Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Suara azan dari toa mesjid saling sahut bersahutan membangunkan hambanya untuk segera menghadapnya. Lidia dan buk Sum juga sudah bangun dan bersiap hendak sholat subuh berjamaah berdua di rumah karna di luar hujan jadi mereka tidka bisa ke mesjid untuk sholat berjamaah.
Lidia terpaku di atas sejarahnya berdoa kepada sang pemilik agar semua urusannya di melancarkan. Di beri ketabahan dan kelapangan hati menjadi takdir hidup yang sudah di gariskan.
"Kita bernagkat sekarang?" ajak buk Sum setelah mereka selesai sholat dan hujan juga sudh reda.
"Tunggu bentar, buk. Aku mau ambil jaket dulu biar ga masuk angin." Lidia m3mbawa dua buah jaket satu untuk dirinya dan satunya lagi untuk buk Sum.
"Makasih, nak." Buk Dimemarkan jaket yang Lidia bawakan. Sebelum berangkat buk Sum memastikan rumah sudah terkunci baru berangkat.
Mereka jalan berdua beriringan, jarak dari pasar dari rumah cuma lima belas menit sehingga mereka memutuskan jalan kaki hitung - hitung olah raga pagi.
Lidia nampak begitu bahagia meliaht orang lalu lalang menjajakan dagangannya. Ia mengikuti langkah buk Sum hati - hati.
"Kamu mau beli apa?" tanya buk Sum.
"Aku kepengen bikin sebaik deket, buk. Boleh ga?" tanya Lidia yang tengah membayangkan betapa lezatnya makana yang ia inginkan.
"Boleh, tapi ga boleh terlalu pedes ya. Ingat di perutnya ada kehidupan lain. Ibuk ga mau si dedek kenapa - Kenapa nanti."
"Siap, buk." Lidia membeli deket ayam sedikit dan bumbu untuk membaut seblak. Selesai berbelanja buk Sum membawa Lidia pulang dengan menaiki becak. Awalnya Lidia menolak karna masih ingin berjaln kaki pulang tapi saat melihat belanjaan yang lumayan banyak mau tak mau ia harus mengikuti kemauan buk Sum.
Tak mungkin ia dan buk Sum menenteng belanjaan sebanyak ini. Udara pagi terasa sejuk, Lidia begitu menikmati perjalan pulang. Udara di kampung tak tercemar sepeti di kota. Asap kendaran tak separah di kita tempat tinggalnya dulu. Hanya satu dua kendaraan yang lalu lalang.
Lidia membantu buk Sum memasak hidangan untuk menyambut kepulangan anaknya. Berbagai macam mas kan sudah siap terhidang di meja. Baunya sungguh mengugah selera.
"Sebaiknya kamu mandi nak, biar ini ibuk yang beresin." usir buk Sum. Aroma bau asap bercampur keringat tercium di tubuh Lidia. Ia begitu semangat membantu buk Sum. Bahagianya buk Sum adalah bahagia dia juga.
"Tanggung dikit lagi, buk." tolak Lidia sambil terus mengaduk masakan di pengorengan.
"Udah ga apa - apa, ini tinggal di biarin kering ga perlu di aduk lagi." perintah buk Sum tak bisa di bantah. Lidia terpaksa mengikuti apa yang buk Sum perintah.
Guyuran air terasa sejuk saat menyentuh kulitnya yang mulus. Aroma wangi sabun membuatnya betah berlama - lama di kamar mandi.
"Lidia, sudah belum mandinya nak?" teriak buk Sum dari luar pintu kamar mandi. Ia merasa kwatir karna Lidia tak kunjung keluar dari sana, ia takut terjadi sesuatu pada Wanita itu.
"Iya, buk. ini juga udah mau selesai." jawab Lidia buru - buru menyelesaikan ritual mandinya. Setakh berpakain Lidia kembali ke dapur menemui buk Sum yang juga sudah membersihkan tubuhnya.
"Ibuk udah mandi?" tanya wanita itu.
"Sudah tadi di belakang. Ayo duduk sini, kita coba dulu hasil masakan."
"Nanti aja, bu kalau abang udah datang." tolak Lidia.
"Abangmu masih lama, sebaiknya kita isi dulu perut sedikit, kasiahan si dedek pasti kelaparan di dalam sana." Buk Sum menyodorkan sepotong nasi lengkap dengan lauknya dan menyerahkan pada Lidia. Lidia tersenyum meliaht kerjain buk Sum yang begitu tulus menyayangi dirinya layaknya anak sendiri.
...****************...
Assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 💪😘🙏
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?