Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Meja Makan dan Restu Tersembunyi
"Nah, cakep kan!" Gisel memandangi layar ponselnya dengan puas. Hasil fotonya sempurna—meskipun Dewa dan Raka tampak seperti patung yang dipaksa tersenyum.
Gisel menoleh ke arah Dewa yang masih memasang wajah menuntut penjelasan. Ia tahu suaminya itu tidak suka ada "orang asing" masuk ke dalam momen keluarga tanpa izin. Gisel pun segera merangkul bahu Hana.
"Mas, kenalin, ini Hana. Dia teman Raka dari SD. Kasihan tadi kulihat dia sendirian, jadi kuajak foto bareng," ucap Gisel, mencoba menetralkan suasana agar Dewa tidak terlalu mengintimidasi gadis kecil itu.
Dewa menatap Hana datar, lalu suaranya yang berat memecah keheningan. "Mana orang tuamu, Hana? Kenapa mereka tidak mendampingimu di hari kelulusan?"
Hana tertunduk lesu, jemarinya meremas ujung piala juara satunya. "Mereka... sibuk om" jawab Hana lirih.
Jawaban singkat itu seketika membuat Dewa tertegun. Aura dingin sang CEO sedikit melunak saat ia melihat sorot mata Hana yang penuh kesepian.
Gisel yang menyadari perubahan suasana segera memecah kecanggungan. "Sudah-sudah! Kalian lapar, kan? Perutku sudah konser nih!" seru Gisel ceria.
"Iya, Ibu! Laper banget!" sahut Diego dan Alya kompak.
"Ayo, kita makan! Papa Dewa yang traktir ya hari ini!" ucap Gisel sambil menyenggol lengan Dewa. Dewa hanya bisa menarik napas panjang dan tersenyum tipis melihat kelakuan istrinya yang selalu bisa mengendalikan situasi.
Hana yang merasa tidak enak hati mencoba berpamitan. "Terima kasih banyak, Tante—eh, Ibu... tapi saya pamit pulang duluan saja."
"Eits, nggak ada acara pulang-pulang!" Gisel menahan tangan Hana dengan cepat, lalu mengedipkan sebelah matanya. "Kita makan dulu baru pulang, oke? Jangan menolak rezeki dari CEO sombong ini."
"Aku mau barbeque!" seru Alya penuh semangat.
"Aku juga mau! Diego ikut-ikutan meniru gaya bicara kakaknya.
Saat Raka baru saja hendak membuka mulut untuk memberikan pendapat, Gisel langsung memotong dan menoleh pada Hana. "Hana, kamu suka daging, kan?" tanya Gisel dengan nada menggoda.
Hana tersenyum kecil. Ia tahu persis bahwa Gisel sedang sengaja menggoda Raka. Benar saja, Raka yang tadinya ingin bicara langsung terdiam dengan wajah yang mulai memerah. Ia merasa sangat kesal karena terus digoda, tapi tetap berusaha stay cool dan menjaga ekspresi datarnya di depan Hana.
Malam barbeque itu terasa seperti malam termanis bagi keluarga Dewa. Tawa Diego dan Alya memecah kekakuan yang biasanya menyelimuti meja makan mereka. Raka, meski tetap irit bicara, sesekali melirik Hana dengan tatapan yang jauh lebih lembut.
Selesai makan, Hana berpamitan dengan sopan. Dewa, yang mulai luluh dengan kepribadian Hana, langsung menawarkan tumpangan. "Sudah malam, biar kami antar, ujar dewa.
Hana menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, Om, Tante. Saya jalan saja, rumah saya sudah dekat dari sini kok. Terima kasih banyak untuk makan malamnya."
Hana pun melangkah menjauh, sosoknya perlahan menghilang di kegelapan malam. Keluarga "Sweet" itu pun bersiap masuk ke mobil untuk pulang. Namun, saat Gisel hendak menutup pintu mobil, matanya menangkap sebuah benda di atas aspal. Sebuah dompet kecil terjatuh tak jauh dari sana.
Gisel membukanya dan menemukan kartu pelajar milik Hana. "Aduh, ceroboh banget sih anak ini. Raka! Antarkan ini sekarang, pasti Hana belum jauh!" perintah Gisel.
Tanpa banyak bicara, Raka menyambar dompet itu dan berlari mengejar ke arah Hana pergi. Namun, langkah Raka mendadak terhenti. Ia mematung di balik sebuah tiang listrik, matanya membelalak melihat pemandangan di depannya tempat makan pinggir jalan.
Hana tidak sedang berjalan pulang dengan tenang. Di bawah lampu jalan yang remang, Hana sedang dimaki-maki oleh seorang wanita paruh baya. Pakaian Hana basah kuyup, rambutnya berantakan, dan yang paling membuat jantung Raka mencelos adalah luka lebam yang menghiasi sudut bibir dan pipi gadis itu.
Raka tidak bisa tinggal diam. Ia langsung berlari menghampiri. "Hana! Kau baik-baik saja?" teriak Raka cemas.
Hana terlonjak kaget, matanya yang sembab menatap Raka dengan ketakutan. "Ra... Raka? Kenapa kamu di sini?"
"Heh! Kau siapa?!" teriak wanita itu, melotot ke arah Raka dengan galak.
"Aku temannya!" jawab Raka tegas, menempatkan tubuhnya di depan Hana seolah menjadi perisai. "Bibi siapa? Kenapa Bibi memarahi dia seperti ini?!"
Wanita itu tertawa sinis, hendak membalas, namun Hana langsung menarik lengan jaket Raka dengan kuat. "Raka, aku mohon... pergilah. Tolong pergi sekarang!" tangis Hana pecah.
"Jelasin dulu, Hana! Siapa mereka? Kenapa wajahmu lebam?!" tuntut Raka, rahangnya mengeras menahan amarah.
"Nanti... aku janji akan ceritakan nanti. Tapi sekarang, aku mohon pergilah!" Hana memohon dengan tatapan yang begitu hancur, membuat Raka tak tega.
Dengan berat hati dan tangan yang terkepal kuat, Raka terpaksa mundur. Ia melangkah pergi, namun pikirannya tertinggal di sana. Ia tahu, di balik prestasi juara satunya, Hana menyimpan luka yang sangat dalam yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat dari dunia.