Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .
Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengantin baru
Malam kian larut, suara jangkrik di sekitar gubuk menjadi latar belakang yang menemani keheningan di antara dua orang yang baru saja mengikat janji suci. Nayan dan Cakra duduk berdampingan di sebuah bangku kayu yang kasar, menatap kegelapan hutan yang biasanya terasa mengancam, namun malam ini terasa sedikit lebih hangat.
Cakra bisa merasakan kegelisahan Nayan dari cara wanita itu sesekali mencuri pandang ke arahnya. Ia berdeham kecil, mencoba mencairkan suasana.
"Ekhmmm..." Cakra menoleh, menatap profil samping Nayan yang diterpa cahaya bulan.
"Nayan, apa kau tidak ingin menanyakan sesuatu padaku? Apa pun itu. Aku bisa melihat kepalamu penuh dengan pertanyaan sejak kita meninggalkan balai desa tadi."
Nayan terdiam sejenak, lalu memberanikan diri menatap lekat wajah Cakra. Tanpa debu cokelat yang biasa menyamarkannya, wajah itu tampak sangat tegas. Entah kenapa, Nayan merasa ada sesuatu yang sangat akrab dari garis wajah itu, seolah ia pernah melihatnya sebelumnya .
"Siapa kau sebenarnya, Cakra?" tanya Nayan langsung, suaranya pelan namun tajam.
"Kau bilang kau hanyalah pengembara. Tapi tadi... tiba-tiba kau punya kuda sehebat itu. Dan orang-orang yang bersamamu, mereka patuh padamu seolah kau adalah... tuan mereka."
Cakra tidak langsung menjawab. Ia justru sedikit menggeser duduknya, mengikis jarak di antara mereka hingga bahu mereka bersentuhan. Ia memajukan wajahnya, menatap Nayan dengan jarak yang sangat dekat hingga hembusan napasnya terasa di kulit Nayan. Hal itu sontak membuat jantung Nayan berdebar tak karuan.
"A-apa yang kau lakukan?" bisik Nayan sedikit gugup, mencoba menarik diri namun tertahan oleh tatapan magnetis Cakra.
"Sebelum menjawab itu..." suara Cakra merendah, terdengar begitu dalam. "Aku ingin bertanya satu hal padamu, Istriku."
"A-apa?"
"Apa kau benar-benar tidak keberatan jika seumur hidupmu kau harus tinggal di gubuk reot seperti ini bersamaku?" tanya Cakra serius. "Menghabiskan hari-harimu di tempat terpencil ini, jauh dari keramaian?"
Nayan tertegun. Ia menatap ke arah pintu gubuk yang sedikit miring, lalu kembali ke mata Cakra.
"Cakra, jika aku merasa keberatan atau menganggap ini masalah, aku tidak mungkin setuju untuk menikah denganmu tadi ! " jawab Nayan tegas.
Mendengar itu, Cakra tiba-tiba terkekeh pelan. Ia menunduk sambil menggelengkan kepalanya sedikit, lalu kembali menatap Nayan dengan tatapan penuh cinta yang begitu tulus.
"Kenapa kau malah tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Nayan bingung.
"Bukan begitu..." Cakra mengusap ujung hidungnya, masih dengan sisa senyum di bibir. "Hanya saja... biasanya wanita selalu ingin masa depannya terjamin, ingin kemewahan. Bukannya memilih hidup sengsara bersama seorang pria yang tak punya apa apa ."
Kata-kata 'sengsara' itu membuat Nayan mematung seketika. Pikirannya melayang jauh pada kehidupan yang selama ini ia jalani. Ia teringat dinginnya lantai istana, aroma amis darah di ujung pedangnya, dan topeng yang harus ia pakai setiap hari sebagai Sedra sang monster yang tak punya jiwa.
"Sengsara?" Nayan mengulang kata itu dengan nada getir yang sulit ditangkap Cakra.
"Cakra, sebelum bertemu denganmu, aku bahkan tidak tahu apakah aku ini benar-benar hidup atau sudah mati karena bagiku tidak ada bedanya . ''
Nayan menunduk, menatap jemarinya yang kini terasa hangat karena berada di dekat Cakra.
"Tapi di sini, di gubuk ini, aku memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan emas mana pun." lanjut Nayan pelan.
"Aku memiliki keluarga. Aku merasa...menjadi lebih manusiawi. Jadi jangan bicara soal sengsara padaku, karena bagiku, hidup miskin bersamamu jauh lebih berharga daripada kemewahan yang penuh dengan kepalsuan dan juga penderitaan orang lain ."
Cakra terenyuh mendengar pengakuan itu. Ia meraih tangan Nayan, menggenggamnya erat seolah berjanji tidak akan pernah melepaskannya.
