NovelToon NovelToon
DUDA PEMILIK MALAMKU

DUDA PEMILIK MALAMKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / One Night Stand / Ibu Pengganti
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ditaa

"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Pertemuan Tak Sengaja

Deana baru menyelesaikan acara menyalonnya, ia hanya meminta pelayan salon itu untuk merapihkan rambutnya.

Deana keluar dari salon dan berjalan menuju motornya, ia menggunakan helm dan melajukan motornya dengan kecepatan sedang.

"Kenapa laki-laki itu tidak pernah mengabariku lagi?! Dasar pengec*ut!" gumam Deana gemas. Ia bingung kenapa harus kesal? Padahal ia bisa senang dan leluasa dengan hal ini.

***

Pukul 09.00 pagi, Zavia bersama Mommy Ellen sedang jalan-jalan santai di taman kota bersama Vania dan juga Lena. Tak lupa, Suster Ina juga membersamai Lena.

Kedua gadis kecil itu bermain dengan santai ditemani Suster Ina. Bermain ayunan, perosotan, kuda-kudaan dan masih banyak lagi.

Sementara Zavia dan Mommy Ellen, duduk berdua di kursi taman sambil menikmati salad buah segar yang dibelinya.

"Suster Ina, bawa Lena kemari." seru Mommy Ellen. Ia tak ingin Lena kelelahan karena tubuh kecil itu masih belum fit sepenuhnya.

"Tidak Oma, Len masih mau main dengan Kakak Vania." tolak Lena dengan wajah masamnya menatap wajah sang Oma.

Zavia tertawa kecil, "Sudahlah Mom, Lena sudah sembuh itu...." ucapnya agar Mommynya tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi Lena.

"Oh ya Mom, kapan Reno akan menikah? Mendadak sekali... Zav pikir Zav salah dengar kalau Reno ingin menikah, bahkan Mas Noah pun kaget dengarnya." Zavia menggeleng pelan mengingat tingkah laku adiknya.

"Mommy juga tidak tahu. Padahal Daddymu sudah mengenalkan Reno dengan Fiona agar mereka bersama."

"Fiona?" Zavia mengernyit.

"Ya... Kenapa?"

Zavia menggeleng, "Tidak apa-apa Mom, Zav kurang sreg saja. Karena kalau dilihat, Fiona itu sifatnya masih kekanak-kanakan, bagaimana kalau sudah menikah dengan Reno tapi mengabaikan Lena? Hih, amit-amit."

"Mommy juga belum tahu Deana itu seperti apa orangnya. Mommy takut perempuan itu tidak menginginkan Lena." jelas Mommy Ellen mendesis pelan.

"Deana itu siapa sih? Zav jadi penasaran." tanya Zavia pada Mommy Ellen.

"Coba tanya Bram. Kayaknya adikmu tahu siapa Deana itu." ucap Mommy Ellen lalu berdiri dan menghampiri Lena.

Zavia manggut-manggut. Bagaimana mungkin Bramana tahu, Bramana saja sudah hampir dua tahun tidak pulang dan masih berada di Australia untuk mengenyam pendidikannya di sana.

"Lena, Vania, sudah ayo selesai mainnya! Lihat itu keringat kalian sudah banyak, ayo pulang...." ucap Mommy Ellen lalu menarik lembut tangan keduanya.

"Oma, Vania mau beli es krim, please...." ucap Vania menatap wajah Mommy Ellen.

"Len juga mau es krim!" seru Vellena dengan mimik wajah yang sudah tidak sabar.

"Tidak. Oma tidak akan memberikan kalian es krim. Sekarang kita pergi makan, kalian ingin makan apa?" tanya Mommy Ellen pada kedua cucu perempuannya.

Wajah Vania dan Lena langsung ditekuk. Vania berlari menghampiri Zavia yang sedang memakai lipstik itu, "Bunda, Vania mau beli es krim please...." Vania melendotkan tubuhnya pada Zavia.

"No." tolak Zavia. Bukannya jahat, Zavia memang ingin membatasi anak-anaknya makan manis-manis demi menjaga kesehatan gigi dan tubuhnya.

"Bundaa...." rengek Vania menarik-narik ujung blouse yang dikenakan Zavia.

"Vania... Sudah ayo, kita pergi makan. Bunda juga sudah lapar." ajak Zavia lalu menuntun tangan putrinya.

"Ish Bunda." Vania memanyunkan bibirnya, menendang semua bebatuan yang di depannya.

"Bunda, aku mau sama Bunda!" seru Lena lalu menggaet tangan Zavia yang kosong.

Mommy Ellen tersenyum melihatnya. Sementara di belakang, Suster Ina berjalan sambil membawa tas ransel berisi perlengkapan Vania dan juga Lena.

***

Sekarang, Mommy Ellen dan Zavia serta kedua bocil itu berada di mall kawasan food court.

Niat mereka memang ke sini karena ingin melihat-lihat baju model terbaru. Mereka akan mencari referensi untuk dijadikan model baju jahit mereka.

Suster Ina satu meja bersama Vania dan juga Lena, sedangkan Mommy Ellen dan Zavia berjarak cukup jauh karena berbeda menu makanannya.

"Suster Ina, apa benar nanti Lena akan memiliki Mommy?" tanya Vania. Ia mendengar pembicaraan kedua orang tuanya yang selalu membahas ini dan memberikan pengertian pada Vania jika Lena akan memiliki seorang Mommy.

"Mommy? Mommy Bella?" tanya Lena dengan mulut yang penuh.

Suster Ina membantu mengusap lembut pipi Lena karena ada minyaknya, "Eum... Iya." balas Suster Ina mengangguk.

