Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Selesai
Malam di Aruba tak pernah benar-benar sunyi. Suara deburan ombak Pantai Palm yang menghantam karang terdengar seperti detak jantung yang tak beraturan di telinga Helen Kusuma. Di dalam suite 901 yang luas, cahaya lampu temaram menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding, seolah mengejek kekacauan yang terjadi di dalam batinnya.
Helen berdiri di balkon, membiarkan angin laut yang lembap menerpa wajahnya. Di pergelangan tangannya, gelang perak pemberian Andre Willson terasa dingin, namun sentuhannya memicu panas di sekujur tubuhnya. Kata-kata Andre terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak: “Perlindungan tanpa kebebasan adalah penjara... Kau terlalu cerah untuk dibiarkan padam di sisinya.”
Ia menoleh ke dalam ruangan. Di sana, Ario Diangga masih terjaga. Pria itu tampak seperti siluet dari masa lalu yang kelam, duduk kaku di depan deretan layar monitor yang memancarkan cahaya biru pucat ke wajahnya yang kuyu.
Siapa pria ini sebenarnya? batin Helen perih.
Selama dua puluh delapan tahun, dunia Helen adalah sebuah gelembung kaca yang dijaga ketat oleh mendiang ayahnya, Aditya Kusuma. Baginya, pria adalah sosok pelindung yang otoriter namun penuh kasih. Ia tak pernah diizinkan mengenal gairah, pengkhianatan, atau bahkan sekadar romansa picisan di balik tembok rumah Menteng. Kini, dalam waktu singkat, ia dilempar ke dunia luar, dipaksa menikah di balai desa yang kotor, dan diasingkan ke ujung dunia bersama pria yang mengaku membenci ayahnya namun bersumpah melindunginya.
Apakah aku mencintainya? pertanyaan itu muncul dan seketika membuat Helen merasa mual. Bagaimana mungkin ia mencintai seseorang yang menjadikannya bidak catur? Bagaimana mungkin ia mencintai pria yang lebih sering bicara dengan algoritma daripada dengan istrinya sendiri?
Pernikahan ini, yang awalnya ia anggap sebagai sekoci penyelamat di tengah badai, kini mulai terasa seperti jangkar besi yang menyeretnya ke dasar samudera.
****
Helen melangkah masuk, menutup pintu balkon dengan denting kaca yang tajam. Ia ingin bicara, ingin meledak, ingin mencari kejelasan di mata suaminya.
"Ario," panggilnya lirih.
Ario tidak menjawab. Jari-jarinya masih menari di atas keyboard.
"Ario, lihat aku!" suara Helen meninggi, pecah oleh frustrasi.
Ario menghentikan gerakannya. Ia menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti kelelahan yang sudah mencapai batas. Ia memutar kursinya perlahan. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap tajam ke arah pergelangan tangan Helen—ke arah gelang perak itu.
"Apa yang kau inginkan, Helen? Aku sedang mencoba memulihkan jalur komunikasi dengan orang-orang kita di Jakarta. Beatrix baru saja menyewa pembunuh bayaran untuk melacak keberadaan kita di pulau ini. Apa kau mengerti?"
"Aku tidak peduli dengan strategimu malam ini!" balas Helen, air mata mulai menggenang. "Aku peduli pada kita. Pada pernikahan konyol ini. Kau tidak pernah menganggapku ada, kecuali saat kau butuh aku untuk akting di depan layar laptopmu!"
Ario berdiri. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan aura intimidasi yang biasanya membuat Helen ciut, namun kali ini Helen tidak mundur.
"Kau bicara soal 'kita'?" Ario tertawa getir. "Atau kau bicara soal pria pirang itu? Pria yang memberimu mainan murah di pergelangan tanganmu?"
Wajah Helen memucat. "Andre hanya seorang teman. Dia satu-satunya orang yang memperlakukanku seperti manusia di pulau ini!"
"Teman?!" Ario melangkah maju, suaranya kini menggelegar penuh kecemburuan yang ia bungkus dengan kemarahan. "Jangan naif, Helen! Aku melihat bagaimana dia menatapmu. Aku melihat bagaimana kau tersenyum padanya dengan cara yang tak pernah kau berikan padaku! Apa yang kalian lakukan di tebing itu? Berapa banyak rahasia yang kau berikan padanya sebagai imbalan atas rayuan manisnya?"
