NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Pertemuan di Gerbang Cahaya

Pesawat jet pribadi itu membelah awan kelabu di atas Selat Malaka. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana terasa begitu kontras. Arkan duduk di kursi tunggalnya, menatap lurus ke arah jendela, sementara Aisyah dan Hamdan duduk berdampingan, saling menggenggam tangan dengan perasaan yang berkecamuk. Kehadiran Sofia Xavier di antara mereka memberikan aura perlindungan yang selama ini hilang.

Tujuan mereka adalah sebuah biara tua yang telah diubah menjadi panti rehabilitasi sosial di pinggiran kota kecil perbatasan Malaysia. Tempat itu terpencil, dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit yang luas, sejauh mungkin dari radar intelijen mana pun.

"Arkan," Sofia memecah keheningan, suaranya lembut namun penuh wibawa. "Rahman Malik tidak tahu bahwa kau adalah putra Xavier.

Selama lima belas tahun ini, ia mengenalku sebagai 'Sarah', wanita yang menyelamatkannya dari selokan saat ia hampir mati dieksekusi oleh anak buah ayahmu. Tolong, jaga sikapmu."

Arkan menoleh, matanya yang lelah namun jernih menatap ibunya. "Aku mengerti, Bu. Aku ke sana bukan sebagai Xavier. Aku ke sana sebagai pria yang ingin mengembalikan hak putrinya."

Aisyah mendengarkan percakapan itu dengan hati yang berdebar. Ia menyentuh tas medisnya—benda yang selalu menemaninya di saat kritis—seolah-olah benda itu memberinya kekuatan untuk menghadapi kenyataan bahwa ayahnya masih hidup.

"Aisyah," panggil Hamdan lirih. "Jika Ayah... jika Ayah tidak mengenali kita, kau harus kuat."

"Ayah akan mengenal kita, Bang," sahut Aisyah yakin. "Seorang ayah tidak akan pernah melupakan anak-anak yang selalu ia sebut dalam sujudnya."

Mobil SUV yang membawa mereka berhenti di depan sebuah bangunan kolonial putih dengan pilar-pilar besar. Suasananya begitu tenang, hanya terdengar kicauan burung dan gemericik air pancuran di tengah taman.

Sofia melangkah lebih dulu, diikuti oleh Hamdan dan Aisyah. Arkan memilih untuk berjalan paling belakang, memberikan ruang bagi keluarga itu untuk bersatu kembali tanpa bayang-bayang dirinya.

Di teras belakang yang menghadap ke kebun mawar, seorang pria tua duduk di kursi roda.

Rambutnya putih bersih, kulitnya keriput namun bersih, dan matanya menatap kosong ke arah bunga-buku yang mekar. Di pangkuannya, terdapat sebuah Al-Qur'an kecil yang sudah kusam cover-nya.

"Rahman?" panggil Sofia lembut.

Pria itu, Rahman Malik, menoleh perlahan. Senyum tipis muncul di wajahnya yang renta.

"Sarah? Kau kembali lebih cepat dari biasanya. Apakah kau membawa kabar dari Jakarta?"

Sofia mendekat, berlutut di samping kursi roda itu. "Aku membawa lebih dari sekadar kabar, Rahman. Aku membawa doa-doamu yang terkabul."

Hamdan melangkah maju, kakinya gemetar. "Ayah?"

Rahman tertegun. Ia menyipitkan matanya, mencoba mengenali sosok pria dewasa yang berdiri di depannya. Ia melihat struktur wajah yang sangat familiar—rahang yang kuat, mata yang tegas. "Hamdan? Anakku?"

Hamdan jatuh berlutut di depan ayahnya, membenamkan wajahnya di pangkuan Rahman.

Tangis yang selama dua puluh tahun ini ia tahan sebagai "kepala keluarga" pengganti, kini meledak hebat. "Ini Hamdan, Yah... Hamdan sudah dewasa sekarang."

Rahman mengelus kepala putranya dengan tangan yang gemetar. Air mata mulai mengalir di pipinya yang cekung. "Ya Allah... Kau benar-benar mengabulkan permintaanku sebelum aku menutup mata."

