Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24.Luka di Hati
ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ
Tanpa mampu berkata apa-apa lagi, tanpa mampu membalas satu patah kata pun terhadap kemarahan ibunya, Aisyah langsung membalikkan badan. Kakinya terasa berat bagaikan dipenuhi timah cair, seakan ada kekuatan tak kasat mata yang menahannya untuk tetap berdiri di sana.
Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Menetes deras, membasahi pipi yang mulus, hingga membasahi kerah baju seragamnya yang masih dikenakan. Hatinya hancur lebur, tercabik-cabik oleh kata-kata tajam yang baru saja dilontarkan Mama Laras.
TAP... TAP... TAP...
Langkah kakinya berderap cepat menaiki tangga, berlari menjauhi suara kemarahan yang masih terus bergema di ruang tamu. Ia tidak peduli lagi siapa yang melihat, bagaimana penampilannya, atau apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang ia inginkan sekarang hanyalah bersembunyi di dalam kamarnya, di tempat yang paling aman baginya, di balik dinding-dinding yang tidak akan menghakiminya.
Sesampainya di depan pintu kamar, ia langsung memutar kunci dan mendorong pintu itu terbuka, lalu menutupnya kembali dengan keras sekuat tenaga.
BRUK!!
Suara pintu yang dibanting itu bergema di sepanjang koridor, menandakan bahwa ia sudah mengunci diri dari dunia luar.
Sekarang, hanya ada dia dan kesedihannya di dalam ruangan itu. Hanya ada dia dan pertanyaan-pertanyaan besar yang menghantuinya.
Aisyah tidak lagi kuat berdiri. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuknya dengan posisi tengkurap. Ia membenamkan wajahnya jauh-jauh ke dalam bantal yang empuk dan wangi, lalu menangis tersedu-sedu sekuat tenaga.
Isak tangisnya tertahan oleh kain bantal, sehingga hanya terdengar suara desah dan getaran bahunya yang naik turun hebat menahan rasa sakit yang luar biasa di dalam dada.
"Kenapa... Kenapa Mama marah besar sama Aisyah begini?" gumamnya dalam hati berkali-kali, suaranya pecah dan parau oleh tangisan.
"Aisyah cuma nemenin teman yang sakit... Aisyah cuma bahagia karena ingatan dia akhirnya balik... Aisyah cuma ingin bahagia sama orang yang Aisyah sayang... Kenapa harus dimarahi sebesar ini? Kenapa Mama seakan-akan sangat membenci kehadiran Gus Aqlan dalam hidupku?"
Pertanyaan demi pertanyaan terus menghantam pikirannya bagaikan palu godam, membuat rasa sedih itu bercampur menjadi satu dengan rasa bingung dan sakit hati yang sangat mendalam.
Setelah merasa lelah menangis, Aisyah perlahan bangun dari posisi tengkurapnya. Ia lalu duduk bersandar di kepala ranjang, menarik kedua kakinya mendekati dada, lalu memeluknya erat-erat, seakan ingin melindungi dirinya sendiri dari rasa takut yang menyelimuti.
Wajahnya yang sembab, merah, dan bengkak menatap kosong ke dinding kamar yang polos. Pikirannya melayang jauh, mencoba mencari jawaban atas semua ini.
"Kenapa ya... Kenapa Mama selalu melarang? Selalu menghalang-halangi?" batinnya terus meratap.
"Dulu waktu pertama kali ketemu di kampus, Mama sudah marah besar dan melarang. Sekarang pun begitu, bahkan lebih parah. Seolah-olah ada sesuatu yang sangat buruk, dosa besar, atau kesalahan fatal yang pernah Aisyah lakukan dulu..."
"Seolah-olah Aisyah pernah membuat kesalahan yang sangat mengerikan sampai-sampai Mama tidak pernah mau aku bertemu lagi dengan dia... Seolah-olah Aqlan itu musuh besar keluarga kita."
Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dan lemah, mencoba mengorek setiap sudut ingatannya, mencoba mengingat-ingat kejadian masa lalu yang mungkin sudah terlupakan.
"Apa... apa waktu dulu waktu kecil Aisyah pernah berbuat salah sama keluarga pak Aqlan? Atau Aisyah pernah bikin malu keluarga? Atau jangan-jangan... Aisyah pernah melanggar janji suci sampai Mama marah besar dan akhirnya memisahkan kami paksa?"
Semakin dipikirkan, semakin diputar ulang di otaknya, kepalanya semakin terasa pening dan pusing, dadanya semakin sesak dan sesak.
"Kenapa rasanya begini sakit, Yah? Rasanya seperti ada bagian dari diri ini yang hilang dan dilarang untuk dicari kembali. Rasanya seperti mencintai seseorang tapi dilarang oleh takdir sendiri..."
"Kenapa cinta yang baru saja bersinar terang ini harus kembali terhalang oleh tembok tebal kemarahan Mama? Kenapa jalannya harus sesulit ini?"
"Maafkan Aisyah, Ma... Aisyah janji Aisyah gadis baik-baik... Aisyah tidak mau nakal... Aisyah nurut sama Mama..." bisiknya pelan di dalam keheningan kamar, suaranya terdengar sangat rapuh.
"Tapi... kenapa rasanya hati ini begitu perih dan sakit sekali kalau harus menjauh dari dia? Kenapa rasanya mati rasa kalau tidak ada dia?"
Rasa takut, rasa bersalah yang tidak jelas asal-usulnya, dan rasa rindu yang baru saja merekah dan tumbuh subur, bercampur menjadi satu racun yang menyiksa batinnya malam itu.
Aisyah tidak tahu, bahwa kemarahan Mama Laras itu bukan tanpa alasan, dan bukan karena benci. Tapi alasan itu tersimpan rapi, terkunci mati sebagai sebuah rahasia besar keluarga yang selama ini ditutup rapat demi melindunginya dari rasa sakit yang lebih dalam.
BERSAMBUNG...