NovelToon NovelToon
Suami Dadakanku Penjual Bakso Bakar

Suami Dadakanku Penjual Bakso Bakar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama di kontrakan

Arumi  kembali mengahabiskan sisa bakso bakar yang ada dipiring sambil ngobrol ,ia merasa sekarang lebih nyaman ngobrol bersama Elang ,dia merasa tidak kesepian

"Memang kamu belum kenyang ,kalau belum Aku buatkan lagi ." Elang tersenyum melihat Arumi begitu lahapnya makan bakso bakar sisa tadi yang ada dipiring

"Nggak usah, Mas ! ini Aja Habisnya ini enak sekali sayang kalau basi . Mas belajar bikin bakso dari mana?"

Elang menyandarkan punggungnya ke dinding tembok yang catnya mulai mengelupas. "Sebenarnya, itu bukan buatanku. Aku hanya mengambil dari orang lain untuk dijualkan. Istilahnya, aku hanya agen lapangan. Untungnya memang sedikit, tapi lumayan untuk menambah pemasukan."

Arumi tertegun. Ia mengira Elang adalah pengusaha mikro yang merintis usahanya dari nol dengan membuat bahan sendiri.

"Kenapa Mas tidak coba buat sendiri saja? Bukannya keuntungannya bakal lebih besar kalau diproduksi sendiri?"

Elang menggeleng perlahan. "Dapat untung sedikit tidak apa-apa, Arumi. Hitung-hitung bagi rezeki untuk orang yang memproduksinya. Lagi pula, aku tidak punya banyak waktu untuk mengolah daging dan menusuk-nusuk bakso setiap hari. Aku punya kesibukan lain di siang hari."

Kening Arumi berkerut. Ia menilai pria di depannya ini adalah tipe pekerja keras yang luar biasa. "Maksud Mas, Mas punya

pekerjaan lain selain berjualan bakso bakar?

"Iya," jawab Elang singkat, senyumnya masih menghiasi bibir. "Kalau malam dan aku tidak terlalu capek, aku keluar dengan gerobak. Tapi dari pagi sampai sore, aku bekerja di kantor."

"Kantor? Mas bekerja di mana?" tanya Arumi antusias. Ia semakin terpesona. Penjual bakso yang ia nikahi ini ternyata bukan sembarang pria. Ia memiliki dedikasi yang tinggi untuk masa depannya.

"Aku hanya pegawai rendahan di sebuah perusahaan besar, Arumi. Hanya staf biasa," ujar Elang merendah.

Arumi tertawa kecil, rasa canggungnya perlahan mencair. "Kalau itu sih kita sama, Mas! Aku juga hanya pegawai marketing yang sering jadi pesuruh senior. Kita ini sama-sama pejuang korporat di siang hari dan pejuang hidup di malam hari."

Arumi teringat bagaimana di kantornya sendiri, ia sering diperlakukan semena-mena oleh Rina, sang sekretaris direktur yang arogan. Rina sering memberinya tumpukan dokumen di luar deskripsi kerjanya hanya karena Arumi tidak pandai menjilat atasan.

Tapi Arumi bertahan, karena hanya dengan bekerja ia bisa menjaga sedikit martabatnya agar tidak dianggap sampah oleh ibu tirinya di rumah

"Mas, tinggal di kota ini kan biayanya mahal. Maaf kalau aku lancang, tapi berapa harga sewa kontrakan ini sebulan?" tanya Arumi ragu-ragu. Ia merasa tidak enak jika harus menumpang gratis, meskipun mereka sudah sah sebagai suami istri.

Elang menatapnya heran. "Kenapa bertanya begitu? Kamu mau ikut bayar?"

Arumi menunduk, memainkan jarinya. "Iya, Mas. Tapi mungkin nanti setelah aku gajian. Sekarang aku benar-benar tidak pegang uang. Dompetku kosong dan uang di tas ini hanya sisa seratus ribu, ditambah uang mahar darimu yang dua ratus ribu  itu."

