NovelToon NovelToon
Kejar Tenggat

Kejar Tenggat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Honey Brezee

Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

03 - Doa Yang Beresiko

Panji mengerjap bingung, lalu menoleh ke arah meja yang ditunjuk Gwen.

Di sana Erlangga Yudha Baskara masih duduk santai, bahkan sempat mengambil segelas air dari meja seperti orang yang baru saja menyelesaikan pekerjaan kecil—bukan menciptakan kekacauan sosial tingkat menengah.

Panji berjalan mendekat dengan kening berkerut. “Lo apain kakak gue?” tanyanya curiga.

Aga meneguk airnya dulu dengan tenang, baru menoleh. “Nyelamatin dia.”

Panji menyipitkan mata. “Kenapa setiap kali lo bilang ‘nyelamatin’, hasil akhirnya selalu bikin hidup orang lebih ribet?”

Aga menyeringai kecil. “Karena hidup tanpa drama itu membosankan.”

Panji menatapnya datar beberapa detik, lalu menghela napas panjang seperti orang yang sudah terlalu sering menghadapi makhluk aneh.

“Gue cuma mules lima menit,” keluhnya. “Lima menit, Ga. Kok bisa-bisanya dalam lima menit lo bikin kakak gue ngamuk?”

Aga menyandarkan punggung ke kursi dengan santai. “Dia bukan ngamuk.”

“Dia menunjuk lo seperti mau memanggil algojo.”

“Itu bentuk rasa terima kasih versi Gwen.”

Panji mendengus. “Lo delusional.”

Aga hanya tertawa kecil.

Panji melirik ke arah Gwen yang sudah hampir menghilang di ujung ruangan.

“Serius deh,” katanya sambil menoleh lagi ke Aga. “Lo ngomong apa ke dia?”

Aga terlihat berpikir sejenak. “Cuma bilang aku calon suaminya.”

Panji membeku.

Beberapa detik.

Lalu ia menatap Aga seperti baru saja mendengar seseorang mengaku mencuri Monas.

“…Lo bilang apa?”

“Calon suami.”

Panji mengusap wajahnya pelan.

“Ya Tuhan… pantesan.”

Aga mengangkat alis. “Apanya?”

“Lo ngerti gak sih kakak gue itu tipe orang yang secara personal benci banget sama lo?”

Aga mengangkat alis sedikit.

Panji melanjutkan dengan ekspresi serius, “Bukan sekadar ‘tidak suka’, ya. Ini levelnya sudah masuk kategori khusus.”

Aga bersandar santai di kursinya. “Kategori khusus?”

“Iya,” kata Panji. “Kalau orang lain bikin Gwen kesal, paling cuma dimarahin.”

Ia berhenti sebentar, lalu menatap Aga dengan datar. “Tapi kalau lo yang bikin dia kesal…”

Panji menghela napas pendek. “…biasanya situasinya sudah masuk level bencana.”

Aga malah terkekeh kecil, jelas sama sekali tidak terlihat khawatir. “Gue tahu.”

Panji menatapnya curiga. “…Tapi lo tetap ngomong begitu?”

“Iya.”

Panji memicingkan mata, masih tidak percaya pada tingkat keberanian—atau kebodohan—temannya itu.

“Kenapa?”

Aga melirik ke arah tempat Gwen tadi pergi, matanya menyipit sedikit seolah masih bisa melihat sosok perempuan itu di tengah keramaian. Lalu ia menjawab dengan santai, “Karena cinta.” Ia mengangkat bahu ringan.

Panji menatapnya beberapa detik.

Lalu ia mengusap wajahnya pelan, seperti orang yang baru saja menyadari bahwa temannya sedang menggali kuburannya sendiri dengan sekop yang dia beli sendiri.

“Ga,” katanya akhirnya.

“Hm?”

“Gue tahu kakak gue itu cantik.”

Aga mengangguk santai. “Iya.”

“Pintar juga.”

“Iya.”

Panji menghela napas lagi, panjang kali ini.

“Tapi dia juga… unik.”

Aga mengangkat alis. “Unik bagaimana?”

Panji berpikir sejenak, jelas sedang mencari kata yang paling aman untuk menggambarkan kakaknya sendiri tanpa terdengar seperti sedang menulis laporan kriminal. “Temperamennya itu seperti petir. Kadang tidak kelihatan, tapi sekali muncul… semua orang langsung tahu.”

Aga tertawa.

Panji masih belum selesai.

“Gue sudah lihat banyak orang tertarik sama Gwen.”

Aga menoleh sedikit. “Terus?”

“Biasanya mereka kagum di awal.”

“Masuk akal.”

“Lalu mereka mulai kenal kepribadiannya.”

Aga mengangkat alis. “Lalu?”

“Lalu mereka pelan-pelan mundur… seperti orang yang baru sadar mereka parkir di jalur kereta.”

Aga tertawa keras mendengarnya.

