NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:749
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Hanya Pedangnya

Lelah yang menggelayuti bahu Alessia seolah luruh begitu ia menghirup aroma masakan rumahan yang memenuhi aula depan kediaman Sinclair. Sehari bersama Nathaniel Luca terasa seperti lari maraton mental, melelahkan, penuh tekanan, namun anehnya... memicu adrenalin.

Di belakangnya, Nathaniel berdiri tegap, masih dengan tas kerja di tangan dan raut wajah profesional yang tidak pernah luntur. Ia baru saja hendak berpamitan setelah memastikan "anak didiknya" sampai dengan selamat.

"Terima kasih atas bimbingannya hari ini, Mentor," ucap Alessia, suaranya sedikit serak karena kelelahan, namun ia tetap memberikan senyum tulus yang tidak sanggup ia tunjukkan di kantor tadi.

Nathaniel hanya mengangguk singkat. "Istirahatlah, Nona Sinclair. Besok pagi jadwal kita jauh lebih padat."

Pria itu baru saja hendak berbalik menuju mobilnya ketika sosok wanita anggun dengan celemek linen berwarna krem muncul dari arah ruang makan. Rosetta Sinclair, sang nyonya rumah, menatap Nathaniel dengan binar mata hangat yang tak bisa ditolak.

"Nathaniel? Kenapa buru-buru sekali? Sudah lama kita tidak makan bersama," ucap Rosetta lembut, namun nadanya mengandung perintah halus khas seorang ibu.

Nathaniel membeku di tempatnya. "Selamat malam, Nyonya Sinclair. Maaf, saya tidak ingin mengganggu waktu keluarga Anda. Masih ada beberapa laporan yang harus saya tinjau di apartemen."

Rosetta terkekeh pelan, melangkah maju dan menepuk lengan Nathaniel dengan akrab, sebuah gestur yang hanya berani dilakukan oleh sedikit orang kepada pria kaku ini.

"Laporan itu tidak akan lari ke mana-mana, tapi sup iga favoritmu ini akan dingin jika tidak segera dimakan. Ayo, William juga sudah menunggu di meja makan."

Alessia menahan tawa melihat ekspresi Nathaniel. Sang 'Algojo Berdarah Dingin' yang tadi siang membuat para direksi gemetar, kini tampak tak berdaya menghadapi undangan makan malam ibunya.

"Masuklah, Kak... eh, Nathaniel," goda Alessia dengan kerlingan mata nakal. "Bunda sudah masak banyak. Anggap saja ini upah karena sudah sabar menghadapiku seharian."

Nathaniel melirik Alessia, lalu beralih ke Rosetta yang menatapnya penuh harap. Akhirnya, ia mengembuskan napas panjang dan meletakkan tas kerjanya di meja konsol. "Baiklah, Nyonya. Terima kasih atas undangannya."

Suasana ruang makan keluarga Sinclair jauh lebih hangat dibandingkan ruang rapat kantor tadi pagi. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, menciptakan atmosfer yang sangat privat.

"Jadi, bagaimana hari pertama Alessia, Nathan?" tanya William Sinclair sembari menyendok supnya, matanya melirik jenaka ke arah putrinya.

Alessia seketika tersedak air minumnya. Ia menatap Nathaniel dengan tatapan 'tolong-jangan-permalukan-aku-di-depan-orang-tuaku'.

Nathaniel meletakkan sendoknya dengan pelan, mengelap bibirnya dengan serbet kain sebelum menjawab. Ia sempat melirik Alessia yang sedang menahan napas.

"Nona Sinclair... punya insting yang menarik," jawab Nathaniel diplomatis. "Dia berhasil mempertahankan Mrs. Hana dengan cara yang tidak terpikirkan oleh staf senior manapun."

Rosetta tersenyum bangga, sementara Alessia merasa pipinya memanas. Dipuji oleh Nathaniel di kantor adalah satu hal, tapi mendengar pria itu mengakuinya di depan orang tuanya terasa jauh lebih... mendalam.

"Tapi," lanjut Nathaniel dengan nada yang kembali serius, "dia masih punya kebiasaan menggerutu saat diminta belajar laporan keuangan."

"Hei!" protes Alessia spontan, membuat William dan Rosetta tertawa lepas.

Di tengah tawa itu, Alessia mencuri pandang ke arah Nathaniel. Untuk pertama kalinya, ia melihat gari-garis tegas di wajah pria itu sedikit melunak. Nathaniel bahkan tidak sadar bahwa sudut bibirnya terangkat sedikit, sangat tipis, hampir tidak terlihat, saat melihat kehangatan keluarga ini.