Suara Arumi bergetar. Ironis memang, seorang wanita karier yang bekerja di perusahaan ternama, namun secara finansial ia lebih miskin daripada pedagang kaki lima karena eksploitasi keluarganya sendiri.

Elang menghela napas panjang, tatapannya melembut. "Arumi, dengarkan aku. Kontrakan ini sudah kubayar lunas untuk tiga bulan ke depan. Kamu tidak perlu memikirkan biaya sewa. Simpan saja uangmu nanti untuk keperluan pribadimu. Aku suamimu, sudah kewajibanku menyediakan tempat bernaung."

Kelembutan suara Elang membuat Arumi terdiam. Ia hampir lupa kapan terakhir kali ada seorang laki-laki yang berbicara selembut itu kepadanya tanpa ada maksud terselubung.

"Terima kasih, Mas. Kamu benar-benar orang baik," bisik Arumi tulus.

"Sama-sama. Oh iya, kamu belum tahu ya aku bekerja di mana?" Elang memancing obrolan lagi.

"Iya, Mas kerja di mana?"

"Digantara Group."

Mendengar nama itu, Arumi hampir melompat dari duduknya. "Apa? Mas Elang bekerja di Digantara Group juga?"

"Lho, kenapa wajahmu kaget begitu?"

"Mas, aku juga bekerja di sana! Kita satu perusahaan!" seru Arumi dengan nada senang yang tak bisa disembunyikan. Bayangan akan memiliki teman "senasib" di kantor besar itu membuatnya merasa lebih aman.

"Benarkah? Wah, dunia memang sempit ya," sahut Elang. "Tapi aku tidak pernah melihatmu di sana."

"Aku di divisi Marketing, Mas. Kantor kita kan luas, pegawainya ribuan. Tapi Mas di bagian apa? Kenapa aku juga tidak pernah melihat Mas?"

Elang tampak ragu sejenak, lalu ia tersenyum tipis. "Aku di bagian Cleaning Service, Arumi. Pegawai kebersihan. Wajar kalau kamu tidak melihatku, karena aku lebih banyak bergerak di area-area yang mungkin jarang kamu lalui, atau mungkin saat aku sedang mengepel, kamu sedang sibuk mengejar klien."

Arumi terdiam sebentar, lalu tersenyum manis. "Mungkin saat itu kita memang belum berjodoh untuk bertemu, Mas. Dan ternyata, Tuhan menyimpan pertemuan kita untuk momen yang lebih besar ... di pelaminan dadakan ini," sahut Arumi sedikit menggoda, membuat Elang ikut terkekeh.

 ### Kesepakatan di Ambang Pintu Kamar

Setelah piring bersih dan bakso habis tak bersisa, Arumi segera membereskan bekas makan mereka. Ia mencuci piring dengan cekatan di dapur kecil yang terletak di bagian belakang. Arus dingin mulai menusuk tulang, dan rasa kantuk yang berat mulai menyerang matanya.

"Mas ...  aku sudah sangat mengantuk," ujar Arumi sambil menguap kecil.

"Tidurlah, Arumi. Ini sudah jam satu lewat," jawab Elang yang sedang merapikan beberapa barang di meja.

"Tapi ... aku tidur di mana?" tanya Arumi ragu. Ia menoleh ke arah dua pintu kamar yang ada di sana.

"Tidurlah di kamarku. Itu kamar yang sudah siap pakai," jawab Elang santai.

Jantung Arumi berdegup kencang."Terus ... Mas tidur di mana? Mas mau kita ... satu kamar?" tanya Arumi dengan nada sedikit panik. Tangannya meremas ujung kaosnya.

"Maaf Mas, tapi aku benar-benar belum siap jika harus tidur seranjang denganmu malam ini. Semuanya terlalu cepat."

Elang menghentikan kegiatannya, lalu menatap Arumi dengan tatapan yang sangat tenang. Tidak ada kemarahan atau kekecewaan di sana

"Arumi, tenanglah. Aku paham. Aku tidak akan memaksamu melakukan apa pun yang belum kamu sanggupi. Kita memang sudah sah, tapi aku tahu kita masih asing satu sama lain. Masuklah ke kamar itu, kuncilah pintunya dari dalam jika itu membuatmu merasa lebih aman. Aku akan tidur di kursi panjang ini."

