Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paradoks di Meja Perjamuan
Jakarta pukul sembilan malam adalah belantara lampu yang angkuh. Pada sebuah restoran privat di kawasan elite yang hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki nama dan angka nol tak terbatas di rekeningnya.
Adnan duduk dengan ketenangan seorang predator. Jas bespoke berwarna charcoal yang ia kenakan tampak menyatu dengan bayangan ruangan yang didominasi kayu mahoni dan aroma cerutu mahal.
Sebelum langkah kaki para kolega terdengar, ponsel di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari Mamanya.
“Adnan, Mama baru pulang dari rumahmu. Mama sedih sekali, Nak. Mama dan Papa menunggu Arini sampai jam sembilan malam tapi dia tidak ada di rumah. Bi Sum juga bingung, tadi sore Mama seperti melihat Arini di halte tua dekat sekolahnya dulu. Dia bersama laki-laki lain, Adnan. Mama harap mata tua Mama cuma salah lihat, tapi hati Mama tidak tenang, coba kamu tanya istrimu baik-baik.”
Adnan menatap layar itu tanpa ekspresi. Jemarinya tidak gemetar, Ia tidak langsung mengetik balasan penuh emosi. Baginya, pesan Mamanya hanyalah konfirmasi dari lembaran laporan Jo Bima Arianto yang sudah ia baca habis satu jam lalu.
Kebenaran tidak lagi mengejutkannya yang tersisa hanyalah kalkulasi tentang bagaimana cara mengeksekusi keadilan. Ia meletakkan ponselnya kembali dengan posisi layar menghadap ke bawah saat pintu geser kayu eks terbuka.
"Pak Adnan, para kolega dan perwakilan klien utama sudah tiba," bisik Bima yang berdiri sigap di dekat pintu.
Adnan mengangguk singkat. Wajahnya kembali terkunci dalam topeng profesionalisme yang dingin. Beberapa pria paruh baya dengan setelan mahal masuk, menyalami Adnan dengan penuh hormat. Mereka adalah para petinggi pengembang properti yang akan bekerja sama dalam proyek megah di pusat Jakarta.
Namun, suasana di ruangan itu mendadak berubah ketika seorang wanita melangkah masuk paling akhir. Bima, yang biasanya tidak mudah terdistraksi oleh penampilan fisik, sempat menahan napas sejenak.
Wanita itu mengenakan gaun cocktail berwarna zamrud yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat sempurna. Sebuah keindahan yang melampaui standar model catwalk. Keanggunannya bukan sekadar polesan kosmetik.
Melainkan aura yang memancarkan kecerdasan sekaligus sensualitas yang berkelas. Jika Arini adalah kecantikan yang lembut dan rapuh, wanita ini adalah api yang terkendali.
Adnan berdiri untuk menyambut klien utamanya. Namun gerakannya sempat tertahan sepersekian detik. Matanya menyipit, mencoba menggali memori di balik wajah yang tampak akrab namun jauh lebih matang dan memesona ini.
Wanita itu tersenyum sebuah senyum yang memiliki daya hancur cukup besar untuk meruntuhkan pertahanan pria mana pun.
"Lama tidak bertemu, Adnan. Sepertinya kamu butuh waktu lebih dari lima detik untuk mengenaliku," ucap wanita itu. Suaranya rendah, merdu, dan penuh percaya diri.
Adnan tertegun, suara itu menariknya kembali ke lorong-lorong kampus arsitektur sepuluh tahun yang lalu, "Clarissa? Clarissa Mahendra?"
Wanita itu tertawa kecil, melangkah mendekat hingga aroma parfum oud dan mawar hitam miliknya memenuhi ruang personal Adnan. Ia mengulurkan tangan yang jemarinya lentur dan bersih.
"Senang sekali kamu masih ingat kakak tingkatmu yang paling ambisius ini. Tapi sekarang, aku di sini sebagai perwakilan utama dari Mahendra Group. Klien yang mengatur jadwal pertemuan malam ini denganmu," ujar Clarissa.