———

Kesunyian apartemennya yang minimalis terasa kontras dengan kehangatan di meja makan keluarga Sinclair tadi. Nathaniel meletakkan kunci mobilnya di atas meja marmer, namun langkahnya terhenti pada sebuah sudut yang paling ia jaga di ruangan itu.

Di sana, sebuah bingkai kayu cokelat tua berdiri di antara buku-buku bisnis yang kaku. Foto di dalamnya sudah sedikit memudar, namun kenangannya masih tersimpan tajam dalam ingatan Nathaniel.

Dalam foto itu, Nathaniel remaja berdiri dengan seragam SMA yang tampak lusuh dan ukuran yang sedikit kekecilan. Wajahnya nampak kaku, namun di sebelahnya, William Sinclair merangkul bahunya dengan bangga. Rosetta berdiri di sisi lain dengan senyum keibuan, dan di depan mereka, seorang gadis kecil dengan gaun merah muda yang ceria, Alessia, tengah tertawa lebar sambil memegang es krim.

"Keluarga..." gumam Nathaniel rendah.

Baginya, Sinclair bukan sekadar nama korporasi. Mereka adalah penyelamat. Ingatannya kembali ke masa-masa tergelapnya, saat ia baru saja lulus SMA dengan beban berat di pundaknya. Adiknya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, didiagnosis menderita leukimia. Di saat Nathaniel hampir putus asa mencari biaya pengobatan, William Sinclair datang bukan hanya sebagai bos, tapi sebagai malaikat pelindung.

Bahkan hingga adiknya menghembuskan napas terakhir, William-lah yang memastikan prosesi pemakaman berjalan dengan layak, memeluk Nathaniel yang hancur, dan menjanjikan masa depan di bawah sayapnya.

Nathaniel menyentuh permukaan kaca bingkai itu, tepat di wajah Alessia kecil.

"Itulah sebabnya aku tidak bisa membiarkanmu gagal, Alessia," bisiknya pada keheningan malam.

Rasa hutang budi yang mendalam itulah yang membuatnya bersikap begitu keras dan tak kenal ampun di kantor. Ia tidak ingin Alessia hanya menjadi pewaris nama; ia ingin Alessia menjadi pemimpin yang tak tergoyahkan, agar warisan pria yang telah menyelamatkan hidupnya itu tetap abadi.

Namun, bayangan Alessia yang tertawa di panti asuhan, atau caranya yang manis saat menggerutu soal kopi, mulai mengusik batasan profesional yang selama ini ia bangun dengan tembok es.

Nathaniel menghela napas panjang, lalu mematikan lampu ruangan. Besok adalah hari baru, dan ia harus kembali menjadi mentor yang dingin, meski hatinya mulai berkhianat setiap kali melihat binar di mata putri tunggal Sinclair itu.

Nathaniel mematikan lampu apartemennya, membiarkan cahaya temaram dari gedung-gedung di seberang sungai Han masuk melalui jendela kaca besar. Ia berdiri tegak, bayangannya memanjang di lantai marmer yang dingin, sebuah refleksi dari kesendirian yang ia pilih sendiri.

Walau hatinya mulai goyah setiap kali melihat binar mata Alessia yang penuh semangat atau mencium aroma parfum peony yang tertinggal di mobilnya, Nathaniel segera menarik diri. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghapus bayangan tawa Alessia di meja makan tadi.

Ia tidak akan pernah, dan tidak boleh, mendambakan anak tunggal keluarga Sinclair itu.

Baginya, perasaan itu adalah sebuah pengkhianatan terhadap rasa hormatnya pada William. Di matanya, dirinya hanyalah seorang pemuda yatim piatu dengan seragam SMA lusuh yang dipungut dari jalanan, sementara Alessia adalah berlian paling murni yang pernah ia lihat. Dia bukan orang yang setara untuk bersanding dengan putri dari pria yang telah menyelamatkannya dari jurang gelap kehidupan.

"Aku hanyalah pedangnya, bukan pemilik mahkotanya," gumam Nathaniel pelan, suaranya tenggelam dalam deru angin malam di luar.

Ia harus menjaga jarak. Setiap kali jantungnya berdegup lebih kencang saat tangan mereka tidak sengaja bersentuhan di ruang rapat, Nathaniel akan mengingatkan dirinya sendiri: Tugasmu adalah menjadikannya ratu, Nathaniel. Bukan untuk memilikinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!