NovelToon NovelToon
Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Auzora Maleeka

"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"

"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"

Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09

"Nggak ada masa lalu, nggak ada latar belakang, nggak ada jejak apa pun di dunia." Sambung Tuan Rayhan sambil menyerah kertas kepada sang Kakak.

 Diambilnya kertas yang dikasih oleh Adiknya itu, dan di buka. Disana benar-benar tidak ada tulisan apapun yaitu kosong, sedangkan Adrian masih tetap tidak percaya apa yang dilihatnya itu adalah sebuah kertas kosong.

 Diambilnya kertas itu dari tangan Ayahnya, dia membolak-balikkan kertas itu seakan-akan ada tulisan yang akan muncul setelahnya.

 "Jangan panik. Mungkin arah penyelidikan kita salah. Sekalipun arahnya nggak salah, di dunia ini ada banyak hal yang nggak kita ketahui." Kata Tuan Rendi.

 "Yang aku khawatirkan adalah kalau dia benar-benar bukan orang biasa. Jika demikian, keluarga kakak ipar benar-benar mengubur ibu mereka hidup-hidup, seperti yang dia katakan." Kata Tuan Rayhan.

 Tuan Rendi dan Adrian tentu saja kaget setelah mendengar penjelasan dari adiknya itu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 Sementara ditempat lain yaitu di kamar Nyonya Sonia, dia sedang bermimpi buruk.

 "Nggak. Bukan begitu. Ibu !" Teriak Nyonya Sonia dari mimpinya itu hingga akhirnya dia terbangun dengan napas yang sudah tak beraturan.

 "Tidak, tidak, tidak. Ini cuma mimpi buruk. Ini cuma mimpi buruk." Sambung Nyonya Sonia.

 Seketika itu diapun teringat akan kata-kata Nadira tadi pagi kepadanya dan juga keluarganya.

 Flashback on

 "Aku mau tanya satu hal pada kalian. Keluarga kalian, nggak peduli dengan etika manusia, mengubur ibu kandung hidup-hidup, benar atau nggak ?" Jawab Nadira sambil menunjuk ke arah semua orang kecuali orang yang memakai topi dengan payungnya.

 Flashback off

 "Bukan ! Ini hanya menakut-nakuti saja. Hah... Hah ... Hah...." Kata Nyonya Sonia ketakutan sambil menutup telinganya.

  kemudian, ada suara di jendela kamarnya, diapun menoleh ke arah jendela tersebut, hingga tampaklah sepasang sepatu yang diikat dengan benang merah, sehingga membuat Nyonya Sonia semakin ketakutan. Hingga akhirnya dia berteriak ketakutan dan badannya gemetar.

 Setelah tenang, diapun melihat lagi ke arah jendela yang mana sekarang sudah tidak ada apa-apa lagi selain air hujan.

  keesokan paginya, Nyonya Sonia ingin menemui Nona Nadira di halaman belakang, karena dia ingin mempertanyakan maksud dari perkataannya kemarin.

 "Pak Eko, apa Nona Nadira sudah bangun ?" Tanya Nyonya Sonia.

 "Nyonya Sonia, Nona Nadira dia sudah bangun, tapi biasanya di jam segini, Nona Nadira nggak mengizinkan orang lain untuk mengganggunya."Jawab Pak Eko.

 "Ini..... Aku memang datang terlalu pagi. Kalau begitu, aku akan masuk dan tunggu dia sebentar." Kata Nyonya Sonia sambil berjalan ingin masuk, tapi di tahan oleh Pak Eko.

 "Nyonya Sonia, ada yang nggak anda ketahui. Nona Nadira ada aturan. Dia baru terima tamu setelah minum teh. Bagaimana kalau anda istirahat dulu ? Setelah lewat pukul sembilan, aku akan lapor dulu ke Nona Nadira, anda baru datang menemuinya juga masih sempat." Kata Pak Eko.

 "Seingat ku dia cuma tamu." Ujar Nyonya Sonia.

 "Tuan Rendi sudah berpesan. Nona Nadira adalah tamu penting Keluarga kita. Semua hal harus memprioritaskan dia." Jawab Pak Eko.

