NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Beda Usia
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Mahkota di Balik Jas Hitam

​Lorong batu alam yang membelah taman tropis resor ini diterangi oleh obor-obor kecil yang menyala eksotis di kiri dan kanannya. Sayup-sayup terdengar debur ombak Uluwatu yang menghantam karang, berpadu dengan alunan musik klasik dari arah aula perjamuan utama.

​Aku berjalan menyusuri lorong itu dalam keheningan, namun kali ini, tidak ada ketakutan yang membekukan kakiku.

​Di bahuku, tersampir jas tuxedo hitam berbahan wol premium milik Bumi. Jas itu kebesaran untuk ukuran tubuhku. Lengan jasnya menjuntai melewati jemariku, dan ujung bawahnya menutupi hingga ke pertengahan pahaku, menyembunyikan desain gaun merah murahan Rendra dengan sempurna.

​Aku tenggelam di dalam kehangatan dan aroma kasturi pria ini. Setiap kali kain jas itu bergesekan dengan kulit bahuku, aku seolah diingatkan bahwa aku sedang dijaga oleh benteng paling kokoh di dunia.

​Bumi berjalan tepat di sebelahku. Karena jasnya kulekatkan di pundak, ia kini hanya mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang lengannya digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana bahan hitam, suspender, dan dasi kupu-kupu yang sengaja dilonggarkan. Penampilannya sama sekali tidak terlihat seperti kehilangan jas; ia justru terlihat seperti seorang bos mafia muda yang baru saja selesai menaklukkan kota.

​Tangannya menggenggam tanganku dengan erat, menyalurkan kehangatan yang meredakan sisa-sisa gemetar di jemariku.

​"Apakah berat jasnya mengganggumu?" tanya Bumi pelan, tanpa menoleh, matanya tetap waspada memindai sekeliling.

​Aku menggeleng kecil. "Tidak. Ini... sangat nyaman. Tapi bagaimana jika dewan komisaris menganggap ini tidak sopan? Penampilanmu jadi tidak terlalu formal tanpa jas itu."

​Satu sudut bibir Bumi terangkat, membentuk senyum miring yang luar biasa tampan. "Sopan santun adalah bahasa untuk tamu. Malam ini, aku adalah tuan rumah bagi istriku sendiri. Biarkan mereka bicara."

​Kami tiba di depan pintu kayu mahoni ganda yang menjulang tinggi, pintu masuk menuju ruang perjamuan Private Dining. Dua orang pelayan berseragam rapi membungkuk dalam, lalu menarik kedua gagang pintu itu secara bersamaan.

​Cahaya lampu kristal raksasa langsung menyilaukan mata. Di tengah ruangan berornamen emas itu, terdapat meja makan bundar berukuran besar. Rendra Daniswara dan jajaran direksi senior Wiratmadja Tech sudah duduk mengelilingi meja, menyesap anggur merah sambil berbincang pelan.

​Begitu kami melangkah masuk, denting gelas dan sendok seketika terhenti. Keheningan total menyelimuti ruangan.

​Ratusan pasang mata—atau setidaknya terasa seperti ratusan—langsung tertuju pada kami. Namun, pandangan mereka yang tadinya dipenuhi antisipasi dan tatapan merendahkan, seketika berubah menjadi kebingungan, lalu kekecewaan yang sangat telanjang.

​Rendra, yang duduk di kursi utama, tampak menegang. Senyum angkuh di bibirnya luntur seketika. Matanya menyapu tubuhku, mencari gaun merah sialan berpotongan seronok yang ia kirimkan. Namun yang ia temukan hanyalah dinding kain hitam dari jas tuxedo yang membungkusku rapat dari leher hingga paha.

​Aku mengangkat daguku tinggi-tinggi. Dengan jas Bumi di pundakku, aku merasa seperti sedang mengenakan jubah kebesaran seorang Ratu.

​"Selamat malam, Tuan-tuan," sapa Bumi dengan suara baritonnya yang menggelegar tenang, memecah kesunyian. Ia menuntunku menuju dua kursi kosong yang tersisa di meja tersebut, lalu menarik salah satu kursi untukku dengan gestur gentleman yang sempurna.

​Rendra meletakkan gelas anggurnya dengan hentakan yang cukup keras hingga cairan merahnya memercik ke taplak meja. Rahang pria aristokrat itu mengeras hingga ototnya berkedut.

​"Penampilan yang... sangat unik, Aruna," desis Rendra, matanya berkilat penuh amarah yang ditahan. "Kukira aku sudah mengirimkan gaun sutra terbaik Milan untukmu. Apakah gaun itu tidak muat? Atau resor bintang lima ini terlalu dingin hingga kau harus memakai jas suamimu ke acara resmi?"

