NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Pelakor / Tamat
Popularitas:64.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.

Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~

Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.

Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.

Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.

Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.

Rana tahu.

Rana melihat.

Ia menyadari.

Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.

Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?

Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26

Selamat membaca
please komen, subscribe, vote, dan like🫶

°°°°°

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pucuk 13

Perjalanan kembali dari Jakarta menyisakan lelah, tapi juga kelegaan yang sulit dijelaskan.

Sidang telah selesai. Hak asuh Raka jatuh ke tangan Laras. Perempuan itu memilih tinggal beberapa hari di Jakarta, sementara Dipta... memilih pulang.

Dan pagi itu, tanpa banyak rencana, ia memutuskan sesuatu yang sederhana.

Liburan.

~

Mobil melaju menuju Pantai Parangtritis, membawa empat orang yang untuk beberapa waktu terakhir terasa kembali utuh.

Di kursi belakang, tawa Alaric pecah tanpa beban. Anak itu menunjuk ke luar jendela, bercerita tentang apa saja yang ia lihat. Masayu di sampingnya ikut tertawa kecil, sesekali mengandarkan kepala dibahu kakaknya.

Rana duduk tenang, sesekali menoleh ke belakang, memastikan keduanya baik-baik saja. Senyum tipis tidak pernah lepas dari wajahnya.

Sementara Dipta...untuk pertama kalinya setelah sekian lama, terlihat benar-benar hadir.

Bukan sebagai pria sibuk, bukan sebagai suami yang penuh rahasia. Tapi sebagai seorang ayah. sebagai seorang suami.

~

Saat mereka tiba, angin pantai menyambut dengan lembut. Debur ombak bergulung seolah memanggil.

Alaric langsung berlari kecil, menarik tangan Rana.

"Bunda, ayo!"

Masayu tertawa, ikut berlari meski langkahnya masih kecil.

Hari itu berjalan ringan.

Pasir, tawa, dan angin yang membawa pulang sesuatu yang sempat hilang.

~

Namun sore datang lebih cepat dari yang mereka sadari.

Langit mulai berubah warna, jingga perlahan merambat, menelan biru langit.

Sedangkan kedua anak mereka sudah tertidur lelap di kamar hotel. Tubuh kecil mereka kelelahan setelah seharian bermain kejar-kejaran. Mbak Sari menjaga dengan setia.

Sementara itu, Rana dan Dipta kembali ke pantai. Berjalan tanpa alas kaki, membiarkan pasir menyentuh kulit mereka.

Debur ombak terdengar lebih dalam, lalu pecah ombak itu saling mengejar di bibir pantai. Suasananya lebih tenang daripada siang tadi.

Dipta menendang pasir pelan ke arah Rana. Perempuan itu sedikit terkejut, lalu menoleh dengan alis terangkat.

"Mas..."

Nadanya seperti teguran, tapi matanya menyimpan senyum. Rana membalas, menendang pasir kecil ke arah pria itu. Dipta terkekeh pelan. Untuk beberapa detik, mereka hanya seperti pasangan biasa. Tanpa beban. Tanpa masa lalu.

Namun Rana adalah Rana. Tenang, tapi tidak pernah benar-benar diam. Ia menghentikan langkahnya, menatap laut yang mulai berkilau diterpa cahaya senja.

"Mas..." ucapnya pelan.

Dipta menoleh.

"Ada yang ingin aku tanyakan."

Nada suaranya tetap lembut, tidak menekan, tidak menuduh. Hanya...meminta.

Dipta mengangguk kecil. "Apa?"

Rana menarik napas pelan.

"Kemarin...Nuri bilang dia melihat Mas di hotel. Bersama seorang perempuan."

Angin seolah berhenti sesaat. Dipta tidak langsung menjawab. Namun kali ini, ia tidak mengelak.

"Iya," ucapnya akhirnya.

Rana menoleh perlahan.

"Itu Laras."

Nama itu tidak asing. Perempuan yang pernah diperkenankan Dipta di lobi kantor. Dipta melanjutkan, suaranya lebih pelan.

"Aku membantu dia. Sidang perceraiannya dengan Pak Bram. Firma hukum kita yang menangani, Pak Tobing."

Rana mengangguk kecil. Masih tenang.

"Kenapa harus satu hotel, Mas?"

Pertanyaan itu sederhana. Tapi tepat. Dipta menghela napas singkat.

"Kami tidak satu kamar," jawabnya.

Sebuah kebohongan yang terdengar rapi.

Ombak kembali menghantam pantai. Rana menatapnya beberapa detik. Tidak ada emosi berlebihan di wajahnya. Namun matanya...membaca.

"Lalu kenapa Mas tidak cerita dari awal?" tanyanya lagi, lebih lembut.

"Kalau Mas datang dari Yogyakarta...bersama perempuan lain?"

Dipta menunduk sebentar. Lalu kembali menatap istrinya.

"Aku tidak ingin menyakiti kamu," ucapnya.

Nada suaranya jujur...atau setidaknya terdengar begitu.

