NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Sesampainya di rumah, suasana hening menyambut Liana dan Erwin.

Mama sudah menunggu di ruang tamu, wajahnya yang penuh gurat usia itu tampak tegang.

Beliau memperhatikan penampilan Liana yang berantakan; gaun birunya kotor terkena noda tanah merah, rambutnya kusut, dan matanya bengkak luar biasa.

"Ndhuk, ada apa sebenarnya ?" tanya Mama dengan suara bergetar, tangannya yang mulai keriput memegang bahu Liana.

"Kenapa kamu pulang dalam keadaan seperti ini? Pak Adrian tadi mana?"

Liana menatap Erwin sejenak. Erwin mengangguk pelan, seolah memberi kekuatan bahwa sudah saatnya rahasia ini dibuka.

Liana menarik napas panjang, ia menuntun Mamanya untuk duduk di lincak bambu ruang tengah.

Liana menggenggam tangan Mamanya dengan erat, merasakan kehangatan yang selama ini ia rindukan.

Air matanya kembali jatuh, namun kali ini bukan karena amarah, melainkan karena rasa bersalah telah berbohong.

"Ma, maafkan Liana," bisik Liana parau.

"Pak Adrian ke sini bukan urusan pekerjaan. Semuanya sudah selesai, Ma."

Liana mulai bercerita, suaranya terputus-putus oleh isakan.

Ia menceritakan bagaimana Adrian mendekatinya di Jakarta, memberikan harapan dan janji-janji manis di Puncak, hingga memberikan cincin yang ia kira adalah simbol masa depan.

Ia menceritakan malam ulang tahun itu—malam di mana seorang wanita bernama Arum muncul dan mengklaim Adrian sebagai calon suaminya.

"Dia sudah punya tunangan, Ma. Dia membohongi Liana selama syuting," ucap Liana dengan perih.

"Di depan semua orang, dia membiarkan wanita itu memeluknya. Liana merasa sangat rendah di sana. Liana merasa hanya dijadikan alat untuk kesuksesan filmnya, sementara hatinya sudah milik orang lain."

Liana tidak sanggup menceritakan hinaan kejam Arum, ia hanya menekankan betapa hancurnya harga dirinya sebagai seorang wanita yang tulus mencintai.

"Dia menyembunyikan kenyataan bahwa ada wanita lain yang menunggunya pulang ke Jakarta. Liana hanyalah pelarian di lokasi syuting, Ma."

Mama terdiam, matanya berkaca-kaca mendengar penderitaan putri tunggalnya.

Beliau menarik Liana ke dalam pelukannya, mengusap punggung putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Gusti Allah mboten sare, Ndhuk..." bisik Mama lirih.

"Kalau memang dia orang yang tidak jujur, syukurlah kamu tahu sekarang sebelum semuanya terlambat. Kamu anak baik, kamu anak berharga. Jangan biarkan orang kota itu menginjak-injak hatimu lagi."

Erwin yang berdiri di ambang pintu hanya bisa menunduk, ikut merasakan kepedihan yang dirasakan keluarga itu.

Amarahnya pada Adrian kini berganti menjadi tekad bulat untuk menjaga Liana agar tidak lagi tersentuh oleh luka yang sama.

Sementara itu di sebuah penginapan kecil yang sunyi di pinggiran Yogyakarta, Adrian duduk di tepi ranjang dengan penerangan lampu kuning yang temaram.

Ia meringis kesakitan saat menempelkan kapas basah ke sudut bibirnya yang pecah akibat pukulan Erwin.

Wajahnya di cermin tampak hancur, namun rasa perih di rahangnya tak sebanding dengan rasa sesak di dadanya setiap kali mengingat tatapan penuh kebencian dari Liana.

Ia menatap cincin berlian yang kini ia letakkan di atas meja nakas.

Benda kecil yang seharusnya menjadi pengikat, kini justru menjadi saksi bisu pengkhianatannya.

"Aku pantas mendapatkannya," bisik Adrian parau, suaranya bergema di ruangan yang sempit itu.

Ia memejamkan matanya, membayangkan Liana yang kini mungkin sedang menangis di pelukan ibunya karena ulahnya.

Sementara itu, di kantor pusat produksi di Jakarta, suasana justru memanas. Ruang rapat dipenuhi asap rokok dan kegelisahan.

Sang sutradara berjalan mondar-mandir di depan layar besar yang menampilkan potongan adegan dansa puncak antara Adrian dan Liana—adegan yang begitu sempurna namun kini terancam sia-sia.

"Sponsor sudah menekan kita! Mereka tidak mau tahu urusan pribadi Adrian," bentak perwakilan investor sambil menggebrak meja.

"Film ini harus rilis bulan depan. Kita butuh Liana untuk acara gala premiere dan promosi besar-besaran. Tanpa dia, chemistry film ini hilang!"

Sutradara menghentikan langkahnya, ia menatap Rina yang duduk terdiam di sudut ruangan.