"Kalau begitu..." bisik Cakra, "aku berjanji tidak akan membiarkanmu menyesal telah memilih pengembara ini Nayan."
Nayan tersenyum tipis, meski di dalam hatinya ia tetap waspada. Ia belum mendapatkan jawaban siapa Cakra sebenarnya, namun untuk malam ini, ia memilih untuk tenggelam dalam kehangatan yang baru saja ia temukan.
Kehangatan di teras itu seketika pecah saat suara langkah kaki yang diseret-seret mendekat, disertai gerutu kecil yang sangat akrab di telinga. Riu muncul dari balik pintu sambil menggandeng tangan Ana yang sudah berkali-kali menguap lebar.
"Kakak... ayo kita tidur. Aku sudah mengantuk sekali . ' rengek Ana dengan suara serak khas anak kecil yang kelelahan. Ia berjalan gontai lalu menarik-narik ujung lengan baju Nayan, mencoba menyeret kakaknya itu masuk ke dalam gubuk.
Nayan baru saja hendak berdiri untuk menggendong Ana, namun Riu dengan sigap menahan bahu kecil gadis itu. Riu berdehem keras, wajahnya dibuat-buat seserius mungkin meski matanya berkilat jahil.
"Eits, sebentar dulu Ana sayang!" ujar Riu sambil menarik pelan tangan Ana agar menjauh dari Nayan.
Ana mengerjapkan matanya yang berair. " Ada apa paman Riu?"
Riu berjongkok agar sejajar dengan Ana, lalu berbisik yang sebenarnya cukup keras untuk didengar semua orang.
"Mulai sekarang kau tidurnya dengan paman saja..."
"Kenapa? Biasanya aku tidur bersama kak Nayan . " protes Ana polos.
Riu melirik Cakra dengan senyum penuh ledekan, lalu kembali menatap Ana.
"Begini, Ana... karena sekarang Tuan Cakra dan Nayan sudah sah menjadi suami istri.. mereka punya urusan kenegaraan yang sangat penting di dalam. Mereka harus tidur berdua. Kalau kau di sana, nanti kau akan mengganggu konsentrasi Tuan Cakra untuk... yah, membangun masa depan."
Wajah Nayan seketika memerah sampai ke telinga. Ia langsung membuang muka, tak berani menatap Cakra.
" Mulutmu benar benar sialan Riu.." gerutu Nayan dalam hati .
Cakra sendiri terpaku sejenak, lalu perlahan menoleh ke arah Riu. Matanya menyipit, memancarkan tatapan membunuh yang sangat tajam .
"Riu..." geram Cakra, suaranya rendah dan penuh peringatan.
"Kau mau aku pindahkan tugasmu menjadi penjaga kandang kuda selamanya?" bisik Cakra sikunya pun bergerak memberi bogem ringan di perut Riu .
Riu justru tertawa cekikikan, sama sekali tidak takut. "Lohh..aku kan hanya memberikan sebuah pemahaman pada seorang anak kecil tuan Cakra. Lagipula bukankah ini juga menguntungkanmu malam ini.., aku benar kan ! "
Riu kemudian berdiri dan menarik tangan Ana dengan lembut. "Ayo Ana ! ikutlah dengan paman . Kita hitung bintang saja sampai kau ketiduran. Kita akan buat tenda anggap saja seperti sedang berkemah . Bagaimana ? apa kau mau ? "
Ana pun mengangguk dengan mata berbinar . Dia pun meraih tangan Riu .
" Paman Riu.., ada apa dengan paman Cakra . Mengapa wajahnya terlihat begitu seram saat menatapmu tadi ? " tanya Ana sambil melangkah menjauh.
"Oh..., itu namanya wajah bahagia yang tertahan Ana. Ayo jalan!" sahut Riu konyol sambil setengah menyeret Ana pergi dari teras.
Keheningan kembali melanda teras gubuk, namun kali ini suasananya jauh lebih canggung dari sebelumnya. Cakra berdehem, mencoba menetralkan degup jantungnya sendiri yang mendadak kacau karena ucapan ngawur Riu.
"Abaikan dia Nayan ." ujar Cakra sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Riu memang... otaknya sering tertinggal di hutan kalau malam hari."
Nayan hanya bisa menunduk dalam, mencoba menyembunyikan senyum tipis sekaligus rasa malunya. "Iya... aku tahu. Dia memang unik."
Cakra bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Nayan. "Tapi... apa yang dia katakan soal beristirahat, itu benar. Kau pasti lelah setelah semua keributan dengan warga tadi. Ayo kita masuk."
Nayan menatap tangan Cakra, lalu perlahan menyambutnya. Saat jemari mereka bertautan, ada getaran aneh yang menjalar, mengingatkan mereka berdua bahwa mulai malam ini, hidup mereka benar-benar telah berubah.
Bersambung....
🪼🪼🪼🪼