Arga Pratama, seorang mekanik tangguh yang hidupnya sederhana namun penuh prinsip, tak sengaja bertemu dengan Clara, wanita cantik pewaris perusahaan besar yang sedang lari dari perjodohan. Karena suatu keadaan terpaksa, mereka harus terikat perjanjian kontrak palsu. Siapa sangka, dari bau oli dan mesin, tumbuhlah benih cinta yang tak pernah disangka-sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olshop sukses Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan Terakhir dan Pengkhianat yang Tertangkap
Situasi di dalam gudang berubah menjadi kacau balau dalam sekejap.
Cahaya sorot lampu polisi menyilaukan mata, teriakan perintah menyerah bergema di mana-mana, dan langkah kaki pasukan khusus yang bergegas masuk terdengar gemuruh.
"KELILING! JANGAN BIARKAN SATU PUN LARI!" teriak komandan polisi.
Tuan Bara panik bukan main. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Rencana sempurnanya hancur lebur hanya karena ia terlalu percaya diri dan terlalu banyak bicara.
"BRUKKK!!!"
Tuan Bara menendang meja di depannya hingga berantakan. Ia menatap Arga dengan mata melotot penuh kebencian.
"Kau... kau anak setan! Kau memang benar-benar anak Surya! Licik dan pengecut!" umpatnya.
"Aku tidak licik, Paman. Aku hanya bermain cerdas," jawab Arga tenang namun dingin. "Dan aku tidak pengecut, bedanya aku tidak pernah menyakiti keluarga sendiri demi ambisi."
JLEB!
Kata-kata Arga bagaikan tamparan keras di wajah Bara.
"Riko! Cepat bawa sandera! Kita buat jalan keluar!" perintah Bara sambil menodongkan pistolnya ke arah polisi.
Riko yang juga sudah ketakutan setengah mati langsung berlari menuju Clara. Ia mencengkeram leher Clara dan menodongkan pistolnya tepat ke pelipis wanita itu—senjata yang sama yang ia keluarkan sebelumnya.
"JANGAN MAJU! ATAU SAYA TEMBAK DIA!" teriak Riko histeris, jarinya sudah menempel di pelatuk.
Para polisi terhenti, tidak berani bergerak sembarangan karena nyawa Clara menjadi taruhan.
"Bawa dia! Cepat!" seru Bara.
Mereka mencoba mundur perlahan menuju pintu darurat di belakang gudang. Situasi sangat genting. Satu gerakan salah, nyawa Clara melayang.
"Arga... tolong aku..." rintih Clara lemah, air matanya mengalir.
Hati Arga hancur melihat istrinya disiksa begitu. Tapi ia memaksa otaknya bekerja cepat. Ia tidak boleh panik.
"Tahan sebentar ya Sayang... Aku akan selamatkan kamu," bisik Arga sekuat tenaga.
Tiba-tiba, saat Bara dan Riko sedang fokus mundur dan menatap polisi di depan...
WUSH!
Dengan gerakan kilat, Arga mengambil sebuah kunci Inggris besar yang ada di lantai, lalu melemparnya dengan sangat akurat tepat ke tangan Riko yang memegang pistol!
PRANGG!!!
"AAAAWWWW!!!" jerit Riko kesakitan. Pistol itu terlepas dari tangannya dan terpental jauh.
"Sekarang!!!" teriak Arga.
Beberapa polisi langsung melompat maju, menerjang tubuh Riko dan memborgolnya dengan cepat. Clara langsung ditarik menyelamatkan diri ke arah Arga.
"Clara!!!" Arga langsung memeluk istrinya erat-erat, memeriksa seluruh tubuhnya. "Kamu gak apa-apa kan Sayang? Maafin aku ya..."
"Aku gak apa-apa Mas... Aku cuma takut..." isak Clara memeluk balik suaminya.
Sementara itu, Tuan Bara melihat kesempatan itu. Ia tidak mau ditangkap hidup-hidup dan dipermalukan lebih jauh. Dengan sisa tenaganya, ia berlari menuju tumpukan drum bekas berisi bahan bakar sisa di sudut gudang.
"JANGAN DEKAT! AKU BISA HANCURKAN SEMUANYA!" teriak Bara sambil menyalakan korek api besar.
Api kecil itu bergoyang-goyang di hadapan tumpukan bahan bakar yang mudah meledak.
"Paman! Berhenti! Itu bunuh diri!" teriak Arga mencoba menenangkan.
"BUNUH DIRI? TIDAK! AKU INGIN MEMBAWA KALIAN BERSAMA SAYA! KITA BERTIGA BAKAR HIDUP-HIDUP DI SINI! SEPERTI MIMPI BURUK KITA!" Bara sudah kehilangan akal sehatnya. Dendam dan keserakahan telah menghancurkan kewarasannya.
Ia siap melempar korek itu.
Namun, saat ia melihat wajah Arga yang menatapnya bukan dengan rasa benci, tapi dengan rasa kasihan yang dalam... tangan Bara tiba-tiba terhenti.
"Kenapa... kenapa kau tidak membenci aku, Arga?" tanya Bara terbata-bata. "Aku yang mau bunuh kamu. Aku yang mau hancurkan hidup kamu."
Arga menggeleng pelan.
"Karena kita masih satu darah, Paman. Dendam tidak akan pernah habis kalau dibalas dengan dendam. Ayahku tidak pernah membenci Paman, dia hanya kecewa. Dan aku juga..."
Air mata tiba-tiba jatuh dari sudut mata Bara. Selama puluhan tahun ia hidup dalam kebencian, merasa dunia tidak adil, merasa dirinya korban. Tapi saat di ujung tanduk, justru musuhnya yang memberinya rasa hormat dan kemanusiaan.
Korek api itu jatuh dari tangannya. Api padam sebelum menyentuh bahan bakar.
"Aku kalah... Aku kalah total..." gumamnya lemah. Tubuhnya ambruk terduduk di lantai, kehilangan semua semangat dan kekuatannya.
Polisi langsung maju dan memborgolnya. Kali ini Bara tidak meronta. Ia pasrah menerima nasibnya.
Saat melewati Arga, Bara menatap keponakannya itu dalam-dalam.
"Jadilah orang baik Arga... Jangan seperti aku... Harta dan kekuasaan itu buta... Mereka bikin kita lupa siapa diri kita sebenarnya..." bisiknya lirih.
Arga hanya mengangguk pelan.
Akhirnya, semua berakhir sudah.
Tuan Bara dan Riko digiring masuk ke dalam mobil tahanan. Mereka akan mendapatkan hukuman yang sangat berat atas semua kejahatan mereka—pemerasan, penculikan, penggelapan, hingga percobaan pembunuhan.
Di luar gudang, udara malam terasa begitu segar dan damai.
Clara sudah dibebaskan, dan kini ia berada dalam pelukan hangat suaminya. Di kejauhan, mobil Tuan Leonard juga datang memastikan keadaan aman.
"Kita menang, Sayang..." bisik Arga sambil mengecup kening istrinya. "Kita berhasil melewati semuanya."
"Terima kasih ya Mas... Terima kasih sudah jadi pahlawan buat aku dan keluarga kita," jawab Clara bahagia.
Malam itu, langit tampak begitu cerah. Awan hitam yang selama ini menggelayuti hidup mereka akhirnya bergulir pergi, digantikan oleh bintang-bintang yang bersinar terang menandakan awal baru yang jauh lebih indah dan damai.