Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Pagi itu, meja makan Mayfair Mansion tidak lagi terasa seperti medan perang yang panas, melainkan seperti kamar mayat yang steril. Sunyi, kaku, dan mematikan. Ezzvaro duduk di sana dengan punggung tegak sempurna, mengenakan setelan tiga lapis berwarna abu-abu arang yang memancarkan otoritas dingin. Tidak ada lagi gurat kemarahan di wajahnya, tidak ada kilatan obsesi yang biasanya terpancar saat ia menatap Gabriel.
Ia memotong roti bakarnya dengan gerakan yang sangat mekanis. Saat Gabriel masuk ke ruangan dengan langkah ragu dan mata yang sedikit sembab, Ezzvaro bahkan tidak mendongak.
"Selamat pagi," gumam Gabriel, suaranya parau.
"Pagi, Gabriel," jawab Ezzvaro. Nada suaranya datar, profesional, seolah ia sedang menyapa resepsionis kantor yang baru bekerja dua hari. Ia memanggilnya 'Gabriel', bukan 'Gaby', bukan pula 'Adik' dengan nada sinis. Hanya sebuah nama. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada makian.
Renata dan Fank mencoba mencairkan suasana dengan membicarakan kesuksesan Gala Dinner semalam, namun Ezzvaro hanya menanggapi dengan anggukan singkat. Ia memperlakukan Gabriel seolah wanita itu adalah pajangan dinding yang tidak berharga. Saat Gabriel mencoba menggeser selai ke arahnya, Ezzvaro hanya berujar, "Terima kasih, Staf Batistuta," sebelum meralatnya dengan cepat, "Maksudku, Gabriel."
Sarapan itu berakhir secepat eksekusi. Ezzvaro bangkit, merapikan jasnya, dan langsung melangkah menuju mobilnya tanpa menunggu siapa pun.
Kantor Pusat Manafe Corp – 09.00 AM
Ketegangan itu berpindah ke lantai 45. Ezzvaro masuk ke ruang kerja bersama mereka dengan aura yang sanggup membekukan air di dalam dispenser. Ia langsung menumpuk berkas di meja Gabriel tanpa menatap matanya.
"Revisi laporan kampanye kreatif ini. Data audiensnya berantakan. Aku butuh ini di mejaku dalam satu jam, atau aku akan meminta Ayah memindahkan mu ke divisi pengarsipan di rubanah," ucap Ezzvaro dingin.
Gabriel mengepalkan tangannya di atas meja. "Ezzvaro, soal semalam di Gala Dinner... Nicolas, dia—"
"Aku tidak butuh laporan tentang kehidupan sosialmu, Gabriel," sela Ezzvaro, matanya terpaku pada layar monitornya. "Urusan pribadimu dengan Nicolas Van Der Berg tidak ada dalam deskripsi pekerjaanmu. Sekarang, bekerja."
"Dengarkan aku dulu! Dia yang mencium ku! Aku terkejut, aku—"
Ezzvaro tiba-tiba berdiri, membanting map di tangannya ke atas meja hingga suaranya menggelegar. "Cukup! Aku tidak peduli siapa yang mencium siapa! Kau bebas melakukan apa pun dengan pria mana pun. Kita hanya rekan kerja yang kebetulan berbagi nama belakang yang sama sekarang. Jangan bawa sampah emosional mu ke kantorku!"
Darah Gabriel mendidih. Rasa bersalah yang tadi menghantuinya menguap, digantikan oleh harga diri yang terluka dan emosi yang meledak. Ia melangkah maju, menantang tatapan Ezzvaro.
"Sampah emosional? Kau yang mulai, Ezzvaro! Kau bersikap seolah kau adalah orang suci yang teraniaya! Kau pasti sudah tidur dengan begitu banyak wanita di New York untuk membalas dendam padaku, kan? Aku tahu itu! Pria sepertimu tidak akan tahan sendirian. Kau pasti butuh pemuas setiap malam!"
Ezzvaro tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan dan penuh penderitaan. Ia melangkah keluar dari balik mejanya, mendekati Gabriel hingga wanita itu terdesak ke dinding kaca.
"Kau gila, Gabriel! Kau benar-benar gila!" teriak Ezzvaro, suaranya memenuhi setiap sudut ruangan yang kedap suara itu. "Kau pikir aku pria rendahan yang suka tidur sembarangan dengan wanita hanya untuk mengisi kekosongan? Kau pikir aku ini kau?!"
"Apa maksudmu?!"