Suara tawanya ringan, seolah cerita itu bukan sesuatu yang mengejutkan.

Panji menyipitkan mata. “Lo malah ketawa.”

Aga mengangkat bahu kecil. “Ya… masuk akal.”

Panji menatapnya curiga. “Masuk akal?”

Aga bersandar santai di kursinya. “Tidak semua orang kuat.”

Panji mendengus pelan. “Lo ngomongnya seperti ini ujian militer.”

Aga tersenyum tipis. “Kurang lebih.”

Panji menggeleng pelan.

“Serius, Ga. Banyak yang suka sama Gwen. Tapi kebanyakan cuma tahan di tahap kagum.”

“Kenapa?”

“Karena setelah kenal lebih dekat, mereka sadar satu hal.”

Panji menghela napas. “Dekat sama Gwen itu bukan hubungan romantis.”

Aga mengangkat alis sedikit.

“Itu olahraga ekstrem.”

Aga terkekeh.

Panji menatapnya lagi. “Tapi lo justru makin mendekat.” Ia menyipitkan mata. “Sejak kapan sih sebenarnya lo suka sama kakak gue?”

Aga terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab santai,“Sejak lama.”

Panji memiringkan kepala. “Sejak lama itu kapan?”

“Sejak SMP.”

Panji berkedip.

“SMP?”

“Iya.”

Panji menatapnya seperti baru saja menemukan fakta yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Waktu itu gue masih kelas satu,” lanjut Aga santai. “Dan Gwen sudah kelas dua SMA.”

Panji tertawa “Jadi selama ini…”

Aga mengangkat alis.

“Lo diam-diam naksir kakak gue sejak masih bocah?”

Aga tersenyum kecil.

Panji menggeleng tidak percaya. “Ini gila.”

“Kenapa?”

“Karena berarti lo sudah tahu seperti apa dia dari dulu.”

Aga mengangguk. “Iya.”

Panji menatapnya tajam. “…dan lo tetap jatuh cinta?”

Aga tertawa pelan. Sementara, Panji menghela napas panjang sekali.

“Ga…” katanya pelan, nada suaranya sudah seperti orang yang siap menerima kabar buruk.

Aga menoleh santai. “Hm?”

Panji memandangnya beberapa detik, lalu berkata dengan nada curiga,

“Jangan bilang kalau lo sengaja mengaku sebagai calon suami?”

Aga mengangkat alis sedikit, seolah pertanyaan itu terdengar aneh. "Iya, Ucapan itu doa bro."

Panji terdiam beberapa detik. Lalu ia menepuk bahu Aga pelan. “Kalau itu doa…”

Ia menunjuk ke arah lorong tempat Gwen pergi. “…semoga Tuhan juga menambahkan perlindungan ekstra.”

Aga tertawa.

Panji menghela napas kecil sebelum melanjutkan, “Karena kalau kakak gue dengar doa itu…” Ia menoleh sebentar.

“…dia mungkin langsung mengirim lo bertemu Tuhan buat klarifikasi.”

Aga tertawa lagi, sama sekali tidak terlihat tersinggung oleh ramalan kematian yang baru saja disampaikan dengan santai oleh sahabatnya sendiri. “Berlebihan,” ucapnya ringan.

Panji menatapnya datar.

“Ga, gue kenal kakak gue.”

Aga menyandarkan punggungnya ke kursi, masih santai seperti orang yang baru saja memesan kopi, bukan orang yang baru diumumkan akan dibunuh secara hipotetis. “Dia gak akan bunuh gue.”

Panji mengangkat alis pelan, jelas tidak terlalu yakin. “Gue sarankan lo mulai olahraga.”

Aga menyipitkan mata sedikit. “Kenapa?”

Panji berdiri dari kursinya sambil merapikan jasnya. “Supaya kalau Gwen mulai melempar sesuatu…”

Ia menatap Aga sebentar.

“…lo punya refleks buat menghindar.”

Aga tidak langsung menjawab.

Ia hanya bersandar santai di kursinya, menatap ke arah lorong tempat Gwen tadi pergi. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

Menghindar?

Aga hampir tertawa memikirkannya.

Sejak SMP kelas satu—saat Gwen yang sudah kelas dua SMA menatapnya seperti bocah menyebalkan—ia sudah tahu satu hal tentang kakak Panji itu.

Gwen tidak pernah setengah-setengah.

Kalau marah, dia marah sungguhan.

Kalau kesal, seluruh ruangan bisa ikut tegang.

Anehnya, justru itu yang membuat Aga tidak pernah benar-benar berhenti memikirkannya.

Orang lain mungkin mundur.

Aga justru menunggu.

Menunggu sampai suatu hari Gwen benar-benar melihatnya—bukan sebagai bocah tengil, tapi sebagai seseorang yang cukup berani berdiri tepat di depan badai itu.

Kalau harus kena lempar kursi dulu… Tapi berhasil mendapatkan Gwen.

Aga rasa itu harga yang cukup masuk akal.

