Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 — Rumah
Malam itu Bella tidak langsung pulang.
Setelah meninggalkan Dominic di depan hotel, langkahnya membawanya ke jalan yang bahkan tidak ia pikirkan arahnya. Lampu-lampu kota menyala terang, mobil berlalu lalang, suara klakson samar terdengar dari kejauhan, namun semuanya terasa seperti suara yang datang dari tempat yang sangat jauh.
Kepalanya penuh.
Terlalu penuh.
Kalimat-kalimat yang Dominic ucapkan masih berputar di dalam pikirannya, bercampur dengan bayangan pintu kamar hotel yang terbuka dan sosok Diana yang berdiri dengan senyum yang terasa seperti ejekan.
Bella memeluk dirinya sendiri saat angin malam menyentuh kulitnya.
Dingin.
Namun tidak sedingin sesuatu yang baru saja ia sadari—bahwa rumah yang selama ini ia pertahankan, perlahan sudah berhenti menjadi tempat pulang.
Ponselnya bergetar.
Nama Dominic muncul di layar.
Bella menatapnya cukup lama.
Satu panggilan.
Lalu panggilan kedua.
Ketiga.
Keempat.
Ia tidak mengangkat satu pun.
Beberapa menit kemudian, pesan mulai masuk bertubi-tubi.
> Bella, angkat teleponnya.
Kita harus bicara.
Aku jemput kamu sekarang.
Jangan bikin ini makin besar.
Kalimat terakhir membuat Bella tertawa kecil.
Pahit.
Jadi baginya ini cuma soal membesar-besarkan masalah?
Perlahan, Bella mematikan layar ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tas.
Ia tidak ingin mendengar apa pun malam ini.
Tidak lagi.
—
Tanpa sadar, langkahnya berhenti di depan sebuah apartemen kecil.
Livia.
Bella mengangkat wajah, menatap jendela di lantai tiga yang masih menyala.
Ia menghela napas pelan sebelum akhirnya masuk.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka dan wajah Livia langsung berubah begitu melihat siapa yang berdiri di depannya.
“Bella?”
Tatapan sahabatnya turun ke wajah Bella yang pucat, lalu kembali naik.
“Astaga, masuk dulu.”
Bella tidak menolak.
Begitu pintu tertutup, Livia langsung menuntunnya duduk di sofa.
“Ada apa?”
Bella membuka mulut, namun tidak ada kata yang langsung keluar.
Livia memperhatikan beberapa detik, lalu perlahan duduk di sebelahnya.
“Kamu bertengkar sama Dominic?”
Sunyi.
Bella menunduk.
Lalu, untuk pertama kalinya malam itu, ia berkata pelan, “Aku lihat mereka.”
Livia terdiam.
“Mereka?”
Bella tersenyum tipis, matanya mulai berkaca.
“Dom sama Diana.”
Kalimat itu cukup.
Livia langsung mengerti.
Raut wajahnya berubah keras.
“Bangsat.”
Kata itu keluar begitu saja.
Bella tertawa kecil, kali ini suaranya hampir pecah.
Lucu rasanya mendengar seseorang memaki Dominic, sementara dirinya sendiri bahkan belum sempat marah.
Yang ia rasakan justru lelah.
Sangat lelah.
“Aku bisa tinggal di sini malam ini?” tanyanya pelan.
Livia langsung menggenggam tangannya.
“Selama yang kamu mau.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Bella merasa sedikit aman.
—
Di sisi lain kota, Dominic berdiri di ruang tengah rumah mereka dengan rahang mengeras.
Rumah itu terlalu sunyi.
Terlalu kosong.
Tas Bella tidak ada.
Jaket yang biasa tergantung di dekat pintu juga hilang.
Ia sudah menelepon berkali-kali.
Tidak diangkat.
Pesan-pesannya hanya dibaca.
Tidak ada balasan.
Dominic mengusap wajahnya kasar.
Rasa tidak nyaman yang sejak tadi menghantui dadanya kini berubah menjadi sesuatu yang lebih jelas.
Panik.
Ponselnya kembali bergetar.
Nama Diana muncul di layar.
Dominic menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat.
“Apa?”
Nada suaranya dingin.
“Wow,” suara Diana terdengar santai dari seberang. “Kasar banget.”