"Hanya dirimu, Gabriel! Hanya dirimu yang aku tiduri hingga tiga tahun terakhir di dalam ingatanku! Tidak ada wanita lain! Tidak ada satu pun sentuhan kulit yang aku izinkan selain kenangan tentangmu!" Ezzvaro berteriak tepat di depan wajah Gabriel, napasnya memburu. "Dan kau sendiri? Kau bahkan dicium oleh Nicolas di depan umum! Apa selama ini kau sendiri yang memang sudah tidur dengan pria lain, hah? Apa ukuran mereka membuatmu puas sampai kau tidak bisa menolak ciuman itu?!"
"Ezzvaro, jaga bicaramu!"
"Jaga bicaraku?! Kau menuduhku berkali-kali, Gabriel! Kau ingin tahu kebenarannya?" Ezzvaro mencengkeram bahu Gabriel, suaranya kini merendah namun penuh getaran emosi yang hancur. "Junior-ku bahkan tidak lagi berdiri semenjak ditinggal olehmu. Aku tidak lagi punya hasrat pada siapa pun, Gaby! Hasratku mati bersamamu di malam hujan itu!"
Mata Gabriel membelalak, ia tertegun mendengar pengakuan yang begitu telanjang.
"Bahkan saat aku menatap foto dan video kita dulu... saat aku ingin memakai tanganku sendiri untuk menyelesaikan hasratku... aku tidak bisa!" Ezzvaro berteriak lagi, air mata kemarahan mulai menggenang di sudut matanya. "Aku merasa seperti pengkhianat, Gaby! Aku merasa mengkhianatimu jika aku melepaskan hasratku dengan tanganku sendiri, padahal kau sudah membuangku seperti sampah! Kau... kau egois, Gaby!"
Ezzvaro merogoh laci kerjanya dengan kasar dan melempar sebuah bingkai foto ke arah lantai.
PRANKKK!!!
Kaca bingkai itu pecah berkeping-keping. Di balik retakan kaca itu, tampak foto mereka berdua yang tersenyum bahagia—foto yang selama ini ia sembunyikan di tempat paling dekat saat ia bekerja.
Gabriel membeku. Dadanya terasa sesak. Melihat foto itu dan mendengar pengakuan Ezzvaro seharusnya membuatnya merasa menang, namun yang ia rasakan hanyalah kehampaan yang luar biasa. Meski begitu, keras kepalanya masih memegang kendali. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan getaran di suaranya.
"Itu... itu masalahmu, Ezzvaro," ucap Gabriel dengan suara bergetar, berusaha tetap terlihat tak tersentuh. "Jika kau memilih untuk menjadi martir bagi hubungan yang sudah mati, itu pilihanmu. Bukan salahku jika kau tidak bisa melanjutkan hidup."
Ezzvaro menatapnya dengan tatapan yang bisa menghancurkan batu karang. Ia mundur selangkah, lalu tertawa hampa.
"Masalahku? Oh, shit... kau benar. Ini memang masalahku karena pernah mencintai wanita sepertimu." Ezzvaro kembali ke kursi kebesarannya, duduk dengan kasar, dan memijat pelipisnya. "Kenapa aku merasa kau semakin menyebalkan, Gabriel? Kenapa aku merasa setiap kali aku mencoba jujur, kau justru semakin ingin menginjak-injak hatiku?"
"Ezzvaro—"
"Pergi," potong Ezzvaro tanpa melihatnya. "Keluar dari pandanganku sebelum aku melakukan sesuatu yang akan kita sesali berdua."
Gabriel tidak sanggup lagi. Pertahanan di matanya runtuh. Ia berbalik dan berlari menuju kamar mandi pribadi di dalam ruangan luas itu. Ia membanting pintu dan menguncinya dari dalam.
Di dalam kamar mandi yang mewah itu, Gabriel jatuh terduduk di lantai. Ia menutup mulutnya dengan tangan agar isak tangisnya tidak terdengar keluar. Kata-kata Ezzvaro terngiang-ngiang seperti kutukan. Hanya dirimu. Hasratku mati bersamamu. Aku merasa mengkhianatimu.
Di luar, Ezzvaro menatap serpihan kaca foto mereka di lantai. Ia menyadari bahwa meski mereka kini satu keluarga secara hukum, mereka adalah dua orang yang paling hancur di muka bumi. Dan yang paling menyedihkan adalah, mereka saling menghancurkan karena mereka terlalu mencintai dengan cara yang salah.
Ezzvaro mengambil serpihan kaca yang paling besar, mengabaikan ujung tajamnya yang menggores telapak tangannya hingga berdarah. Ia hanya ingin merasakan sakit yang nyata, karena sakit di dadanya sudah terlalu mati rasa untuk dirasakan.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