Bima yang berdiri di belakang Adnan terkejut bukan main. Ia baru menyadari bahwa klien besar yang selama ini hanya ia komunikasikan lewat sekretaris adalah wanita ini. Clarissa dulu dikenal sebagai primadona kampus. Wanita cerdas yang lulus dengan predikat terbaik dan.
menurut rumor lama yang beredar adalah satu-satunya wanita yang berani mengejar Adnan secara terang-terangan. Namun selalu ditanggapi dengan sikap dingin oleh Adnan yang saat itu hanya peduli pada ambisinya.
Kini, Clarissa kembali bukan sebagai peminta cinta, melainkan sebagai penguasa modal.
"Silakan duduk, Clarissa. Saya benar-benar tidak menyangka kamu yang memimpin proyek ini," ujar Adnan, kembali menguasai keadaan meski ada riak aneh di dadanya.
Makan malam pun dimulai di tengah denting sendok perak dan diskusi teknis tentang struktur bangunan dan anggaran triliunan rupiah. Mata Clarissa sesekali menatap Adnan dengan cara yang sangat personal. Ia tidak menyembunyikannya.
Di depan para kolega, ia tetap profesional, namun setiap kali ia menyesap wine-nya. Matanya seolah sedang membaca setiap inci wajah Adnan.
"Aku dengar istrimu cantik, Adnan. Arini, bukan?" tanya Clarissa tiba-tiba di sela obrolan santai setelah hidangan utama, "Sayang sekali dia tidak ikut ke Jakarta."
Pertanyaan itu seperti belati yang diselipkan di antara kelopak bunga. Adnan tetap tenang, meski pesan dari Mamanya tadi kembali terngiang di kepalanya, "Dia sedang sibuk dengan kegiatannya di Surabaya."
Clarissa tersenyum tipis, jenis senyum yang menandakan ia tahu lebih banyak daripada yang ia ucapkan, "Tentu Surabaya memang penuh dengan kejutan di sore hari, bukan?"
Adnan menatap Clarissa lekat-lekat. Apakah wanita ini juga tahu? Apakah jaringan Mahendra Group sudah mencapai titik di mana mereka bisa mencium bau busuk di rumah tangganya?
"Kamu tetap sama, Adnan. Masih sangat terkendali," Clarissa berbisik pelan saat para kolega lain sedang sibuk tertawa mendengar lelucon salah satu investor.
"Tapi hati-hati, terlalu kaku bisa membuatmu terlambat menyadari kalau sesuatu yang kamu jaga sudah hancur dari dalam."
Adnan tidak menjawab. Ia hanya menatap gelas kristalnya yang memantulkan cahaya lampu gantung di atas meja. Di satu sisi, ia memiliki istri yang berkhianat di sebuah halte tua dan studio kumuh di Surabaya.
Di sisi lain, ia berhadapan dengan wanita dari masa lalunya yang kini memiliki segalanya dan tampak ingin menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar kontrak bisnis.
Rapat itu berakhir pukul sebelas malam. Saat Clarissa berdiri untuk berpamitan, ia mendekat ke arah Adnan dan membisikkan sesuatu yang membuat rahang Adnan mengeras.
"Aku akan di Jakarta selama seminggu. Jika kamu butuh tempat untuk bicara tentang hal-hal yang tidak bisa kamu ceritakan pada istrimu atau pada Mamamu hubungi aku. Nomor pribadiku ada di kartu nama yang aku berikan."
Setelah Clarissa pergi dengan langkah anggunnya, ruangan itu kembali sunyi, Bima mendekat.
"Pak, mobil sudah siap. Kita langsung ke bandara untuk penerbangan pagi esok?" tanya Jo.
Adnan berdiri, merapikan jasnya, "Siapkan penerbangan paling awal, Bima. Dan pastikan Jo tetap mengawasi rumah. Aku ingin tahu apa yang dilakukan Arini setelah dia melihat hadiah dari Mamaku."
Bima mengangguk dan langsung mengamankan perintah Adnan dengan cara melayangkan cat pada saudara kembarnya Jo yang ada di Surabaya. Jo dan Bima memang sedari usia 18 tahun sudah mengabdi di keluarga besar Adnan.
Adnan melangkah keluar restoran. Jakarta masih bising, tapi di dalam kepalanya, ia mulai menyusun bidak catur baru. Kehadiran Clarissa adalah variabel yang tidak ia duga. Namun mungkin, itu adalah senjata baru yang bisa ia gunakan untuk menghancurkan apa yang telah Arini khianati.

Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...