Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Pasar Malam di Simpang Tiga dan Kemenangan Tanpa Darah
Matahari perlahan meluncur turun menuju peraduannya, menyisakan semburat jingga pekat yang melukis angkasa sore. Udara yang seharusnya berembus membawa kesejukan petang, justru terasa gerah dan sarat akan ketegangan bagi mereka yang masih memelihara dendam. Di pelataran belakang sebuah bengkel tua yang terbengkalai, Seno berdiri memimpin puluhan anak SMA Bangsa. Wajah-wajah muda itu mengeras, bersiap menyongsong badai. Rantai besi, tongkat kayu, hingga gir motor yang diikat pada sabuk telah mereka persiapkan di balik seragam yang dikeluarkan dengan urakan.
"Kita buktikan hari ini," seru Seno, suaranya bergetar oleh amarah dan adrenalin yang memuncak. "Bahwa SMA Bangsa tak akan runtuh hanya karena seorang panglima memilih untuk mundur! Simpang tiga akan menjadi saksi bahwa aspal ini masih milik kita. Berangkat!"
Deru puluhan mesin sepeda motor seketika menggelegar, memekakkan telinga dan membelah jalanan dengan arogansi yang buta. Konvoi itu melaju kencang menuju simpang tiga, tempat peradilan berdarah telah disepakati untuk ditegakkan.
Namun, tatkala konvoi Seno berbelok di tikungan terakhir yang bermuara pada simpang tiga, pemandangan yang menyambut mereka bukanlah hamparan aspal kosong yang sepi mencekam. Alih-alih demikian, laju motor mereka terpaksa direm mendadak hingga ban berdecit keras.
Seno melebarkan matanya, nyaris tak memercayai apa yang tersaji di hadapannya.
Simpang tiga yang strategis itu telah disulap menjadi lautan manusia dan warna-warni terpal. Sebuah pasar kaget dadakan berdiri memenuhi seluruh bahu jalan hingga nyaris menutup akses utama. Asap tebal dari bakaran sate ayam dan jagung manis mengepul di udara, berpadu dengan alunan musik dangdut yang memekik dari pengeras suara murahan milik seorang penjual obat keliling. Ibu-ibu berdaster sibuk menawar harga sayuran, sementara anak-anak kecil berlarian kian kemari dengan permen kapas di tangan mereka.
Simpang tiga itu hidup, meriah, dan sama sekali tak menyisakan ruang barang sejengkal pun untuk sebuah pertumpahan darah.
Dari arah berlawanan, konvoi SMA Pelita yang dipimpin oleh Agam pun tiba dengan kondisi yang tak kalah memalukan. Agam yang wajahnya masih menyisakan memar menatap sekeliling dengan mulut sedikit menganga.
Seno dan Agam kini saling berhadapan. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh sejauh lemparan batu, namun di antara mereka, puluhan warga sipil berlalu-lalang tanpa dosa. Mengayunkan senjata di tengah kerumunan semacam ini adalah sebuah pelanggaran mutlak atas hukum jalanan. Siapa pun yang berani menyentuh warga, tak hanya akan berhadapan dengan polisi, namun akan diamuk massa hingga tak bersisa.
Kedua komplotan yang berniat saling membunuh itu kini hanya bisa duduk kaku di atas motor masing-masing, terjebak dalam kecanggungan yang amat konyol, layaknya anak kecil yang niat nakalnya dipergoki oleh orang tua.
Di tengah kebingungan itu, pandangan Seno tak sengaja menangkap sebuah siluet yang teramat ia kenal.
Di sudut jalan, tepat di sebelah gerobak kopi milik Pak Dirman, berdirilah Jenawa Adraw. Mantan panglima itu tak mengenakan seragam, melainkan sebuah kemeja flanel sederhana berlengan panjang yang lengannya digulung hingga siku. Ia tengah membantu Pak Dirman mengangkat sebuah kerat berisi botol-botol minuman.
Tatkala pekerjaan itu usai, Jenawa menegakkan tubuhnya. Ia menoleh ke arah Seno, lalu beralih menatap Agam di seberang sana. Tak ada raut mengejek di wajah Jenawa. Pemuda itu hanya menatap mereka dengan ketenangan mutlak seorang raja yang telah menguasai papan catur jauh sebelum bidak pertama digerakkan.
