Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: The Vintage Mirror
Kafe itu adalah definisi dari mimpi buruk bagi siapa pun yang sedang menghindari pantulan.
Dindingnya yang terbuat dari bata ekspos dipenuhi oleh cermin-cermin antik dengan berbagai ukuran. Ada yang bingkainya berlapis emas pudar, ada yang kayu ukirannya sudah dimakan usia, dan ada pula yang kacanya sudah kusam seperti berawan.
Sasha langsung beraksi. "Gila, ini sih spot foto paling gokil se-Selabintana! Del, sini, fotoin gue di depan cermin besar itu!"
Della terpaksa melangkah mendekat. Ia meletakkan tasnya di atas kursi kayu jati yang berat. Saat ia mengangkat HP untuk memotret Sasha, matanya tak sengaja melirik ke sebuah cermin oval kecil yang tergantung di sudut bar.
Di dalam cermin itu, spion tua di dalam tas Della yang seharusnya tertutup kain flanel terlihat memancarkan cahaya biru yang redup. Cahaya itu seolah sedang "menyapa" cermin-cermin lain di ruangan tersebut.
"Del! Fokus dong, miring nih fotonya," protes Sasha.
"Eh, iya, sori Sha," jawab Della gugup.
Geri yang menyadari kegelisahan Della, memilih untuk duduk membelakangi dinding penuh cermin. Ia memesan kopi hitam pekat, seolah pahitnya kopi bisa menetralkan suasana aneh di tempat itu. "Del, duduk. Loe jangan terlalu banyak keliling, gue berasa kayak lagi di wahana rumah kaca pasar malam."
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan kemeja batik rapi keluar dari ruang belakang. Rambutnya disisir klimis, dan ia mengenakan kacamata berbingkai emas yang sangat mirip dengan koleksi kacamata milik Della.
"Selamat sore. Saya Hendra, pemilik tempat ini," sapanya dengan suara bariton yang tenang. Ia tidak menatap Sasha atau Geri, melainkan langsung tertuju pada tas Della yang ada di atas meja. "Koleksi yang menarik, Neng. Jarang ada yang membawa 'barang hidup' ke kafe saya."
Della tersedak air mineralnya. "Maksud Bapak?"
Pak Hendra tersenyum misterius. Ia menarik kursi dan duduk tanpa diundang di meja mereka. "Cermin-cermin di sini semuanya punya cerita. Ada yang pernah menyaksikan pernikahan, ada yang pernah melihat tragedi. Tapi barang yang kamu bawa di dalam tas itu... dia bukan sekadar saksi. Dia adalah penuntun."
Sasha yang tadi asyik selfie, langsung terhenti. "Penuntun? Maksudnya GPS gitu, Pak? Ini kan spion rongsok."
Pak Hendra tertawa kecil, tapi matanya tetap tajam menatap Della. "Kamu tahu kenapa spion kiri itu pecah? Karena dia mencoba melihat sesuatu yang tidak diizinkan oleh takdir. Dan sekarang, dia memilihmu karena kamu punya darah yang sama dengan orang yang memecahkannya dulu."
Della merogoh tasnya, mengeluarkan spion tua itu dengan ragu. Saat benda itu diletakkan di atas meja, seluruh cermin di cafe The Vintage Mirror seolah-olah berputar secara sinkron, memantulkan bayangan spion itu dari berbagai sudut.
"Siapa Bapak sebenarnya?" tanya Della berbisik.
"Hanya seorang kolektor yang tahu cara menghormati sejarah," jawab Pak Hendra. Ia mengeluarkan sebuah jam saku dari sakunya jam yang sama dengan yang dilihat Della di pantulan pasar semalam. "Kakek buyutmu, Tan Hok Gie, pernah menitipkan sesuatu kepada ayah saya. Katanya, suatu hari, seorang gadis dengan motor matic dan mata yang tajam akan datang mencarinya."
Tiba-tiba, lampu cafe meredup.
Di semua cermin di ruangan itu, bayangan pelanggan lain menghilang. Yang tersisa hanya bayangan Della, Geri, Sasha, dan Pak Hendra. Namun, di belakang kursi Della, muncul sosok pria baju changshan itu lagi. Kali ini, dia tidak tersenyum. Dia menunjuk ke arah spion di meja.
Krak!
Retakan keempat muncul di permukaan spion Della.
"Dia minta makan," bisik Pak Hendra. "Dan makanan di kafe ini bukan untuk manusia. Neng Sasha, boleh saya pinjam bungamu?"
Sasha yang sedang memegang setangkai bunga mawar hiasan meja hanya bisa mengangguk kaku. Pak Hendra mengambil bunga itu dan mendekatkannya ke arah spion. Dalam sekejap, bunga itu layu dan mengering menjadi abu, seolah seluruh sisa hidupnya dihisap masuk ke dalam kaca retak itu.
Della gemetar. "Pak, ini harus dihentikan. Saya nggak mau benda ini nyakitin temen-temen saya."
