NovelToon NovelToon
Dinginmu, Hangatku

Dinginmu, Hangatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Kedua yang Tak Direncanakan

Langit belum sepenuhnya gelap, tapi matahari sudah menyerah lebih dulu.

Awan tebal menggantung rendah, seperti menyimpan hujan yang siap jatuh kapan saja.

Dan di jalan yang sama seperti kemarin—

mobil hitam itu kembali melintas.

Arsenia Valen duduk di balik kemudi, matanya fokus ke depan, tapi pikirannya… tidak sepenuhnya di jalan.

Ia tahu ini tidak rasional.

Ia tahu ini tidak penting.

Ia tahu ia sedang membuang waktu.

Tapi tetap saja… ia datang.

Rem mobil ditekan perlahan saat ia mendekati tempat itu.

Matanya menyapu sekitar.

Warung kecil.

Lampu temaram.

Orang-orang yang bahkan tidak akan pernah masuk ke dalam dunianya.

Dan kemudian—

ia melihatnya.

Raka.

Berdiri di pinggir jalan, sedang membantu seorang pria tua menurunkan barang dari motor.

Kemeja yang sama sederhana.

Cara bicara yang santai.

Dan senyum itu—

yang entah kenapa terasa… mengganggu.

Bukan karena buruk.

Tapi karena terlalu tulus.

Arsenia mematikan mesin mobilnya.

Ia tidak langsung turun.

Ia hanya… melihat.

Mengamati.

Seperti sedang menilai sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan angka.

Di sisi lain, Raka masih sibuk dengan pekerjaannya.

“Iya, Pak, hati-hati… ini agak berat,” katanya sambil mengangkat kardus.

Ia tertawa kecil saat hampir terpeleset.

Hidupnya tidak sempurna.

Tapi ia menjalaninya dengan ringan.

Tanpa beban berlebihan.

Tanpa topeng.

Beberapa menit berlalu.

Arsenia akhirnya membuka pintu mobil.

Suara pintu mobil mahal di tengah lingkungan sederhana itu langsung menarik perhatian.

Raka menoleh.

Dan untuk sepersekian detik—

mata mereka bertemu lagi.

Kali ini tidak ada kecepatan.

Tidak ada bahaya.

Hanya… kesadaran.

“Oh,” kata Raka pelan, sedikit terkejut. “Yang hampir nabrak saya kemarin.”

Kalimat itu.

Lagi.

Tanpa rasa takut.

Tanpa basa-basi.

Arsenia berjalan mendekat.

Langkahnya tetap elegan, meskipun sepatu mahalnya menyentuh jalanan basah yang kotor.

“Kau ingat,” katanya dingin.

Raka mengangkat alis sedikit. “Sulit lupa. Soalnya hampir mati.”

Beberapa orang di sekitar mulai memperhatikan.

Kontras mereka terlalu jelas untuk diabaikan.

Wanita elegan dan pria sederhana.

Dua dunia yang seharusnya tidak bersinggungan.

“Aku mencari kamu.”

Langsung. Tanpa pengantar.

Raka terlihat benar-benar kaget kali ini.

“...Serius?”

Arsenia menatapnya lurus. “Aku tidak biasa bercanda.”

Raka menggaruk belakang kepalanya, sedikit canggung sekarang.

“Kenapa?”

Satu pertanyaan sederhana.

Tapi justru itu yang membuat Arsenia… berhenti sejenak.

Kenapa?

Ia sendiri tidak punya jawaban yang logis.

Ia tidak mungkin bilang: karena kamu berbeda.

Itu terdengar… lemah.

“Aku tidak suka urusan yang belum selesai,” jawabnya akhirnya.

Raka mengangguk pelan, meskipun jelas belum sepenuhnya mengerti.

“Terus… sekarang udah selesai?”

Arsenia menatapnya lagi.

Lebih dalam.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak langsung punya jawaban.

Hujan mulai turun lagi.

Perlahan.

Seperti mengulang kejadian kemarin.

Orang-orang mulai berteduh.

Tapi mereka berdua tetap berdiri di sana.