"Aku tahu wanita seperti apa kau ini, Helen," desis Ario, kata-katanya keluar seperti bisa ular. "Kau haus akan perhatian karena ayahmu mengurungmu terlalu lama. Begitu ada pria tampan yang memujimu sedikit, kau langsung menyerahkan dirimu, bukan? Apa kau sudah membiarkannya menyentuhmu? Apa kau melakukan hal yang tidak pantas di belakangku sementara aku bertaruh nyawa untuk masa depanmu?!"
****
Plakk!
Tamparan keras mendarat di pipi Ario. Suara tamparan itu menggema di ruangan mewah tersebut, diikuti oleh keheningan yang mencekam. Napas Helen tersengal-sengal, tangannya yang baru saja menghantam wajah suaminya terasa panas dan kebas.
Ario terdiam, kepalanya sedikit tertoleh ke samping akibat kekuatan tamparan itu. Sebuah bekas merah perlahan muncul di kulitnya yang pucat. Ia tidak membalas, namun matanya yang menatap Helen kini berubah menjadi sangat dingin—sedingin es di kutub utara.
"Kau menuduhku sekeji itu?" Helen berbisik, suaranya penuh dengan kepedihan yang mendalam. "Setelah semua yang kuhadapi... setelah aku dipaksa menikah denganmu demi nyawamu juga... kau menganggapku serendah itu?"
"Aku hanya bicara berdasarkan fakta, Helen. Kau pergi seharian dengan orang asing di saat kita sedang diburu," sahut Ario datar, suaranya kini tanpa emosi sama sekali.
"Faktanya adalah," Helen menyeka air matanya dengan kasar, "Aku tidak pernah mengenalmu. Dan aku menyesal telah mengikatkan nasibku pada pria berhati batu sepertimu. Pernikahan ini... pernikahan ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku."
Helen melepaskan cincin emas tipis dari jarinya—cincin pinjaman yang ia kenakan sejak malam di Balai Desa—dan melemparkannya ke atas meja kerja Ario, di antara deretan laptop yang masih menyala.
"Aku selesai, Ario. Aku ingin kita berakhir. Aku akan kembali ke Jakarta, biarkan Tante Beatrix menangkapku, biarkan dia membunuhku. Itu jauh lebih baik daripada hidup bersamamu tapi merasa seperti mayat hidup setiap hari."
Ario menatap cincin yang menggelinding di atas meja itu dengan tatapan kosong. Hatinya hancur, namun egonya yang terluka dan trauma masa lalunya membuatnya tetap membatu. Ia ingin menarik Helen ke dalam pelukannya, memohon maaf, dan mengatakan bahwa ia hanya takut kehilangan satu-satunya cahaya dalam kegelapannya. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
"Kau ingin pergi?" tanya Ario suara baritonnya pecah. "Silakan. Tapi jangan salahkan aku jika besok namamu hanya menjadi catatan kaki di berita duka Jakarta."
****
Sementara itu, di Jakarta, Beatrix van Amgard duduk di ruang kerjanya yang kini benar-benar telah bersih dari aroma Aditya Kusuma. Ia sedang menyesap anggur merah terbaiknya sambil menatap foto Helen dan Ario yang diambil secara sembunyi-sembunyi oleh intelijennya di Aruba.
"Lihatlah mereka," gumam Beatrix pada ruang kosong. "Sedang saling mencakar di surga kecil mereka. Aku bahkan tak perlu mengirim peluru untuk menghancurkan mereka. Cukup kirimkan sedikit kecurigaan, dan mereka akan hancur sendiri."
Beatrix tahu benar kelemahan Ario: ketidakmampuannya untuk percaya pada siapapun. Dan ia tahu kelemahan Helen: kelaparan akan cinta yang tulus. Andre Willson adalah bidak catur paling cerdas yang pernah ia kirim. Andre bukan hanya pria tampan; ia adalah racun yang dibungkus dengan madu.
"Bambang," panggil Beatrix.
"Ya, Nyonya?" Bambang muncul dari balik pintu.
"Siapkan dokumen penyitaan terakhir untuk sisa aset yayasan Aditya. Aku ingin saat Helen kembali—dan dia pasti akan kembali setelah hatinya hancur oleh suaminya sendiri—dia tidak punya tempat bahkan untuk bersimpuh di makam ayahnya. Aku ingin dia benar-benar menjadi pengemis di tanah kelahirannya."
Beatrix tertawa, suara tawanya melengking tajam, menembus kaca-kaca tinggi gedung Van Amgard International.