NovelToon NovelToon
Rahasia Terpendam Kristal

Rahasia Terpendam Kristal

Status: tamat
Genre:Misteri / Penyelamat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:273
Nilai: 5
Nama Author: IZI.01

Seorang motivator populer tiba-tiba meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga memicu banyak asumsi di kalangan publik. Namun, tuduhan tersebut hanya ditujukan kepada seorang ibu muda yang berprofesi sebagai penulis novel bernama Kristal.
Rey, sebagai suaminya, tidak dapat menerima tuduhan tanpa dasar tersebut. Dia menyelidiki kebenaran. Karena baginya tidak hanya dirinya yang akan berdampak, Darrius putera semata wayang pasti juga terkena imbas.
Hasil penyelidikannya akhirnya mengubah seluruh keyakinannya pada istri tercintanya. Tetapi pertanyaannya, apakah Kristal benar-benar bersalah? Lalu apakah perasaan Rey tetap masih mencintai Kristal? Mampukah Kristal bertahan dengan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IZI.01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Sesuai janji, aku sampai di sebuah mall premium. Sementara waktu masih tersisa tiga puluh menit, sebelum jadwal pertemuan.

Sudah lebih dari setahun aku habiskan sepenuhnya di bidang penulisan novel, dan baru kali ini bisa berada di dalam mall. Kalau harus keluar dari apartemen, biasanya hanya untuk belanja keperluan selama sebulan. Itu pun hanya ke supermarket yang masih satu area. Atau bila memang keadaan mendesak, aku cukup menghubungi seseorang yang mau menghantarkan semua menu yang kuminta.

Jejeran etalese yang terlewati, serasa membangkitkan hasrat untuk memboyong semua barang yang kusuka. Langkah memang lurus ke depan, tapi pandangan selalu tertuju kesana. Barangkali ini yang dinamakan kodrat sebagai seorang perempuan.

Tak makan banyak waktu, aku langsung disambut waiter yang bertugas di depan pintu. Ornamen serta gaya arsitektur ruangannya memadukan unsur masa lampau dan masa kini.

"Selamat datang di tempat kami, mau pesan meja untuk berapa orang?" sapanya dengan ramah.

"Saya sedang ada janji bertemu dengan seseorang."

"Baik kalau begitu," dia pergi menyambut tamu yang lain. Aku menyisir pandangan mencari orang yang kumaksud. Sosok lelaki baya dengan tepuk tangan di udara, seperti memanggil dari jauh.

"Kristal!!" serunya lantang menyebut namaku.

"Hmm, benar ternyata, orang itu yang aku tunggu."

"Mari, silahkan. Mau kita lakukan di sini atau kita di luar?"

"Yah, di sini juga tidak apa-apa, Pak."

"Kamu mau pesan apa? Mas.." seorang waiter datang mendekat, "Iyah, ada yang bisa dibantu, Pak?"

"Saya cukup air mineral saja."

"Air meneral satu, dan saya pesan lagi satu margarita."

Melihat wajah sosok Gatot Purba, bagaikan seorang tanpa dosa, tulus, atau bisa dikatakan angel face. Pancaran emosi yang terasa juga teduh. Di tambah dengan busana yang serba parlente.

"Saya ulangi, satu margarita dan satu air mineral. Harap ditunggu sebentar pesanannya."

"Pertama-tama saya ingin mengetahui..,"

"Tunggu, biar saya potong! Kebetulan saya bawa buku," dikeluarkan sebuah buku saku, lantas diserahkannya, "Kamu bisa membacanya sampai tuntas. Jadi waktu kita nanti lebih efesien."

Sepintas aku baca sebagian isi yang tertulis disana, "Bagi saya sebagian besar dari buku ini sudah lengkap. Mengapa tidak langsung menjadikannya sebuah buku?"

"Awalnya saya juga berpikiran sama. Tapi masih banyak yang belum dituangkan. Beruntung saya bertemu dan konsultasi dengan Pak Ben. Dia katakan, sebaiknya saya buat baru. Karena jauh lebih lengkap dan menarik. Kira-kira bagaimana menurutmu?"

"Terus terang saya tidak bisa berkomentar banyak. Karena harus membacanya terlebih dulu."

"Bagus. Sangat bagus sekali. Dengan pendapatmu seperti itu, wajar saja kalau Pak Ben memilih kamu!"