Arumi merasa sangat bersalah melihat Elang menunjuk kursi rotan yang tampak keras dan tidak nyaman itu."Tapi Mas, tubuh Mas pasti akan pegal-pegal kalau tidur di sana."

"Tidak apa-apa. Ini jauh lebih empuk daripada tidur di trotoar saat gerobakku rusak,"

candanya. "Besok, kita akan bersihkan kamar sebelah yang saat ini masih penuh barang. Kamu bisa memakai kamar itu sebagai kamar pribadimu sampai kamu merasa nyaman denganku. Bagaimana?"

Arumi mengangguk pelan, rasa haru kembali memenuhi dadanya. "Terima kasih, Mas. Maafkan aku ya ... aku hanya merasa sangat kaku."

"Iya, aku mengerti. Pergilah istirahat. Selamat malam, Arumi."

"Selamat malam, Mas Elang."

Arumi melangkah masuk ke dalam kamar Elang. Kamar itu kecil, namun sangat rapi dan wangi. Saat ia menutup pintu dan merebahkan tubuhnya di atas kasur busa yang sederhana, Arumi menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk. Di luar sana, di ruang tamu yang sempit, suaminya rela meringkuk di kursi keras demi menghargai batasannya.

Malam pertama di kontrakan itu tidak diisi dengan gairah, melainkan dengan rasa hormat dan perlindungan yang tulus. Arumi memejamkan mata, membiarkan kantuk membawanya pergi, merasa bahwa untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia akhirnya menemukan sebuah "rumah".

1
Neng Saripah
lama2 istrimu bisa curiga kamu belanja sebanyak itu ,lang 🤭
MayAyunda: he .he. .Iya kak
total 1 replies
Dwiwinarni
suatu saat nanti gilang akan membahagiakan arumi, sabar ya arumi sapa tahu gilang anak horang kaya😃
MayAyunda: he he
total 3 replies
Dwiwinarni
Arumi tidak sudi menikah sama juragan dirga, mending hidup jadi gembel dijalanan.. Elang bersedia menikah sama arumi...
Dwiwinarni
Bagus arumi jangan mau menikah juragan dirga sibandot tua itu🤭
Dwiwinarni
Elang hanya penjual bakso tusuk bakar, dihina abis2an...
Dwiwinarni
bagus itu baru pria gentmen elang...
Dwiwinarni
Kasian arumi yg jadi korbannya menikah sama bandot tua botak🤣🤭
MayAyunda: iya kak😄😄
total 1 replies
Rosmenti Sitanggang
lanjut thor💪💪
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Dwiwinarni
Ini mah kebalik cewek ngelamar cowok🤣dasar arumi belum kenal dah berani ngelamar😃
MayAyunda: he he 😁
total 1 replies
Nanik Arifin
semoga pernikahan kalian samawa & langgeng. baik tinggal dikontrakan petak maupun di mansion
MayAyunda: aamiin
total 1 replies
Nanik Arifin
tenang Arumi, suamimu ceo, pemilik perusahaan t4 kamu kerja
MayAyunda: iya kak .he.he
total 1 replies
Nanik Arifin
puas"in senyumnya Bu Lastri, krn setelah kepergian Arumi, gaya hidupmu & anakmu minta dilunasi. klo tak ada uang, ya udah bayar aj putrimu atau dirimu sendiri. lumayan kan, jadi istri Tuan Dirga yg kaya...😜
MayAyunda: .he .He ..betul itu kak😁
total 1 replies
Nanik Arifin
enak aj suruh Arumi yg membuat hutang lunas, kan yg pakai uangnya kalian? suruh aj tuh Rina nikah sama juragan Dirga, lagian pacarnya yg direktur blm tentu mau nikahi juga kan ? y ogahlah punya istri + mertua benalu
Nanik Arifin: masama. semangat thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!