       __Kejar Target__

Sementara itu, Gwen sudah berjalan keluar dari gedung resepsi. Udara malam langsung menyambutnya begitu ia melewati pintu utama. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan kepalanya yang terasa panas.

Calon suami.

Gwen mengatupkan rahangnya.

Kurang ajar.

Langkahnya semakin cepat menyusuri area depan gedung. Tumit sepatunya berbunyi tegas di lantai batu, seirama dengan suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.

Erlangga Yudha Baskara.

Nama itu saja sudah cukup membuat tekanan darahnya naik. Sejak dulu bocah itu memang tidak pernah tahu batas. Dulu menyebalkan, sekarang… masih menyebalkan. Bedanya, sekarang dia menyebalkan dengan wajah dewasa dan kepercayaan diri yang benar-benar tidak tahu diri.

Gwen mendesah kesal.

Saat itulah kakinya tanpa sengaja menendang sebuah kaleng minuman kosong yang tergeletak di dekat trotoar.

Kaleng itu meluncur cepat di lantai, lalu terpental ke atas setelah mengenai tepian batu.

Dan—

ting!

Kaleng itu tepat mengenai kepala seseorang.

Gwen langsung berhenti.

Seorang pria yang baru saja keluar dari gedung sedikit memiringkan kepalanya karena benturan kecil itu. Kalengnya jatuh kembali ke lantai dan menggelinding menjauh.

Gwen membelalak.

“Ya Tuhan—”

Ia buru-buru melangkah mendekat. “Maaf! Aku tidak sengaja—”

Pria itu sudah mengangkat tangan ke kepalanya, mengusap pelan tempat kaleng itu tadi mengenai.

Lalu ia mengangkat wajahnya.

Tinggi, berjas gelap rapi, dengan ekspresi yang jelas tidak menyangka akan diserang kaleng begitu saja saat keluar dari resepsi.

Matanya menatap Gwen.

Beberapa detik berlalu.

Lalu alis pria itu terangkat tipis.

“…Gwen?”

Nada suaranya datar, tapi jelas mengenalinya. Dan Gwen langsung merasa malam ini benar-benar belum selesai membuat hidupnya semakin rumit.

1
lilyrose
syuukkurin 🤣
Honey Brezee: hihi 🤭
total 1 replies
lilyrose
to the point aman sih si hilman 😂😂😂
Honey Brezee: iy, hahaha 🤣
total 1 replies
Patrish
nyambung amat Bang
Honey Brezee: nyambung di next kak 🤣
total 2 replies
mitha
Ceritanya gak ngebosenin 😍
Anita
Ibu tiri 😭
Anita
Seruuuuuu 😍
Patrish
hati hayi anak muda jangan sampai kebablasan
Honey Brezee: tenang ada penjaga nya si pandji 🤣🤣
total 1 replies
Patrish
ini ibu kandung apa ibu tiri sih...
Patrish: 🤣🤣🤣🤣pokoknya dibuat sakit tapi jangan sampai menyusahkan anaknya🤣🤣🤣
total 4 replies
Patrish
setiap keputusan membawa resiko..(baik maupun buruk)..setiap pilihan menuntut keberanian
inilah inti perjalanan ke depan
Honey Brezee: makasih kak ❤
total 1 replies
Patrish
ini ceritanya mereka hidup di Bali...sedang ayah Gwen di jakarta....nadine tinggal di mana?
Honey Brezee: gwen di Bali kak, ayah gwen bolak balik ke jakarta karna ada kerjaan
total 1 replies
Patrish
aku gagal focus di sini..Pikirku Panji nganter Nadine ke luar kota...
Honey Brezee: nanti aku revisi 🙏
total 1 replies
Patrish
Panji....pinter ya
Patrish
mulai....ada bara menyala...
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "Pacar Melamar Mantan Menggoda" ✨️✨️
Silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata. Kudu baca kalau kalian suka drama yang deep dan dewasa 🤌
total 1 replies
lilyrose
keren banget..ga muter muter ceritanya
good job thor
lanjuttt
Honey Brezee: huhuhu..Thankyou 😭🙏❤
total 1 replies
lilyrose
baru nemu novel sebagus ini..keren banget
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
Honey Brezee: makasih kak 🥺😭🙏❤
total 1 replies
Patrish
novel bagus gini...belum ada yang nemu....🤭🤭🤭🤭aku juga baru kemarin😀😀😀
Patrish: semoga segera banyak yang baca
total 2 replies
Patrish
sampai di sini...kalimatnya enak dinikmati....lanjuut aku...👍🏻👍🏻
Honey Brezee: terimakasih kak 🥺🙏❤
total 1 replies
Patrish
tapi kamu keren Gwen....seharusnya sejak kemarin kamu begitu...
Patrish
yoookkkk...lanjuuut
Patrish
kami..bukan.. kita
kalau "kita" berarti yang diajak berbicara ikut terlibat....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!