 "Apa kau nggak bisa beri tahu dia lebih awal ? Kau bilang padanya ini mengenai ibuku." kata Nyonya Sonia.

 "Nyonya Sonia, sebenarnya, sebelum lampu dipadamkan tadi malam, Nona Nadira sudah berpesan, anda pasti akan datang hari ini dan harus menunggu sampai setelah minum teh." Kata Pak Eko.

"Kenapa ?" Tanya Nyonya Sonia.

 "Nona Nadira bilang dia nggak memberikan kelonggaran." Jawab Pak Eko.

 Sedangkan Nyonya Sonia yang mendengar penuturan dari Pak Eko, hanya bisa menghela napas pasrah dan terdiam.

 "Baik. Kalau begitu, aku tunggu disini." Timpal Nyonya Sonia.

 "Baik. Aku harus melayani Nona Nadira, Nyonya Sonia. Silahkan lakukan sesuka anda." Kata Pak Eko.

  Setelah itu, akhirnya pak Eko masuk kedalam. Sementara Nyonya Sonia mondar mandir di luar menunggu Nona Nadira. Hingga pada akhirnya Pak Eko keluar untuk menemui Nyonya Sonia yang masih berada di luar.

 "Nyonya Sonia, silahkan." Panggil Pak Eko.

 "Sungguh terasa seperti sedang bertamu ke rumah orang lain." Kata Nyonya Sonia.

 Pak Eko, mempersilahkan Nyonya Sonia masuk kedalam setelah disuruh oleh Nadira untuk menemuinya.

 "Aku belum pernah melihat para pelayan ini begitu teliti sebelumnya." Kata Nyonya Sonia.

 "Semua ini berkat didikan Nona Nadira yang baik." Jawab Pak Eko.

 "Begitu pintar mengatur bawahan, jelas berasal dari keluarga terhormat." Ujar Nyonya Sonia.

 Pak Eko terus membimbing Nyonya Sonia untuk menuju ke tempat dimana Nadira berada. Hingga akhirnya, sampai di ruang tamu yang mana sudah ada Nadira disana yang mana ia sedang santai membaca buku.

 "Nyonya Sonia sudah tiba." Kata Pak Eko sambil mengarahkan tangannya untuk menghampiri Nadira yang sedang santai tersebut.

 "Nyonya Sonia, aku nggak suka buang-buang waktu. Katakan ada apa ?" Tanya Nadira, tanpa menoleh ke arah Nyonya Sonia dia tetap membaca bukunya.

 "Nona Nadira, kenapa kemarin kau bilang ibuku di kubur hidup-hidup ?" Tanya Nyonya Sonia.

 "Dia mencari ku." Jawab Nadira tanpa mengalihkan perhatiannya ke buku yang dia pegang.

 "Siapa ? Kau bilang ibuku ? Mana mungkin."Kata Nyonya Sonia sambil menatap ke arah Nadira.

 Sementara Nadira yang ditatap seperti itu, langsung menutup bukunya dan langsung melihat ke arah Nyonya Sonia berada.

 "Saat ibumu dimakamkan, dia mengenakan pakaian pemakaman hitam dan emas, rambutnya disanggul tinggi, dan dikedua pergelangan tangannya terdapat gelang emas, masing-masing diukir huruf keberuntungan dan umur panjang. Di kedua sisi peti masing-masing terdapat satu mutiara malam." Kata Nadira.

 "Kau... Bagaimana kau bisa tahu ? Setelah ibu masuk peti mati, cuma aku dan kedua kakakku yang pernah lihat. Kau.... " Tanya Nyonya Sonia kepada Nadira dalam keadaan marah.

 "Di kepalanya terikat 99 benang emas panjang yang ditenun, melambangkan anak tangga yang kalian gunakan untuk mendoakan orang tua kalian naik ke surga." Kata Nadira.

 "Nona Nadira, semua ucapanmu benar. Aku percaya pada ucapanmu. Tapi, dulu saat ibu masuk peti, dia sudah meninggal." Kata Nyonya Sonia.