Mata Rahman kemudian beralih ke sosok wanita bercadar yang berdiri mematung di belakang Hamdan. Aisyah tidak bisa bergerak. Seluruh sendinya terasa kaku. Ia hanya bisa menatap mata ayahnya—mata yang sama dengan matanya sendiri.

"Dan ini..." suara Rahman bergetar hebat. "Ini si kecil Aisyah?"

Aisyah luruh ke lantai. Ia merangkak mendekat, mencium tangan ayahnya yang terasa dingin namun memberikan kehangatan luar biasa di hatinya. "Ayah... ini Aisyah, Yah. Aisyah sekarang sudah jadi dokter..."

"Dokter?" Rahman tertawa kecil di tengah tangisnya. "Kau selalu bilang ingin menyembuhkan luka orang lain sejak umur lima tahun. Kau melakukannya, Nak. Kau melakukannya."

Di kejauhan, Arkan menyaksikan pemandangan itu dari balik pilar. Ia merasa seperti debu di tengah cahaya yang begitu terang. Ia melihat kebahagiaan yang murni—sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan seluruh emas di brankas Xavier. Ada rasa syukur yang mendalam di hatinya karena telah menjadi perantara pertemuan ini, namun ada juga rasa pedih: ia adalah putra dari pria yang menyebabkan perpisahan ini selama dua puluh tahun.

Setelah suasana sedikit tenang, Sofia mengajak mereka masuk ke dalam ruangan untuk berbicara. Rahman Malik, meski fisiknya lemah, pikirannya masih sangat tajam. Ia menatap Arkan yang duduk paling jauh di sudut ruangan.

"Siapa pemuda gagah ini, Sarah?" tanya Rahman.

Sofia menatap Arkan, memberi isyarat agar putranya bicara sendiri.

Arkan berdiri, ia menanggalkan jam tangan mewahnya dan meletakkannya di meja—simbol bahwa ia melepaskan statusnya. Ia mendekat ke arah Rahman dan menunduk dalam.

"Nama saya Arkan, Pak Rahman," ucap Arkan, suaranya rendah namun penuh rasa hormat.

"Saya adalah orang yang membawa Aisyah dan Hamdan ke sini. Dan saya juga... saya adalah putra dari Xavier."

Hening seketika. Aisyah menahan napas. Hamdan pun menoleh dengan cemas, khawatir ayahnya akan terserang syok jantung.

Rahman Malik terdiam lama. Ia menatap Arkan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia melihat tato di leher Arkan, ia melihat bekas luka di tangan Arkan—tanda-tanda kekerasan yang sangat ia kenal dari masa lalunya.

"Putra Xavier..." gumam Rahman. Ia menghela napas panjang, lalu memejamkan matanya sejenak. "Xavier Senior adalah pria yang sangat malang. Dia punya segalanya, tapi dia tidak punya kedamaian."

Rahman membuka matanya kembali, menatap Arkan dengan keteduhan yang luar biasa.

"Kenapa kau membawaku kembali pada mereka, Arkan? Bukankah kau bisa membiarkanku mati di sini agar rahasia ayahmu terkubur selamanya?"

"Karena saya mencintai putri Anda, Pak Rahman," jawab Arkan jujur, suaranya tidak bergetar. "Dan mencintainya berarti saya harus mengembalikan dunianya yang sudah dihancurkan oleh keluarga saya. Saya tidak ingin membangun masa depan di atas kebohongan."

Rahman menoleh ke arah Aisyah. "Aisyah, benarkah pria ini yang melindungimu?"

Aisyah mengangguk pelan. "Dia mempertaruhkan nyawanya untuk Aisyah, Yah. berkali-kali."

Rahman kembali menatap Arkan. "Seorang anak tidak memikul dosa ayahnya, Arkan. Itu adalah janji Tuhan. Jika kau benar-benar ingin menebus kesalahan keluargamu, jangan lakukan itu dengan uang atau kekuasaan. Lakukan itu dengan menjadi suami yang sholeh untuk putriku, dan menjadi pria yang berguna bagi orang banyak."