"Ish bukan Mommy Bella, tapi kata Bunda, namanya Mommy Dea." ucap Vania menjelaskan.

"Mommy Dea itu siapa Kak?" tanya Lena menatap Vania.

"Itu Mommymu Len, katanya kamu menginginkan Mommy. Ya itu Mommymu nanti. Kalau Mommy Bella kan sudah tidak bisa dilihat lagi." balas Vania lagi. Vania sudah sedikit lebih dewasa dan sudah paham jika seseorang yang sudah meninggal, tidak akan bisa dilihat ataupun digenggam.

"Sudah-sudah, habiskan makanannya dulu, Oma dan Bunda pasti sudah menunggu." potong Suster Ina mendengar perdebatan kecil mereka.

"Baik Suster." jawab Vania dan Lena mengangguk bersamaan. Mereka berdua begitu makan dengan lahap, karena isi tenaganya sudah terkuras habis setelah bermain di luar.

Mereka melanjutkan ke acara awal mereka yaitu melihat model baju dan beberapa koleksi baju baru di toko brand besar itu.

"Suster, Len capek." keluh Lena lalu mengangkat kedua tangannya ke atas.

Suster Ina mengangguk lalu menggendong Lena. Ia tidak membawa stroller karena mengira akan benar bermain di rumah Zavia saja.

Zavia menuntun Vania mengelilingi toko itu sembari melihat-lihat koleksi terbaru mereka.

"Len kenapa sayang?" tanya Mommy Ellen, "Sini biar saya yang bawa tasnya, Sus." tawarnya. Ia melihat Suster Ina kewalahan, ditambah Lena yang sudah mengantuk.

"Biar saya saya Nyonya. Tidak berat kok." tolak Suster Ina. Ia berjalan mengikuti langkah Mommy Ellen dan Zavia.

"Baiklah."

Di dalam mall itu, Zavia masih sibuk melihat-lihat koleksi baju bersama Mommy Ellen. Vania yang awalnya mengikuti, kini duduk di kursi kecil dekat fitting room sambil memainkan boneka kecil miliknya.

Sementara Lena, yang sejak tadi digendong Suster Ina, sudah terbangun dari kantuknya, "Len mau jalan...." pinta Lena pelan.

Suster Ina menurunkannya sebentar karena mengira Lena hanya ingin berdiri.

Namun, saat Suster Ina sedang membantu Mommy Ellen memegang beberapa baju, Lena justru berjalan menjauh beberapa langkah.

Awalnya hanya beberapa langkah.

Lalu semakin jauh.

Lena melihat banyak toko dengan lampu terang dan etalase yang menarik. Mata bulatnya menatap ke sana kemari dengan rasa penasaran. Sampai akhirnya ia berhenti di sebuah lorong yang mulai sepi.

Lena menoleh ke belakang.

Tidak ada Oma.

Tidak ada Bunda.

Tidak ada Suster Ina.

Wajah kecilnya langsung berubah panik, "Bunda...? Oma?" Wajah imut itu berubah menjadi panik karena semua orang yang dikenalinya tidak ada di sana.

"Oma?" panggilnya lagi tapi tetap sunyi, tidak ada jawaban.

Bibir Lena mulai bergetar. Air matanya langsung jatuh, "Len... takut..." gumamnya lirih sebelum akhirnya ia menangis.

Lena berjalan terburu-buru sambil mengusap air mata, namun karena penglihatannya kabur oleh tangisannya....

Bruk!

Tubuh kecilnya menabrak seseorang. Sebuah kantong belanja hampir terjatuh.

"Eh...."

Deana yang baru keluar dari supermarket dengan beberapa kantong belanjaan langsung menunduk kaget.

Di depannya berdiri seorang anak kecil yang sedang menangis sesenggukan.

Pipi Lena merah, matanya basah, "Aku... takut." ucap Lena terbata.

Deana langsung berjongkok refleks, "Hei... hei... jangan takut. Kenapa menangis?" ucapnya sedikit panik tapi lembut. Ia sebenarnya tidak terlalu dekat dengan anak kecil, tapi melihat Lena menangis membuat hatinya mencelos.

"Nama kamu siapa?" tanya Deana pelan.

"Lena..." jawabnya sambil mengusap mata.

"Lena hilang?"

Lena mengangguk cepat, "Bunda... Oma... nggak ada... hiks, hiks...." tangisnya semakin keras.

Deana menghela napas pelan, "Ya sudah, kita cari ya."

Deana menaruh kantong belanjaannya ke lantai lalu mengusap lembut kepala Lena, "Jangan nangis, nanti cantiknya hilang."

Lena terdiam sebentar. Ia menatap wajah Deana dengan mata berkaca-kaca, "Kakak cantik..."

Deana hampir tertawa kecil, "Ya ampun, masih sempat muji orang."

Deana lalu mengulurkan tangannya pada Lena, "Ayo, kita cari Bunda kamu."

Namun Lena tidak menggenggam tangan itu. Ia malah langsung memeluk kaki Deana, "Len takut...."

Pelukan kecil itu membuat Deana sedikit kaku. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seorang anak kecil memeluknya seperti itu.

Perasaan aneh muncul di dadanya, perasaan lembut dan hangat menggelenyar aneh di aliran darahnya.

Deana akhirnya menggendong Lena, "Ya sudah, kakak temani Lena cari Bunda dan Oma ya, sudah jangan menangis lagi, Kakak bukan orang jahat kok."

Deana merapihkan rambut Lena karena basah terkena air mata dan keringatnya karena panik.

1
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!