 "Sudah meninggal ? Siapa yang kasih tahu kalian ?" Tanya Nadira.

 "Tuan Bima yang bilang. Ibu terus nggak bisa mengembuskan napas terakhirnya. Agar ibu bisa beristirahat dengan tenang, Kak Gavin mencari Tuan Bima. Tuan Bima bilang ibu nggak bisa pergi karena mengkhawatirkan kami. Demi ritual.... Setelah itu, aku menemui ibu. Wajah ibu membiru. Dia jelas sudah meninggal. Jelas nggak ada yang namanya dikubur hidup-hidup." Jawab Nyonya Sonia sambil menangis.

 "Aku kira keluarga kalian cuma kejem. Ternyata bukan cuma kejam, tapi bodoh." Kata Nadira.

 "Dia berkata seperti itu, aku malah nggak marah. Sepertinya, nggak ada yang berhak marah padanya." Katanya dalam hati sambil melihat Nadira yang mulai membaca bukunya kembali.

"Nona Nadira, ada yang nggak ku mengerti. Tolong anda jelaskan, dimana masalahnya ?" Tanya Nyonya Sonia.

 "Dari mana gelang yang ada di pergelangan tangan ibumu ?" Tanya Nadira setelah menutup bukunya.

 "Itu perhiasan ibuku. Ayahku yang memberikan padanya, jadi kami pakaikan padanya." Jawab Nyonya Sonia.

 "Bagaimana dengan mutiara malam ?" Tanya Nadira.

 "Kak Gavin yang belikan saat berbisnis di luar negeri. Harganya sangat mahal. Kak Gavin tahu ibu takut gelap, jadi memasukkannya ke dalam peti." Jawab Nyonya Sonia.

 "Benang emas tenun ?" Tanya Nadira.

 "Itu juga milik keluargaku. Semuanya dipilih dengan cermat oleh kami. Nggak ada yang bisa mengutak-atiknya." Jawab Nyonya Sonia.

 "Pikir lagi. Saat menaruh barang-barang itu, apa yang sudah kalian lakukan ?" Tanya Nadira.

 "Nggak ada. Tuan Bima menyuruh kami memasukkan semua barang itu. Saat memasukkan benang emas, dia bilang......" Jawab Nyonya Sonia sambil menggelengkan kepalanya.

 "Katakan." Kata Nadira.

 "Tuan Bima bilang...... Bilang butuh darah segar semua anaknya. Aku dan kedua kakakku meneteskan darah ke mangkuk. Tuan Bima menyelupkan benang emas ke mangkuk darah. Ini harusnya nggak ada masalah, 'kan ?" Kata Nyonya Sonia sambil terengah-engah dan syok sekali ketika dia mengingat apa yang dia lakukan dengan kedua kakaknya tersebut.

 "Dahulu kala, yang kalian sebut zaman kuno, pemakaman selalu diisi dengan benda-benda seperti emas, perak, dan giok. Emas sebagai benda utama dan giok sebagai pelengkap, atau emas sebagai benda utama, merupakan pertanda kesialan besar." Kata Nadira.

 "Bagaimana dengan mutiara malam ? Tuan Bima bilang mutiara malam dapat menerangi." Tanya Nyonya Sonia.

 "Menerangi apa ?" Potong Nadira.

 "Mutiara malam, diletakkan di kedua sisi matanya untuk membutakan matanya agar dia nggak dapat menemukan jalan. Adapun benang emas, yang dicelupkan ke dalam darah adalah tali pengikat jiwa. Di tambah dengan darah keturunannya, hal ini membuatnya nggak pernah bisa bereinkarnasi dan menderita siksaan pengikat jiwa selamanya." Sambung Nadira.

  Sementara Nyonya Sonia, yang mendengar perkataan dari Nadira begitu syok mengetahui fakta bahwa apa yang dilakukan olehnya dan kedua kakaknya itu salah sehingga membuat ibunya tidak tenang.

1
Andira Rahmawati
absend dulu thor...
Chen Nadari
mampir Thorr
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!