Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.
Krek...
Pintu utama kediaman Fahri terbuka, Bella berjalan masuk dan memutar leher kesana kemari dengan langkah pelan, tidak ada yang berubah, semua masih sama seperti tiga bulan lalu. Hanya saja seperti ada yang hilang karena tak bisa lagi melihat wajah kakek Ahmad.
Sesampainya di kamar, mata Bella membulat sempurna mendapati lantai yang bertaburan dengan bunga, ada ratusan lilin yang menyala sebagai penerang. Begitu pula dengan ranjang yang dihiasi kelopak bunga berbentuk hati, banyak balon yang mengambang di langit-langit kamar.
Tidak hanya itu, bagian dinding di atas kepala ranjang juga dihias balon dan lampu tumblr berwarna warni, ada tulisan "Selamat datang kembali istriku tersayang"
Melihat semua itu, hati Bella mencelos, tidak menyangka Fahri bisa menyiapkan semua ini untuknya. Dibalik sikap dingin Fahri ternyata ada sisi romantis juga, Bella kemudian tersipu.
Dari balik pintu yang masih terbuka, Fahri masuk dan memeluk Bella dari belakang. "Bagaimana? Kamu suka?" tanya Fahri berbisik dengan dagu bertumpu di pundak Bella.
"Ya, suka." angguk Bella. Bagaimana tidak, seumur hidup baru kali ini dia mendapat surprise seperti ini, rasanya luar biasa, tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
"Ini baru permulaan, kedepannya akan ada banyak lagi yang akan kamu dapatkan." ucap Fahri.
Setelah mengetahui semua kebenaran tentang masa lalu Bella, Fahri bertekad dan berjanji pada dirinya sendiri untuk menomorsatukan Bella dalam hal apapun, banyak hutang yang harus dia lunasi.
Bella berbalik badan dan mencebik, matanya berkaca-kaca menatap lirih pada Fahri.
Melihat air mata Bella yang hampir jatuh, Fahri menyekanya. "Jangan menangis!" ucap Fahri dengan lembut kemudian mendekap Bella erat di dadanya.
Jam berdenting, hari sudah menunjukkan pukul 12 malam. Fahri menyuruh Bella istirahat terlebih dahulu, dia mau mandi karena tubuhnya sudah lengket berkeringat.
Setelah Bella berbaring di ranjang, Fahri menyelimutinya, mencium keningnya lalu berjalan ke kamar mandi.
Di bawah shower yang menyala, Fahri menyentuh lengannya yang mengeras, menggosok dadanya yang menonjol lalu mengusap perutnya yang berlapis seperti roti sobek. Tubuhnya sangat proporsional, benar-benar sempurna dipadu wajah yang maskulin.
Usai mandi, Fahri keluar dengan tubuh bertelanjang dada, hanya ada handuk yang melingkar di pinggangnya.
Sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil, dia berjalan menuju lemari, mengambil piyama dan memakainya.
Deg...
Ketika berbalik badan, Fahri terperanjat mendapati Bella yang senyum-senyum sendiri menatap ke arahnya, sedetik kemudian senyum itu hilang, mata Bella pun terlihat menutup.
Sejak keluar dari kamar mandi tadi, tidak sedikitpun Fahri menoleh ke arah ranjang, dia tidak tau kalau ternyata Bella sedang memperhatikannya diam-diam.
Sambil tersenyum tipis, Fahri melempar handuk basah ke sofa lalu naik ke ranjang, mengikis jarak yang ada diantara keduanya.
Dengan tubuh miring dan tangan terlipat di kepala, Fahri mematut Bella dengan intens akan tetapi Bella sama sekali tidak bereaksi. Penasaran, Fahri kemudian menempelkan hidungnya di sisi wajah Bella, menggerakkannya hingga membuat Bella tersenyum geli.
"Lihat apa tadi, hah?" tanya Fahri sambil mencubit pipi Bella. Seketika Bella pun membuka mata dan tertawa terbahak-bahak.
"Nakal," ucap Fahri yang ikut tertawa melihat tingkah Bella.
Melihat Bella seperti ini, Fahri sungguh bahagia. Andai dia sadar dari awal, dia tidak mungkin menceraikannya hingga harus kembali kepada kedua orang tuanya yang kejam.
