NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:819
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
​Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pikiran di Balik Tembok

Malam itu, setelah pulang dari acara amal bersama Jeff Chevalier, Leah Ramiro tidak langsung tidur. Ia duduk di ambang jendela kamarnya, menatap taman bawah yang disinari lampu-lampu temaram. Pikirannya kalut. Sepanjang acara tadi, Jeff tidak berhenti menunjukkan klaimnya—tangan yang terus melingkar di pinggangnya, bisikan-bisikan tentang masa depan yang tidak pernah Leah inginkan, dan tatapan penuh kemenangan kepada setiap kolega bisnis Zefan.

Namun, yang paling mengganggu pikiran Leah bukan hanya perilaku Jeff yang semakin berani. Melainkan sosok yang berdiri diam di dekat pintu aula sepanjang malam: Denzel.

Leah mengingat bagaimana Denzel tetap berdiri tegak, tak bergerak sedikit pun, bahkan ketika Jeff sengaja mencium pelipis Leah tepat di depan matanya. Denzel hanya menunduk, wajahnya sedatar air di dalam gelas, tanpa riak emosi.

"Kenapa kau begitu kaku, Denzel?" bisik Leah pada kegelapan malam. "Apa kau benar-benar tidak peduli, atau kau hanya ahli dalam membangun tembok?"

Pertanyaan itu terus berputar di kepala Leah. Ia mencoba mengingat kembali setiap momen sejak Denzel bekerja untuk kakaknya. Denzel selalu ada. Saat Leah menangis karena nilai ujian yang buruk, Denzel adalah orang yang meletakkan cokelat hangat di mejanya tanpa suara. Saat Leah tersesat di tengah hujan karena ban mobilnya bocor, Denzel adalah orang yang datang paling cepat, bahkan sebelum Zefan mengangkat teleponnya.

Dulu, Leah menganggap itu semua hanyalah "pelayanan profesional". Namun sekarang, di tengah tekanan Jeff yang mencekik, Leah mulai melihat celah di balik tembok itu. Ia teringat getaran di tangan Denzel kemarin. Ia teringat kilatan luka yang sempat muncul di mata pria itu sebelum ia kembali memakai topeng "asisten".

"Apa mungkin... dia juga menderita?" gumam Leah.

Rasa ingin tahunya mulai mengalahkan rasa marahnya. Leah bangkit, ia keluar dari kamarnya dengan langkah pelan, tidak ingin membangunkan pelayan rumah. Ia berjalan menuju ruang kerja Zefan di lantai bawah. Ia melihat cahaya lampu masih merembes dari bawah pintu.

Di dalam, Zefan sedang duduk bersama Denzel. Zefan tampak jauh lebih tenang malam ini. Segelas wiski ada di tangannya, dan beberapa dokumen kontrak yang sudah ditandatangani Jeff terletak rapi di atas meja.

"Kerja bagus, Denzel," suara Zefan terdengar puas, mengalun lembut di balik pintu yang sedikit terbuka. "Jeff meneleponku tadi. Dia sangat senang dengan sikap Leah malam ini. Dia bilang kau sangat kooperatif dalam mengatur jadwal dan memastikan tidak ada gangguan."

Leah menahan napas. Hatinya mencelos mendengar kata "kooperatif".

"Terima kasih, Tuan Zefan," jawab Denzel. Suaranya terdengar sangat lelah, namun tetap terjaga.

"Aku benar-benar lega memilikimu, Denzel," lanjut Zefan sambil menyesap minumannya. "Aku sempat khawatir kau akan merasa tidak nyaman karena Jeff sering merendahkanmu. Tapi melihatmu tetap tenang dan profesional... itu membuatku tenang. Kau tahu, Leah itu keras kepala. Tapi jika dia melihatmu patuh pada instruksiku, dia perlahan akan mengikuti. Kau adalah kunci agar transisi ini berjalan mulus sampai kontrak investasi Chevalier cair bulan depan."

Zefan tertawa kecil, menepuk bahu Denzel. "Kau memang asisten yang sempurna. Tidak punya tuntutan, tidak punya ego yang meledak-ledak. Terkadang aku berpikir kau ini benar-benar tidak punya emosi pribadi jika menyangkut pekerjaan, dan itu adalah berkah bagiku."

Di balik tembok, Leah mengepalkan tangannya. Asisten yang sempurna. Tidak punya emosi pribadi. Bagaimana bisa kakaknya begitu buta? Bagaimana bisa Zefan menganggap ketenangan Denzel sebagai tanda bahwa pria itu baik-baik saja?

Leah melihat Denzel hanya mengangguk kecil sebagai respons atas pujian Zefan. Tidak ada bantahan. Tidak ada pembelaan diri. Denzel hanya menerima predikat "mesin" itu dengan lapang dada demi ketenangan majikannya.