​Beberapa komisaris tua ikut berdeham, menatap kami dengan pandangan menghakimi.

​Aku baru saja akan membuka mulut untuk menjawab, namun tangan Bumi—yang kini duduk di sebelahku—lebih dulu terulur, meletakkan tangannya di atas pahaku di bawah meja, meremasnya lembut untuk mengisyaratkan agar aku diam. Biar dia yang mengambil alih.

​Bumi menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sangat santai, menatap Rendra dengan senyum tipis yang mematikan.

​"Gaun pilihan Anda sangat luar biasa, Pak Rendra. Sangat... terbuka," jawab Bumi, menekankan kata terakhir dengan nada yang membuat udara di ruangan terasa turun beberapa derajat.

​Bumi mengambil gelas air putih di depannya, menyesapnya perlahan, lalu kembali menatap Rendra. "Namun, sebagai suaminya, saya memiliki kebijakan yang sangat ketat mengenai privasi. Kecantikan istri saya bukanlah pameran seni yang bisa dinikmati secara gratis oleh publik. Saya lebih suka menyimpannya rapat-rapat, khusus untuk mata saya sendiri saat kami berada di kamar nanti."

​Pernyataan itu diucapkan dengan nada yang sangat sopan, namun isinya adalah tamparan telak yang bergema ke seluruh ruangan.

​Wajah Rendra memerah karena dipermalukan. Bumi tidak hanya menolak gaunnya; Bumi baru saja mendeklarasikan kepemilikan mutlak atas tubuhku di depan seluruh laki-laki tua bangka yang mungkin tadinya berharap bisa mencuci mata mereka.

​Beberapa komisaris saling pandang dengan canggung, buru-buru menyesap minuman mereka untuk menutupi rasa salah tingkah.

​"Selain itu," lanjut Bumi, kali ini menoleh menatapku dengan sorot mata yang tiba-tiba melembut, seolah kami hanya berdua di ruangan itu. Ia merapikan kerah jas yang kupakai dengan ujung jarinya. "Dia terlihat jauh lebih menawan saat memakai pakaianku. Bukankah begitu, Sayang?"

​Wajahku seketika terbakar. Kupu-kupu di perutku tidak lagi sekadar beterbangan, mereka sedang menggelar pesta kembang api. Aku hanya bisa mengangguk pelan, sepenuhnya terhipnotis oleh tatapan pria ini.

​Sisa makan malam itu berjalan dengan tensi yang bisa diiris menggunakan pisau. Rendra beberapa kali mencoba memprovokasi kami dengan pertanyaan-pertanyaan menjebak seputar kehidupan rumah tangga, masa lalu, hingga rencana kepemimpinan perusahaan. Namun Bumi menangkis semuanya dengan keanggunan seorang diplomat dan ketajaman seorang algojo.

​Tepat saat hidangan penutup berupa crème brûlée disajikan, alunan musik dari kuartet gesek yang bermain di sudut ruangan berubah menjadi melodi waltz yang sangat lambat dan romantis.

​Rendra berdiri dari kursinya. Ia merapikan jas beludrunya, menatap kami dengan senyum sinis yang baru saja ia perbaiki.

​"Makan malam yang luar biasa," ucap Rendra. "Tapi sebuah business retreat yang merangkap bulan madu tidak akan lengkap tanpa tarian pertama dari pengantin baru kita. Benar kan, rekan-rekan?"

​Para komisaris serentak mengangguk, beberapa bahkan bertepuk tangan pelan.

​"Lantai dansa sudah kami siapkan," Rendra menunjuk ke area kosong berlapis marmer mengkilap di tengah aula. "Tunjukkan pada kami, Bumi. Tunjukkan seberapa dalam cinta kalian yang sangat... mendadak ini."

​Napas ku tertahan. Ini adalah ujian fisik. Jika dalam posisi diam saja Rendra terus mencari celah, dalam sebuah dansa, bahasa tubuh tidak akan bisa berbohong. Jarak yang canggung, pijakan kaki yang ragu, atau pandangan mata yang menghindar akan menjadi bukti kuat bahwa kami adalah pasangan palsu.

​Bumi berdiri dari kursinya. Ia menunduk, mengulurkan tangannya padaku.

​"Ayo," bisiknya pelan.

​Aku meletakkan tanganku di atas telapak tangannya. Bumi menuntunku berjalan menuju tengah lantai dansa. Begitu kami berhenti di bawah cahaya lampu kristal utama, Bumi memutar tubuhku menghadapnya.