Fahri benar-benar menyesal, kalau dari dulu seperti ini, mungkin dia dan Bella sudah memiliki anak, kakek Ahmad juga bisa beristirahat dengan tenang setelah melihat cicitnya.
Tapi apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur, Fahri tidak bisa mengulang kembali semua yang sudah terjadi tapi Fahri bisa mengubah masa depan. Dia memastikan tidak akan ada lagi kesedihan di wajah Bella, semua yang sudah menghancurkannya, akan menerima akibatnya.
"Sudah larut, ayo tidur!" ucap Fahri, dia merentangkan tangan, Bella pun masuk ke dalam dekapannya.
Untuk malam ini, biarlah mereka tidur seperti ini. Asal Bella tidak bertingkah, Fahri tidak akan kehilangan kendali. Fahri tidak ingin menakuti Bella apalagi memaksanya, biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya.
Siang tadi keduanya sudah rujuk di KUA. Jadi Bella tidak perlu khawatir memikirkan pandangan orang lain karena mereka merupakan pasangan yang sah, tinggal menunggu akta nikah baru yang akan keluar beberapa hari lagi.
...****************...
Di tempat lain...
Bruk...
Pintu rumah Sari terbuka lebar setelah dibuka paksa oleh beberapa orang pria tak dikenal. Engsel pintu sampai lepas karena memang sudah tua dan lapuk.
Dari dalam kamar, Sari tersentak dari tidurnya, dia langsung duduk dan mengambil kayu yang semalam memang sudah dia siapkan untuk berjaga-jaga, sepertinya hari ini akan berguna.
"Tidak ada, Bos." terdengar suara pria dari kamar depan, sepertinya sedang mencari sesuatu.
Pelan-pelan, Sari berjalan ke arah pintu kamar, berdiri di sampingnya dan mengangkat kayu di udara. Dia sudah siaga memasang kuda-kuda.
Bruk...
Pintu kamar terbuka lebar, dengan segala kekuatan yang dia miliki Sari memukul kepala seorang pria yang tiba-tiba muncul di hadapannya, pria itu mengerang sebelum akhirnya tersungkur di lantai.
"Ada apa?" terdengar suara lain dari luar sana.
Plak...
Sari berhasil meruntuhkan pria kedua yang masuk ke kamarnya hingga kepalanya mengeluarkan darah segar.
"Apa yang kalian lakukan di sini, hah?" berang Sari dan kembali memukul keduanya bergantian, akan tetapi disaat yang sama muncul pria lain yang tiba-tiba menendang Sari hingga terjerembab ke lantai.
Dua pria yang tergeletak tadi bangkit, menyeret Sari beberapa meter ke ruang tamu lalu mengikatnya.
"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?" tanya Sari, dia meringis kesakitan, keningnya terluka akibat membentur sudut ranjang saat jatuh di kamar tadi, kakinya juga tergores karena diseret barusan.
Tanpa berbasa-basi, salah satu pria itu langsung saja menanyakan keberadaan Bella, dengan gamblang Sari pun mengatakan tidak tau.
Plak...
Wajah Sari berputar 35 derajat usai mendapat tamparan keras dari salah satu pria yang dia pukul tadi, pipi Sari terasa kebas, sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Cih..
Sari mendecis, meski dipukul, ditampar, ditendang, bahkan dibunuh sekalipun dia tidak akan pernah memberi tahu dimana keberadaan Bella saat ini.
Dalam keadaan yang sudah lemah, Sari bersyukur karena Bella sudah tidak ada lagi di rumahnya, untunglah Fahri bergerak cepat membawa Bella pergi karena Sari sudah menduga hal seperti ini pasti akan terjadi.
Setelah memeriksa setiap sudut rumah dan memastikan bahwa Bella benar-benar tidak ada di sana, ketiga pria itu memutuskan pergi meninggalkan Sari yang masih terikat dan meringkuk di lantai.
Sari meronta-ronta, berusaha melepaskan tangannya yang terikat ke belakang namun tidak bisa. Beberapa kali dia juga berteriak meminta tolong tapi tidak ada yang datang.
Mungkin karena sudah tengah malam, para tetangga sudah pada tidur jadi tak seorang pun yang mendengar teriakannya.
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