NovelToon NovelToon
TERJERAT

TERJERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Mafia
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

Di bawah rindangnya pohon randu angker di sudut kampung, seorang pemuda bernama Langit tumbuh dewasa tanpa mengenal siapa orang tua kandungnya. Setiap senja, ia merenung di sana, merasa namanya seluas langit namun tak punya pijakan. Ia tak tahu, takdirnya sudah "terjerat" sejak hari ia ditemukan sebagai bayi di bawah pohon keramat itu oleh Nenek Wati.

Sembilan belas tahun kemudian, rahasia kelam masa lalu mulai terkuak, menyeret Langit pada sebuah pencarian identitas yang tak hanya mengancam hidupnya, tapi juga menguji perasaannya. Ketika ia dihadapkan pada sosok Intan, wanita yang sudah "terjerat" pernikahan namun begitu "layak diperjuangkan", akankah Langit mampu melepaskan diri dari belenggu masa lalu dan menemukan tempat sejatinya? Atau justru semakin dalam "terjerat" dalam takdir yang tak pernah ia minta?

Ikuti perjalanan Langit menemukan jati diri, cinta, dan rahasia yang terkubur di dalam novel TERJERAT.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30: Kekuatan yang sebenarnya

Saat angin semakin kencang, suara tangisan Adel yang menyentuh hati membuat Langit berhenti sejenak. Dia melihat anak kecil itu menggenggam tangan Intan dengan kuat, matanya penuh ketakutan melihat dirinya. Perlahan, kecepatan napasnya mulai kembali normal, dan kedua tangannya yang mengepal mulai mengendur..."

Sesaat setelah kejadian di saung, saat polisi sudah tiba dan para preman serta Lukman telah dibawa pergi.

Setelah suara sirene hilang ke kejauhan, Langit tetap berdiri tak bergerak di tengah rerumputan basah. Dia menatap tangan kirinya yang masih berlumuran darah bukan darahnya sendiri, tapi darah para preman yang dia pukuli.

Intan mendekat dengan hati-hati, membawa sapu tangan bersih untuk membersihkan tangannya:

"Ngit... polisi bilang mereka sedang mengejar Jaji dan Pardi. Kedua orang itu kabur begitu tahu rencana mereka terbongkar."

Langit tidak menjawab, hanya perlahan meraih syal rajutan yang terjatuh di tanah. Dia menyadari bagian ujung syal sudah sobek akibat kekerasan tadi, lalu diam-diam melipatnya dan menyimpannya ke dalam saku tanpa menyentuh tangan Intan secara berlebihan.

Yusuf mendekati Sri dan Dewi untuk memastikan mereka aman, lalu mendekat ke Langit: "Ada kabar lain, Langit. Ada dua kelompok orang dari kota yang datang ke kampung. Entah tujuannya mau apa, namun perlu di ketahui mereka menuju lokasi di mana kamu bertemu Abah haruman lima tahun yang lalu.

Langit menoleh ke arah Kang Yusuf." Setelah urusan kita di sini usai, kita akan cari tahu sosok Abah Haruman melalui nenekku." Langit menekan perkataan agar tidak terdengar oleh mereka, Kang Yusuf mengangguk mengerti.

Langit melangkah menuju Adel dan Adi yang sesaat ketakutan melihatnya ketika JERATAN amarah mulai memasuki nya, tersenyum ruang keduanya hingga di terima oleh kedua bocah kembar itu.

"Om Langit, cakit nggak, itu darahnya keluar." Bocah cantik bertanya dengan cadel, Langit hanya menggeleng kepalanya.

"Kita pulang yu." Ajak Langit pada Adel dan Adil.!

"Ayo Om." Serentak meteka berdua." Kak Adi kita tidak boleh di gendong cama Om Langit, Om Langit lagi kesakitan." Adel memberitahukan pada kakaknya yang selalu meminta di gendong.

"Kak Adi akan berjalan di depan melindungi Om Langit dari orang orang jahat yang di bawa polisi, kamu Adel, tuntun ya Om Langit." Ucap Bocah lima tahun itu, membuat Langit terharu begitu juga dengan yang lainnya, yang menyaksikan interaksi antara Langit dan kedua anak kembar itu.

"Ciap Kak Adi." Adel mulai menuntun Langit dengan serius.!

Anak sekecil itu sudah mempunyai rasa tanggung jawab dan kesadaran diri, ini menunjukkan si kembar bukan bocah biasa, Abah Haruman berkata bahwa, kunci jati diriku ada di nenek Wati dan kedua anak teh Intan.

Saat berjalan pulang, Langit melihat beberapa warga kampung yang menyaksikan kejadian dari kejauhan. Sebagian mereka masih merasa takut, tapi sebagian lainnya mengangguk sebagai bentuk rasa terima kasih karena Langit melindungi Sri dan Dewi. Namun pandangan takut dari beberapa anak kecil membuatnya semakin terpuruk.

Saat sampai di rumah, Langit melihat pagar yang roboh dan bekas goresan alat berat di tembok rumah. Nenek Wati sudah menunggu di depan pintu, wajahnya penuh kekhawatiran.

Langit langsung jatuh bersujud di depan neneknya: "Maafkan aku, Nenek... aku tidak bisa mengontrol diriku. Aku menjadi seperti mereka yang selalu menyakiti kita – menggunakan kekerasan sebagai jawaban atas segala sesuatu."