​Satu tangannya menggenggam tangan kananku, mengangkatnya sejajar bahu. Sementara tangan kirinya menyusup ke balik jas kebesaran yang kukenakan, melingkar kokoh di pinggangku, dan menarik tubuhku hingga menempel sempurna dengan tubuhnya.

​Aku tersentak pelan. Panas tubuhnya meresap melalui kain sifon gaunku.

​Kami mulai bergerak mengikuti alunan biola. Langkah Bumi sangat pasti, membimbingku dengan dominasi yang membuatku tidak perlu memikirkan ke mana arah kakiku harus melangkah. Aku hanya perlu mengikutinya. Mengikuti ritmenya. Mengikuti detak jantungnya.

​"Kamu pandai berdansa?" bisikku lirih, menatap tepat di titik jakunnya karena aku terlalu gugup untuk menatap matanya langsung.

​"Tidak sama sekali," balas Bumi, suaranya bergetar rendah di dekat telingaku. "Ini pertama kalinya aku berdansa seumur hidupku. Aku hanya menghitung ketukan musiknya di kepalaku dan memastikan sepatuku tidak menginjak kakimu."

​Aku tak bisa menahan senyum kecilku. Fakta bahwa pria ini sedang menggunakan otak programmer-nya untuk menghitung algoritma langkah dansa benar-benar menggemaskan.

​"Tatap mataku, Aruna," bisik Bumi lagi, kali ini nadanya berubah serius. Tangannya di pinggangku sedikit menekan, memaksaku mendongak.

​Mata gelapnya langsung memerangkapku. Tidak ada sandiwara di sana. Tatapan itu begitu intens, begitu nyata, seolah ia sedang mengupas seluruh lapisan jiwaku.

​"Rendra sedang menatap kita dengan mata elangnya," lanjut Bumi berbisik pelan, bergerak memutar tubuhku dengan mulus. "Dia mencari celah. Jadi, biarkan aku menutup celah itu."

​Sebelum aku sempat mencerna kalimatnya, tangan Bumi yang berada di pinggangku perlahan merayap naik menelusuri punggungku. Sentuhannya sangat pelan dan disengaja. Begitu tangannya mencapai bagian belakang kepalaku, jari-jarinya menyusup ke sela-sela rambutku yang diikat sanggul, melonggarkan jepitannya hingga rambut panjangku jatuh tergerai ke punggung.

​Aku terkesiap, dadaku naik turun dengan cepat.

​Bumi menundukkan wajahnya, menyandarkan keningnya di keningku. Ujung hidung kami bersentuhan. Ruang dan waktu di sekeliling kami seolah lenyap. Musik biola, tatapan Rendra, dan kehadiran para komisaris menguap menjadi latar belakang yang buram.

​"Di dunia yang nyata, Aruna..." bisik Bumi dengan suara yang sangat serak, mengalun lembut di bibirku. "...aku tidak peduli pada harta triliunan yang mereka perebutkan. Aku hanya peduli padamu."

​Jantungku berhenti berdetak sesaat, lalu berpacu gila-gilaan. Rentetan kata itu bukan untuk menipu Rendra. Ia mengucapkannya untukku. Hanya untukku.

​"Apakah... apakah ini masih bagian dari akting?" tanyaku terbata, suaraku nyaris tak terdengar.

​Ibu jari Bumi membelai tulang pipiku dengan kelembutan yang memabukkan. "Jika ini akting, maka aku adalah aktor terburuk di dunia. Karena aku sama sekali tidak sedang berpura-pura."

​Air mata haru mendesak di pelupuk mataku. Di tengah sangkar emas yang dipenuhi musuh mematikan ini, aku menemukan satu-satunya kebenaran yang tidak bisa dirampas oleh siapa pun. Cinta pria ini padaku.

​Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam pelukannya, merapatkan tubuhku sepenuhnya. Kami berdansa dalam gelembung keintiman yang membuat siapa pun yang melihatnya akan langsung memalingkan wajah karena merasa sedang mengganggu privasi yang terlalu suci.

​Di sudut mataku, aku bisa melihat Rendra membanting serbetnya ke atas meja dan bangkit berdiri dengan wajah merah padam karena murka. Ujiannya gagal total.

​Musik akhirnya perlahan berhenti.

​Bumi melepaskan keningnya dari keningku, namun ia tidak melepaskan dekapannya. Napas kami sama-sama memburu.

​Bumi menunduk sedikit, menempelkan bibirnya di telingaku lagi. Namun kali ini, nada suaranya berubah seratus delapan puluh derajat. Nada romantis yang meluluhkan hati itu lenyap, digantikan oleh suara tajam dan kalkulatif seorang hacker.