Setelah Denzel keluar dari ruang kerja, Leah segera bersembunyi di balik pilar besar di koridor. Ia memperhatikan Denzel berjalan menuju kamarnya di paviliun samping. Langkah pria itu tidak sekuat biasanya; bahunya sedikit merosot, dan ia sempat berhenti sejenak untuk memijat pangkal hidungnya, seolah-olah ia sedang menahan sakit kepala yang luar biasa.

Leah mengikuti dari kejauhan. Saat Denzel sampai di depan pintu kamarnya, Leah memanggilnya.

"Denzel."

Pria itu tersentak, segera membalikkan badan dan menegakkan punggungnya dalam sekejap. Topeng profesionalismenya kembali terpasang sempurna. "Nona Leah? Kenapa Anda belum tidur? Ini sudah lewat tengah malam."

Leah berjalan mendekat, menatap Denzel dengan tatapan yang tajam, mencoba menembus tembok yang dibangun pria itu. "Aku mendengar apa yang dikatakan Kak Zefan tadi."

Denzel terdiam. Matanya tidak beralih dari Leah, namun ada ketegangan yang merambat di rahangnya. "Tuan Zefan hanya merasa lega karena masalah perusahaan mulai menunjukkan titik terang."

"Dia bilang kau asisten yang sempurna karena tidak punya emosi," desis Leah, melangkah satu tindak lebih dekat. "Apa itu benar, Denzel? Apa kau benar-benar merasa tenang melihatku ditarik ke sana kemari oleh Jeff Chevalier?"

"Perasaan saya tidak relevan dalam situasi ini, Leah," jawab Denzel datar.

"Tentu saja relevan!" Leah memukul pelan dada Denzel, frustrasi dengan jawaban yang selalu sama. "Kau adalah orang yang menjagaku 24 jam! Kau melihat semuanya! Kau melihat bagaimana Jeff memperlakukanku seperti barang miliknya! Bagaimana mungkin kau tidak merasakan apa-apa?!"

Denzel menatap tangan Leah yang masih menempel di dadanya. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar, berontak ingin diakui. Ia ingin sekali meraih tangan Leah, membawanya pergi, dan berteriak bahwa ia sedang sekarat di dalam diam. Namun, bayangan wajah Zefan yang tenang tadi kembali muncul. Zefan sedang bertaruh pada Denzel. Keluarga ini sedang bertaruh pada ketenangan Denzel.

"Saya hanya asisten, Leah," ucap Denzel, suaranya kini terdengar sangat rendah dan serak. "Seorang asisten tidak dibayar untuk memiliki perasaan. Saya dibayar untuk memastikan Anda tetap aman dan keluarga Anda tetap berdiri tegak."

Leah menarik tangannya kembali, matanya berkaca-kaca. "Kau pembohong, Denzel. Kau membangun tembok ini bukan untuk menjagaku, tapi untuk melindungi dirimu sendiri agar tidak terlihat menyedihkan."

Denzel menelan ludah yang terasa pahit. "Mungkin Anda benar. Tapi tembok ini adalah satu-satunya hal yang menjamin Anda tetap memiliki rumah ini besok pagi."

Leah menatap Denzel dengan rasa benci yang bercampur dengan rasa iba yang mendalam. Ia mulai menyadari bahwa Denzel tidak sedang bersikap kejam; pria itu sedang melakukan pengorbanan yang paling ekstrem. Denzel sedang membunuh jiwanya sendiri agar Leah dan Zefan bisa hidup nyaman.

"Aku membencimu karena kau membiarkan dirimu diperlakukan seperti ini," bisik Leah sebelum berbalik dan berlari menuju kamarnya.

Denzel tetap berdiri di depan pintunya, sendirian di bawah cahaya lampu koridor yang kuning pucat. Ia menatap telapak tangannya yang tadi sempat berada dekat dengan tangan Leah. Ia merasakan kehampaan yang luar biasa.

Zefan merasa tenang karena Denzel dianggap tidak punya emosi. Leah merasa benci karena Denzel dianggap terlalu patuh. Tidak ada yang tahu bahwa di balik tembok itu, ada seorang pria yang sedang hancur berkeping-keping, mencoba menyatukan kembali serpihan hatinya setiap malam hanya agar ia bisa bangun besok pagi dan kembali menjadi "asisten yang sempurna".

Denzel masuk ke kamarnya, menutup pintu, dan bersandar di sana. Dalam kegelapan, ia akhirnya membiarkan dirinya merosot ke lantai. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan isakan tanpa suara keluar dari dadanya yang sesak.

Tembok itu tetap berdiri. Sangat kuat. Sangat tinggi. Namun malam ini, Denzel menyadari bahwa tembok yang ia bangun bukan hanya mengurung perasaannya, tapi juga mulai menguburnya hidup-hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!