Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.
Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.
Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Pukul tiga dini hari. Lorong lantai tiga rumah sakit itu terasa seperti lorong waktu yang membeku. Suara dengung pendingin ruangan sentral terdengar seperti desis napas panjang yang tak kunjung usai, bersahutan dengan bunyi detak jam dinding di atas meja perawat yang seolah-olah mengejek Agus. Cahaya neon yang mulai meredup memberikan bayangan kebiruan pada kursi-kursi besi kosong yang berderet rapi.
Agus masih terduduk di tempat yang sama sejak tiga jam lalu. Punggungnya sudah kaku, dan rasa dingin dari besi kursi itu seolah-olah sudah meresap ke dalam sumsum tulang belakangnya. Di sampingnya, ibu agus tertidur lelap dengan posisi meringkuk, menggunakan tas kain kusam sebagai bantal. Napas ibunya terdengar berat dan tidak teratur, sebuah tanda kelelahan fisik dan mental yang luar biasa.
Agus merogoh saku celananya, mengeluarkan sisa uang dari amplop cokelat yang ia terima dari Pak Jono siang tadi. Ia menghitungnya kembali di bawah cahaya remang-remang, seolah-olah dengan menghitungnya berkali-kali, angka itu akan bertambah secara ajaib.
Tiga ratus ribu.
Hanya itu. Tiga lembar uang seratus ribuan yang kini sudah sedikit lembap oleh keringat tangannya. Di kepalanya, Agus mulai membuat perhitungan matematis yang kejam. Biaya makan ibunya di sini setidaknya tiga puluh ribu sehari jika hanya makan nasi bungkus paling murah. Biaya bensin motor untuk bolak-balik desa-kota sekitar lima belas ribu. Obat tambahan bapaknya yang tadi siang ia tebus sudah memakan lima puluh ribu.
Jika ia bertahan di sini selama sepuluh hari, uang itu akan habis tak bersisa. Lalu, bagaimana dengan biaya rumah sakit selanjutnya? Bagaimana dengan hutang dua juta kepada Rahma? Dan yang paling mengerikan, bagaimana dengan kehidupan mereka setelah keluar dari rumah sakit ini sementara ia tidak lagi memiliki pekerjaan?
Agus menatap tangannya. Di bawah kuku ibu jarinya, masih ada sisa kerak semen yang menghitam. Ia mencoba mengoreknya dengan kuku jari telunjuk, namun kerak itu seolah sudah menyatu dengan dagingnya. Sama seperti kemiskinan ini, pikir Agus. Ia merasai pergelangan kaki kirinya. Bengkaknya terasa panas dan berdenyut kencang, memberikan rasa sakit yang konsisten setiap kali ia bernapas.
Ia menoleh ke arah pintu ICU yang tertutup rapat. Di balik pintu itu, ayahnya sedang menyambung nyawa dengan bantuan mesin yang disewa seharga jutaan rupiah semalam. Agus merasa seperti seorang prajurit yang kehabisan peluru di tengah medan perang yang tidak pernah ia inginkan.
Pikiran Agus mulai berkelana ke arah yang gelap. Ia teringat percakapan para kuli di pasar induk tempo hari tentang kerja borongan malam yang upahnya sangat tinggi namun berisiko besar. Kerja membongkar muatan truk-truk ilegal atau barang-barang selundupan di gudang pelabuhan lama yang jaraknya dua jam dari sini. Katanya, semalam kerja bisa dapat lima ratus ribu rupiah tunai. Tapi risikonya adalah kejaran petugas atau cedera fisik yang tidak ditanggung siapa pun.
"Lima ratus ribu semalam," bisik Agus pada kesunyian koridor.
Jika ia bekerja di sana selama empat malam saja, ia bisa mengembalikan uang dua juta milik Rahma. Harga dirinya tidak akan lagi terinjak-injak oleh hutang budi. Ia bisa berdiri tegak lagi di depan Pak Hadi dan Ibu Farida. Ia tidak akan lagi menjadi laki-laki yang dikasihani.
Namun, ia melihat kakinya yang bengkak. Untuk berjalan ke toilet saja ia harus merayap di dinding. Bagaimana mungkin ia bisa memikul beban berat di pelabuhan lama?
Ting.
Suara notifikasi ponselnya memecah kesunyian. Agus segera menyambar ponselnya yang ia isi dayanya menggunakan kabel pendek milik perawat yang berbaik hati meminjamkannya tadi.
Nor Rahma: "Mas Agus, aku sudah di rumah. Maaf tadi aku pulang duluan. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Apa kakimu sudah diolesi salep yang aku beli tadi? Tolong, jangan keras kepala pada dirimu sendiri. Kamu adalah masa depanku, jadi tolong jaga dirimu baik-baik."
Kalimat Kamu adalah masa depanku terasa seperti sebuah beban yang lebih berat daripada seratus sak semen. Rahma menggantungkan harapannya pada seorang laki-laki yang baru saja dipecat, yang kakinya hancur, dan yang sedang menghitung recehan untuk sekadar membeli nasi bungkus. Agus merasa seperti seorang penipu. Ia membiarkan Rahma mencintai sebuah bayangan, bukan kenyataan yang sesungguhnya.
Agus mulai mengetik balasan.
Agus: "Sudah, Rahma. Sudah saya olesi. Terima kasih ya. Kamu tidurlah, sudah sangat malam. Jangan terlalu memikirkan saya. Saya akan cari jalan untuk semuanya."
Ia menekan tombol kirim. Cari jalan. Kata-kata itu terdengar sangat kosong di telinganya sendiri.