Nenek Wati membongkok dan mengangkat pipi Langit dengan lembut, meneteskan air mata: "Kau tidak salah, Nak. Kamu hanya ingin melindungi kita semua. Nenek selalu mengingat pesan dari suami nenek dulu selalu bilang."Kekerasan bisa melindungi tubuh, tapi cinta bisa menyelamatkan hati.' Kau sudah melindungi kita dengan tubuhmu, sekarang saatnya melindungi kita dengan hatimu."

Langit menangis sambil memeluk neneknya: "Aku takut, Nenek... aku takut kalau terus seperti ini, aku akan jauh dari apa yang Abah Haruman harapkan dariku.

Intan dan Sri serta Dewi, ikut meneteskan airmatanya, melihat pemuda yang di awal polos berubah menjadi tegas dan dingin meluapkan seluruh amarahnya untuk melindungi orang-orang yang di cintai, kini terjuntai bersimpuh di kaki sang nenek menyesali apa yang telah dia lakukan.

Tapi jika di lihat dari sisi positif nya, Langit tidak sepenuhnya bersalah dan dia hanya membela diri untuk melindungi orang-orang yang dia sayangi.

"Nenek. Buyut." Jangan di marahi Om Langit, Om Langit lagi kesakitan habis melawan orang-orang jahat.!

"Iya Nenek Buyut, harusnya Om Langit di kasih hadiah."

Adel dan Adi kini menjadi tameng bagi Langit, yang di sangka bocah kembar itu Om nya sedang di marahi karna melihat nya menangis.

Intan melangkah maju, berbicara kepada dua anaknya", Adel, Adi, Nenek Buyut sedang tidak memarahi Om Langit."

"Tapi bunda, Om Langit menangis, tadi waktu pulang Om Langit tidak apa-apa?"

"Iya bunda, kalau nggak di marahi Om Langit gak bakalan nangis.!

Takutnya perdebatan karna salah paham dengan anak bu Intan itu, Langit pun menyudahi tangisan nya, sedangkan nenek Wati tersenyum ke arah Adel dan Adi.

"Om Langit nggak nangis kok. Adel dan Adi sebaiknya pulang dan langsung mandi, nanti Om jemput untuk main ya." Langit menatap pada Intan memberikan kode.

"Asyik, Om Langit mau ajak kami main." Serentak mereka berdua kegirangan." Bunda ayo kita pulang dah mandi." Tangan Intan langsung di tarik oleh kedua anaknya itu.

Setelah kepergian bocah kembar itu, bersana ibunya, Langit menghampiri Sri dan Dewi mengucapkan beberapa kata rasa terimakasih atas bantuan yang telah mereka berikan.

"Teh Sri, Teh Dewi, terima kasih banyak, jika berkenan obrolan yang belum terselesaikan, kita bicarakan lain kali, mungkin besok atau lusa." Langit membungkuk hormat pada mereka berdua, namun buru di cegah oleh keduanya.

"Langit jangan perlakukan kami layaknya wanita bangsawan, itu sunggu tidak pantas, kami berdua senang membantu anda berteman baik dan saling menghormati, selain itu tujuan kami ingin mengetahui sipat dan karakter suami kakak saya."

"Untuk tadi pertanyaan dari anda Langit, saya berdua berkenan dan anda bisa kapan saja menghubungi kami jika sudah tak sibuk." Tambah Dewi.

Langit tersenyum hangat, namun pikirannya menelisik ke arah pembicaraan yang begitu sopan seakan menghormati dirinya." Dewi tidak sederhana mungkin aku harus waspada.

"Baiklah nanti saya akan atur jadwal pertemuan dengan teh Dewi dan Teh Sri." Ucap Langit.

"Kami berdua akan menunggu kabar dari anda Langit." Dewi tersenyum manis, tatapan matanya menyembunyikan sesuatu yang cukup dalam." Langit dan Kang Yusuf, nenek Wati, kita berdua ijin pamit karna waktu semakin sore.

"Hati hati Nak Dewi, Nak Sri." Sang nenek berpesan." Nak Rio tolong di antar mereka berdua." Nenek Wati menyuruh anak buah Langit, namun langsung di balas cepat oleh Dewi.

"Kang Rio tidak usah merepotkan, dekat kok rumahnya." Dewi tersenyum, sedangkan Rio menoleh ke arah Langit kode dari Langit memberi arti.

Rio menoleh ke arah Langit, menunggu kode. Langit mengangguk pelan, memberi arti: 'Biarkan mereka pergi, tapi awasi dari jauh. Cari tahu siapa mereka sebenarnya.'

CATATAN PEMBACA:

SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!

SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.

JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!

SALAM DARI ANAK KAMPUNG,

ARIS.

Bersambung.

1
Ramdan
pardi Pardi 🤣🤣🤣🤣
Ramdan
mundur ke belakang 😄😄👍👍
Ramdan
dah di cium langit bangun 🤣🤣🤣
Ramdan
hahahaha mau di cium
Ramdan
nah bener yang di katakan teh sri
Ramdan
langit tidur enak🤣🤣🤣🤣
Ramdan
yakij langit akan lebih baik
Ramdan
😭😭😭😭😭😭😭😭
Ramdan
rahasia intan di buka
Ramdan
mengungkap tabir misteri 🤣🤣
Ramdan
langit di bawa ke alam barzah 🤣🤣🤣
Ramdan
lamgit jangan lama lama ya thor
Ramdan
hajar iyan
Ramdan
syukur masih hidup
Ramdan
😭😭😭😭😭😭😭😭 aj mati tokoh utama nya
Ramdan
telat bantuannya thor langit keburu meninggal
Ramdan
waduh kok mati
Ramdan
ini bantuan Riyan mana 😭😭😭
Ramdan
sadis bener sadis
Ramdan
kok ada ya suami kayak gitu😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!