, saya pamit dulu ya Pak, Bu. Besok saya akan datang lagi, saya akan ikut melaut juga dan mengajarkan mencari kerang dan siput."
Pak Sam dan Bu Yati mengangguk cepat, masih belum sepenuhnya keluar dari rasa takjub mereka.
Zee pun berbalik, melangkah pergi meninggalkan rumah sederhana itu. Di belakangnya, senja mulai turun, menyelimuti Desa dengan cahaya keemasan.
Dan di hari itu, bukan hanya pengetahuan baru yang datang. Tapi juga ada harapan baru bagi sebuah Desa kecil di tepi laut itu.
Sementara itu, di tengah hiruk-pikuk Kota yang besar, Daniel memutuskan pergi ke Kecamatan Rambutan. Tujuannya jelas mencari penjual buah-buahan yang di bawah oleh Bu Mila asisten rumah tangganya.
Perjalanan yang Dia tempuh tidaklah singkat. Namun saat akhirnya Dia tiba di pasar kecamatan, langkahnya terhenti.
Ternyata Dia terlambat, kapal yang Dia cari sudah kosong. Buah-buahan yang di jual sudah habis terjual, yang ada hanya seorang pria yang sedang membersihkan lapaknya.
Padahal, harga buah-buahan itu tergolong mahal. Tapi, rupanya hal tersebut tidak mengurangi minat pembeli. Karena manfaat yang di dapatkan membuat banyak orang rela merogoh kocek lebih dalam dompet mereka.
Daniel pun berjalan menghampiri lapak Pak Ali.
"Permisi Pak. Apakah betul Bapak yang menjual buah-buahan segar itu?" tanya Daniel dengan sopan.
"Eh, iya Mas," jawab Pak Ali.
"Boleh saya tahu... apakah di rumah Bapak masih ada buahnya?" Daniel kembali bertanya dengan penuh harap.
Pak Ali tersenyum kecil. "Masih banyak Mas, kebetulan juga semuanya belum selesai dipanen," jawabnya jujur.
Mendengar itu, Daniel tersenyum tipis dan ada secercah harapan kembali untuk bisa mendapatkan buah-buahan itu lagi.
"Oke Pak, kalau begitu, bolehkah saya minta alamat rumah Bapak? Agar besok saya akan datang langsung ke rumah Bapak untuk melihat kebun buah-buahan Bapak," ujar Daniel.
Namun Pak Ali tampak sedikit ragu. Dia mengusap tengkuknya sebelum menjawab.
"Waduh... begini saja Mas, saya minta nomor ponsel Mas dulu ya. Soalnya... buah ini bukan punya saya, ini milik majikan saya Mas."
"Oh... begitu ya." Daniel mengangguk paham.
"Baik Pak, ini nomor saya."
Setelah bertukar kontak, Daniel pun pamit. "Kalau begitu saya pamit dulu Pak, besok kita lanjutkan."
"Iya Mas." jawab Pak Ali.
Di sisi lain, Zee telah kembali ke rumahnya.
Seperti biasanya, Dia membersihkan diri, lalu makan malam dengan tenang. Malam itu terasa biasa saja, hingga akhirnya Dia berbaring di tempat tidur.
Sebelum memejamkan mata, tangannya secara refleks membuka aplikasi AetherShop. Matanya menelusuri angka saldo yang terus bertambah hasilnya dari penjualan buah-buahan yang tak pernah sepi pembeli.
Senyum tipis terukir di bibirnya. Namun, tepat sebelum Dia menutup aplikasi, sebuah notifikasi muncul.
Ting!
Sebuah pesan masuk.
"Nona, apakah di tempat Anda ada menjual bibit buah-buahan ini? Kalau ada, saya ingin memesan semua bibit yang Anda jual."
Zee membaca pesan itu dengan tenang, lalu membalas singkat.
"Ada, mau dikirim sekarang atau besok?"
Balas datang cepat.
"Sekarang saja, Nona."
Tanpa banyak berpikir, Zee kembali membuka katalog AetherShop. Dia memesan berbagai bibit buah-buahan dalam jumlah besar. Setelah semua siap, Dia langsung mengatur pengiriman ke alamat pembeli tersebut.
Tak lama kemudian, notifikasi kembali muncul. Pesanan telah diterima, dan pembayaran telah selesai.
Zee menghela napas pelan, Dia menutup aplikasi. Lalu meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur. Lampu kamar diredupkan, sehingga suasananya menjadi lebih tenang.
Perlahan, matanya terpejam. Malam pun membawa Zee masuk ke dalam lelap yang damai.
Sementara di luar sana, roda takdir terus berputar. Diam-diam menghubungkan dirinya dengan orang-orang yang bahkan belum Dia kenal sepenuhnya.