Tiba-tiba, Agus teringat sesuatu. Ia merogoh saku kemejanya yang lain, mencari selembar kertas kecil yang diberikan oleh salah satu kuli di pasar induk, seorang pria bernama Bang Kumis yang berbeda dengan pemilik toko kelontong di desanya. Bang Kumis ini adalah perantara bagi pekerjaan-pekerjaan gelap di pelabuhan.
Agus menemukan kertas itu. Sudah agak kumal dan terkena noda semen, tapi nomor teleponnya masih terbaca jelas.
Rencana gila itu mulai terbentuk di kepalanya. Ia harus keluar dari rumah sakit ini besok malam. Ia harus menitipkan ibunya pada Lukman atau kerabat jauhnya. Ia harus mendapatkan uang itu, apa pun risikonya. Jika kakinya harus hancur sepenuhnya, biarlah hancur, asal ia tidak harus melihat ibunya menangis karena tagihan rumah sakit, dan asal ia tidak harus menundukkan kepala di depan Rahma karena hutang budi.
"Gus..."
Suara parau ibu agus mengagetkan Agus. Ibunya terbangun, matanya merah dan tampak sangat bingung.
"Kenapa belum tidur, Gus? Ini sudah hampir subuh," tanya ibu agus sambil merapikan jilbabnya yang kusut.
"Agus tidak bisa tidur, Bu. Pikiran Agus ke mana-mana," jawab Agus jujur.
"Pikirkan Bapakmu saja, Gus. Jangan pikirkan yang lain. Masalah uang, pasti ada jalannya. Gusti Allah tidak tidur," ucap ibu agus sambil mengusap lengan anaknya.
Agus terdiam. Ia ingin sekali berteriak bahwa Gusti Allah memang tidak tidur, tapi tagihan rumah sakit juga tidak pernah tidur. Ia ingin bilang bahwa ia sudah dipecat. Tapi ia hanya bisa mengangguk pelan.
"Ibu mau ke toilet sebentar, mau cuci muka biar segar," kata ibu agus.
Saat ibunya berjalan menjauh menuju ujung koridor, Agus kembali menatap nomor telepon Bang Kumis. Tangannya bergetar. Ia tahu, jika ia menekan nomor ini, ia sedang melangkah ke jalan yang mungkin tidak akan bisa ia putar balik lagi. Ia sedang mempertaruhkan sisa-sisa keselamatannya demi sebuah angka yang bernama dua juta rupiah.
Ia teringat Ibu Farida. Wanita anggun itu pasti sedang tertidur di atas kasur empuk dengan aroma pengharum ruangan mahal. Besok pagi, wanita itu akan bangun dan menanyakan perkembangan rencana usaha Agus kepada Rahma. Apa yang akan Rahma katakan? Bahwa calon suaminya sedang meringkuk di koridor rumah sakit karena tidak punya uang untuk rontgen kakinya sendiri?
Rasa sakit di kakinya tiba-tiba terasa hilang, digantikan oleh amarah yang dingin. Amarah pada kemiskinan yang seolah-olah menjadi bayangan yang tidak pernah lepas dari punggungnya. Ia harus memutus bayangan itu sekarang juga.
Agus menekan tombol panggil pada nomor Bang Kumis. Suara sambungan telepon terdengar pelan di telinganya. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan langkah kaki perawat yang lewat di depannya.
Tut... tut...
Panggilan tersambung. Di seberang sana, terdengar suara bising musik dangdut dan suara orang-orang berteriak kasar.
"Halo? Siapa ini malam-malam?!" suara seorang pria berat dan serak menjawab.
Agus menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya yang tersisa. "Halo, Bang Kumis? Ini Agus. Teman kuli di pasar induk yang tempo hari Bang Kumis tawari kerjaan di pelabuhan lama."
Hening sejenak di seberang sana. Musik dangdut itu tiba-tiba mengecil.
"Agus? Oh, kuli yang kakinya pincang itu? Kenapa? Sudah butuh uang?" tanya Bang Kumis dengan nada meremehkan.
"Iya, Bang. Saya butuh uang banyak. Segera. Apa kerjaan itu masih ada?" tanya Agus, suaranya terdengar sangat tegas di tengah kesunyian rumah sakit.
"Masih ada. Besok malam jam sepuluh di gudang kosong blok C. Tapi ingat ya, Gus. Ini bukan panggul semen biasa. Barang ini berat dan kita harus cepat sebelum patroli datang. Kalau kakimu masih sakit, mending tidur saja di rumah."
"Kaki saya sudah sembuh, Bang. Saya akan datang," bohong Agus.
"Ya sudah. Bawa kain penutup wajah dan jangan banyak tanya. Upah langsung cair setelah barang masuk truk. Jangan telat."
Panggilan terputus. Agus menurunkan ponselnya dari telinga. Ia menatap telapak tangannya. Ia baru saja melakukan kesepakatan dengan kegelapan. Ia baru saja memulai sebuah rencana gila yang mungkin akan menghancurkan fisiknya selamanya, tapi baginya, itu lebih baik daripada membiarkan harga dirinya hancur setiap kali ia menatap mata Nor Rahma.
Ia memasukkan ponselnya ke saku kembali tepat saat ibunya kembali dari toilet.
"Gus, wajahmu tegang sekali. Ada apa?" tanya ibu agus cemas.
Agus tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepahitan. "Tidak ada apa-apa, Bu. Agus cuma baru saja menemukan jalan untuk masalah kita."
Ibu agus mengangguk tanpa curiga, lalu kembali duduk di samping anaknya. Mereka berdua terdiam, menatap fajar yang mulai menyelinap di balik jendela kaca besar rumah sakit. Fajar yang bagi banyak orang membawa harapan, namun bagi Agus, fajar itu adalah awal dari penghitungan waktu menuju pertaruhan nyawanya besok malam.