Seno menelan ludah. Amarah yang sedari tadi membakar dadanya tiba-tiba padam, disiram oleh kekaguman yang tak sanggup ia pungkiri. Jenawa tak hanya menghentikan tawuran ini; ia melakukannya tanpa meneteskan setetes darah pun, dan tanpa harus menempatkan dirinya sebagai musuh bagi kedua belah pihak. Seno menundukkan wajah, memberikan sebuah anggukan kecil yang nyaris tak kasat mata kepada Jenawa—sebuah tanda takluk dan penghormatan terakhir sebelum ia memerintahkan barisannya untuk memutar balik motor dan membubarkan diri.
Melihat SMA Bangsa mundur teratur, Agam yang kebingungan tak punya pilihan lain selain melakukan hal yang sama. Dalam hitungan menit, ancaman badai itu sirna, ditelan oleh keriuhan pasar malam yang membahagiakan.
Jenawa menghela napas panjang, membiarkan kelegaan merasuki relung dadanya. Ia membalikkan badan, berniat memesan secangkir kopi hitam kepada Pak Dirman, tatkala aroma melati yang teramat familier menyapa indra penciumannya.
"Sebuah pertunjukan siasat yang teramat memukau, Tuan Jenawa."
Suara baku nan syahdu itu membuat Jenawa tersentak pelan. Ia menoleh dan mendapati Sinaca Tina berdiri di sana. Gadis itu mengenakan blus sederhana berwarna krem dan celana kain yang sopan. Senyumnya mengembang sempurna, mengalahkan keindahan pendar lampu hias yang berjejer di sepanjang pasar kaget tersebut.
"Sinaca," sapa Jenawa, rona bahagia tak bisa disembunyikan dari wajahnya. "Apa yang membawamu kemari? Bukankah aku sudah berpesan agar kau berdiam di rumah sore ini?"
"Aku tak mungkin berdiam diri di kamar sembari menebak-nebak apakah siasatmu berjalan lancar atau tidak," jawab Sinaca, melangkah mendekat hingga ia berdiri tepat di sisi pemuda itu. "Dan melihat bagaimana puluhan motor berbalik arah tanpa menyentuh satu sama lain... aku rasa kau baru saja memenangkan pertempuran terbesarmu, Jenawa. Tanpa pedang, tanpa balok kayu."
Jenawa terkekeh pelan. Ia menatap hiruk-pikuk warga di sekitarnya, lalu kembali menatap gadis yang kini mengisi seluruh ruang di hatinya.
"Kemenangan ini tak akan pernah terwujud jika bukan karena kau yang menyadarkanku, Sinaca," ucap Jenawa tulus, suaranya mengalun lembut di sela-sela dentum musik dangdut. "Kau yang memaksaku untuk berpikir layaknya manusia, bukan layaknya binatang buas di jalanan."
Sinaca tak menjawab. Ia hanya menatap Jenawa dengan binar kebanggaan yang teramat dalam. Perlahan, gadis itu merogoh saku blusnya, mengeluarkan dua buah karcis kecil berwarna merah muda.
"Sebagai hadiah atas janjimu yang ditepati dengan teramat baik," ucap Sinaca, menyodorkan salah satu karcis tersebut kepada Jenawa. Matanya sedikit mengerling ke arah ujung pasar kaget. "Kudengar wahana bianglala di ujung jalan itu menawarkan pemandangan kota yang tak kalah indah dengan pemandangan dari balkon sekolah. Apakah kau bersedia menemaniku?"
Jenawa menatap karcis di tangannya, lalu menatap Sinaca dengan senyum yang kian melebar. Seorang mantan panglima jalanan, diajak menaiki bianglala pasar malam oleh gadis paling kaku di sekolah. Sungguh sebuah transisi kehidupan yang tak pernah ia sangka-sangka.
"Menemanimu menaiki bianglala, mengawalmu membelah pasar, atau sekadar berdiri di sisimu hingga pasar ini tutup..." Jenawa menyimpan karcis itu ke dalam saku flanelnya, lalu membungkukkan badan sedikit, menyajikan gestur hormat seorang ksatria. "Semuanya adalah kehormatan bagiku, Nona Sinaca. Mari?"
Sinaca tersipu, rona merah menghiasi pipinya. Keduanya pun melangkah bersisian menembus keriuhan pasar malam. Petang itu, tak ada lagi Sang Panglima. Yang tertinggal hanyalah seorang Jenawa, seorang pemuda biasa yang tengah dimabuk oleh manisnya sebuah roman, melangkah menyongsong bianglala kehidupan bersama satu-satunya gadis yang mampu menaklukkan hatinya.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