"Aku tidak mau kamu berpikir macam-macam. Aku tidak mau rumah tangga kita rusak hanya karena prasangka."

Rana terdiam. Angin meniup rambutnya pelan. Ia menatap laut lagi, sebelum akhirnya berkata.

"Aku lebih menghargai kejujuran, Mas."

Suaranya tidak tinggi. Tidak juga dingin. "Terkadang...sekecil apa pun itu...aku ingin Mas cerita. Bahkan kalau itu menyakitkan."

Sunyi.

Senja hampir sempurna. Dipta melangkah mendekat. Jarak di antara mereka memudar. Tangannya terangkat, menyentuh wajah Rana dengan hati-hati.

"Maaf," desahnya.

"Aku hanya mau Mas anggap aku keluargamu, aku hanya ingin lebih dekat denganmu dari siapapun..."

"I love you"

Tiga kata sederhana. Namun kali ini...terasa seperti alasan. Seperti pembelaan.

"Aku hanya ingin tidak kehilangan kamu," lanjutnya pelan.

Rana menatapnya. Dan entah kenapa...hatinya luluh. Bukan karena tidak tahu, bukan karena tidak merasa, tapi karena ia... memilih.

Memilih untuk percaya.

Memilih untuk bertahan.

Perlahan, Rana tersenyum kecil. Sangat tipis, namun terlihat begitu tulus. Dipta menariknya kedalam pelukan. Terasa hangat dan dekat.

Seolah tidak ada yang pernah retak. Senja benar-benar tenggelam. Langit berubah gelap, menyisakan semburat terakhir cahaya. Di antara suara ombak dan angin malam-

Dipta menunduk, mengecup kening Rana dengan lembut. Rana memejamkan mata. Tangannya mencengkram pelan kemeja pria itu. Lalu perlahan, wajah mereka saling mendekat.

Bibir mereka bertemu. Lembut. Tidak tergesa. Seperti mengulang sesuatu yang pernah hilang. Seperti meyakinkan diri...bahwa semuanya masih ada.

Debur ombak menjadi saksi. Bahwa malam itu cinta mereka masih bertahan.

...****************...

Bersambung....

1
Bundanya Pandu Pharamadina
kak Author, terimakasih cerita bagus...
❤❤❤❤
Cheng Nyo
👍👍
Bundanya Pandu Pharamadina
Dipta Rana mungkin kurangnya komunikasi , semoga ga ada drama perempuan lain dalam rumah tangga kalian❤❤
Rosita Tumbelaka
Aq suka coment yg serius ajaa krn bikin Adrenalin ku naik..deg... deg... deg..
Rosita Tumbelaka
Ayoo Thor.... lanjut ...aneh istri nya bicara dgn pria lain di muka Umum marah. tapi suami berdua an dgn perempuan lain di tempat private mkn di resto ... apa itu pantas...
Bundanya Pandu Pharamadina
aduh Dipta gimana sih.... nggapeka dgn istri yg cemburu
Bundanya Pandu Pharamadina
Dipta jangan main api.. ingat istri juga anak² yg menunggu kepulanganmu
Bundanya Pandu Pharamadina
Laras ga tepat waktu klo telfon.. ga lihat waktu,
Bundanya Pandu Pharamadina
semoga ga ada drama kegoda masa lalu, tetap jadi keluarga harmonis Dipta Rana❤
Bundanya Pandu Pharamadina
masa lalunya Dipta kah laras....
Bundanya Pandu Pharamadina
ijin marathon kak Author🙏
Ririn Nursisminingsih
kereen rena👍👍
Ririn Nursisminingsih
syukurin Dipta terus aja bahagiain mntan kmu itu
Ririn Nursisminingsih
dipta kmu mulai main hati rena jg mudah percaya ini juga sang mntan ganggu aja
Sayekti 0519
baguss dan nyata sakitnya
Memyr 67
𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖺𝗋𝖺𝗉 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗆𝖾𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋𝗄𝖺𝗇 𝖼𝖺𝗅𝗈𝗇 𝗃𝖺𝗇𝖽𝖺. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗇𝗂 𝗌𝗎𝖺𝗆𝗂
Memyr 67
𝗌𝗎𝖺𝗆𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖽𝗂𝗄𝗂𝗋𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖾𝗇𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗌𝖺𝗄𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗆𝖺𝗌𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺? 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗋𝖺𝗃𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗌𝗎𝖺𝗌𝖺𝗇𝖺 𝗋𝗎𝗆𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗋𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝗇𝗒𝖺𝗆𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺? 𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋 𝗈𝗍𝖺𝗄 𝖽𝗂 𝖻𝗈𝗄𝗈𝗇𝗀
Nha_A
IRT apa thoor? Ibu Rumah Tangga? kirain kalo pembantu itu ART, Asisten Rumah Tangga
🍀 YEHPPEE 🍀: typo kayak nya hehe makasih koreksinya
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart/
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih
total 1 replies
Gemuruh riuh
akhirnya happy ending 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!