Arkan tertegun. Ia mengira akan diusir atau dimaki. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pengampunan secepat itu dari pria yang hidupnya ia hancurkan lewat garis keturunan.

"Tapi ada satu syarat," lanjut Rahman.

"Apapun, Pak Rahman. Katakan saja."

"Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu di hadapan hukum manusia," tegas Rahman. "Aku tahu bisnis Xavier bukan bisnis yang bersih. Jika kau ingin memulai hidup baru dengan Aisyah, kau harus membersihkan namamu terlebih dahulu. Jangan biarkan Aisyah menikah dengan seorang buronan atau penjahat yang bersembunyi."

Arkan tersenyum tulus. "Itu memang rencana saya, Pak Rahman. Setelah urusan di sini selesai, saya akan menyerahkan diri ke kepolisian Jakarta dan menyerahkan semua bukti kejahatan klan Xavier, termasuk keterlibatan saya di dalamnya."

Malam itu, di bawah langit perbatasan yang bertabur bintang, Arkan dan Aisyah duduk di beranda biara. Ini adalah momen pertama mereka bicara berdua sejak pertemuan dengan Rahman.

"Kau benar-benar akan menyerahkan diri?" tanya Aisyah.

Arkan mengangguk. "Itu satu-satunya cara agar aku bisa memegang tanganmu tanpa merasa kotor, Aisyah. Aku mungkin akan dipenjara beberapa tahun karena keterlibatan pasif dalam beberapa kasus legal perusahaan. Tapi itu harga yang murah untuk sebuah kebebasan jiwa."

Aisyah menatap Arkan. Ia melepaskan satu sarung tangannya dan untuk pertama kalinya, ia menyentuh punggung tangan Arkan dengan lembut. "Aisyah akan menunggu. Aisyah akan menyelesaikan kuliah kedokteran Aisyah, dan setiap bulan Aisyah akan datang membawakan bekal untukmu."

Arkan menatap tangan Aisyah di atas tangannya. "Kenapa kau begitu baik padaku, Aisyah? Setelah semua yang kulakukan?"

"Karena Anda adalah bukti bahwa hidayah itu nyata, Arkan," bisik Aisyah. "Dulu Anda adalah 'Kesayangan Mafia'. Sekarang, saya harap Anda menjadi 'Kesayangan Allah'."

Namun, di tengah kemanisan itu, Leo datang dengan wajah pucat. Ia membawa tablet digital yang menunjukkan berita nasional di Jakarta.

"Tuan... ini gawat. Gideon tidak tinggal diam. Dia telah menyuap jaksa agung dan menuduh Pak Rahman Malik sebagai dalang sebenarnya dari seluruh bisnis Xavier selama dua puluh tahun ini.

Mereka mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Pak Rahman. Mereka ingin membungkam saksi kunci sebelum kita sempat bicara."

Arkan berdiri, matanya kembali berkilat tajam.

"Gideon... dia benar-benar ingin bermain api."

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Hamdan yang baru keluar dari kamar.

"Kita tidak bisa lari lagi," ucap Arkan. "Kita harus kembali ke Jakarta. Tapi kali ini, kita tidak akan kembali sebagai mafia. Kita akan kembali dengan kebenaran yang akan meruntuhkan seluruh gedung pengadilan itu jika perlu."

Arkan menoleh pada Leo. "Hubungi pengacara terbaik yang tidak bisa disuap. Dan hubungi media. Kita akan melakukan konferensi pers di bandara saat kita mendarat. Biarkan seluruh rakyat Indonesia tahu siapa sebenarnya Xavier dan siapa Rahman Malik."

Pertarungan hukum yang berat baru saja dimulai. Aisyah harus bersiap menghadapi sorotan kamera dan tekanan publik, sementara Arkan harus melawan keluarganya sendiri di meja hijau demi menyelamatkan nama baik ayah mertuanya.

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!