​"Senyumlah yang lebar, Sayang," bisik Bumi. "Saat aku berjabat tangan dengan Rendra dan menabrak bahunya saat masuk ruangan tadi, aku berhasil menempelkan alat pemindai RFID mini di saku jasnya. Aku baru saja menyalin seluruh data dari ponsel pribadinya dan kartu akses master resor ini."

​Mataku membelalak lebar. Aku menatapnya tak percaya, masih dengan senyum manis yang dipaksakan. Dia... dia mencuri data Rendra di tengah-tengah konfrontasi panas tadi?!

​Bumi menuntunku berjalan keluar dari lantai dansa, mengabaikan dewan komisaris yang terdiam kaku.

​"Selamat malam, Tuan-tuan," ucap Bumi ringan saat kami melewati meja Rendra. "Istri saya terlihat lelah. Kami akan undur diri ke kamar."

​Kami melangkah keluar dari ruang perjamuan, menyusuri jalan setapak yang gelap menuju vila kami. Angin laut malam terasa dingin, namun darahku mendidih oleh kombinasi antara euforia asmara dan ketegangan aksi pencurian data.

​"Kau gila," desisku pelan saat kami sudah cukup jauh. "Jika Rendra sadar ponselnya dikloning—"

​"Dia tidak akan sadar sebelum besok pagi. Dan malam ini, data itu akan kita gunakan untuk meretas server utama London tempat ia menyembunyikan aliran dana pembunuhan suamimu," potong Bumi cepat. Matanya kini berkilat penuh tekad. "Malam ini kita tidak tidur, Aruna. Kita akan menghancurkan Rendra dari dalam ranjang kita sendiri."

​Langkah kami semakin cepat. Pintu kayu vila kami terlihat di ujung jalan setapak. Aku merogoh kunci kartu (keycard) dari saku kecil di balik jas Bumi.

​Namun, tepat ketika kami berbelok di sudut taman dan pintu vila kami berada dalam jarak pandang... langkah Bumi tiba-tiba terhenti secara mendadak. Ia menarik lenganku begitu kuat hingga punggungku menabrak dadanya. Tangan besarnya langsung membekap mulutku rapat-rapat.

​"Ssst..." desis Bumi tajam.

​Napas ku tertahan. Di bawah sinar temaram lampu taman, aku melihat apa yang membuat Bumi membeku.

​Pintu kayu vila kami... terbuka sedikit.

​Engselnya rusak, seolah baru saja dicongkel paksa. Dari dalam vila yang tadinya gelap gulita, kini tercium aroma yang sangat asing dan menyesakkan. Bau tajam asap rokok tembakau murah dan... bau karat darah.

​Seseorang sedang menunggu kami di dalam kegelapan kamar bulan madu kami.

Bumi perlahan mendorong tubuhku ke belakang punggungnya, menempatkan dirinya sebagai tameng hidup. Tangan kanannya merogoh saku belakang celananya, mengeluarkan sebuah alat kejut listrik portabel yang diam-diam ia selundupkan. Dari celah pintu vila yang terbuka, sebuah bayangan tinggi besar melangkah keluar perlahan, menginjak kelopak-kelopak mawar yang tadinya menghiasi lantai. Suara tawa serak dan berat menggema di kesunyian tebing Uluwatu. "Bulan madunya sudah selesai, pasangan palsu," ucap sosok itu, mengangkat sebilah parang yang berkilat memantulkan cahaya bulan. "Pak Rendra mengirimkan salam perpisahan untuk kalian berdua."

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐤 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐮𝐦𝐢, 𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐚𝐣𝐚 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐝𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐫𝐮𝐧 🤪🤪
Pardjan Yono
duh2 ..... aku liat bang Rendra senyum2 , saham nya kan 20%
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐧𝐞𝐠𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐧𝐣𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐢 𝐭𝐮𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐲𝐚

𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐨𝐤 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😊😊
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨𝟐 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐬𝐢𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐥𝐨𝐭 𝐭𝐰𝐢𝐬𝐭 𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐤𝐡𝐢𝐚𝐧𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐧𝐲𝐚, 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐨𝐧𝟐𝐧𝐲𝐚 😊😊🤪🤪🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐛𝐨𝐦𝐛𝐚𝐲 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐚𝐧𝐤 𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧? 🤔🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚

𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣

𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...


𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐁𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢, 𝐚𝐥𝐮𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐥....

𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Rio Mario
kok sepi sih padahal cerita bgus banget .. semangat kak💪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐪 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐤 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 😭😭😭
total 1 replies
Erna Lisa
mantap
Erna Lisa
lanjutkan
Erna Lisa
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!