"Adrian tidak bisa dihubungi. Dia seperti orang gila yang mengejar bayangannya sendiri di Jogja."

"Bagaimana kalau kita semua ke Yogyakarta?" usul sang sutradara tiba-tiba.

"Kita jemput Liana secara resmi. Kita jelaskan bahwa ini bukan cuma soal Adrian, tapi soal kerja keras ratusan kru yang nasibnya ada di pundak film ini. Kita minta dia datang ke pembukaan sebagai profesional."

Rina langsung berdiri, matanya berbinar penuh tekad.

"Aku ikut! Aku yang paling tahu perasaan Liana. Aku ingin meminta maaf secara pribadi karena tidak memberitahunya soal Arum lebih awal."

"Aku juga ikut!" seru penata kamera utama.

"Kami semua ikut, Pak!" sahut tim produksi lainnya serempak.

Mereka merasa memiliki tanggung jawab moral. Liana bukan sekadar pemain bagi mereka, tapi sudah dianggap keluarga selama di lokasi syuting.

Mereka ingin menyelamatkan film itu, sekaligus menyelamatkan Liana dari keterpurukan yang dibuat oleh bos mereka sendiri.

Malam itu juga, rombongan kru film bersiap berangkat menuju Yogyakarta.

Sebuah perjalanan besar dimulai, bukan lagi untuk syuting, melainkan untuk menjemput sang "bintang" yang sedang bersembunyi di balik luka hatinya.

Pagi itu, desa tempat tinggal Liana yang biasanya tenang mendadak gempar.

Suara raungan mesin beberapa mobil mewah dan bus kru film yang bertuliskan logo rumah produksi besar membelah jalanan sempit yang masih berkabut.

Warga desa yang sedang berangkat ke sawah atau sekadar menyapu halaman berhenti mematung, menatap iring-iringan kendaraan yang tampak sangat asing di lingkungan mereka.

"Ada syuting film lagi ya?" bisik seorang warga.

"Bukan, itu rombongan dari Jakarta cari Liana!" sahut yang lain sembari menunjuk ke arah rumah Liana.

Rombongan itu berhenti tepat di depan pagar kayu rumah Liana.

Sutradara turun pertama kali, disusul oleh Rina, penata kamera, hingga tim dekorasi yang semuanya tampak sangat lelah namun bersemangat.

Mereka membawa beberapa buket bunga besar dan bingkisan sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga Liana.

"Assalamu’alaikum, Liana! Bu!" teriak sutradara dari depan pagar.

Mama Liana keluar dengan wajah bingung sekaligus khawatir melihat kerumunan orang-orang kota yang memenuhi halaman rumahnya.

Erwin, yang kebetulan sedang membantu membetulkan pagar samping, segera berlari ke depan dengan wajah waspada.

Ia mengira Adrian membawa bala bantuan, namun ia tertegun saat melihat wajah-wajah familiar yang dulu sering ia lihat di media sosial atau cerita Liana.

Rina menghambur maju, memeluk Mama Liana dengan tulus.

"Ibu, maafkan kami datang mendadak begini. Kami kru dari Jakarta, kami rindu Liana."

Liana muncul dari pintu rumah dengan mata yang masih sedikit bengkak.

Ia terpaku melihat rekan-rekan kerjanya yang selama ini memperlakukannya dengan baik di lokasi syuting.

Rasa haru menyeruak di dadanya, namun rasa sakit hati pada proyek itu masih membekas kuat.

Sementara itu, hanya beberapa kilometer dari kegaduhan di rumah Liana, suasana di penginapan kecil justru sangat mencekam.

Adrian tergeletak di atas ranjang yang keras dengan napas yang memburu dan berat.

Tubuhnya menggigil hebat di balik selimut tipis, namun keringat dingin membasahi seluruh kemeja kusut yang belum ia ganti sejak kemarin.

Luka di sudut bibirnya akibat pukulan Erwin tampak membiru dan membengkak.

Adrian terserang demam tinggi.

Kelelahan fisik karena menyetir semalaman tanpa henti, stres berat karena rasa bersalah, ditambah hantaman alkohol dan luka fisik membuatnya ambruk.

"Liana, maafkan aku. Liana..." igau Adrian dengan suara serak yang nyaris tak terdengar.

Tangannya yang gemetar mencoba meraih ponsel di atas nakas, ingin mengabari Rina atau siapa pun, namun penglihatannya mengabur.

Kepalanya terasa seolah dihantam ribuan palu. Ia sendirian di kamar penginapan yang asing, tanpa ada yang tahu bahwa sang produser besar yang biasanya dipuja-puja kini sedang bertaruh dengan kesadarannya sendiri di tengah desa yang tak mengenalnya.

Cincin berlian yang ia bawa masih tergeletak di samping tempat tidurnya, berkilau dingin seolah menertawakan kondisinya yang kini sangat menyedihkan.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!