"Kamu tidak bisa menghentikannya, Della. Kamu hanya bisa mengarahkannya," Pak Hendra berdiri, mengisyaratkan mereka untuk segera pergi. "Pulanglah. Sebelum cermin-cermin di sini memutuskan untuk menahan bayangan kalian selamanya."
Geri tidak perlu diperintah dua kali. Ia langsung menyambar kunci motornya dan menarik lengan Sasha yang masih bengong menatap mawar yang baru saja berubah jadi abu.
"Ayo, cabut!" Geri setengah menyeret Sasha keluar dari kafe.
Della menyambar spion tua itu, membungkusnya kembali dengan kain flanel dengan tangan yang masih gemetar. Saat ia berbalik untuk menyusul teman-temannya, ia sempat melirik ke arah cermin besar di dekat pintu keluar.
Di sana, ia melihat Pak Hendra masih berdiri mematung di meja mereka, namun di dalam cermin, Pak Hendra tidak sendiri. Sosok pria baju changshan itu berdiri tepat di belakangnya, meletakkan tangan pucatnya di bahu Pak Hendra.
"Jangan menoleh, Della," suara Pak Hendra terdengar menggema, padahal mulutnya di dunia nyata tidak bergerak. "Jalan terus."
Della berlari keluar menuju parkiran. Udara Salabintana yang dingin menusuk paru-parunya, tapi rasanya jauh lebih baik daripada udara pengap di dalam kafe penuh kaca itu.
Hening.
Tidak ada lagi obrolan seru di antara mereka. Suara mesin motor yang biasanya terdengar merdu, kini terdengar seperti rintihan. Della memimpin di depan, matanya fokus pada aspal, menghindari melihat spion kanan motornya (karena spion kiri masih tersimpan di tas).
Sasha yang dibonceng Geri tampak lemas. Kepalanya bersandar di punggung Geri, matanya sayu. Ia tidak lagi mengecek HP-nya. Padahal, bagi Sasha, tidak mengecek notifikasi selama satu jam adalah hal yang mustahil.
Sesampainya di rumah Sasha, suasana makin canggung.
"Gue... gue masuk dulu ya," gumam Sasha pelan. Ia turun dari motor Geri dengan gerakan yang sangat lambat, seperti orang yang sedang berjalan di dalam air.
"Sha, lo beneran oke? Sori soal tadi, gue nggak tahu kafenya bakal aneh gitu," Della mendekat, mencoba memegang bahu sahabatnya.
Sasha menoleh. Di bawah lampu teras yang temaram, Della menyadari sesuatu yang mengerikan. Mata Sasha tampak lebih gelap dari biasanya, dan saat Sasha berdiri di depan pintu kaca rumahnya, tidak ada bayangan yang terpantul di sana.
Hanya pintu kaca yang kosong.
"Gue oke, Del. Cuma pengen tidur," kata Sasha tanpa ekspresi, lalu masuk dan menutup pintu.
Della dan Geri berdiri membeku di depan pagar.
"Ger, lo liat kan?" bisik Della.
Geri mengangguk pelan, wajahnya mengeras. "Bayangan Sasha... bayangan dia ketinggalan di kafe itu, Del. Pak Hendra tadi bilang, cermin itu bisa menahan bayangan. Dan bunga yang layu tadi... itu cuma pengalih perhatian."
Della merosot lemas di samping Scoopy-nya, Rasa bersalah mulai menghimpit dadanya. Hobinya, motornya, dan spion terkutuk ini mulai merusak orang yang paling ia sayangi.
"Kita harus balik ke sana, Ger."
"Nggak malam ini, Del. Lo liat tangan loe," Geri menunjuk ke tangan Della yang memegang tas berisi spion.
Kain flanel itu mulai menghitam, dan dari sela-selanya, keluar asap tipis yang baunya seperti dupa pemakaman. Retakan keempat di spion itu ternyata menuntut sesuatu yang lebih dari sekadar bunga.
"Benda ini semakin kuat setiap kali kita ketemu hal-hal dari masa lalu keluarga loe," lanjut Geri. "Sekarang, lo pulang. Simpan benda itu di tempat yang nggak ada kacanya. Besok pagi, kita cari cara buat ambil bayangan Sasha."
Della pulang dengan perasaan hancur. Malam itu di kamarnya, ia memasukkan spion itu ke dalam kardus sepatu yang dilapisi kain hitam tebal, lalu menyimpannya di dalam lemari pakaian yang tertutup rapat.
Namun, saat Della mencoba tidur, ia tidak bermimpi tentang jalanan Sukabumi atau kuliner enak. Ia bermimpi berada di sebuah ruangan penuh kaca pecah, di mana setiap kepingannya menampilkan potongan memori Kakek Buyut Tan yang sedang menangis sambil memegang sebuah spion motor yang masih utuh.
"Maafkan saya... saya hanya ingin melihat mereka sekali lagi..." suara Kakek Tan meratap di dalam mimpinya.