Tidak bergerak.

Seolah hujan bukan masalah.

“Atau…” Raka melanjutkan, “Anda mau marah lagi?”

Nada suaranya santai, tapi tidak mengejek.

Lebih seperti… jujur.

Arsenia menyipitkan mata sedikit.

“Kau selalu seperti ini?”

“Seperti apa?”

“Tidak tahu posisi.”

Raka tersenyum tipis.

“Kalau ‘posisi’ itu bikin saya harus pura-pura… ya, mending enggak tahu.”

Jawaban itu—

lagi-lagi—

tidak bisa ditanggapi dengan cara biasa.

Arsenia merasakan sesuatu yang aneh.

Bukan marah.

Bukan juga senang.

Tapi… tertarik.

Dan itu berbahaya.

“Namamu,” kata Arsenia tiba-tiba.

Raka terdiam sebentar, lalu menjawab,

“Raka.”

Akhirnya.

Satu hal yang ia cari sejak kemarin.

“Raka…” ulang Arsenia pelan, seolah menguji nama itu.

Lalu tanpa sadar—

ia mengingatnya.

Dengan jelas.

“Arsenia.”

Kini giliran Raka yang mengulang.

Tidak dengan kagum.

Tidak dengan takut.

Hanya… biasa saja.

Dan itu anehnya terasa lebih jujur dari apa pun.

Hujan semakin deras.

Raka melihat ke arah warung.

“Kalau Anda mau lanjut ngobrol… mending ke sana. Daripada sakit.”

Arsenia menoleh.

Warung kecil.

Kursi plastik.

Tempat yang bahkan mungkin tidak pernah ia lihat dari dekat.

Ia ragu.

Untuk pertama kalinya dalam hal sesederhana ini.

Masuk… atau pergi.

Logika bilang: pergi.

Tapi sesuatu yang lain—

mendorongnya untuk tetap.

Dan akhirnya—

Arsenia Valen, CEO dingin yang ditakuti banyak orang,

melangkah masuk ke warung kecil di pinggir jalan.

Beberapa pasang mata langsung tertuju pada mereka.

Raka duduk santai.

Arsenia duduk kaku.

Kontras itu begitu jelas.

“Teh hangat dua, Bu,” kata Raka.

Arsenia langsung menoleh. “Aku tidak minum sembarangan.”

Raka hanya mengangkat bahu. “Ya udah, satu aja.”

Ia tidak memaksa.

Tidak menyesuaikan diri.

Tidak mencoba menyenangkan.

Dan justru itu yang membuat Arsenia… diam.

Hening sejenak.

Hanya suara hujan dan sendok beradu gelas.

“Kamu kerja apa?” tanya Arsenia akhirnya.

“Serabutan.”

Jawaban singkat.

“Tidak punya tujuan?”

Raka berpikir sebentar.

“Punya.”

“Apa?”

“Hidup cukup.”

Arsenia hampir tertawa—tapi tidak jadi.

“Ambisi kecil.”

“Biar enggak capek,” jawab Raka santai.

Dan lagi-lagi—

jawaban itu terasa… masuk akal.

Dengan cara yang mengganggu.

Teh datang.

Uap hangat naik ke udara dingin.

Raka langsung minum.

Arsenia hanya melihat.

Untuk beberapa detik.

Lalu—

ia mengambil gelas itu.

Dan… mencoba.

Sedikit.

Hangat.

Sederhana.

Tapi entah kenapa—

tidak buruk.

Raka melihat itu dan tersenyum kecil.

Bukan mengejek.

Bukan meremehkan.

Hanya… melihat.

Dan itu membuat Arsenia sedikit tidak nyaman.

Karena untuk pertama kalinya—

ia merasa… dilihat sebagai manusia.

Bukan sebagai posisi.

Di luar, hujan terus turun.

Di dalam, dua dunia mulai… perlahan bertabrakan.

Dan tanpa mereka sadari—

ini bukan lagi sekadar pertemuan kedua.

Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.

Lebih dalam.

Dan lebih berbahaya—

daripada yang bisa mereka kendalikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!