"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Malam itu berlalu dengan ketegangan yang menggantung di udara. Di apartemen, Afisa mencoba memejamkan mata namun bayangan dua pria itu silih berganti menghantuinya. Sementara itu, di mess kantor yang sederhana, Guntur duduk di tepi ranjang, menatap kemeja putih dan jas hitam yang sudah ia setrika rapi untuk sidang perdananya besok. Ia tahu, besok bukan sekadar pertaruhan karier, tapi juga ujian mental berdiri di antara Afisa dan Bintang.
Keesokan harinya, pukul 07.30 WIB.
Lobi kantor firma hukum sudah mulai sibuk. Guntur berdiri tegak di dekat pilar lobi, menggenggam tas kerja berisi draf argumen yang ia susun semalaman. Wajahnya tampak segar meski kurang tidur; ia telah mencukur rapi janggut tipisnya dan menyisir rambutnya dengan klimis. Ia ingin Afisa tidak malu membawanya ke pengadilan.
Tak lama kemudian, mobil dinas Afisa berhenti tepat di depan lobi. Guntur melangkah maju untuk menyambut, namun langkahnya terhenti saat melihat siapa yang keluar dari kursi pengemudi.
Bintang.
Pria itu turun dengan kemeja kasual yang mahal, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk Afisa dengan gerakan sangat protektif. Afisa keluar dengan setelan kerja yang sangat anggun namun formal, wajahnya tampak kaku saat melihat Guntur sudah menunggu di sana.
"Selamat pagi, Bu Afisa," sapa Guntur dengan nada profesional yang paling stabil yang bisa ia usahakan. Ia kemudian mengangguk tipis pada pria di sampingnya. "Mas Bintang."
Bintang tidak membalas sapaan itu dengan kata-kata. Ia justru merangkul bahu Afisa, lalu mengecek jam tangannya. "Masih ada waktu sebelum sidang, kan? Aku antar kamu sampai dalam kalau perlu."
"Nggak usah, Bin. Kamu kan ada janji temu daring dengan asistenmu di Jakarta jam delapan," tolak Afisa halus, mencoba melepaskan diri dari suasana canggung itu.
Bintang menatap Guntur dengan tatapan yang seolah menandai wilayah. "Guntur, tolong jaga istriku dengan baik di pengadilan. Pastikan dia tidak telat makan siang. Aku akan menjemputnya tepat setelah sidang selesai."
"Saya asisten hukumnya, Mas. Tugas saya memastikan semua urusan persidangan berjalan lancar," jawab Guntur dengan pilihan kata yang hati-hati namun tetap menunjukkan ketegasan.
"Bagus kalau kamu paham tugasmu," sahut Bintang dingin. Ia kemudian beralih pada Afisa, mengecup kening istrinya itu cukup lama sebelum akhirnya masuk kembali ke mobil. "Semangat sidangnya, Sayang. I'll see you later."
Setelah mobil Bintang menjauh, suasana lobi mendadak hening. Afisa menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya. Tanpa menatap Guntur, ia mulai melangkah menuju mobil operasional kantor yang sudah menunggu mereka.
"Berkasnya sudah siap semua?" tanya Afisa dingin, kembali ke mode atasan.
"Sudah, Bu. Argumen cadangan dan bukti tambahan juga sudah saya klasifikasikan," jawab Guntur sambil membukakan pintu mobil untuk Afisa.
Saat mereka duduk berdampingan di kursi belakang menuju Pengadilan Negeri Semarang, jarak di antara mereka terasa begitu lebar, meskipun bahu mereka sesekali bersentuhan saat mobil berguncang. Guntur menatap ke luar jendela, menyadari bahwa hari ini, ia harus berperang bukan hanya melawan pengacara lawan, tapi juga melawan perasaannya sendiri yang terus terkoyak setiap kali melihat betapa kuatnya Bintang menjaga apa yang pernah ia lepaskan.
Ruang sidang Pengadilan Negeri Semarang terasa mencekam. Aroma kayu tua dan pendingin udara yang berderu halus menjadi latar belakang saat hakim ketua mengetuk palu, menandai dimulainya persidangan kasus sengketa lahan tersebut.
Afisa duduk di kursi utama kuasa hukum, punggungnya tegak, menunjukkan aura kepemimpinan yang tak terbantahkan. Di sampingnya, Guntur duduk dengan sigap, jemarinya bergerak lincah menata dokumen-dokumen yang diperlukan.
"Silakan, Kuasa Hukum Penggugat, sampaikan keberatan Anda terhadap bukti sertifikat yang diajukan Tergugat," instruksi Hakim Ketua.
Afisa berdiri, namun ia memberikan isyarat kecil pada Guntur. Ini adalah momen yang telah mereka sepakati dalam rapat singkat di mobil tadi.
"Izin, Yang Mulia," suara Guntur memecah kesunyian ruang sidang. Ia berdiri dengan tenang, tanpa secercah pun keraguan. "Asisten hukum saya, Saudara Guntur, akan memaparkan detail temuan teknis mengenai anomali koordinat lahan yang menjadi poin krusial keberatan kami."
Pengacara lawan, seorang pria senior dengan jam terbang tinggi, tampak meremehkan Guntur. Namun, senyum remeh itu memudar saat Guntur mulai bicara.
"Terima kasih, Yang Mulia. Berdasarkan draf argumen yang kami susun, terdapat tumpang tindih koordinat pada sertifikat Tergugat yang dikeluarkan pada tahun 2015. Jika kita merujuk pada yurisprudensi Mahkamah Agung nomor 18 tahun 2018, penetapan batas alam yang digunakan dalam sertifikat tersebut sudah tidak lagi relevan secara hukum agraria karena adanya pergeseran batas administrasi desa."
Guntur menyodorkan map berisi peta perbandingan. Ia memaparkan analisisnya dengan sangat sistematis, membedah celah hukum yang semalam ia temukan saat begadang. Setiap pertanyaan menjebak dari pengacara lawan dipatahkan Guntur dengan referensi pasal yang sangat akurat.
Afisa memperhatikan dari samping, dan ia tidak bisa berbohong—ia terpukau. Guntur yang dulu hanya ia kenal sebagai bintang lapangan yang mengandalkan otot, kini bertransformasi menjadi pria yang menggunakan otaknya sebagai senjata paling mematikan. Ada kilat kebanggaan di mata Afisa yang sulit ia sembunyikan sepenuhnya.
"Analisis yang sangat tajam, Saudara Kuasa Hukum," puji Hakim Ketua setelah Guntur selesai memaparkan argumennya. "Keberatan diterima. Sidang akan dilanjutkan dengan agenda pembuktian fisik minggu depan."
Palu diketuk. Sidang pertama berakhir dengan kemenangan kecil di pihak Afisa.
Saat mereka melangkah keluar dari ruang sidang menuju lobi pengadilan, Afisa akhirnya menoleh pada Guntur. "Kerja bagus, Guntur. Argumenmu tadi benar-benar mengunci mereka."
Guntur hanya tersenyum tipis, senyum tulus yang sudah lama tidak ia tunjukkan. "Saya hanya menjalankan tugas saya untuk mendukung Anda, Bu."
Namun, suasana kemenangan itu mendadak surut saat Guntur melihat sebuah mobil sedan sudah terparkir di depan lobi. Bintang berdiri di sana, bersandar pada pintu mobil dengan tangan bersedekap. Tatapannya langsung terkunci pada kebersamaan Afisa dan Guntur yang baru saja keluar dari pintu pengadilan.
"Sepertinya 'jemputan' Anda sudah datang, Bu," bisik Guntur, suaranya kembali datar dan penuh batasan.