“Aku lagi nggak mood.”
“Tebak, itu gara-gara siapa?”
Dominic memejamkan mata sejenak.
“Diana, cukup.”
Wanita itu tertawa kecil.
“Dia lihat kita, kan?”
Dominic tidak menjawab.
Namun diamnya sudah cukup.
“Oh, jadi benar.” Suara Diana terdengar hampir puas. “Bagus juga.”
Dominic langsung membuka mata.
“Apa maksud kamu?”
“Nothing,” jawab Diana ringan. “Aku cuma capek sembunyi-sembunyi.”
Rahang Dominic mengeras.
“Kamu sengaja.”
Sunyi sesaat.
Lalu Diana tertawa.
“Dan kalau iya?”
Dominic mengepalkan ponselnya.
Untuk pertama kalinya, sesuatu yang selama ini ia abaikan terasa begitu jelas.
Diana bukan sekadar masa lalu yang kembali.
Ia adalah masalah yang dibiarkannya tumbuh terlalu jauh.
“Aku akan hubungi kamu nanti,” ucap Dominic singkat.
“Dom—”
Telepon diputus.
Dominic berdiri diam di tengah ruang tengah yang kosong.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia merasa rumah itu benar-benar kehilangan sesuatu.
Bukan benda.
Bukan rutinitas.
Tapi seseorang.
Bella.
—
Pagi datang dengan lambat.
Bella terbangun di kamar tamu apartemen Livia dengan kepala yang terasa berat.
Sinar matahari menembus tirai tipis, jatuh lembut di lantai kayu.
Untuk beberapa detik, ia lupa di mana dirinya berada.
Namun saat ingatan semalam kembali, dadanya langsung terasa sesak.
Bella duduk perlahan.
Tangannya refleks menyentuh dadanya sendiri, seolah mencoba menenangkan sesuatu yang terus bergolak di dalam sana.
Pintu kamar diketuk pelan.
“Masuk,” jawab Bella.
Livia masuk sambil membawa secangkir teh hangat.
“Minum dulu.”
Bella menerimanya dengan senyum kecil.
“Thanks.”
Livia duduk di tepi ranjang, memperhatikan wajah Bella.
“Kamu mau balik?”
Pertanyaan itu membuat Bella terdiam.
Cukup lama.
Lalu ia menggeleng pelan.
“Belum.”
Livia mengangguk.
“Bagus.”
Bella menoleh.
Livia melanjutkan, “Jangan pulang kalau hati kamu belum siap.”
Kalimat itu membuat Bella menunduk.
Ia menggenggam cangkir di tangannya lebih erat.
“Liv…” suaranya pelan, hampir berbisik, “aku capek.”
Livia langsung memegang tangannya.
“Kamu nggak harus kuat terus.”
Bella tersenyum tipis.
Namun kali ini, satu tetes air mata akhirnya jatuh.
Bukan karena lemah.
Tapi karena akhirnya… ia memberi dirinya izin untuk merasa sakit.
—
Sementara itu, Dominic berdiri di depan pintu apartemen Livia.
Ia tahu Bella ada di sana.
Ia tahu dari lokasi terakhir yang sempat muncul di perangkat yang terhubung dengan mobil Bella.
Tangannya terangkat.
Mengetuk.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Livia berdiri di sana, wajahnya langsung mengeras.
“Kamu.”
Dominic menatap ke dalam, mencoba melihat.
“Aku mau ketemu Bella.”
Livia menyilangkan tangan.
“Dia nggak mau ketemu kamu.”
Dominic menarik napas.
“Livia, please.”
Wanita itu tersenyum sinis.
“Oh, sekarang pakai please?”
Tatapan Dominic menegang.
“Aku harus jelasin.”
Livia menggeleng.
“Kamu terlambat.”
Dan sebelum Dominic sempat berkata apa-apa lagi, sebuah suara pelan terdengar dari dalam.
“Biarkan dia masuk.”
Dominic menoleh.
Bella berdiri di ambang pintu kamar.
Wajahnya tenang.
Namun ada sesuatu di sorot matanya yang membuat Dominic berhenti bernapas sesaat.
Jauh.
Sangat jauh.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia sadar, Bella tidak lagi menatapnya dengan cinta yang sama.
END BAB 12 🔥
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