Pelayan datang lalu menghentikan sejenak percakapan, "Permisi, ini semua pesanannya, Pak. Satu margarita dan satu air mineral. Apa ada lagi yang dibutuhkan?"

"Oh, benar kamu tidak pesan apa-apa? Jangan malu-malu, pesan saja!"

"Terimakasih. Tapi saya cukup air mineral."

"Sudah, sementara ini dulu, Mas."

Pak Gatot kembali berucap, "kita lanjutkan, sekarang apa yang ingin kamu ketahui dari saya?"

"Beberapa bagian akan saya kutip dari buku itu. Buku ini bisa saya bawa?"

"Tentu saya siapkan khusus untuk kamu. Ayo silahkan di minum dulu," kami saling meneguk gelas masing-masing.

"Pertanyaan pertama dari saya, saat ini apa saja aktifitas bapak?"

"Selain masih aktif menjalankan bisnis travel umrah dan haji, saya juga turut serta dibeberapa yayasan amal. Namun saya lebih dikenal luas sebagai seorang motivator. Nah, sekali waktu kamu harus datang ke seminar saya. Nanti saya akan kirimkan undangan ke kamu."

"Semoga saja saya bisa datang. Kemudian dengan kesibukkan yang super padat itu, bagaimana membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga?"

"Saya punya beberapa orang staf yang selalu setia membantu semua pekerjaan saya. Jadi rasanya tidak terlalu sukar untuk membagi waktu. Karena bagi saya, keluarga itu nomor satu. Semua yang sudah kita capai, tak akan mungkin terwujud tanpa ada doa dari keluarga."

"Selanjutnya, dari kesuksesan yang bapak raih, apa impian terbesar yang mungkin belum terwujud sampai saat ini?"

"Terlalu dini kalau kamu bilang saya sudah sukses. Masih banyak keinginan yang belum terwujud. Salah satu mimpi saya yang masih tertunda adalah memajukan tanah kelahiran saya. Di zaman sekarang ini, hampir sebagian besar orang berpikir, hidup di kota dapat menjamin masa depan lebih baik. Kalau semuanya berpikiran seperti itu, maka desa akan terbengkalai. Sebelum semua terjadi, sangat diperlukan pejuang tangguh yang mampu merubah pola pikir itu."

"Merubah pola pikir? Caranya bagaimana merubah kebanyakan orang yang berpikir sukses hanya ada di kota?"

"Salah satu langkah konkrit yang saya ingin lakukan adalah memberdayakan para pemuda-pemudi desa. Membuat kegiatan rutin untuk mereka. Kemudian tugas para orang tua membimbing semua pemuda-pemudi desa. Sampai tercipta sinergi yang positif. Kita tidak mungkin bisa merubah seseorang, kalau dari dalam diri kita masih menolak untuk berubah. Oleh karena itu.." baterai telepon selularku mendadak mati.

"Haduh.. HP saya mati! Ah, tapi tidak masalah, saya masih bisa mencatatnya di notes," kataku di sergap kegusaran.

"Lebih baik kita sambung di pertemuan berikutnya? Tidak perlu dipaksakan," katanya sembari memasukkan beberapa barang miliknya, lantas bangkit dari tempat duduk.

"Saya jadi merasa tidak enak wawancara kita hanya sebentar."

"Jangan terlalu dipikirkan! Nanti kita akan sambung lagi!"

"Pulang ke arah mana kamu? Apa mau pulang sama-sama?"

"Saya bawa kendaraan sendiri, Pak.

sosok Gatot Purba hendak berdiri, namun segera tertahan saat melihat waiter yang bergegas menghampirinya,”Mas, kemari! Berapa semuanya ini?"

"Sudah, biar saya saja yang bayar!" aku sedikit canggung menerimanya, tetapi karena di desak, mau tak mau aku tak mampu menolaknya.

Setelah dari sana kami berjabat tangan, lalu bersama meninggalkan restoran untuk berpisah arah.

1
Mamah Deni
Novel yang rekomen. Alur cerita singkat. Padat. pemilihan kata juga tepat dan mudah. cocok buat bahan bacaan. seharusnya bisa di taruh di rak toko buku yah. wajib baca sampai tuntas.
Mamah Deni
sederhana tapi alurnya menarik buat di baca tuntas. mantap😍
Mamah Deni
Ini pertama kali saya membaca novel di plarform digital. gak disangka bisa nemu tema yang unik. tutur bahasanya juga mengalir. langsung kebawa emosinya.😍
IzI
teruskan menulis, terus membaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!